Showing posts with label Poems. Show all posts
Showing posts with label Poems. Show all posts

Monday, March 2, 2009

Kepada Langit

Kepada langit kelam
pada bintang-gemintang
Kau berikan paradoks kehidupan
secercah energi pada kemahaluasan
misteri di balik tahun-tahun cahaya


Memandang Venus fajar, 3 Maret 2009

Gaia Kehidupan

Apa yang Kau simpan
pada berjuta bintang-gemintang
dalam centang-perentang galaksi
di segenap jagad raya semesta alam,
kalau hanya Gaia yang bermakhluk
cuma Gaia yang Kauhembuskan napas kehidupan
Gaia semata?


Tanya malam, 3 Maret 2009

Tuesday, September 2, 2008

Hujan September

Mega mendung menebarkan jubah kelamnya
seantero langit sarat pekat
rintik yang dinanti jatuh
datang dari kekelaman
sebuah paradoks kehidupan
ada petang, ada terang


Lantai 25 ITB-SSBM – Jakarta, 28 Agustus 2008

Thursday, May 24, 2007

Kehendak Bebaskah?

Tuhan...
mengapa tak banyak
orang memikirkan yang lain?
mengapa tak banyak
orang mau berisiko demi yang lain?
Apakah ini justru atas
kehendak bebas yang Kau-anugerahkan?
atau justru kebebalan
lantas di sana fungsi agama?

Surabaya, 10 Januari 1995

Tuesday, May 22, 2007

Historisitas Manusia

Hanya makhluk bernama manusia
yang mengenal masa lalu yang menjadi kenangan,
masa kini yang harus dihadapi
masa datang yang menyimpan harapan.

Hanya manusia yang memikul beban masa lalunya
seperti Sisipus,
kala lupa menatap masa depan
tak menapak pada kekinian.

Tapi tanpa mengenal masa lalu,
manusia menjadi ahistoris
tak pernah belajar dari yang pernah terjadi

Surabaya New Year Eve 1995

Thursday, April 26, 2007

Rindu Untuk Mc

Aku merindukanmu dengan
rindu yang tak terbalas setimpal
Rindu hati kau baca birahi
hati terasa sulit bertemu hati
cuma sepotong logika bersua
Hatiku merindukan hatimu

Singapura, 31 Oktober 2006

Pilihan

Kehidupan yang kupilih
hidup tak mudah
tak sesederhana sebayaku
sekolah, kerja, kawin beranak-pinak
Ini harga mahal kebebasanku
melalui hari berbeda dan berwarna
tak semata rutinitas belaka

Jakarta, 17 Juni 2006

Luka

Dusta menggores
luka menganga
hatiku kembali merana

Kamal, 15 Juni 2006

Lelah

Kaki-kaki cinta
berhentilah
aku lelah
mengikuti

Jakarta, 8 Juni 2006

Pergi

Kalau 'ku pergi
jangan tangisi
ini keniscayaan
ada yang datang
ada yang pergi
ada hidup, ada mati
toh tak absolut
'ku kan hidup dalam sanubari
tulisanku kan bicara dalam diamku

Jakarta, 1 Juni 2006

Cinta

Bak benih jatuh
tak terelakkan 'kan tumbuh
pasang-surut oleh waktu
tak 'kan mati
ikatan emosi yang abadi
kecuali
kau cerabut akarnya
bagai aborsi
mengguncang kehidupan

Jakarta, 11 Februari 2006

Survival

Tak sejengkal pu tak terjamah
tinggi gunung menjulang
hingga gurun pasir tak bertepi
dengan akalnya
manusia menakhlukkan alam

Moembris-Jerman, 9 Desember 2005

Natural Wisdom

Kecil nampak lemah
rendah seolah tak berdaya
kala hawa dingin menyergap
rerumputan justru berjaya
kala pepohonan dipaksa
merontokkan mahkota
hijau daun tak bekerja
mengalah pada batang
'tuk tetap bertahan

Moembris-Jerman, 9 Desember 2005

Nisbi

Ada batas nisbi
di atas segala capaian
ada yang ats di atas segalanya

Sunrise Schiphol, 20 November 2005

Pelabuhan

Menggaris cakrawala
menembus batas
terbang mengangkasa
menggapai asa
jauh tinggi
saatnya nanti
kembali memijak bumi

Schiphol-Belanda, 20 November 2005

Kelabu

Mega berarak kelabu
kelabu menyaput langit
kelabu menaungi hatiku yang kelabu

Jakarta, 4 April 2005

Sunset

Gilang cerlang cemerlang baskara berpendar
mengisi kaki langit senja
merah bak sangkakala marah
sebelum kelam menerbarkan jubah hitamnya
menakhlukkan hari
sebuah perlawanan melawan kegelapan kah?

Senja dari balkon Kb Kacang Jakarta, 2004

Nilai

Manusia
begitu rentan di kaki-kaki
keterbatasan materi
demikian riskan
di batas-batas nilai
cenderung tak berdaya
di hadapan pesona dunia

Goethe Haus Jakarta, 13 Desember 2003
Inspirasi Film "Lichter"

Tax Payer

Aku bayar pajak
kau makan dari keringatku
tapi apa yang kau lakukan terhadapku?
Tak kau akui aku warganegaramu
uang kau kehendaki konsekuensi kau ingkari
Mbo ceng li!

Imigrasi Tangerang, 23 September 2003
(Kemarahan atas diskriminasi pelayanan publik negeri ini)

Sirene

Atas urgency apa kau bunyikan sirene itu?
Kau usir pengguna jalan menepi
hanya untuk memberi jalan siswa Akademi Militer
Apa hakmu?
Seragam militer itukah legitimasimu?
Baru siswa minta didahulukan,
apalagi kalau jadi perwira
apa pula yang kautuntut?

Jakarta, 17 Desember 2002