Showing posts with label Unpublished. Show all posts
Showing posts with label Unpublished. Show all posts

Friday, November 12, 2010

Menulis Ulang Guru-guru yang Memberi Inspirasi Hidupku

Surya bersinar

Udara segar

Terima kasih ...


Bu Maria

Sepotong lagu Taman Kanak-kanak (TK) ini mengingatkanku pada sosok perempuan ramping, tinggi semampai dengan kacamata menghiasi wajah cantik yang murah senyum. Suaranya dan nada bicaranya lembut, memberi kesan sabar. Dialah guru pertama dalam hidupku, guru dalam arti sebenarnya di sebuah sekolah formal.

Hanya sepotong nama Bu Maria yang kuingat dengan baik. Namun jauh sebelum hari pertama sekolah dalam sejarah hidupku, nama itu sudah kudengar dari para orangtua murid, paman bibi serta kakakku yang pernah menjadi muridnya. Karenanya, dia menjadi semacam garansi rasa aman pada hari pertamaku sekolah. Ketika hampir seisi kelas anak sebayaku mulai menangis saat pintu kelas dengan tegas ditutup oleh Bu Maria, aku merasa baik-baik saja.

Sejak saat itu hingga 20 tahun sejarah diriku mengenyam pendidikan formal, sekolah menjadi sesuatu yang menyenangkan. Meski terkenal sulit bangun pagi sejak kecil, namun sekolah tetap bukan sebuah keterpaksaan.

Sekolah merupakan suatu 'dunia' yang menarik bagiku sejak TK, salah satunya karena memiliki guru yang penyabar seperti Bu Maria. Yang masih teringat adalah guru TK saat itu masih harus melakukan potty training (mengajari bocah buang air ke toilet), sikat gigi dengan benar, membagikan ransum kacang hijau dan lain-lain.

Andai semua guru seperti Bu Maria, sekolah akan menjadi tempat yang nyaman.


Bu Budi

Dia adalah guru pertamaku di Sekolah Dasar Katolik (SDK) Santo Joseph Lumajang, yang memperkenalkan padaku 'keindahan' dunia tulisan dengan mengajari membaca dan menulis. Saat itu ia memulai dengan mengeja “Iin Aan”, memenggal suku kata. Juga “ini Budi, ini ibu Budi” yang menjadi pelajaran membaca pertama saat itu.

Sosok kecil mungil dengan kulit sawo matang ini juga kulupa nama lengkapnya. Namun tak mungkin kulupakan jasanya yang membawaku pada dunia tulis-menulis saat ini.


Pak Saelan

Dia adalah guru dan wali kelasku di kelas V SDK Santo Joseph Lumajang. Ada satu pepatah Jawa darinya yang sampai saat ini melekat dalam benakku: ajur ajer (melebur dan menyatu, terjemahan bebas).

Bapak tiga anak yang mengayuh sepeda ke sekolah ini tidak menyembunyikan kesederhanaan hidup keluarganya dan pemahaman hidup gaya Jawa yang ia lakoni. Ia memperkenalkanku pada dunia filosofi Jawa melalui cerita pewayangan: Ramayana dan Mahabarata yang nantinya membawaku secara dini menyukai filsafat.


Guru Sastra SMA

Satu lagi guru yang memberi inspirasi dalam hidupku, sayang tak kuingat betul namanya. Ia merupakan guru muda yang rasanya hanya beberapa bulan sempat mengajar Sastra Indonesia di SMA Negeri 2 Lumajang. Konon ia merupakan adik penyair dan sastrawan terkenal.

Ia memperkenalkan dunia teater pada kami 'anak kampung' yang saat itu belum pernah menonton teater secara live. Di kelas ia mengajari mengapresiasi Teater Gandrik – yang tampaknya ia pernah bergabung.

Tidak sebagaimana guru yang sekedar mencurahkan ilmu dari buku teks, ia membawa dunia sastra dan teater dengan emosi dan kecintaannya yang membuat kami terpesona pada dunia peran.

Pada intinya guru-guru ini tidak sekedar mengajar dan menularkan ilmu pada anak didiknya. Lebih dari itu guru-guru ini membagikan seni menghadapi 'sekolah kehidupan' yang lebih luas.

Sayang sampai saat ini aku tidak mengetahui nama lengkap dan kabar berita mereka. Semoga dengan tulisan ini, setidaknya aku mengapresiasi yang sudah mereka 'wariskan' (legacy). Besar harapanku, mereka dalam keadaan sehat walafiat dan sejahtera.


Terima kasih seribu

Oh terima kasih seribu

Pada Tuhan Allahku

Oh pada Tuhan Allahku

Aku bahagia karena dicinta

Terima kasih


* Tulisan asli awalnya dimaksudkan untuk diterbitkan menjadi buku oleh sebuah LSM Pendidikan
.

Monday, October 11, 2010

Mencermati Rumah Aman Gempa Nan Modern*

Oleh: Mega Christina**


Di luar negeri banyak konsep rumah aman gempa, mulai dari yang unik berbentuk trapesium hingga rumah kubah yang lucu seperti di tayangan anak-anak Teletubies. Namun sebenarnya banyak rumah tradisional Indonesia yang terbukti aman dari gempa, seperti rumah Gadang di Sumatera Barat, omo sebua di Pulau Nias serta banyak lainnya.

Masalahnya rumah-rumah tradisional itu sebagian besar terdiri dari balok tua dan kayu-kayu pilihan yang kini kian sulit didapat. Kalaupun kita bisa mendapatkannya, harganya bakal mahal dan sulit terjangkau masyarakat kebanyakan.

Memanfaatkan material modern yang relatif mudah didapat dengan rancangan cerdas sebetulnya telah dilakukan putra Indonesia, contohnya dari Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Surakarta. Sejak tahun 2004 ATMI membuahkan rancangan struktur logam yang dinamakan Smart Modula. Disebut cerdas, karena bangunannya bersifat rancang lepas knock-down terdiri dari modul-modul yang bisa ditambahkan. Lebih dari itu, bangunan ini aman terhadap gempa.


Pilihan Material
Sebagaimana ada petuah bijak mengatakan dirikan rumahmu di atas landasan yang kokoh, rumah aman gempa dimulai dari fondasi. Untuk menghindari kerusakan karena gerakan tanah yang disebabkan gempa, fondasi Smart Modula berupa beton umpak lubang berbentuk trapesium dan tidak terikat dengan fondasi umpak yang lain.

Bila terjadi gempa, gerakan tanah yang terjadi disalurkan lewat fondasi umpak tadi, yang kemudian diteruskan ke kolom (tiang) dan sloof/beam (balok). Fleksibilitas baru akan terjadi pada titik ini.

Untuk itu, kolom harus lebih kuat dari beam agar tidak roboh. Saat terjadi gempa, energinya diserap beam sehingga kolom tetap utuh. Maka rangka balok Smart Modula dipilih dari baja light lips. Sedang kolom berupa baja hollow square.

Di bagian rangka, sambungan antar bagian dibuat se-fleksibel mungkin. Tujuannya, supaya gerakan yang diterima oleh satu bagian tidak secara penuh diteruskan ke bagian lain. Smart Modula menggunakan sambungan mur-baut antara kolom dan beam. Jika ada gempa, gaya yang diterima kolom tidak secara penuh ditransfer ke beam. Begitu sebaliknya. Hal berbeda terjadi jika menggunakan sambungan model las atau beton, akan ada kemungkinan patahan di antara sambungan.

Itupun di bagian atas rangka bangunan masih perlu dipasang penguat di tiap sudutnya. Sambungan antar komponen bangunan yang tidak mudah lepas itu diperlukan pula untuk penyaluran beban energi gempa.

Untuk mencegah terjadinya keruntuhan saat terjadi gempa, dinding seharusnya tidak berfungsi sebagai struktur dan tidak bersifat kaku (rigid). Dinding yang digunakan pada konstruksi Smart Modula sama sekali tidak berfungsi sebagai struktur, semata-mata partisi. Panel dinding Smart Modula tidak menempel 'mati' pada struktur, melainkan ada semacam celah (gap) yang memungkinkan adanya pergerakan. Ketika gempa terjadi, gerakan yang diterima kolom dan beam tidak terlalu memengaruhi panel dinding. Dengan demikian kemungkinan dinding roboh - seperti yang terjadi pada konstruksi konvensional - bisa diminimalisir.

Terjadinya korban gempa acapali akibat runtuhnya atap rumah, karena atap tidak kuat menahan goncangan yang diterima struktur di bawahnya. Salah satu faktor penyebabnya adalah terlalu beratnya atap dan rangka atapnya. Maka Smart Modula menggunakan material seringan mungkin. Dengan rangka baja ringan (zincalume), beban yang diterima struktur bangunan jauh berkurang dibanding rangka kayu. Atap jenis ringan bisa dengan galvalum atau metal roof. Selain ringan, pemasangan atap tersebut diikat dengan baut ke rangka atapnya sehingga atap tidak mungkin jatuh.
Jatuhnya genteng (mlorot) banyak terjadi ketika gempa di Yogyakarta tahun 2006 lalu.


Presisi
Lebih dari semua itu, material rumah modern, sekalipun bermutu tinggi, membutuhkan proses pembangunan yang cermat dan teliti. Misalnya untuk baja beam, ketebalan proses galvanasi disyaratkan 120 mikron, baru kemudian dilapis dengan cat. Sedang untuk baja kolom butuh ketebalan proses galvanasi 90 mikron lalu finishing dengan cat. Pasalnya 'musuh' besi baja adalah karat.

Begitu juga dengan campuran untuk beton fondasi, perlu kecermatan dan ketepatan. Komposisi semen, pasir dan kerikil menggunakan perbandingan 1:3:5.

Ukuran material juga membutuhkan ketepatan (presisi). Misalnya baja kolom berukuran ukuran 75x75x3 yang memiliki kekuatan tarik 300 N per milimeter persegi.

Penghargaan terhadap proses mulai dari pemilihan material hingga pembangunannya menjadi kata kunci untuk sebuah rumah yang aman gempa. Alhasil menurut uji coba di Laboratorium Fakultas Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), Smart Modula bisa menahan goncangan gempa hingga 8 Skala Richter (SR). Fakta di lapangan, waktu terjadi gempa di Nias dengan kekuatan 8.5 SR dan mencapai Aceh sekitar 8.3 SR, Smart Modula tidak mengalami kerusakan struktur.

Kini Indonesia punya pilihan rumah aman gempa yang tidak hanya tradisional atau rumah konvensional, tapi juga rumah dengan bangunan modern hasil rancangan putra bangsa sendiri serta material yang relatif bisa diperoleh di dalam negeri.


* Tulisan ini merupakan bagian upaya Memasyarakatkan Rumah Aman Gempa di Indonesia
** Penulis adalah mantan jurnalis harian di Jakarta yang kini menetap di selatan Canberra

Thursday, September 9, 2010

Demam Pemilu di Australia Terasa Tanpa Hiruk Pikuk

Pemilihan Umum (Pemilu) Federal Australia kurang dari sepekan lagi. Sabtu, 21 Agustus nanti warga negara Australia akan mendatangi tempat-tempat pemungutan suara (TPS) yang diumumkan seminggu sebelumnya.

Meski Canberra merupakan ibukota nasional serta jantung pergerakan politik dan pemerintahan federal, di seputaran negara bagian wilayah Ibukota Australia (Australian Capital Territory/A.C.T.) sepintas tidak tampak kehebohan Pemilu. Tidak ada baliho-baliho raksasa apalagi spanduk malang-melintang layaknya suasana Pemilu di Indonesia dan berbagai negara lainnya.

Dengan spasial seluas sebuah benua dan penduduk yang hanya sekitar 20 juta, media luar ruang tampaknya memang bukan menjadi pilihan komunikasi politik dalam Pemilu di negeri Kanguru ini. Apalagi tempat tinggal penduduk relatif tersebar di berbagai sub urban (semacam distrik) yang terpencar-pencar.

Demam Pemilu baru terasa ketika memperhatikan berbagai media cetak maupun elektronik. Berbagai radio dan televisi secara periodik menyiarkan kunjungan kampanye tokoh kunci dari dua partai politik (parpol) utama, yakni Perdana Menteri Julia Gillard yang tengah menjabat (incumbent) dari Partai Buruh Australia dan pemimpin partai oposisi Tony Abbott dari Partai Liberal.

Saling serang program tampak sengit di iklan-iklan televisi. Misalnya Partai Buruh dibombardir dengan iklan kian banyak utang dan pajak. Partai Liberal diserang dengan iklan bakal menurunkan layanan-layanan publik yang saat ini diperjuangkan Partai Buruh yang berkuasa. Bahkan Partai Hijau pun tidak luput dari serangan di iklan televisi.

Selain memberitakan berbagai kunjungan para wakil rakyat, media cetak memiliki kekuatan analisa dan berbagai kolom yang diasuh para ilmuan. Seperti di Mingguan CityNews edisi 5-11 Agustus, Pakar politik dan sejarah Don Aitkin menulis betapa membosankannya Pemilu 2010 ini. Salah satu alasannya adalah tidak adanya keterhubungan dengan 'gambaran besar' masalah yang dihadapi. Aitkin mencontohkan kalau Australia memutuskan pembatasan imigrasi secara serius, dampaknya akan mengalami kekurangan tenaga trampil di berbagai bidang. Sementara tidak ada calon yang bicara soal investasi besar-besaran di bidang pendidikan untuk menghasilkan tenaga trampil tersebut.

Komunikasi Dua Arah
Koran lokal juga kebagian iklan para calon wakil rakyat yang memaparkan program dan mengundang konstituennya untuk mendatangi stand komunitas. Dengan demikian komunikasi para calon wakil rakyat tidak sekedar satu arah melalui media massa, melainkan interaktif langsung dengan calon pemilihnya.

Stand komunitas itu berlangsung pada pekan ini hingga pekan depan di berbagai pusat perbelanjaan di beberapa sub urban. Di sana para calon berupaya berinteraksi dengan konstituen dan calon pemilih atau setidaknya mereka membagikan pamflet berisi program mereka.

Di samping itu, para wakil rakyat juga mengiklankan kotak pos, alamat email dan website mereka. Dengan begitu, calon pemilih bisa mengangkat berbagai isu penting.

Tidak ketinggalan berbagai kelompok penekan (pressure group). Seperti Love 40 Percent yang mengangkat isu perubahan iklim dengan sasaran A.C.T. Berkomitmen mengurangi 40 persen tingkat karbon di tahun 2020. Kelompok-kelompok penekan ini lebih intens berkomunikasi langsung dengan wakil rakyat maupun calonnya, ketimbang turun ke jalan dengan unjuk rasa.

Sebuah Kewajiban
Mungkin salah satu alasan kurangnya hiruk pikuk Pemilu di Australia adalah karena memilih adalah sebuah kewajiban. Menjadi sebuah keharusan bagi warga negara Australia yang berusia dewasa (18 tahun ke atas) dan yang berhak memilih untuk mendatangi TPS pada Pemilu Federal. Mengingat Pemilu negara bagian biasanya digabung dengan Pemilu Federal, maka calon pemilih tidak bisa mengelak untuk tidak memberikan suaranya. Namun dengan Pemilu yang bersifat rahasia, calon pemilih bisa saja merusak surat suara.

Ketidakhadiran di TPS bisa berbuah hukuman, mulai dari sekedar denda, melakukan pelayanan pada masyarakat sampai hukuman kurungan kalau tidak mampu membayar denda yang besarnya mencapai 100 dolar Australia. Karenanya, Pemilu di Australia biasanya diadakan di hari Sabtu atau Minggu, sehingga tak ada alasan bagi warga yang bekerja untuk menunaikan kewajiban memberikan suara mereka.

Karena memilih menjadi sebuah keharusan, tak perlu perlu lagi dana kampanye untuk mengerahkan pemilih mendatangi TPS. Tampaknya keharusan ini juga dipandang positif untuk mengurangi politik uang dalam Pemilu.

Lebih dari itu, bagi pendukung Pemilu sebagai sebuah kewajiban, ini kesempatan untuk melakukan pendidikan politik serta merangsang warga untuk lebih mendapat informasi. Yang pasti, tingkat partisipasi politik bakal tinggi sehingga menjamin pemerintah yang terpilih mewakili mayoritas penduduk, bukan individu-individu yang memilihnya. Dengan demikian pemenang Pemilu diharapkan akan mendapat legitimasi politik yang lebih besar. Tetap sebuah pesta demokrasi, meski tanpa hingar-bingar yang riuh reda.


* Penulis merupakan mantan wartawan yang kini menetap di A.C.T.
Canberra, 14 Agustus 2010

Friday, May 7, 2010

Kawasan Dilarang Merokok Saja Tidak Cukup

Temaram senja perlahan turun. Merah jingga keemasan menghiasi kanvas langit dengan segala keelokannya, menyusul biru keunguan lembayung senja yang membuat syahdu suasana. Tak berapa lama kelam malam menebarkan jubah gelapnya mengatasi langit.

Saat itu lampu-lampu mulai dinyalakan, sebagian pekerja telah beranjak dari kantornya. Kala sang pimpinan sudah tak di tempat dan jam kantor usai, jari-jemari dengan pemantik dan sebatang putih yang terselip telah siap untuk menebarkan asapnya.

Asap putih itu membumbung, sekilas dan segera terhapus dari pandangan mata. Namun selain asap, ada partikel-partikel halus yang tidak kasat mata. Partikel itu pembakaran tidak sempurna arang, minyak, kayu atau bahan bakar lainnya.

Ketika esok mentari kembali terbit, partikel-partikel tak kasat mata itu pun tetap di sana, dalam ruang kedap berpenyejuk udara. Menarilah partikel-partikel itu mengitari ruangan dan ikut terhirup ke dalam paru-paru siapa pun, kendati bukan si pemilik batang putih tadi.

Sejenak kita beranjak dari partikel halus tadi. Saat itu menjelang Natal, sebuah pengujung tahun yang menjadi liburan besar bagi banyak orang. Tak terkecuali keluarga kami. Tapi tahun itu hari besar itu terlewatkan begitu saja.

Motor keluarga kami tengah tergolek di rumah sakit. Badannya yang tetap dan senantiasa bugar, telah melemah. Sel-sel ganas bahkan nyaris melumpuhkan sebelah tangan dan kaki, pertanda telah menyebar.

Sejak saat itu tarikan napasnya satu-satu, kadang tersengal begitu susahnya. Nyata sekarang, kemurahan Ilahi berupa oksigen gratis seolah tak mencukupi untuk sebuah rongga paru-paru yang telah terkoyak sel-sel ganas tadi.

Bantuan inhaler, hirupan uap yang dihubungkan dengan oksigen murni, awal-awal cukup menolong. Namun manusia bernapas 24 jam tanpa henti, Efek inhaler itu hanya sepersekian dari 24 jam.

Setiap tarikan napas yang begitu berat terasa ikut menyesakkan dada kami yang melihatnya. Tarikan napas satu-satu itu begitu menyiksa batin kami.

Akhirnya pilihan pahit pun diambil. Dengan jarum yang entah seberapa besarnya, seutas selang dimasukkan ke organ pernapasan yang telah melemah itu. Perlahan tapi pasti, cairan hitam kecoklatan pekat keluar. Cairan itu menyerupai warna air ketika batang putih dimatikan dengan dicelupkan ke dalamnya.

Ternyata lebih dari satu liter cairan berwarna pekat itu bercokol di paru-parunya. Sejenak keputusan pahit itu berbuah, tarikan napasnya tak lagi tersengal. Namun itu pun tak lama. Setelah selang penyedot dilepas, justru kesehatannya merosot drastis. Hanya sinar matanya yang masih mempertahankan kilatan perlawanan.

Lima bulan setelah berjibaku dengan sel-sel ganas, berjuang menarik napas satu satu bak menghitung detik, ia pun menghembuskan napasnya terakhir. Ia terkalahkan partikel-partikel batang putih yang mengendap dalam paru-parunya sepanjang lebih dari 20 tahun hidup perkawinannya dengan seorang perokok berat.

Apakah ada di antara kita yang tega menatap mata bening orang yang kita cintai menghirup napas tersengal pilu? Apakah ada yang tega melihat selang menembus tubuh orang yang kita kasihi untuk mengeluarkan endapan partikel-partikel tadi?

Tidak Cukup
Karenannya Kawasan Dilarang Merokok (KDM) saja tidak cukup. Partikel-partikel batang putih itu di antaranya adalah benzopyrene yaitu partikel-partikel karbon yang halus yang merupakan penyebab langsung mutasi gen.

Berbagai artikel menyebutkan ribuan jenis bahan kimia dalam rokok dan 40 jenis di antaranya bersifat karsinogenik (penyebab kanker). Sebut saja mulai dari nikotin, arsenik yang beracun, cadmium yang terdapat dalam baterai, dan masih banyak lagi.

Belum pula gas seperti karbon monoksida (CO) seperti gas buang kendaraan bermotor, karbondioksida (CO2), hidrogen sianida, amonia, hidro karbon, metana, butana, dan sebagainya.

Semua partikel tidak kasat mata itu tertinggal dan terpapar ke ruang lain, apalagi di ruang pengap berpenyejuk udara. Idealnya semua gedung dan segala ruang tertutup harus bebas dari asap rokok.

Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah DKI Jakarta perlu segera mengganti Peraturan Gubernur Nomor 75 Tahun 2005 tentang KDM tadi. KDM tidak efektif pelaksanaannya, kurang pengawasan serta sanksi yang jelas. Semoga DKI Jakarta dan daerah lain dapat segera menjadi pelopor perlindungan warga untuk tidak merokok di dalam gedung atau bangunan. Merokok di dalam gedung harus dilarang dengan sanksi yang tegas.

Wednesday, September 23, 2009

Work With Passion

Henry Amiez mengatakan "Work while you have the light, you are responsible for the talent that has been entrusted to you..."
Secara vertikal, bagiku kerja merupakan proses ambil bagian sebagai 'co-creator', ikut menciptakan dunia yang lebih baik.
Secara horizontal, kerja merupakan sesuatu untuk menempatkan kita di tegah 'lingkar kehidupan' yang memberi makna pada keberadaan kita secara sosial da emosional.
Karenanya, untuku kerja menjadi isu yang cukup sentral bagi kemanusiaan, untuk tidak tergantung dan bergantung, menjadi subyek dan bukannya obyek di mata dunia.
Maka resesi dunia yang mengancam pengurangan lapangan kerja menjadi keprihatinan tersendiri dan menjadi ancaman keberadaan sebagian harkat untuk menjadi manusia yang independen dan bermartabat.
Namun kita dibekali dengan SHAPE:
Spiritual gift
Heart-motivation, passion
Ability
Personality
Experience.

Oktober 2008 (memasuki krisis keuangan global)

Tuesday, August 25, 2009

Listen To

Mendengar dalam bahasa Inggris mempunyai nuansa tersendiri. Kata ‘hear’ hanya mensyaratkan memiliki telinga sebagai indra pendengaran dan cukup ada obyek yang mengeluarkan bunyi.
Sementara kata ‘listen’ yang harus ditambah ‘to’ memiliki subyek yang didengar dan mensyaratkan kita aktif memperhatikan suara yang keluar dari si subyek kedua atau ketiga.
Dengan begitu orang bisa ‘hear’ dengan memasang telinga, namun tidak mendengarkan (listen to).
Jakarta, mid 2009

Pay it forward

Sebelumnya aku tidak menyadari keelokan dan kedalaman kata terima kasih. Ketika kuucapkan pelan-pelan, dua kata ini demikian indahnya. Terima, yang bernuansa pasif bergabung dengan kata ‘kasih’ yang bisa berarti aktif memberi. Dengan demikian kata terima kasih mengisyaratkan pay it forward, kita menerima dan akan memberikannya kembali suatu saat nanti.
Namun kata kedua ‘kasih’ juga bisa bernuansa kata sifat, welas asih (compassion). Sehingga terima kasih mengisyaratkan kita menerima cinta yang penuh welas asih tadi. Indah bukan?
Andai kata ini diucapkan dan diresapkan dalam hati, betapa dahsyat makna kata terima kasih ini.
Jakarta, mid 2009

Monday, March 30, 2009

Earth Hour

Sedikit lama-lama menjadi bukit. Begitu aku meyakini perkara lingkungan hidup. Andai setiap orang mematikan sebuah lampu, meski cuma 10 Watt, kalau sejuta orang sudah jadi 10 juta Watt.
Ini berlaku ketika Earth Hour. Sengaja berdiam di rumah, menjelang pukul 20.30 kumatikan semua lampu dan alat elektronik di kamar serta mengurangi lampu koridor. Lalu kunikmati 'bermain air' dengan mencuci pakaian pakai tangan. Hand washing yang hemat energi.
Menunggu pukul 21.30, di balkon kulihat lampu penerangan jalan depan rumah dan lampu hias Grand Indonesia ikut dimatikan. Tampaknya imbauan Earth Hour tahun ini lebih berhasil ketimbang 1-2 tahun lalu, ketika diawali dari Sydney. Keberhasilan ini kian menggarisbawahi keinginan masyarakat untuk mendinginkan bumi menjelang UNFCCC di Kopenhagen akhir 2009.
Sayang Jakarta pusat berawan, sehingga bintang-gemintang tidak merajai kegelapan malam. Betapa kita juga butuh kegelapan malam, saat-saat mempersilakan cahaya alam bertahta menggusur kelam.


Jakarta, 28 Maret 2009

Smurf

Ada 'jiwa' kanak-kanak dalam diri setiap orang dewasa.
Tampaknya ini kian mengena ketika sampai pada kegemaranku terhadap cerita bergambar (cergam) dan animasi. Setelah sekian lama berburu, ternyata Kurni memberikan satu set Smurf sebagai kado untukku. Jadilah men-smurf smurf untuk Smurf mbledish :)
Selain Smurf, cergam dunia seperti Tintin, Asterix dan Lucky Luke menjadi bagian koleksi-ku. Bahkan cergam wayang karya R.A. Koesasih pun terkadang menjadi 'ladang' perburuanku. Ini mengimbangi bacaan serius dari bahan kuliah dan menulis menjadi menjadi 'makanan' sehari-hariku. Sebuah keseimbangan.


Jakarta, 14 Februari 2009

Sunday, October 5, 2008

Kesenangan Sesaat

Suitan suara melesat diiringi dentum gelegar menyusul gemelitik pecah kerlap-kerlip warna terang mengembang. Keriuhan suara berpadu warna seakan berlomba mengalahkan jubah kelam yang datang selepas adzan Magrib.
Warna-warna cerah kembang api seolah mengambil alih bintang-gemintang di langit malam yang enggan keluar dari balik awan. Beradu dengan ledakan petasan membelah hingga lewat dini hari.
‘Membakar uang’ yang didapat dengan curahan keringat. Demi sebuah kesenangan sesaat, di tengah himpitan kesulitan sehari-hari yang menyesakkan. Mampukah men jadi penawar kegetiran hidup di tengah kejamnya ibu kota?
Jakarta, 30 September 2008
Malam Takbiran /span>

Mudik

Terlepas dari kesempatan, pulang kampung (mudik) bagiku bukan menjadi sebuah keharusan. Kucoba menelusuri ketidakterikatanku pada kampung halaman, yang kutemukan pada keenggannku menyerahkan independensi-ku. Pulang menjadikanku seperti anak-anak, yang tak henti dikhawatiri, tiada habis dinasihati, tidak lelah diceramahi. Jarak ‘menyelamatkanku’ dari semua itu. Maka aku ‘berlindung’ pada jarak dan menjaga jarak nyaris dengan seluruh keluarga besarku. Sebaliknya aku memelihara kehangatan dan kedekatan justru dengan orang yang bukan saudara sekandung yang memiliki kesamaan pemikiran dan orientasi hidup. Sebuah keanehan bagi kebanyakan orang, khususnya di Asia ini.
Jakarta, 1 Oktober 2008
Lebaran hari pertama

Charity, Not Structural

Bulan puasa, bulan berkah, baik bagi yang memberi maupun yang menerima. Tak heran, banyak orang mendadak menjadi murah hati atau yang biasanya dermawan menjadi lebih ‘royal.’ Malangnya di tengah kesulitan hidup yang kian menghimpit, zakat Rp 20.000 pun diperebutkan yang berakibat 21 nyawa melayang di Pasuruan, Jawa Timur.
Terlepas dari pro-kontra prosedur, niat baik memang tidak lah cukup. Derma seberapa pun besarnya tidaklah mampu memanusiawikan manusia dan tidak berkesinambungan. Tiap hari mereka membutuhkan makan, tiap hari mereka memiliki berbagai kebutuhan. Tangan yang memberi tidak akan pernah mencukupi tangan yang ditadahkan. Lagi pula menjadi keniscayaan bagi manusia bekerja, ikut menjadi co-creator bagi dunia ini.
Lebih dari itu, derma tak mampu menyelesaikan masalah secara struktural. Tidak akan ada satu pun cara manusiawi yang berkesinambungan daripada sebuah sistem yang mampu menciptakan lapangan kerja berkeadilan bagi penghidupan yang layak. Sistem itu akan berbeda dari masa ke masa, efek berganda (multiplier effect) bisa menjadi salah satu penandanya: manakala semakin banyak diuntungkan oleh sebuah sistem, kian makmur rakyat dibuatnya. Struktural, ibarat sebuah lokomotif yang menyeret rangkaian besar gerbong yang menyertakan sebanyak mungkin rakyat di dalamnya, kembali secara manusiawi dan berkeadilan.
Tidak ada yang tertinggal, itu hanya utopia sebuah komunisme yang bisa semua sama rasa sama rata, menyalahi kodrat manusiawi. Pasti ada yang tidak mau ikut gerbong secara suka rela atau dipaksa keadaan untuk tidak ikut, atau sebuah sistem yang tidak memungkinkan dia ikut serta. Jelas ini jauh lebih tidak mudah daripada sekedar berderma, tapi akan berdampak jangka panjang dan terus-menerus.
Jakarta, awal September 2008

Friday, August 22, 2008

Creative Thinking

Membaca The Power of Know, menyegarkanku kembali pada 'kata-kata ajaib' kini dan di sini. Dengan pemahaman yang mengambang, "kini dan di sini" menjadi sekedar sebuah petuah rapuh yang mudah luluh 'dimakan' waktu.
Namun Eckhart Tolle mencoba mengingatkan pemikiran kreatif yang lebih mudah 'dihadirkan' dalam kekinian. Ini mengembalikanku pada 3B: 'bed, bath, bus/traveling.' Inilah aat yang paling kucintai yang kerap memunculkan pemikiran dan ide-ide kreatif, kala pikiran terserap kekinian gemericik air, keindahan pemandangan atau kantuk yang tertahan pada satu fokus. Betapa ajaibnya kekinian membawa hal-hal yang selama ini tak terpikirkan secara konvensional. Ternyata rasio dan pemikiran analitis masih kalah dengan kesadaran "kini & di sini" meski butuh latihan gigih untuk terus menghadirkannya.

Jkt-Bdg, 16 Agustus 2008

Friday, August 8, 2008

Life Excellent

Kamis kemarin kebetulan aku mendengarkan program radio Life Excellent-nya Jamil Azaini.
Hidup mulia yang memiliki kesuksesan dalam mencapai tahta, cinta, harta, dan memberi manfaat bagi makhluk lain.
Untuk hidup excellent, orang perlu berubah dan terus mengembangkan diri, yang tentu saja tidak mudah.

Jamil menyarankan yang paling mudah dari memperhatikan fisik dulu dengan "tiga olah" : olah raga, olah makan dan olah napas. Ini terdengar sederhana, namun tidak segampang yang dikatakan.
Olah raga teratur dan konsisten bukan perkara mudah. Harus ada kegigihan niat untuk menerapkannya.
Dari tiga olah itu, dengan yoga kita setidaknya sudah mendapatkan dua di antaranya dengan relatif lebih ringkas.
Banyak gerakan yoga yang tampak sederhana berdampak luar biasa untuk peregangan dan olah napas.
Ini masalah pembiasaan nantinya.

Sembari konsisten dengan tiga olah tadi, pengembang kecerdasan kognitif patut diperhatikan. Food for tought, bahasaku. Bisa dari membaca, belajar dan olah otak lainnya, macam brain gym. Lagi-lagi masalah pembiasaan menjadi kebiasaan.

Yang lebih sulit, pengembang kecerdasan emosional. Buddha mengajarkan dengan cara sederhana, kalau tidak bisa berbuat baik, setidaknya jangan menyakiti. Padahal untuk tidak menyakiti dengan perkataan, niat dan perbuatan bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan mindfullness yang terus-menerus. Jadi ingat dengan pemeriksaan batin, memahami gerak-gerik hati dengan menyingkirkan yang batil.

Yang paling sulit mungkin kecerdasan spiritual. Menjaga keterhubungan energi dengan yang Maha Segalanya sembari tetap mempertahankan kebaikan buat sesama. Seimbang vertikal dan horisontal layak palang, hamblumin Allah hamblumin annas dalam Islam.

Jakarta, 9 Agustus 2008

Thursday, June 12, 2008

Mental Pengemis

Kantor berita Antara melaporkan Isdayati, yang mengenakan perhiasan kalung dan tiga cincin emas, kecewa tak bisa mencairkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) di Kantor Pos Batam Kota, Batam, Kamis (12/6). Perempuan warga , warga Kampung Belian, Batam Kota itu menangis usai ditolak petugas kantor pos....
Dengan seutas kalung dan tiga cincin, bisa dipastikan tidak kurang dari 10 gram emas yang dimiliki perempuan itu. Harganya pasti lebih dari Rp 1 juta. Andai pun ia tak memiliki uang, ia bisa menggadaikan sementara perhiasannya.
Terlepas dari kehidupan yang kian susah, semakin banyak orang yang menempuh jalan pintas dan tidak punya lagi rasa malu untuk mendapatkan uang dengan cara mudah, sekalipun mengorbankan harga diri.
BLT ini benar-benar kian mencetak masyarakat yang bermental pengemis, menomorsekiankan rasa malu, apalagi martabat. Punah sudah harapan menjadikan orang miskin bermartabat.

Jakarta, 12 Juni 2008

Friday, June 6, 2008

De-ideologi

Semalam dengan bergurau kami merasani gaya dosen. Seorang kolega jurnalis menyatakan dosen A tampaknya agak kiri.
Langsung aku menyambar, kuragukan orang kiri bekerja untuk sebuah perusahaan multinasional.
Kolega tadi lantas merujuk pada orang-orang PSI lama yang berjaya dengan bisnisnya.
Dengan guyonan gaya aktivis kubilang, dia pasti 'sos-ka' kalo gak sosialis salon.
Teman lain yang kebetulan Pegawai Negeri Sipil (PNS) tidak ikut tertawa. Malah dengan polos mengaku tidak mengerti arah kelakar kami.
Semasa mahasiswa, istilah-istilah 'kiri' dan 'kanan' itu begitu terbiasa terdengar dan kental mewarnai aktivis mahasiswa. Bahkan di kantor, kami kerap bergurau dengan Biro Chusus, Central Committee, Polit Biro, dan sebangsanya. Tapi 'mahasiswa baik-baik' jarang mendengar istilah itu dan tidak memahami.

Jakarta, 5 Juni 2008

Friday, May 30, 2008

Subyek dan Kelugasan

A (lelaki) menulis email kepada B (perempuan),... pernah terpikat pada C (lelaki), sebuah kalimat tanpa subyek.
Setelah B menanyakan subyeknya, ternyata yang dimaksud adalah B sendiri.
Kalimat tanpa subyek itu sebuah pernyataan, bukan pertanyaan. Tidak jelas
apakah pernyataan itu meminta konfirmasi.
Karena subyeknya B dan email itu ditujukan kepada B, kenapa A tidak
menanyakan atau mengkonfrontasi langsung ke B?
Dengan membuat pernyataan itu, (seolah) B adalah obyek. Maka itu jelas
adalah sebuah tuduhan sepihak, tanpa konfirmasi.
Ini merupakan bagian kebiasaan Asia dan masyarakat feodal yang enggan
mengkonfrontasi langsung lawan bicaranya, berputar-putar, tidak straight to
the point.
Ini bertolak belakang dengan watakku dan langgam Jawa Timuran yang lugas.
Tak jarang aku merasa terganggu dengan gaya berputar-putar yang tidak lugas
seperti ini. Sebuah benturan budaya yang tak terelakkan.

Jakarta, 12 Mei 2008

Sunday, May 25, 2008

Negeri Para Calo

HINDARI
Pengurusan keimigrasian melalui calo!!!
CALO MERUGIKAN KITA SEMUA!!!
Begitu kalimat yang tertulis pada spanduk biru yang terbentang di atas
pintu kaca Kantor Imigrasi Kelas I Jakarta Pusat di Jalan Merpati.
Pada kaca di kiri dan kanan pintu itu juga tertempel stiker, "Pastikan
pelayanan kami bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme" SMS 021-32622888.
Rabu, 21 Mei 2008 pukul 11.33 penulis menjejakkan kaki di kantor imigrasi
itu. Penulis meletakkan map berisi formulir Perdim 11 dan segala dokumen
persyaratan permohonan paspor di loket pertama lalu duduk menunggu. Usai
istirahat satu jam tengah hari, penulis kembali menunggu hingga sekitar
pk.14.30 petugas loket memanggil. Sembari mengembalikan dokumen asli,
petugas memberikan potongan kertas bertuliskan nama penulis, tanggal masuk
(dicap) 21 May 2008, tanggal kembali wawancara/foto: 22/5/08 jam 11.00
dengan catatan: surat-surat asli dibawa pada saat wawancara.
Dikurangi jam istirahat, berarti setidaknya membutuhkan waktu dua jam untuk
mendapatkan potongan kertas panggilan itu.

Hari Kedua
Kamis, 22 Mei 2008 pk.10.50 penulis kembali tiba di loket pertama sambil
menunjukkan potongan kertas panggilan. Petugas meminta menunggu.
Di kertas itu tertera jam, toh harus menunggu juga. Lalu apa artinya kertas
panggilan tadi?
Hingga beberapa saat menjelang tengah hari, petugas memanggil sembari
menyerahkan kembali map berisi berkas-berkas yang kemarin penulis ajukan.
Usai jam istirahat, penulis masih harus menunggu meski sudah memegang
kuitansi pembayaran.
Sementara klien para calo yang baru datang, bisa langsung dapat panggilan.
Bahkan ada yang tanpa segan langsung menyelonong masuk ke ruang foto, tanpa
ada panggilan.
Yang paling terasa usai foto, penulis harus menunggu di luar ruangan.
Sementara klien calo yang foto belakangan, bisa mendapat panggilan lebih
dulu. Bahkan ada klien calo yang langsung dari ruang foto masuk ke ruang
wawancara dan 'duduk manis' di hadapan ibu petugas pewawancara, tanpa ada
panggilan!
Benar-benar proses imigrasi ini dikuasai para calo! Penulis dan sedikit
orang yang mencoba menjadi warga negara baik dengan mengurus paspor sendiri
- tanpa melalui calo - ternyata selalu terkalahkan para calo.
Kenapa tidak ada nomor panggilan macam antrian bank yang transparan? Kenapa
tidak ada pengawas yang memantau klien calo yang menyelonong?
Selain itu alur dan lama proses yang terpampang di layar monitor terlalu
kecil dan tak terbaca.
Penulis perlu seminggu lagi kembali untuk mendapatkan paspor. Padahal
seorang calo mengatakan, lewat dia bisa sehari jadi! Nah!
Begitu keluar, di teras kiri-kanan pintu keluar itu berkumpul sebagian
calo. Tepat di bawah spanduk tadi. Apa artinya ini semua?

Jakarta, 22 Mei 2008

Sunday, April 13, 2008

Harga Melambung

Harga minyak mentah dunia sejak Januari 2008 tembus di atas US$ 100 per
barel, bahkan meroket ke rekor tertinggi mendekati US$ 112 per barel di
NYMEX, Amerika Serikat (AS) pekan ini.
Tingginya harga minyak memicu orang beralih ke biofuel (bahan bakar
nabati/BBN), sehingga minyak kelapa sawit mentah (CPO) ikut melambung.
Minyak mentah yang menjadi bahan baku petrokimia dan produk derivatifnya,
mendorong harga pupuk kimia meningkat.
Sementara krisis kredit perumahan AS (subprime mortgate) melemahkan dolar
AS, sehingga investor beralih ke bursa komoditas baik logam maupun pangan.
Gandum, beras dan biji-bijian naik sekitar 50% dibanding tahun lalu. Kini
tak ada lagi harga mie instan di bawah seribu perak.
Gorengan yang tahun lalu masih seribu dapat tiga, sekarang cuma dapat dua,
bahkan ada yang Rp 2.000 dapat tiga.
Minyak goreng operasi pasar Lebaran 2007 masih kubeli dengan harga RP
6.500/liter, kini harga sudah dua kali lipat.
Kalau perut rakyat terancam, apakah gizi buruk tak akan bertambah? Jika
urusan perut saja kian susah, apalagi yang lain? Bagaimana negara ini bisa
maju?

Jakarta, 10 April 2008

Thursday, April 10, 2008

Food is Heaven

Melihat penjual es keliling lewat, ingatanku terbang pada belasan tahun
lampau ketika Mama Papa kerap membelikanku dan adikku ice cream Tutty
Fruity. Berbentuk kotak, penjualnya menyebut es blok dengan rasa buah leci
dan irisan buah yang rasanya yahud, tiada duanya. Meski berbeda, aku
mengenang rasa ini di Ragussa ice cream yang sama jadul-nya.
Penjual es itu membawanya dari Kota Malang, lebih dari 150 kilometer dari
tempat kelahiranku. Sama halnya dengan ice cream modern Swensen dan roti
tawar kupas Frans (zaman itu belum ada di kota kecil kami) yang kusukai
ketika berlibur ke Surabaya.
Sebagai keturunan leluhur yang menghargai kuliner, Keluarga Besar kami
sangat cermat mengenai kualitas makanan. Makan bukan sekedar mengenyangkan,
lebih dari itu bagian dari budaya. Tradisi makanan Tionghoa yang kaya dan
pelik dengan segala coraknya menjadi warisan bagi kami.
Pola makan berseling panas dan dingin (macam yin yang makanan), mulai dari
appetizer, soup, main course hingga desert dengan kandungan yang
benar-benar kaya serta beragam.
Jelas ini telah melampau taraf subsisten, sehingga tak jarang Omib
menyebutku 'bourjuis kecil'. Rasanya kalau untuk urusan perut, dia tidak
salah :D

Jakarta, 6 April 2008