Friday, November 12, 2010

Keseharian Yang Tak Lagi Remeh

Musim Dingin Di Australia Dalam Kenangan

Sinar mentari menyengat terasa menjadi keseharian sambil lalu di Indonesia. Nyaris tanpa arti, karena telah menjadi kehidupan sehari-hari kecuali hari mendung dan hujan. Namun begitu hawa dingin Canberra menyergap diiringi rinai hujan dengan langit kelabu, mentari yang menjadi keseharian negara tropis tak lagi keseharian sambil lalu.
Pertengahan tahun di bumi belahan selatan suasana baru bagi penulis untuk menetap. Sang surya kini terasa menjadi sesuatu yang sangat berarti. Sinar surya baru muncul sekitar pukul tujuh pagi. Sekalipun terik tengah hari, udara dingin belasan derajat Celsius rasanya tak mampu menghangatkan badan kelahiran negara tropis. Apalagi kalau sang surya berangkat ke peraduan sekitar pukul lima sore, serasa terlalu singkat kehadirannya di musim dingin ini.
Matahari yang menjadi keseharian kita di Indonesia, tidaklah terlalu berasa kalaupun sekali-kali mendung atau hujan. Namun bagi badan kelahiran negara tropis ini, matahari jadi sangat berarti di musim dingin. Mentari tidak saja menghangatkan, tapi juga memberi dampak psikologis dan klinis yang baru berasa nyata saat ini. Sinar surya menjadi pula sumber pemicu kestabilan hormon melatonin yang memberi efek psikologis kita menjadi lebih ceria. Begitu matahari jarang muncul diiringi kabut muram dan hawa dingin, hormon melatonin jadi ngambek yang menyebabkan kita cenderung murung sampai efek depresi yang lebih parah.

Pemanas Ruangan
Meski musim dingin bukan pengalaman baru, namun menetap di negara empat musim menjadi lain cerita. Apalagi Australia terkenal sebagai salah satu negara paling kering dan relatif panas dalam hitungan bulan lebih panjang daripada musim dinginnya. Karenanya penghangat ruangan terpusat (sentral) bukanlah sesuatu keharusan sebagaimana di Eropa atau Amerika Utara, misalnya. Tubuh yang terbiasa dengan hangat atau panasnya Jakarta, kontan membutuhkan penghangat ruangan, terutama di malam hari. Bayangkan saja, minyak goreng membeku di dapur tanpa perlu masuk lemari es (kulkas).
Masalahnya, pemanas ruangan memicu udara dalam ruangan menjadi kering. Dampaknya kulit - yang terbiasa kelembapan dengan iklim tropis – mengerut, alhasil jadi terasa gatal. Bahkan udara kering kombinasi dengan hawa dingin bagi beberapa pendatang sampai menyebabkan hidung berdarah (mimisan). Karenanya cairan pelembab kulit dan pelembab ruangan (humidifier) menjadi kebutuhan lain di musim dingin.
Masalah lain, penghangat ruangan yang tidak sentral membuat kegiatan buang hajat menjadikan panggilan alam itu terasa sesuatu yang menyiksa. Hawa dingin toilet terasa ekstrem dibanding udara kamar tidur yang hangat, karena suhu ruangan relatif bertahan dalam kondisi kamar tertutup meski pemanas ruangan cenderung dimatikan sewaktu tidur. Jadi bisa dibayangkan kalau tengah malam atau dini hari tiba-tiba desakan buang air seni itu menghampiri. Keluar dari doona (selimut tebal musim dingin) saja sudah tantangan, apalagi keluar dari kamar tidur. Betapa nyamannya negara tropis, kapanpun mau ke kamar kecil, tidak pernah masalah, selagi badan kita sehat.

Termometer
Satu lagi, di Indonesia jarang-jarang kita perlu mengetahui suhu udara atau ramalan cuaca sebelum keluar rumah, paling-paling kehujanan atau kepanasan yang tak terlalu parah. Namun perjalanan 'imajiner' matahari ke belahan bumi utara, meninggalkan belahan selatannya bermusim dingin menjadikan badan tropis penulis musti memperhatikan suhu udara di tempat yang baru ini. Kalau tidak, salah-salah bisa 'salah kostum'.
Termometer menjadi salah satu kebutuhan baru yang sebelumnya menjadi barang sambil lalu, kalau tidak terlalu bermakna di negara tropis. Penunjuk suhu ruangan itu juga membantu menguji kebugaran dan ketahanan badan kita untuk mempertahankan suhu tubuh. Kalau pendingin udara (AC/air conditioner) di Indonesia biasanya paling dingin 16 derajat, itu penulis jadikan semacam ambang atas untuk bertahan tanpa pemanas ruangan. Kalau termometer sudah mendekati single digit, pemanas ruangan menjadi kebutuhan meski masih siang.

Air
Selain sinar surya, keseharian lain yang terasa sambil lalu ketika di Indonesia adalah air. Zat cair yang memancar dari keran jarang kita syukuri kehadirannya. Apalagi air yang mengalir di negara tropis relatif sama dengan suhu ruangan, bahkan di beberapa tempat mendapat anugerah mata air sejuk dan segar.
Di musim dingin, air yang mengalir dari pipa kami terasa bagaikan air es. Lazimnya ada dua tombol keran atau satu kepala keran dengan penunjuk panas dingin.
Malangnya, setelah lama tidak dipakai, pemanas air tidak langsung bekerja memancarkan air hangat begitu keran dibuka. Untuk beberapa saat, air sedingin es yang mengalir. Kalau sedang buru-buru misalnya di malam hari, ya terpaksa cuci tangan dengan air dingin tadi sehingga tangan terasa beku.

Suara Adzan
Terbitnya matahari yang terasa kesiangan di musim dingin ini, menjadikan penulis merasa kehilangan satu hal lain yang selama ini menjadi keseharian sambil lalu. Suara adzan subuh penanda terbitnya mentari di Indonesia. Selama ini panggilan itu seakan menjadi 'alarm alami' tubuh untuk bersiap bangun di pagi hari di Indonesia. Kalaupun di Eropa, masih ada gereja-gereja tua yang mendetangkan loncengnya pukul enam pagi.
Di sini deru mobil di jalan raya – yang kebetulan tak jauh dari rumah kami - menjadi salah satu penanda hari telah beranjak siang. Namun itu bukan waktu yang spesifik sebagaimana suara adzan atau dentang lonceng gereja. Unsur ritual religius yang selama ini terabaikan begitu saja, baru terasa ketika tidak ada kehadirannya.

Pedagang Keliling
Satu lagi rasa kehilangan dari nikmatnya tinggal di negara berkembang adalah kehadiran pedagang keliling. Kalau malam tiba dan pesanan dengan telpon lama, pedagang keliling adalah alternatif terbaik yang menghampiri setiap lorong Jakarta dan kota-kota besar lainnya.
Beragam pedagang keliling menghampiri dan tak perlu keluar rumah merupakan kenikmatan tersendiri, yang kini tak lagi penulis temui di negara maju ini. Apalagi musim dingin begini, rasanya telinga merindukan denting sendok beradu dengan mangkok pedagang sekoteng berkeliling kampung.
Mengapa kita baru merasa kehilangan ketika kehadirannya tak lagi menjadi bagian dari keseharian kita? Haruskan kita baru mensyukuri setelah anugerah itu tak lagi hadir bagi kita? Semoga kita lebih bersyukur menikmati rona kehidupan negara tropis dan negara berkembang kita.

No comments: