Nama sorgum kurang begitu dikenal di kalangan masyarakat saat ini, namun petani di Jawa telah mengenalnya sebagai jagung cantel (centel) yang ditanam secara tumpang sari dengan tanaman pangan lain. Bahkan, di sebagian daerah Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, sorgum menjadi salah satu bahan pangan dengan kandungan protein, kalsium, zat besi dan vitamin B1 yang lebih tinggi daripada beras.
Selain bahan pangan dan pakan ternak, biji sorgum juga bisa menjadi bahan baku industri, bahkan Amerika Serikat, India, dan China telah memanfaatkannya sebagai bahan baku bioetanol.
Ternyata, sejak awal tahun 2000-an Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi–Badan Tenaga Nuklir Nasional (PATIR–BATAN) sudah melakukan penelitian perbaikan varietas dengan memperbaiki sifat agronomi dan kualitas biji dan hijauan sorgum. Induksi mutan untuk meningkatkan keragaman genetik tanaman dilakukan dengan meradiasi benih (seed) atau embrio (plantlet) dengan sinar Gamma bersumber dari Cobalt-60.
Galur mutan unggul diuji daya hasilnya pada daerah kering seperti di Kabupaten Gunung Kidul pada musim kemarau. Sejumlah galur mutan tanaman sorgum dengan sifat-sifat agronomi unggul—seperti tanah rebah, genjah, produksi tinggi, kualitas biji baik dan lebih tanah terhadap kekeringan—telah dihasilkan dan dikoreksi sebagai plasma nutfah di PATIR-BATAN.
Keunggulan Sorgum
Sebagai bahan baku bioetanol, Soeranto dari PATIR-BATAN menyatakan sorgum dapat berkompetisi dengan molases tebu karena banyak kelebihannya. Tanaman sorgum memiliki produksi biji dan biomasa yang jauh lebih tinggi dibanding tebu; adaptasi tanaman sorgum jauh lebih luas dibanding tebu sehingga sorgum dapat ditanam di hampir semua jenis lahan, baik lahan subur maupun lahan marjinal; sorgum memiliki sifat lebih tahan terhadap kekeringan, salinitas tinggi dan genangan air (water lodging); sorgum memerlukan pupuk relatif lebih sedikit dan pemeliharaannya lebih mudah daripada tebu; laju pertumbuh-an tanaman sorgum jauh lebih cepat, umurnya hanya empat bulan dibanding tebu tujuh bulan; kebutuhan benih sorgum hanya 4,5-5 kilogram per hektare dibanding tebu 4.500-6.000 stek batang per hektare; lagipula sorgum dapat diratun sehingga sekali tanam dapat dipanen beberapa kali.
Sementara itu, clearing house energi terbarukan dan konservasi energi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) dalam situsnya menyebutkan perolehan alkohol dari sorgum mencapai 6.000 liter per hektare per tahun (dua kali panen) dibanding singkong yang 4.500 liter per hektare per tahun dan tebu 5.025 hektare per tahun. Sorgum sedikit kalah dengan ubi jalar (2,5 kali panen per tahun) yang menghasilkan 7.812 liter per hektare per tahun.
Peluang
Dengan keluarnya Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Permen ESDM) No 32/2008 tentang Penyediaan, Pemanfaatan dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel) Sebagai Bahan Bakar Lain, prospek industri bioetanol di Tanah Air makin cerah.
Pasal 3 Ayat (1) Untuk meningkatkan pemanfaatan Bahan Bakar Lain dalam rangka ketahanan energi nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Badan Usaha Pemegang lzin Usaha Niaga Bahan Bakar Minyak dan Pengguna Langsung Bahan Bakar Minyak, wajib menggunakan bahan bakar nabati (biofuel) sebagai bahan bakar lain secara bertahap.
Pasal 4 badan usaha pemegang lzin usaha niaga bahan bakar minyak dan pengguna langsung bahan bakar minyak dalam menggunakan bahan bakar nabati sebagai bahan bakar lain sebagaimana dimaksud dalarn Pasal 3 wajib memanfaatkan dan mengutamakan bahan bakar nabati (biofuel) sebagai bahan bakar lain dari produksi dalam negeri.
Pasal 6 .... badan usaha yang melaksanakan kegiatan usaha niaga bahan bakar nabati (biofuel) sebagai bahan bakar lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dapat diberikan insentif baik fiskal dan/atau non-fiskal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dengan kuota premium (bersubsidi) 19,44 juta kiloliter (kl) di tahun 2009, untuk memenuhi satu persen bioetanol (E100) di Januari 2009 saja, berarti dibutuhkan produksi bioetanol hingga 190.000 kl. Ini belum termasuk untuk sektor transportasi non-PSO (public service obligation) serta sektor industri dan komersial yang di tahun 2009 diwajibkan lima persen menggunakan bioetanol (E100).
Di tahun 2010, kewajiban untuk transportasi PSO akan naik menjadi tiga persen, sementara untuk sektor transportasi non-PSO serta sektor industri dan komersial yang di tahun 2009 diwajibkan tujuh persen menggunakan bioetanol (E100). Ini akan terus meningkat hingga mencapai sasaran di 2025 diwajibkan 15 persen penggunaan bioetanol (E100).
Kebutuhan Lahan
Bioetanol yang berbahan baku molases relatif hanya bisa dikembangkan di Pulau Jawa, sebagaian Sumatera dan Sulawesi yang memiliki lahan perkebunan tebu dan pabrik gula. Bioetanol berbahan baku singkong masih terbatas di beberapa provinsi saja.
Dengan keunggulan sorgum yang dapat ditanam di hampir semua jenis lahan, terbuka kemungkinan memproduksi bioetanol di provinsi yang tanahnya kering dan marjinal, seperti di Indonesia bagian timur. Sorgum dapat sekaligus meningkatkan ketahanan energi dan pangan di provinsi yang tanahnya kering dan marjinal tersebut. Inilah saatnya daerah tersebut melirik sorgum sebagai bahan baku alternatif bioetanol.
Showing posts with label Energy Concern. Show all posts
Showing posts with label Energy Concern. Show all posts
Friday, October 17, 2008
Friday, May 30, 2008
Mengkritisi Kebijakan Transportasi Gubernur DKI Jaya
Belum lama ini Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya (DKI Jaya)
terpilih, Fauzi Bowo mengungkapkan janjinya membangun tol dalam kota
sebagai terobosan mengatasi kemacetan Jakarta.
Sekilas ungkapan ini tampaknya menjanjikan untuk jalan keluar dari
kemacetan yang makin menggila. Namun memahami pertumbuhan kendaraan yang
mengikuti deret ukur (?) sementara pertumbuhan jalan cuma mengikuti deret
hitung (?), jelas bakal tidak imbang. Seberapa pun banyak jalan dibangun,
ujungnya kemacetan akan kembali muncul dalam beberapa waktu kemudian.
Krisis Minyak
Belum lagi kalau memperhatikan harga minyak mentah yang awal November sudah
tembus US$ 95 per barel. Meski harga bahan bakar minyak (BBM) untuk
transportasi masih disubsidi dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN), sepatutnya pemimpin pemerintahan memiliki visi penghematan bahan
bakar fosil yang makin langka ini.
Kebijakan menambah ruas jalan secara tidak langsung mendorong pertumbuhan
mobil yang notabene membutuhkan BBM. Bukan berarti pemerintah tidak
bertanggung jawab meningkatkan infrastruktur, namun ada banyak pilihan
cerdas bisa menjadi terobosan selain menambah ruas jalan tol dalam kota.
Transportasi Massal
Negara-negara yang peka akan krisis energi dan perubahan iklim yang
diakibatkannya,berupaya keras mengalihkan pengguna kendaraan pribadi ke
kendaraan umum. Tak ayal transportasi publik yang aman dan nyaman menjadi
keharusan.
Kenapa pengguna mobil pribadi tak gampang beralih ke Trans Jakarta
misalnya? Masalahnya mereka tak sekedar butuh bergerak dari satu tempat ke
tempat lain dengan cepat, tapi juga dengan mudah, aman dan nyaman tanpa
tergenjet-genjet. Apalagi tidak adanya car port dan feeder yang memadai.
Untuk kota metropolitan, jelas tak bisa lagi mengandalkan bus kota dan
sejenisnya. Bagi kota sebesar Jakarta, jelas harus ada transportasi cepat
yang massal (mass rapid transportation/MRT).
KRL Terintegrasi
Sementara monorail baru muncul tiang-tiangnya di ibukota tercinta, pilihan
MRT bisa jatuh pada kereta api listrik (KRL).
Pihak DKI Jaya bisa melobi PT KA (Persero) untuk membuat tiket terusan
macam Trans Jakarta, misalnya dari Bogor ke Sudirman, turun di Stasiun
Manggarai langsung pindah jalur ke arah Sudirman. Jadi tidak perlu keluar
untuk beli tiket di stasiun junction.
Intinya pemerintah bisa mendorong lebih banyak pengguna KRL sebagai
alternatif MRT.
Lebih jauh pihak DKI bisa mendorong PT KA untuk menindaklanjuti pemisahan
(spin off) Daerah Operasi Jakarta menjadi anak perusahaan tersendiri.
Dengan demikian Pihak DKI dapat ikut andil mempercepat pembangunan rel
ganda dan jalur layang KA yang lebih menyeluruh di Jakarta, sembari menanti
monorail.
Termasuk segera mewujudkan KA Bandara, mengingat kemacetan Tol Dr.Wiyoto
yang makin parah. Sebagai bandara internasional, Bandara Soekarno-Hatta
sepatutnya terhubung dengan MRT.
Pendek kata Pemda DKI harus mendorong pengurangan pemakaian BBM secara
lebih efektif, dengan MRT. Isu energi dan lingkungan sepatutnya mengedepan
dalam setiap penerapan kebijakan transportasi kota.
Jakarta, 2 November 2007
terpilih, Fauzi Bowo mengungkapkan janjinya membangun tol dalam kota
sebagai terobosan mengatasi kemacetan Jakarta.
Sekilas ungkapan ini tampaknya menjanjikan untuk jalan keluar dari
kemacetan yang makin menggila. Namun memahami pertumbuhan kendaraan yang
mengikuti deret ukur (?) sementara pertumbuhan jalan cuma mengikuti deret
hitung (?), jelas bakal tidak imbang. Seberapa pun banyak jalan dibangun,
ujungnya kemacetan akan kembali muncul dalam beberapa waktu kemudian.
Krisis Minyak
Belum lagi kalau memperhatikan harga minyak mentah yang awal November sudah
tembus US$ 95 per barel. Meski harga bahan bakar minyak (BBM) untuk
transportasi masih disubsidi dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN), sepatutnya pemimpin pemerintahan memiliki visi penghematan bahan
bakar fosil yang makin langka ini.
Kebijakan menambah ruas jalan secara tidak langsung mendorong pertumbuhan
mobil yang notabene membutuhkan BBM. Bukan berarti pemerintah tidak
bertanggung jawab meningkatkan infrastruktur, namun ada banyak pilihan
cerdas bisa menjadi terobosan selain menambah ruas jalan tol dalam kota.
Transportasi Massal
Negara-negara yang peka akan krisis energi dan perubahan iklim yang
diakibatkannya,berupaya keras mengalihkan pengguna kendaraan pribadi ke
kendaraan umum. Tak ayal transportasi publik yang aman dan nyaman menjadi
keharusan.
Kenapa pengguna mobil pribadi tak gampang beralih ke Trans Jakarta
misalnya? Masalahnya mereka tak sekedar butuh bergerak dari satu tempat ke
tempat lain dengan cepat, tapi juga dengan mudah, aman dan nyaman tanpa
tergenjet-genjet. Apalagi tidak adanya car port dan feeder yang memadai.
Untuk kota metropolitan, jelas tak bisa lagi mengandalkan bus kota dan
sejenisnya. Bagi kota sebesar Jakarta, jelas harus ada transportasi cepat
yang massal (mass rapid transportation/MRT).
KRL Terintegrasi
Sementara monorail baru muncul tiang-tiangnya di ibukota tercinta, pilihan
MRT bisa jatuh pada kereta api listrik (KRL).
Pihak DKI Jaya bisa melobi PT KA (Persero) untuk membuat tiket terusan
macam Trans Jakarta, misalnya dari Bogor ke Sudirman, turun di Stasiun
Manggarai langsung pindah jalur ke arah Sudirman. Jadi tidak perlu keluar
untuk beli tiket di stasiun junction.
Intinya pemerintah bisa mendorong lebih banyak pengguna KRL sebagai
alternatif MRT.
Lebih jauh pihak DKI bisa mendorong PT KA untuk menindaklanjuti pemisahan
(spin off) Daerah Operasi Jakarta menjadi anak perusahaan tersendiri.
Dengan demikian Pihak DKI dapat ikut andil mempercepat pembangunan rel
ganda dan jalur layang KA yang lebih menyeluruh di Jakarta, sembari menanti
monorail.
Termasuk segera mewujudkan KA Bandara, mengingat kemacetan Tol Dr.Wiyoto
yang makin parah. Sebagai bandara internasional, Bandara Soekarno-Hatta
sepatutnya terhubung dengan MRT.
Pendek kata Pemda DKI harus mendorong pengurangan pemakaian BBM secara
lebih efektif, dengan MRT. Isu energi dan lingkungan sepatutnya mengedepan
dalam setiap penerapan kebijakan transportasi kota.
Jakarta, 2 November 2007
Perempuan Agen Perubahan Gaya Hidup Ramah Lingkungan*
Menjelang Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Para Pihak (COP) Ke-13 Konvensi Perserikatan Bangsa-bangsa untuk Perubahan Iklim (UNFCCC), isu lingkungan hidup meningkat drastis. Berbagai slogan dan ajakan untuk hemat energi, mengurangi gas buang, dan berbagai tindakan ramah lingkungan digembar-gemborkan sepanjang Desember akhir tahun 2007. Begitu tahun berganti, jarang terdengar lagi ajakan kampanye hemat energi dan bertindak ramah lingkungan. Kalaupun ada, itu hanya dilakukan sekelompok orang yang memang gigih dan konsisten cinta lingkungan.
Malangnya perempuan jarang dikaitkan dengan isu lingkungan ini, meski tidak sedikit pahlawan (perempuan) tanpa dan dengan tanda jasa di bidang lingkungan. Padahal kalau kita tilik dalam kesehariannya, perempuan bergulat dengan urusan rumah tangga dan berbagai bidang kehidupan yang dapat menjadi sarana untuk hidup ramah lingkungan.
Jejak Konsumsi
Ada perangkat metodologi yang disebut Ecological Footprint yang mampu memperkirakan kebutuhan akan tanah dan lautan untuk mendukung konsumsi makanan, barang dan jasa, perumahan, energi dan pembuangan limbah kita. Ini semacam rekam jejak gaya hidup kita yang terwujud dalam pola konsumsi yang berakibat pada lingkungan.
Dalam web site Redefining Progress (www.myfootprint.org) rekam jejak terbagi dalam kategori konsumsi karbon (untuk energi rumah dan transportasi), makanan, perumahan, barang dan jasa. Di sini lah perempuan dapat sangat ampuh menjadi agen perubahan gaya hidup yang ramah lingkungan.
Lihat saja untuk konsumsi energi di rumah. Perempuan kerap yang menjadi penentu pembelian perangkat rumah tangga (home appliances) yang kini serba elektronik. Para ibu dapat sangat berkuasa untuk memilih perangkat rumah tangga yang hemat listrik, (green electricity) misalnya lampu hemat energi, setrika dengan Watt kecil (low wattage), dan sebagainya. Lampu hemat energi lebih hemat energi empat kali dan lebih awet delpan kali lebih lama ketimbang lampu pijar. Sementara perangkat yang efisiensi energi menggunakan 2-10 kali lebih sedikit energi ketimbang perangkat yang
konvensional, menurut Redefining Progress.
Tidak saja yang hemat, tapi bisa juga memilih yang menggunakan sumber energi terbarukan (renewable resource). Misalnya pemanas air, ketimbang yang menggunakan energi listrik atau gas, para ibu dapat memilih tenaga matahari. Pemanas air panel surya harga beli (investasi awalnya) bakal lebih mahal, namun pengoperasiannya nyaris gratis atas kemurahan surya ciptaan Yang Kuasa,
apalagi di negara tropis macam Indonesia.
Selain itu para ibu berkuasa untuk merencanakan penggantian barang. Dengan tenaga kerja relatif murah, banyak perangkat yang lebih murah kalau diperbaiki ketimbang beli yang baru. Pasalnya kian cepat kita mengganti barang, kian banyak energi yang dibutuhkan dan melebihi kapasitas
regeneratif bumi kita.
Para ibu juga berkuasa menentukan pola makan. Kian banyak makanan olahan, makin besar energi yang dibutuhkan. Umpamanya menyajikan buah potong atau air jeruk dengan perasan manual, jelas lebih kaya serat dan lebih hemat energi ketimbang dibikin jus dengan alat listrik.
Pilihan ibu terhadap makanan anorganik dan makanan lokal juga menolong daya dukung bumi menghadapi pencemaran zat-zat kimia dan menghemat energi minyak sebagai induk industri petrokimia yang menghasilkan pupuk buatan.
Berbelanja di pasar terdekat yang cukup berjalan kaki, tak perlu berkendara juga bisa menjadi pilihan hemat energi dengan mengurangi food footprint. Jangan lupa ibu juga bisa turut mengurangi pemakaian tas plastik, mengingat proses dekomposisi butuh waktu ribuan tahun. Kita bisa kembali ke tas keranjang atau tas kain yang bisa dicuci dan dipakai berulang-kali.
Dengan menurunkan rantai makanan, mengurangi daging juga dapat membuat perbedaan yang sangat berarti. Bukankah memasak daging memang lebih lama, lebih banyak energi yang dibutuhkan? Redefining Progress melaporkan secara global diperkirakan 18 persen dari emisi gas rumah kaca berkaitan dengan konsumsi daging.
Para ibu juga bisa memilih pembersih, baik itu sabun, deterjen, pembersih lantai dan sejenisnya yang biodegradable atau tidak beracun (non-toxic). Selain aman untuk anak-anak, produk ini jelas sangat menolong mengurangi pencemaran tanah dan air di bumi yang cuma satu ini.
Para ibu dapat berkebun, karena setiap tanaman berhijau daun menyerap karbon. Kalau tak ada lahan, berkebun dengan pot pun jadilah.
Perilaku Hemat Energi
Di samping pilihan-pilihan fitur energi tadi, kaum hawa bisa menjadi agen perubahan gaya hidup yang hemat energi dan ramah lingkungan, mulai dari rumah.
Para ibu bisa mengajarkan dan membiasakan anak-anak untuk mematikan seluruh alat elektronik yang tidak terpakai. Termasuk tidak perlu memanaskan nasi dalam magic jar atau rice cooker sepanjang waktu, cukup menjelang makan saja. Juga secara rutin melakukan de-frost kulkas (lemari pendingin) dan freezer-nya, untuk mengoptimalkan pendinginan.
Para ibu juga bisa bijak dalam menggunakan air. Ketimbang mencuci gelas tiap kali minum yang jelas merepotkan, ibu bisa menyediakan gelas dengan tutup gelas dan nama untuk digunakan anak-anak sepanjang hari. Jelas kita menghemat beberapa liter air agar tidak terbuang berlebih.
Ibu bisa menghindari menyiram jalanan dengan air PAM atau membiaskan menyiram tanaman dengan air bekas cuci beras.
Para ibu juga dapat mengumpulkan cucian pakaian pada kapasitas maksimal dan mengeringkan di bawah terik matahari tropis. Redefining Progress mencatat pengeringan pakaian dengan dijemur menghemat 3-4 kilo Watt hours (kWh) per load - sekitar 25 kilogram karbondiosida (CO2).
Ibu juga berkuasa dalam mengurangi limbah, dengan memilah sampah. Untuk sampah dapur, kaum ibu bisa menggali sepetak lahan atau menggunakan ember tak terpakai untuk menimbun sampah dapur dengan tanah hingga menjadi kompos. Sampah kertas dan plastik disisihkan untuk para pemulung, baru
sisanya masuk ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) kota. Dengan mengurangi sampah, jelas ini menurunkan pemakaian lahan TPS dan TPA, lebih sedikit energi untuk membakar sampah, dan mengurangi polusi udara.
Betapa ampuhnya perempuan sebagai agen perubahan yang ramah lingkungan, bukan? Namun banyak dari kita yang cenderung mengingkari hal-hal kecil yang kita lakukan dalam menghemat energi dan mengurangi emisi karbon karena tidak membuat perubahan besar, sebagaimana diakui kelompok Redefining Progress. Ini seperti sedikit-sedikit menjadi bukit. Small thing add up!
Dimuat di Majalah BIRU Voice Edisi April 2008 (dalam rangka hari Kartini)
Malangnya perempuan jarang dikaitkan dengan isu lingkungan ini, meski tidak sedikit pahlawan (perempuan) tanpa dan dengan tanda jasa di bidang lingkungan. Padahal kalau kita tilik dalam kesehariannya, perempuan bergulat dengan urusan rumah tangga dan berbagai bidang kehidupan yang dapat menjadi sarana untuk hidup ramah lingkungan.
Jejak Konsumsi
Ada perangkat metodologi yang disebut Ecological Footprint yang mampu memperkirakan kebutuhan akan tanah dan lautan untuk mendukung konsumsi makanan, barang dan jasa, perumahan, energi dan pembuangan limbah kita. Ini semacam rekam jejak gaya hidup kita yang terwujud dalam pola konsumsi yang berakibat pada lingkungan.
Dalam web site Redefining Progress (www.myfootprint.org) rekam jejak terbagi dalam kategori konsumsi karbon (untuk energi rumah dan transportasi), makanan, perumahan, barang dan jasa. Di sini lah perempuan dapat sangat ampuh menjadi agen perubahan gaya hidup yang ramah lingkungan.
Lihat saja untuk konsumsi energi di rumah. Perempuan kerap yang menjadi penentu pembelian perangkat rumah tangga (home appliances) yang kini serba elektronik. Para ibu dapat sangat berkuasa untuk memilih perangkat rumah tangga yang hemat listrik, (green electricity) misalnya lampu hemat energi, setrika dengan Watt kecil (low wattage), dan sebagainya. Lampu hemat energi lebih hemat energi empat kali dan lebih awet delpan kali lebih lama ketimbang lampu pijar. Sementara perangkat yang efisiensi energi menggunakan 2-10 kali lebih sedikit energi ketimbang perangkat yang
konvensional, menurut Redefining Progress.
Tidak saja yang hemat, tapi bisa juga memilih yang menggunakan sumber energi terbarukan (renewable resource). Misalnya pemanas air, ketimbang yang menggunakan energi listrik atau gas, para ibu dapat memilih tenaga matahari. Pemanas air panel surya harga beli (investasi awalnya) bakal lebih mahal, namun pengoperasiannya nyaris gratis atas kemurahan surya ciptaan Yang Kuasa,
apalagi di negara tropis macam Indonesia.
Selain itu para ibu berkuasa untuk merencanakan penggantian barang. Dengan tenaga kerja relatif murah, banyak perangkat yang lebih murah kalau diperbaiki ketimbang beli yang baru. Pasalnya kian cepat kita mengganti barang, kian banyak energi yang dibutuhkan dan melebihi kapasitas
regeneratif bumi kita.
Para ibu juga berkuasa menentukan pola makan. Kian banyak makanan olahan, makin besar energi yang dibutuhkan. Umpamanya menyajikan buah potong atau air jeruk dengan perasan manual, jelas lebih kaya serat dan lebih hemat energi ketimbang dibikin jus dengan alat listrik.
Pilihan ibu terhadap makanan anorganik dan makanan lokal juga menolong daya dukung bumi menghadapi pencemaran zat-zat kimia dan menghemat energi minyak sebagai induk industri petrokimia yang menghasilkan pupuk buatan.
Berbelanja di pasar terdekat yang cukup berjalan kaki, tak perlu berkendara juga bisa menjadi pilihan hemat energi dengan mengurangi food footprint. Jangan lupa ibu juga bisa turut mengurangi pemakaian tas plastik, mengingat proses dekomposisi butuh waktu ribuan tahun. Kita bisa kembali ke tas keranjang atau tas kain yang bisa dicuci dan dipakai berulang-kali.
Dengan menurunkan rantai makanan, mengurangi daging juga dapat membuat perbedaan yang sangat berarti. Bukankah memasak daging memang lebih lama, lebih banyak energi yang dibutuhkan? Redefining Progress melaporkan secara global diperkirakan 18 persen dari emisi gas rumah kaca berkaitan dengan konsumsi daging.
Para ibu juga bisa memilih pembersih, baik itu sabun, deterjen, pembersih lantai dan sejenisnya yang biodegradable atau tidak beracun (non-toxic). Selain aman untuk anak-anak, produk ini jelas sangat menolong mengurangi pencemaran tanah dan air di bumi yang cuma satu ini.
Para ibu dapat berkebun, karena setiap tanaman berhijau daun menyerap karbon. Kalau tak ada lahan, berkebun dengan pot pun jadilah.
Perilaku Hemat Energi
Di samping pilihan-pilihan fitur energi tadi, kaum hawa bisa menjadi agen perubahan gaya hidup yang hemat energi dan ramah lingkungan, mulai dari rumah.
Para ibu bisa mengajarkan dan membiasakan anak-anak untuk mematikan seluruh alat elektronik yang tidak terpakai. Termasuk tidak perlu memanaskan nasi dalam magic jar atau rice cooker sepanjang waktu, cukup menjelang makan saja. Juga secara rutin melakukan de-frost kulkas (lemari pendingin) dan freezer-nya, untuk mengoptimalkan pendinginan.
Para ibu juga bisa bijak dalam menggunakan air. Ketimbang mencuci gelas tiap kali minum yang jelas merepotkan, ibu bisa menyediakan gelas dengan tutup gelas dan nama untuk digunakan anak-anak sepanjang hari. Jelas kita menghemat beberapa liter air agar tidak terbuang berlebih.
Ibu bisa menghindari menyiram jalanan dengan air PAM atau membiaskan menyiram tanaman dengan air bekas cuci beras.
Para ibu juga dapat mengumpulkan cucian pakaian pada kapasitas maksimal dan mengeringkan di bawah terik matahari tropis. Redefining Progress mencatat pengeringan pakaian dengan dijemur menghemat 3-4 kilo Watt hours (kWh) per load - sekitar 25 kilogram karbondiosida (CO2).
Ibu juga berkuasa dalam mengurangi limbah, dengan memilah sampah. Untuk sampah dapur, kaum ibu bisa menggali sepetak lahan atau menggunakan ember tak terpakai untuk menimbun sampah dapur dengan tanah hingga menjadi kompos. Sampah kertas dan plastik disisihkan untuk para pemulung, baru
sisanya masuk ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) kota. Dengan mengurangi sampah, jelas ini menurunkan pemakaian lahan TPS dan TPA, lebih sedikit energi untuk membakar sampah, dan mengurangi polusi udara.
Betapa ampuhnya perempuan sebagai agen perubahan yang ramah lingkungan, bukan? Namun banyak dari kita yang cenderung mengingkari hal-hal kecil yang kita lakukan dalam menghemat energi dan mengurangi emisi karbon karena tidak membuat perubahan besar, sebagaimana diakui kelompok Redefining Progress. Ini seperti sedikit-sedikit menjadi bukit. Small thing add up!
Dimuat di Majalah BIRU Voice Edisi April 2008 (dalam rangka hari Kartini)
Sunday, April 13, 2008
Energy Concern
Dari membuka mata hingga menutup mata kembali, orang akan mengkonsumsi
energi dengan maupun tanpa mereka sadari. Bahkan dalam tidur pun, energi
makanan diubah menjadi sel-sel baru tubuh.
Dari bangun pagi, mandi tinggal putar kran air, orang (kota) tidak
menyadari air tanah atau air PAM harus dipompa menggunakan listrik yang
dibangkitkan dengan energi primer atau bahan bakar fosil. Semakin air yang
dipakai, kian banyak energi yang dibutuhkan.
Demikian pula untuk makanan, makin banyak yang dikonsumsi, semakin banyak
juga energi yang diperlukan. Menurut Redefining Progress
(www.myfootprint.org), konsumsi daging global menghasilkan 18% emisi gas
rumah kaca (GRK) dunia. Bukankah daging memang lebih lama diolah ketimbang
sayuran?
Ada berbagai pola makan dan gaya hidup keseharian yang berpengaruh terhadap
konsumsi energi kita. Andai semua orang membutuhkan mobil pribadi, rumah
besar dengan pola konsumsi negara maju, 6 miliar manusia butuh 1,5 bumi.
Entah setengahnya lagi kita dapatkan darimana, kalau sudah melebihi
kapasitas bumi untuk menanggungnya?
Mengurangi konsumsi makanan, berkendaraan pribadi, menghemat air dan semua
produk, memperpanjang usia seluruh barang, memilah sampah, dan tindakan
ramah lingkungan lain dapat menyelamatkan bumi kita. Setidaknya kita
membantu bumi memperpanjang regeneratifnya, mengurangi emisi GRK, sehingga
menghambat kenaikan suhu permukaan hingga mencegah pemanasan global.
Perubahan kecil gaya hidup kita akan berarti besar bagi bumi kita. Small
things add up!
Jakarta, 12 april 2008
energi dengan maupun tanpa mereka sadari. Bahkan dalam tidur pun, energi
makanan diubah menjadi sel-sel baru tubuh.
Dari bangun pagi, mandi tinggal putar kran air, orang (kota) tidak
menyadari air tanah atau air PAM harus dipompa menggunakan listrik yang
dibangkitkan dengan energi primer atau bahan bakar fosil. Semakin air yang
dipakai, kian banyak energi yang dibutuhkan.
Demikian pula untuk makanan, makin banyak yang dikonsumsi, semakin banyak
juga energi yang diperlukan. Menurut Redefining Progress
(www.myfootprint.org), konsumsi daging global menghasilkan 18% emisi gas
rumah kaca (GRK) dunia. Bukankah daging memang lebih lama diolah ketimbang
sayuran?
Ada berbagai pola makan dan gaya hidup keseharian yang berpengaruh terhadap
konsumsi energi kita. Andai semua orang membutuhkan mobil pribadi, rumah
besar dengan pola konsumsi negara maju, 6 miliar manusia butuh 1,5 bumi.
Entah setengahnya lagi kita dapatkan darimana, kalau sudah melebihi
kapasitas bumi untuk menanggungnya?
Mengurangi konsumsi makanan, berkendaraan pribadi, menghemat air dan semua
produk, memperpanjang usia seluruh barang, memilah sampah, dan tindakan
ramah lingkungan lain dapat menyelamatkan bumi kita. Setidaknya kita
membantu bumi memperpanjang regeneratifnya, mengurangi emisi GRK, sehingga
menghambat kenaikan suhu permukaan hingga mencegah pemanasan global.
Perubahan kecil gaya hidup kita akan berarti besar bagi bumi kita. Small
things add up!
Jakarta, 12 april 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)