Ketika artikel dipublikasikan media, sebagai penulis lepas, ini merupakan sebuah capaian (achievement). Terlebih ketika belum ada prestasi atau capaian lain dalam artian signifikan.
Ini mengingatkan pada Need for Achievement (N-Ach), pelajaran di bangku kuliah. N-Ach mengacu pada keinginan seseorang akan suatu capaian signifikan yang menyangkut ketrampilan atau suatu standard kompetensi tertentu.
N-Ach mengarah pada sesuatu yang sulit untuk diraih. Individu dengan N-Ach rendah memilih suatu capaian yang relatif mudah untuk mengurangi risiko gagal. Sedang individu dengan N-Ach tinggi bakal tertantang untuk meraih capaian dengan standard tinggi yang terukur. Karenanya individu tersebut menyukai tantangan dan memiliki kemandirian yang tinggi pula.
Dengan N-Ach, ada suatu standard tertentu yang kita anggap sebagai capaian. Suatu pujian atas ketrampilan tertentu bisa merupakan suatu capaian bagi suatu individu, namun tidak demikian halnya bagi individu yang lain.
Bagiku, pujian atas ketrampilan domestik (tanpa merendahkan keuletan rumah tangga) belumlah merupakan suatu capaian signifikan. Ini menjadi bagian kegelisahan domestifikasi.
Ini karena tidak ada standard signifikan dalam capaian domestik. Pahadal kalau kita melakukan penghitungan moneter atas ketrampilan rumah tangga, nilai per jam-nya bisa melebihi pekerjaan purna waktu di arena publik yang mendapat penghargaan nyata.
Mengingat N-Ach berkorelasi dengan perasaan positif, ada baiknya orangtua mendorong kemandirian anaknya dengan rajin-rajin memberi pujian dan penghargaan atas capaian si bocah.
Negara maju relatif lebih sadar akan N-Ach ini, sehingga sedemikian banyak penghargaan akan kepahlawanan sederhana di tengah masyarakat. Maka negara ini 'rajin melahirkan' pahlawan-pahlawan cilik di berbagai bidang guna memupuk capaian besar di masa mendatang.
Canberra, 10 December 2010 (menyambut Dedek Mika)
Showing posts with label My facebook. Show all posts
Showing posts with label My facebook. Show all posts
Monday, December 13, 2010
Friday, November 12, 2010
“Menyelamatkan” Tiap Potong Roti Bagi Yang Membutuhkan
Badan Pangan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan lebih dari satu miliar orang di dunia mengalami kelaparan. Berarti tiap 1 dari 6 orang di bumi tidak cukup mendapatkan pangan. Benarkah dunia mengalami kekurangan pangan?
Sebetulnya yang terjadi adalah ketidakmerataan dan ketidakadilan yang dilanggengkan oleh sistem dan struktur. Pasalnya penulis kerap menyaksikan dengan hati pedih, roti segar (dalam jumlah banyak) yang dibuang begitu saja ke tempat sampah.
Ini karena sistem ekonomi di negara-negara maju menempatkan roti segar sebagai produk unggul. Untuk menjaga 'kesegaran' itu, roti harus keluar dari pemanggang di hari yang sama. Dengan demikian, produk yang tidak habis terjual hari itu akan terdampar di tempat sampah atas nama 'kesegaran'.
Cara-cara untuk 'menyelamatkan' roti dengan diskon di penghujung hari, itu bertentangan dengan sistem ekonomi yang menempatkan 'kesegaran' sebagai produk unggul.
Mendermakan roti segar begitu saja, ternyata 'dibayangi' tuntutan apabila yang memakannya mengalami gangguan kesehatan. Maka orang-orang macam Stanislawa Dabrowski adalah 'pahlawan penyelamat' setiap potong roti segar bagi yang membutuhkan.
Nenek 84 tahun yang akrab disapa Stasia ini berkeliling suburb Canberra untuk mengumpulkan roti segar yang disumbangkan pemilik gerai. Ia mengolahnya untuk disajikan dengan sup yang ia masak bagi para tuna wisma dan orang-orang yang membutuhkan.
Tentang Stasia bisa Anda baca di halaman Profil Harian Umum Sinar Harapan edisi Rabu, 13 Oktober 2010.
Sebetulnya yang terjadi adalah ketidakmerataan dan ketidakadilan yang dilanggengkan oleh sistem dan struktur. Pasalnya penulis kerap menyaksikan dengan hati pedih, roti segar (dalam jumlah banyak) yang dibuang begitu saja ke tempat sampah.
Ini karena sistem ekonomi di negara-negara maju menempatkan roti segar sebagai produk unggul. Untuk menjaga 'kesegaran' itu, roti harus keluar dari pemanggang di hari yang sama. Dengan demikian, produk yang tidak habis terjual hari itu akan terdampar di tempat sampah atas nama 'kesegaran'.
Cara-cara untuk 'menyelamatkan' roti dengan diskon di penghujung hari, itu bertentangan dengan sistem ekonomi yang menempatkan 'kesegaran' sebagai produk unggul.
Mendermakan roti segar begitu saja, ternyata 'dibayangi' tuntutan apabila yang memakannya mengalami gangguan kesehatan. Maka orang-orang macam Stanislawa Dabrowski adalah 'pahlawan penyelamat' setiap potong roti segar bagi yang membutuhkan.
Nenek 84 tahun yang akrab disapa Stasia ini berkeliling suburb Canberra untuk mengumpulkan roti segar yang disumbangkan pemilik gerai. Ia mengolahnya untuk disajikan dengan sup yang ia masak bagi para tuna wisma dan orang-orang yang membutuhkan.
Tentang Stasia bisa Anda baca di halaman Profil Harian Umum Sinar Harapan edisi Rabu, 13 Oktober 2010.
Abundant Versus Scarcity
Di antara kaum tuna wisma, tak jarang terlihat eksekutif berdasi ikut antri sup dan roti gratis yang Stanislawa Dabrowski bagikan di pusat ibukota Canberra tiap Jumat petang. Bagi nenek 84 tahun yang dikenal sebagai “The Soup Lady” ini, hal itu tidak masalah dan tidak ada yang perlu dibeda-bedakan.
“Saya mendapatkannya dengan cuma-cuma, maka saya memberikannya juga dengan cuma-cuma,” jawab Stanislawa yang akrab disapa Stasia.
Di mataku hal itu semacam moral hazard. Tak sepantasnya orang berdasi mendapatkan roti dan sup gratis yang sedianya ditujukan bagi kaum papa dan tuna wisma. Menjadi alumni sekolah bisnis dan manajemen, aku memandang sumber daya sebagai produk langka, bukan sesuatu yang patut 'salah peruntukkan' bagi orang yang tidak layak menerimanya.
Namun bagi Stasia, sumber daya itu akan datang dengan sendirinya. Di matanya, seolah sumber daya itu merupakan kasih dan kemurahan yang melimpah-limpah, yang tiada habisnya.
Dan memang ia tidak salah. Sepanjang menjadi relawan the Soup Kitchen, hampir setiap kali ada yang memberikan sesuatu bagi karya amal Stasia itu, mulai dari uang recehan sampai mobil van dari Pemerintah Wilayah Ibukota Australia (ACT).
Ini mengingatkan pada pola pikir dan law of attraction. Bila kita memandang sumber daya itu melimpah (abundant), pola pikir itu akan 'menarik' sumber daya yang melimpah tadi kepada kita.
Meski tidak sesederhana itu, namun cara pandang dan energi positif ini membuatku merindukan Stasia.
“Saya mendapatkannya dengan cuma-cuma, maka saya memberikannya juga dengan cuma-cuma,” jawab Stanislawa yang akrab disapa Stasia.
Di mataku hal itu semacam moral hazard. Tak sepantasnya orang berdasi mendapatkan roti dan sup gratis yang sedianya ditujukan bagi kaum papa dan tuna wisma. Menjadi alumni sekolah bisnis dan manajemen, aku memandang sumber daya sebagai produk langka, bukan sesuatu yang patut 'salah peruntukkan' bagi orang yang tidak layak menerimanya.
Namun bagi Stasia, sumber daya itu akan datang dengan sendirinya. Di matanya, seolah sumber daya itu merupakan kasih dan kemurahan yang melimpah-limpah, yang tiada habisnya.
Dan memang ia tidak salah. Sepanjang menjadi relawan the Soup Kitchen, hampir setiap kali ada yang memberikan sesuatu bagi karya amal Stasia itu, mulai dari uang recehan sampai mobil van dari Pemerintah Wilayah Ibukota Australia (ACT).
Ini mengingatkan pada pola pikir dan law of attraction. Bila kita memandang sumber daya itu melimpah (abundant), pola pikir itu akan 'menarik' sumber daya yang melimpah tadi kepada kita.
Meski tidak sesederhana itu, namun cara pandang dan energi positif ini membuatku merindukan Stasia.
Kedekatan itu Bukan Sekedar Jarak
Dalam jurnalistik ada kriteria kedekatan untuk memilih dan memilah berita. Saat ini berasa sekali kedekatan ini bukan semata urusan ruang dengan jarak tempuh tertentu.
Mungkin tidak banyak orang Indonesia yang tahu persis letak Pulau Pagai (Pagai Utara dan Pagai Selatan). Namun bagi para peselancar, gelombang di bagian selatan Kepulauan Mentawai ini masuk kategori kelas dunia (world class wave). Tak heran peselancar Australia lebih mengenalnya daripada penulis yang notabene warga Indonesia.
Terkenal di kalangan peselancar mancanegara, Pulau Pagai ternyata memiliki resor cantik dengan cottages nuansa etnik berpadu dengan keindahan pantainya. Ini justru penulis saksikan di siaran berita televisi Australia.
Pasalnya 10 warga Australia termasuk di antara sekitar 190 korban yang hilang, ketika gelombang tsunami menyapu bagian selatan Kepulauan Mentawai tersebut. Tsunami - yang diyakin mencapai setinggi 3 meter - dipicu gempa tektonik yang menurut United State Geological Survey (USGS) berkekuatan 7,7 dengan kedalaman episentrum 20,6 kilometer terjadi pada Senin, 25 Oktober 2010 pukul 21.42 waktu setempat.
Di antara 10 warga Australia itu, terdapat nama Alex McTaggart yang merupakan Walikota Pittwater sekaligus anggota parlemen (MP) dari negara bagian New South Wales. Tak pelak televisi Australia menayangkan sebagai breaking news di berita pagi, ketika di Indonesia bagian barat masih terlelap pada dini hari.
Gempa bumi diiringi tsunami ini mengingatkan pada bencana nasional tsunami Aceh dan Nias di tahun 2004 dan 2005. Karenanya kedekatan saat ini kurasakan lebih emosional. Ada duka dan prihatin, namun juga pertanyaan besar kemana Sistem Peringatan Dini Tsunami yang pernah digembar-gemborkan?
Memang gempa tektonik sulit dipastikan kapan terjadinya. Namun para ahli geologi dan berbagai pakar telah memperingatkan sejak tahun 2004, bahwa setelah Aceh dan Nias, Patahan Siberut bakal di urutan berikutnya.
Ada yang dikenal sebagai Sunda Megathrust mulai dari Laut Andaman di selatan Burma melengkung sepanjang pantai barat Pulau Sumatera dan pantai selatan Pulau Jawa hingga Sumbawa. Ini merupakan pertemuan lempeng Eurasia dengan Indo-Australia yang aktif kembali melepaskan 'energi bumi' sejak gempa dan tsunami 2004.
Kenapa kita tidak belajar dari masa lalu? Mengapa suara para pakar itu dianggap angin lalu? Tanya? Kenapa?
Mungkin tidak banyak orang Indonesia yang tahu persis letak Pulau Pagai (Pagai Utara dan Pagai Selatan). Namun bagi para peselancar, gelombang di bagian selatan Kepulauan Mentawai ini masuk kategori kelas dunia (world class wave). Tak heran peselancar Australia lebih mengenalnya daripada penulis yang notabene warga Indonesia.
Terkenal di kalangan peselancar mancanegara, Pulau Pagai ternyata memiliki resor cantik dengan cottages nuansa etnik berpadu dengan keindahan pantainya. Ini justru penulis saksikan di siaran berita televisi Australia.
Pasalnya 10 warga Australia termasuk di antara sekitar 190 korban yang hilang, ketika gelombang tsunami menyapu bagian selatan Kepulauan Mentawai tersebut. Tsunami - yang diyakin mencapai setinggi 3 meter - dipicu gempa tektonik yang menurut United State Geological Survey (USGS) berkekuatan 7,7 dengan kedalaman episentrum 20,6 kilometer terjadi pada Senin, 25 Oktober 2010 pukul 21.42 waktu setempat.
Di antara 10 warga Australia itu, terdapat nama Alex McTaggart yang merupakan Walikota Pittwater sekaligus anggota parlemen (MP) dari negara bagian New South Wales. Tak pelak televisi Australia menayangkan sebagai breaking news di berita pagi, ketika di Indonesia bagian barat masih terlelap pada dini hari.
Gempa bumi diiringi tsunami ini mengingatkan pada bencana nasional tsunami Aceh dan Nias di tahun 2004 dan 2005. Karenanya kedekatan saat ini kurasakan lebih emosional. Ada duka dan prihatin, namun juga pertanyaan besar kemana Sistem Peringatan Dini Tsunami yang pernah digembar-gemborkan?
Memang gempa tektonik sulit dipastikan kapan terjadinya. Namun para ahli geologi dan berbagai pakar telah memperingatkan sejak tahun 2004, bahwa setelah Aceh dan Nias, Patahan Siberut bakal di urutan berikutnya.
Ada yang dikenal sebagai Sunda Megathrust mulai dari Laut Andaman di selatan Burma melengkung sepanjang pantai barat Pulau Sumatera dan pantai selatan Pulau Jawa hingga Sumbawa. Ini merupakan pertemuan lempeng Eurasia dengan Indo-Australia yang aktif kembali melepaskan 'energi bumi' sejak gempa dan tsunami 2004.
Kenapa kita tidak belajar dari masa lalu? Mengapa suara para pakar itu dianggap angin lalu? Tanya? Kenapa?
Keseharian Yang Tak Lagi Remeh
Musim Dingin Di Australia Dalam Kenangan
Sinar mentari menyengat terasa menjadi keseharian sambil lalu di Indonesia. Nyaris tanpa arti, karena telah menjadi kehidupan sehari-hari kecuali hari mendung dan hujan. Namun begitu hawa dingin Canberra menyergap diiringi rinai hujan dengan langit kelabu, mentari yang menjadi keseharian negara tropis tak lagi keseharian sambil lalu.
Pertengahan tahun di bumi belahan selatan suasana baru bagi penulis untuk menetap. Sang surya kini terasa menjadi sesuatu yang sangat berarti. Sinar surya baru muncul sekitar pukul tujuh pagi. Sekalipun terik tengah hari, udara dingin belasan derajat Celsius rasanya tak mampu menghangatkan badan kelahiran negara tropis. Apalagi kalau sang surya berangkat ke peraduan sekitar pukul lima sore, serasa terlalu singkat kehadirannya di musim dingin ini.
Matahari yang menjadi keseharian kita di Indonesia, tidaklah terlalu berasa kalaupun sekali-kali mendung atau hujan. Namun bagi badan kelahiran negara tropis ini, matahari jadi sangat berarti di musim dingin. Mentari tidak saja menghangatkan, tapi juga memberi dampak psikologis dan klinis yang baru berasa nyata saat ini. Sinar surya menjadi pula sumber pemicu kestabilan hormon melatonin yang memberi efek psikologis kita menjadi lebih ceria. Begitu matahari jarang muncul diiringi kabut muram dan hawa dingin, hormon melatonin jadi ngambek yang menyebabkan kita cenderung murung sampai efek depresi yang lebih parah.
Pemanas Ruangan
Meski musim dingin bukan pengalaman baru, namun menetap di negara empat musim menjadi lain cerita. Apalagi Australia terkenal sebagai salah satu negara paling kering dan relatif panas dalam hitungan bulan lebih panjang daripada musim dinginnya. Karenanya penghangat ruangan terpusat (sentral) bukanlah sesuatu keharusan sebagaimana di Eropa atau Amerika Utara, misalnya. Tubuh yang terbiasa dengan hangat atau panasnya Jakarta, kontan membutuhkan penghangat ruangan, terutama di malam hari. Bayangkan saja, minyak goreng membeku di dapur tanpa perlu masuk lemari es (kulkas).
Masalahnya, pemanas ruangan memicu udara dalam ruangan menjadi kering. Dampaknya kulit - yang terbiasa kelembapan dengan iklim tropis – mengerut, alhasil jadi terasa gatal. Bahkan udara kering kombinasi dengan hawa dingin bagi beberapa pendatang sampai menyebabkan hidung berdarah (mimisan). Karenanya cairan pelembab kulit dan pelembab ruangan (humidifier) menjadi kebutuhan lain di musim dingin.
Masalah lain, penghangat ruangan yang tidak sentral membuat kegiatan buang hajat menjadikan panggilan alam itu terasa sesuatu yang menyiksa. Hawa dingin toilet terasa ekstrem dibanding udara kamar tidur yang hangat, karena suhu ruangan relatif bertahan dalam kondisi kamar tertutup meski pemanas ruangan cenderung dimatikan sewaktu tidur. Jadi bisa dibayangkan kalau tengah malam atau dini hari tiba-tiba desakan buang air seni itu menghampiri. Keluar dari doona (selimut tebal musim dingin) saja sudah tantangan, apalagi keluar dari kamar tidur. Betapa nyamannya negara tropis, kapanpun mau ke kamar kecil, tidak pernah masalah, selagi badan kita sehat.
Termometer
Satu lagi, di Indonesia jarang-jarang kita perlu mengetahui suhu udara atau ramalan cuaca sebelum keluar rumah, paling-paling kehujanan atau kepanasan yang tak terlalu parah. Namun perjalanan 'imajiner' matahari ke belahan bumi utara, meninggalkan belahan selatannya bermusim dingin menjadikan badan tropis penulis musti memperhatikan suhu udara di tempat yang baru ini. Kalau tidak, salah-salah bisa 'salah kostum'.
Termometer menjadi salah satu kebutuhan baru yang sebelumnya menjadi barang sambil lalu, kalau tidak terlalu bermakna di negara tropis. Penunjuk suhu ruangan itu juga membantu menguji kebugaran dan ketahanan badan kita untuk mempertahankan suhu tubuh. Kalau pendingin udara (AC/air conditioner) di Indonesia biasanya paling dingin 16 derajat, itu penulis jadikan semacam ambang atas untuk bertahan tanpa pemanas ruangan. Kalau termometer sudah mendekati single digit, pemanas ruangan menjadi kebutuhan meski masih siang.
Air
Selain sinar surya, keseharian lain yang terasa sambil lalu ketika di Indonesia adalah air. Zat cair yang memancar dari keran jarang kita syukuri kehadirannya. Apalagi air yang mengalir di negara tropis relatif sama dengan suhu ruangan, bahkan di beberapa tempat mendapat anugerah mata air sejuk dan segar.
Di musim dingin, air yang mengalir dari pipa kami terasa bagaikan air es. Lazimnya ada dua tombol keran atau satu kepala keran dengan penunjuk panas dingin.
Malangnya, setelah lama tidak dipakai, pemanas air tidak langsung bekerja memancarkan air hangat begitu keran dibuka. Untuk beberapa saat, air sedingin es yang mengalir. Kalau sedang buru-buru misalnya di malam hari, ya terpaksa cuci tangan dengan air dingin tadi sehingga tangan terasa beku.
Suara Adzan
Terbitnya matahari yang terasa kesiangan di musim dingin ini, menjadikan penulis merasa kehilangan satu hal lain yang selama ini menjadi keseharian sambil lalu. Suara adzan subuh penanda terbitnya mentari di Indonesia. Selama ini panggilan itu seakan menjadi 'alarm alami' tubuh untuk bersiap bangun di pagi hari di Indonesia. Kalaupun di Eropa, masih ada gereja-gereja tua yang mendetangkan loncengnya pukul enam pagi.
Di sini deru mobil di jalan raya – yang kebetulan tak jauh dari rumah kami - menjadi salah satu penanda hari telah beranjak siang. Namun itu bukan waktu yang spesifik sebagaimana suara adzan atau dentang lonceng gereja. Unsur ritual religius yang selama ini terabaikan begitu saja, baru terasa ketika tidak ada kehadirannya.
Pedagang Keliling
Satu lagi rasa kehilangan dari nikmatnya tinggal di negara berkembang adalah kehadiran pedagang keliling. Kalau malam tiba dan pesanan dengan telpon lama, pedagang keliling adalah alternatif terbaik yang menghampiri setiap lorong Jakarta dan kota-kota besar lainnya.
Beragam pedagang keliling menghampiri dan tak perlu keluar rumah merupakan kenikmatan tersendiri, yang kini tak lagi penulis temui di negara maju ini. Apalagi musim dingin begini, rasanya telinga merindukan denting sendok beradu dengan mangkok pedagang sekoteng berkeliling kampung.
Mengapa kita baru merasa kehilangan ketika kehadirannya tak lagi menjadi bagian dari keseharian kita? Haruskan kita baru mensyukuri setelah anugerah itu tak lagi hadir bagi kita? Semoga kita lebih bersyukur menikmati rona kehidupan negara tropis dan negara berkembang kita.
Sinar mentari menyengat terasa menjadi keseharian sambil lalu di Indonesia. Nyaris tanpa arti, karena telah menjadi kehidupan sehari-hari kecuali hari mendung dan hujan. Namun begitu hawa dingin Canberra menyergap diiringi rinai hujan dengan langit kelabu, mentari yang menjadi keseharian negara tropis tak lagi keseharian sambil lalu.
Pertengahan tahun di bumi belahan selatan suasana baru bagi penulis untuk menetap. Sang surya kini terasa menjadi sesuatu yang sangat berarti. Sinar surya baru muncul sekitar pukul tujuh pagi. Sekalipun terik tengah hari, udara dingin belasan derajat Celsius rasanya tak mampu menghangatkan badan kelahiran negara tropis. Apalagi kalau sang surya berangkat ke peraduan sekitar pukul lima sore, serasa terlalu singkat kehadirannya di musim dingin ini.
Matahari yang menjadi keseharian kita di Indonesia, tidaklah terlalu berasa kalaupun sekali-kali mendung atau hujan. Namun bagi badan kelahiran negara tropis ini, matahari jadi sangat berarti di musim dingin. Mentari tidak saja menghangatkan, tapi juga memberi dampak psikologis dan klinis yang baru berasa nyata saat ini. Sinar surya menjadi pula sumber pemicu kestabilan hormon melatonin yang memberi efek psikologis kita menjadi lebih ceria. Begitu matahari jarang muncul diiringi kabut muram dan hawa dingin, hormon melatonin jadi ngambek yang menyebabkan kita cenderung murung sampai efek depresi yang lebih parah.
Pemanas Ruangan
Meski musim dingin bukan pengalaman baru, namun menetap di negara empat musim menjadi lain cerita. Apalagi Australia terkenal sebagai salah satu negara paling kering dan relatif panas dalam hitungan bulan lebih panjang daripada musim dinginnya. Karenanya penghangat ruangan terpusat (sentral) bukanlah sesuatu keharusan sebagaimana di Eropa atau Amerika Utara, misalnya. Tubuh yang terbiasa dengan hangat atau panasnya Jakarta, kontan membutuhkan penghangat ruangan, terutama di malam hari. Bayangkan saja, minyak goreng membeku di dapur tanpa perlu masuk lemari es (kulkas).
Masalahnya, pemanas ruangan memicu udara dalam ruangan menjadi kering. Dampaknya kulit - yang terbiasa kelembapan dengan iklim tropis – mengerut, alhasil jadi terasa gatal. Bahkan udara kering kombinasi dengan hawa dingin bagi beberapa pendatang sampai menyebabkan hidung berdarah (mimisan). Karenanya cairan pelembab kulit dan pelembab ruangan (humidifier) menjadi kebutuhan lain di musim dingin.
Masalah lain, penghangat ruangan yang tidak sentral membuat kegiatan buang hajat menjadikan panggilan alam itu terasa sesuatu yang menyiksa. Hawa dingin toilet terasa ekstrem dibanding udara kamar tidur yang hangat, karena suhu ruangan relatif bertahan dalam kondisi kamar tertutup meski pemanas ruangan cenderung dimatikan sewaktu tidur. Jadi bisa dibayangkan kalau tengah malam atau dini hari tiba-tiba desakan buang air seni itu menghampiri. Keluar dari doona (selimut tebal musim dingin) saja sudah tantangan, apalagi keluar dari kamar tidur. Betapa nyamannya negara tropis, kapanpun mau ke kamar kecil, tidak pernah masalah, selagi badan kita sehat.
Termometer
Satu lagi, di Indonesia jarang-jarang kita perlu mengetahui suhu udara atau ramalan cuaca sebelum keluar rumah, paling-paling kehujanan atau kepanasan yang tak terlalu parah. Namun perjalanan 'imajiner' matahari ke belahan bumi utara, meninggalkan belahan selatannya bermusim dingin menjadikan badan tropis penulis musti memperhatikan suhu udara di tempat yang baru ini. Kalau tidak, salah-salah bisa 'salah kostum'.
Termometer menjadi salah satu kebutuhan baru yang sebelumnya menjadi barang sambil lalu, kalau tidak terlalu bermakna di negara tropis. Penunjuk suhu ruangan itu juga membantu menguji kebugaran dan ketahanan badan kita untuk mempertahankan suhu tubuh. Kalau pendingin udara (AC/air conditioner) di Indonesia biasanya paling dingin 16 derajat, itu penulis jadikan semacam ambang atas untuk bertahan tanpa pemanas ruangan. Kalau termometer sudah mendekati single digit, pemanas ruangan menjadi kebutuhan meski masih siang.
Air
Selain sinar surya, keseharian lain yang terasa sambil lalu ketika di Indonesia adalah air. Zat cair yang memancar dari keran jarang kita syukuri kehadirannya. Apalagi air yang mengalir di negara tropis relatif sama dengan suhu ruangan, bahkan di beberapa tempat mendapat anugerah mata air sejuk dan segar.
Di musim dingin, air yang mengalir dari pipa kami terasa bagaikan air es. Lazimnya ada dua tombol keran atau satu kepala keran dengan penunjuk panas dingin.
Malangnya, setelah lama tidak dipakai, pemanas air tidak langsung bekerja memancarkan air hangat begitu keran dibuka. Untuk beberapa saat, air sedingin es yang mengalir. Kalau sedang buru-buru misalnya di malam hari, ya terpaksa cuci tangan dengan air dingin tadi sehingga tangan terasa beku.
Suara Adzan
Terbitnya matahari yang terasa kesiangan di musim dingin ini, menjadikan penulis merasa kehilangan satu hal lain yang selama ini menjadi keseharian sambil lalu. Suara adzan subuh penanda terbitnya mentari di Indonesia. Selama ini panggilan itu seakan menjadi 'alarm alami' tubuh untuk bersiap bangun di pagi hari di Indonesia. Kalaupun di Eropa, masih ada gereja-gereja tua yang mendetangkan loncengnya pukul enam pagi.
Di sini deru mobil di jalan raya – yang kebetulan tak jauh dari rumah kami - menjadi salah satu penanda hari telah beranjak siang. Namun itu bukan waktu yang spesifik sebagaimana suara adzan atau dentang lonceng gereja. Unsur ritual religius yang selama ini terabaikan begitu saja, baru terasa ketika tidak ada kehadirannya.
Pedagang Keliling
Satu lagi rasa kehilangan dari nikmatnya tinggal di negara berkembang adalah kehadiran pedagang keliling. Kalau malam tiba dan pesanan dengan telpon lama, pedagang keliling adalah alternatif terbaik yang menghampiri setiap lorong Jakarta dan kota-kota besar lainnya.
Beragam pedagang keliling menghampiri dan tak perlu keluar rumah merupakan kenikmatan tersendiri, yang kini tak lagi penulis temui di negara maju ini. Apalagi musim dingin begini, rasanya telinga merindukan denting sendok beradu dengan mangkok pedagang sekoteng berkeliling kampung.
Mengapa kita baru merasa kehilangan ketika kehadirannya tak lagi menjadi bagian dari keseharian kita? Haruskan kita baru mensyukuri setelah anugerah itu tak lagi hadir bagi kita? Semoga kita lebih bersyukur menikmati rona kehidupan negara tropis dan negara berkembang kita.
Wednesday, October 13, 2010
Ketika Keluarga Mendapat Posisi Sentral di Publik
Di Australia, keluarga mendapat posisi sentral. Salah satunya dengan menjadikan Hari Keluarga sebagai hari libur publik seperti di Wilayah Ibukota Australia (ACT).
Di ruang publik, keluarga selalu mendapat tempat tersendiri. Hampir semua taman dilengkapi dengan sarana bermain anak. Berbagai pusat perbelanjaan menyediakan Ruang Orangtua (Parents Room). Dengan demikian, tidak saja ibu melainkan juga ayah dapat menjalankan perannya di ruang publik.
Merayakan Peran Keayahan
Dalam sebuah film haru-biru seorang ayah yang sekarat dan menjelang ajal, putrinya yang telah menjadi pelayar nun jauh di seberang lautan menghubungi melalui telepon satelit. Ia mengakui ayahnya merupakan laki-laki pertama dalam hidupnya dan yang memperkenalkannya pada dunia maskulinitas. Sebuah peran keayahan yang jarang mendapat tempat dalam keseharian kita.
Tidak demikian halnya di negara-negara maju, peran ayah mendapat berbagai pengakuan. Salah satunya adalah Hari Ayah (Father's Day). Di Australia dan sekitarnya (Fiji, Papua Nugini dan Selandia Baru), tahun ini Hari Ayah jatuh pada tanggal 5 September (Minggu pertama September). Sedang di Amerika Serikat, tempat Hari Ayah diawali, jatuh pada Minggu ketiga bulan Juni.
Pada hari yang membahagiakan itu, sang ayah akan mendapat berbagai hadiah dari putra-putri, istri dan kerabatnya. Di Australia, barang elektronika dan perangkat keras (hardware) tampaknya masih menjadi favorit hadiah untuk sang ayah. The Epoch Times yang mengutip analisa informasi bisnis IBISWorld memperkirakan belanja perangkat keras dan barang elektronika pada Hari Ayah 2010 kembali melonjak, bakal naik 13 persen menjadi AU$ 236 juta. Selain itu minuman keras, buku dan compact disc (CD) menjadi pilihan lain hadiah.
Banyak keluarga merayakan dengan makan siang bersama karena Hari Ayah jatuh pada hari Minggu. Tak jarang mereka berkumpul di kediaman sang kakek atau bahkan kakek buyut, sehingga empat generasi melakukan reuni keluarga. Masakan favorit sang ayah tentu mendapat prioritas, namun kerap pula masakan ayah yang dirindukan anak-cucunya. Seperti tetangga sebelah rumah kami, cucunya justru merindukan masakan buatan sang kakek, karena ketika balita ia kerap dititipkan di sana.
Tidak sedikit keluarga yang merayakan dengan menraktir sang ayah makan di rumah makan kesukaannya. Atau merayakan di tempat terbuka taman-taman kota. Seperti di Canberra, pemerintah negara bagian Wilayah Ibukota Australia (Australian Capital Territory/ACT) mendukung Hari Ayah yang dipusatkan di Weston Park dengan berbagai kegiatan yang melibatkan keluarga, mulai dari permainan, musik dan sebagainya.
Indonesia secara resmi memang tidak memiliki Hari Ayah, namun tidak berarti kita tidak bisa merayakan peran keayahan. Apalagi dengan makin banyaknya keluarga inti/batih (nuclear family) mandiri dan jauh dari orangtua, yang berarti tak lagi bisa mengandalkan kakek-nenek untuk membantu menjaga cucu. Kian lazim pula istri memasuki dunia publik, sehingga peran ayah kini mitra sejajar untuk berbagi beban. Dengan demikian beban rumah tangga tidak semata-mata bertumpu pada sang ibu yang harus berperan ganda.
Apalagi banyak keluarga muda yang kian menghargai status ayah. Makin banyak lelaki matang yang menikmati predikat sebagai ayah dan berhasrat memiliki lebih banyak waktu bagi keluarga dan anak-anaknya.
Cuti Sebagai Ayah
Bentuk lain dari peran keayahan yang mendapat pengakuan di banyak negara Barat dan negara maju adalah cuti sebagai ayah (paternity leave). Ini merupakan bentuk cuti sebagai orangtua, di samping cuti melahirkan (maternity leave) yang sudah lazim bagi perempuan yang bekerja secara publik.
Bahkan Perdana Menteri (PM) Inggris, David Cameron pun baru-baru ini mengambil cuti tersebut. Itu setelah istrinya, Samantha melahirkan anak keempat mereka melalui operasi caesar. Menurut undang-undang Inggris, ayah baru dapat mengambil cuti yang tetap digaji hingga dua pekan.
Di Australia, mulai 1 Januari 2011, ayah baru akan berhak cuti hingga 18 pekan dengan digaji berdasarkan upah minimum. Bahkan di Bulgaria, seorang ayah atau kakek berhak mengambil cuti kelahiran (maternity leave) hingga 1 tahun dibayar 100 persen oleh negara.
Sedang di Indonesia, cuti bagi ayah baru masih tergantung kebijakan kantor masing-masing. Meski wajarnya diberikan dalam 1-2 hari ketika sang istri melahirkan. Sebenarnya, Indonesia bisa mencontoh Kanada yang membayar cuti kelahiran melalui sistem asuransi pekerja. Sebab, peran ayah tidak kalah dengan peran ibu dalam pengasuhan anak-anak. Semoga peran keayahan kian mendapat tempat di Indonesia.
* Penulis adalah mantan jurnalis harian di Jakarta yang kini menetap di selatan Canberra
Di ruang publik, keluarga selalu mendapat tempat tersendiri. Hampir semua taman dilengkapi dengan sarana bermain anak. Berbagai pusat perbelanjaan menyediakan Ruang Orangtua (Parents Room). Dengan demikian, tidak saja ibu melainkan juga ayah dapat menjalankan perannya di ruang publik.
Merayakan Peran Keayahan
Dalam sebuah film haru-biru seorang ayah yang sekarat dan menjelang ajal, putrinya yang telah menjadi pelayar nun jauh di seberang lautan menghubungi melalui telepon satelit. Ia mengakui ayahnya merupakan laki-laki pertama dalam hidupnya dan yang memperkenalkannya pada dunia maskulinitas. Sebuah peran keayahan yang jarang mendapat tempat dalam keseharian kita.
Tidak demikian halnya di negara-negara maju, peran ayah mendapat berbagai pengakuan. Salah satunya adalah Hari Ayah (Father's Day). Di Australia dan sekitarnya (Fiji, Papua Nugini dan Selandia Baru), tahun ini Hari Ayah jatuh pada tanggal 5 September (Minggu pertama September). Sedang di Amerika Serikat, tempat Hari Ayah diawali, jatuh pada Minggu ketiga bulan Juni.
Pada hari yang membahagiakan itu, sang ayah akan mendapat berbagai hadiah dari putra-putri, istri dan kerabatnya. Di Australia, barang elektronika dan perangkat keras (hardware) tampaknya masih menjadi favorit hadiah untuk sang ayah. The Epoch Times yang mengutip analisa informasi bisnis IBISWorld memperkirakan belanja perangkat keras dan barang elektronika pada Hari Ayah 2010 kembali melonjak, bakal naik 13 persen menjadi AU$ 236 juta. Selain itu minuman keras, buku dan compact disc (CD) menjadi pilihan lain hadiah.
Banyak keluarga merayakan dengan makan siang bersama karena Hari Ayah jatuh pada hari Minggu. Tak jarang mereka berkumpul di kediaman sang kakek atau bahkan kakek buyut, sehingga empat generasi melakukan reuni keluarga. Masakan favorit sang ayah tentu mendapat prioritas, namun kerap pula masakan ayah yang dirindukan anak-cucunya. Seperti tetangga sebelah rumah kami, cucunya justru merindukan masakan buatan sang kakek, karena ketika balita ia kerap dititipkan di sana.
Tidak sedikit keluarga yang merayakan dengan menraktir sang ayah makan di rumah makan kesukaannya. Atau merayakan di tempat terbuka taman-taman kota. Seperti di Canberra, pemerintah negara bagian Wilayah Ibukota Australia (Australian Capital Territory/ACT) mendukung Hari Ayah yang dipusatkan di Weston Park dengan berbagai kegiatan yang melibatkan keluarga, mulai dari permainan, musik dan sebagainya.
Indonesia secara resmi memang tidak memiliki Hari Ayah, namun tidak berarti kita tidak bisa merayakan peran keayahan. Apalagi dengan makin banyaknya keluarga inti/batih (nuclear family) mandiri dan jauh dari orangtua, yang berarti tak lagi bisa mengandalkan kakek-nenek untuk membantu menjaga cucu. Kian lazim pula istri memasuki dunia publik, sehingga peran ayah kini mitra sejajar untuk berbagi beban. Dengan demikian beban rumah tangga tidak semata-mata bertumpu pada sang ibu yang harus berperan ganda.
Apalagi banyak keluarga muda yang kian menghargai status ayah. Makin banyak lelaki matang yang menikmati predikat sebagai ayah dan berhasrat memiliki lebih banyak waktu bagi keluarga dan anak-anaknya.
Cuti Sebagai Ayah
Bentuk lain dari peran keayahan yang mendapat pengakuan di banyak negara Barat dan negara maju adalah cuti sebagai ayah (paternity leave). Ini merupakan bentuk cuti sebagai orangtua, di samping cuti melahirkan (maternity leave) yang sudah lazim bagi perempuan yang bekerja secara publik.
Bahkan Perdana Menteri (PM) Inggris, David Cameron pun baru-baru ini mengambil cuti tersebut. Itu setelah istrinya, Samantha melahirkan anak keempat mereka melalui operasi caesar. Menurut undang-undang Inggris, ayah baru dapat mengambil cuti yang tetap digaji hingga dua pekan.
Di Australia, mulai 1 Januari 2011, ayah baru akan berhak cuti hingga 18 pekan dengan digaji berdasarkan upah minimum. Bahkan di Bulgaria, seorang ayah atau kakek berhak mengambil cuti kelahiran (maternity leave) hingga 1 tahun dibayar 100 persen oleh negara.
Sedang di Indonesia, cuti bagi ayah baru masih tergantung kebijakan kantor masing-masing. Meski wajarnya diberikan dalam 1-2 hari ketika sang istri melahirkan. Sebenarnya, Indonesia bisa mencontoh Kanada yang membayar cuti kelahiran melalui sistem asuransi pekerja. Sebab, peran ayah tidak kalah dengan peran ibu dalam pengasuhan anak-anak. Semoga peran keayahan kian mendapat tempat di Indonesia.
* Penulis adalah mantan jurnalis harian di Jakarta yang kini menetap di selatan Canberra
Subscribe to:
Posts (Atom)