Tuesday, August 25, 2009

To be Happy

The key of happiness is on our mind!
Be rejoice if someone happy
Contentment,
Do not harm ourselves, do not harm the others
Patience (Shanti)
Forgiveness, when someone harm us, to bring peace of mind for ourselves and the world
Courage to think the benefit of the others
If we think something is good (positive) – even on difficult condition we could be happy. To be happy we should think the benefit in our mind, so we could transform that problem into happiness. If we give positive labeling, then we could be grateful.
Complete happiness come from a
good heart
peace of mind
contenment
self improvement
liberation of samsara.

Resumed from the dharma teaching of Lama Zopa Rinpoche in Jakarta, February 24, 2009

Everyday Spirituality

Wake up every morning with grateful heart, that we are still alive and could dedicated our life for the others
In every minute cultivate in our mind the cause of the happiness through give benefit for the others. For instance, when we take a shower that means we clean up our body for the others. So the people do not smell our odor.
Compassion, do not harm the others and serve them to liberate others from their samsara

Listen To

Mendengar dalam bahasa Inggris mempunyai nuansa tersendiri. Kata ‘hear’ hanya mensyaratkan memiliki telinga sebagai indra pendengaran dan cukup ada obyek yang mengeluarkan bunyi.
Sementara kata ‘listen’ yang harus ditambah ‘to’ memiliki subyek yang didengar dan mensyaratkan kita aktif memperhatikan suara yang keluar dari si subyek kedua atau ketiga.
Dengan begitu orang bisa ‘hear’ dengan memasang telinga, namun tidak mendengarkan (listen to).
Jakarta, mid 2009

Pay it forward

Sebelumnya aku tidak menyadari keelokan dan kedalaman kata terima kasih. Ketika kuucapkan pelan-pelan, dua kata ini demikian indahnya. Terima, yang bernuansa pasif bergabung dengan kata ‘kasih’ yang bisa berarti aktif memberi. Dengan demikian kata terima kasih mengisyaratkan pay it forward, kita menerima dan akan memberikannya kembali suatu saat nanti.
Namun kata kedua ‘kasih’ juga bisa bernuansa kata sifat, welas asih (compassion). Sehingga terima kasih mengisyaratkan kita menerima cinta yang penuh welas asih tadi. Indah bukan?
Andai kata ini diucapkan dan diresapkan dalam hati, betapa dahsyat makna kata terima kasih ini.
Jakarta, mid 2009

Monday, March 30, 2009

Earth Hour

Sedikit lama-lama menjadi bukit. Begitu aku meyakini perkara lingkungan hidup. Andai setiap orang mematikan sebuah lampu, meski cuma 10 Watt, kalau sejuta orang sudah jadi 10 juta Watt.
Ini berlaku ketika Earth Hour. Sengaja berdiam di rumah, menjelang pukul 20.30 kumatikan semua lampu dan alat elektronik di kamar serta mengurangi lampu koridor. Lalu kunikmati 'bermain air' dengan mencuci pakaian pakai tangan. Hand washing yang hemat energi.
Menunggu pukul 21.30, di balkon kulihat lampu penerangan jalan depan rumah dan lampu hias Grand Indonesia ikut dimatikan. Tampaknya imbauan Earth Hour tahun ini lebih berhasil ketimbang 1-2 tahun lalu, ketika diawali dari Sydney. Keberhasilan ini kian menggarisbawahi keinginan masyarakat untuk mendinginkan bumi menjelang UNFCCC di Kopenhagen akhir 2009.
Sayang Jakarta pusat berawan, sehingga bintang-gemintang tidak merajai kegelapan malam. Betapa kita juga butuh kegelapan malam, saat-saat mempersilakan cahaya alam bertahta menggusur kelam.


Jakarta, 28 Maret 2009

Smurf

Ada 'jiwa' kanak-kanak dalam diri setiap orang dewasa.
Tampaknya ini kian mengena ketika sampai pada kegemaranku terhadap cerita bergambar (cergam) dan animasi. Setelah sekian lama berburu, ternyata Kurni memberikan satu set Smurf sebagai kado untukku. Jadilah men-smurf smurf untuk Smurf mbledish :)
Selain Smurf, cergam dunia seperti Tintin, Asterix dan Lucky Luke menjadi bagian koleksi-ku. Bahkan cergam wayang karya R.A. Koesasih pun terkadang menjadi 'ladang' perburuanku. Ini mengimbangi bacaan serius dari bahan kuliah dan menulis menjadi menjadi 'makanan' sehari-hariku. Sebuah keseimbangan.


Jakarta, 14 Februari 2009

Lavish

Baru Januari lalu, anak asuh kami minta pensil 2B dan pena. Kubelikan satu set dan kutambah punyaku sehingga ada 3 pensil dan 2 pena plus rautan dan penghapusnya. Belum lagi 3 bulan, anak ini sudah minta lagi. Berarti sebulan satu pensil. Rasanya tidak masuk akal, mengingat pensil itu hanya untuk try out. Sementara pensil 2B bekas GMAT masuk ITB dua tahun lalu, masih tersisa panjang dan tersimpan baik di desk organizer-ku.
Masalahnya bukan sekedar beli lagi, tapi ini lebih soal perilaku antara boros dan ceroboh, suatu perilaku yang tidak terpuji.
Sebagai keturunan kaum migran, seperti Tionghoa Diaspora yang hidup di perantauan, keluargaku hidup gemi nastiti (hemat dan cermat).
Dengan ketidakpastian krisis ekonomi dunia saat ini, perilaku hemat dan cermat sangatlah penting. Apalagi perilaku ini cenderung ramah lingkungan dengan mengurangi konsumsi energi dan emisi.

Jakarta, 22 Maret 2009