Monday, January 19, 2009
Ciwidey-Kawah Putih-Situ Patengan-Pantai Jayanti
Perhentian pertama di Kampung Strawberry, yang cottage-nya sudah fully-booked dan restorannya belum buka. Akhirnya kami cuma 'sarapan' secangkir bandrek untuk menghangat perut yang kosong sedari pagi. Langsung menuju Situ Patengan sembari jelalatan mencari penginapan yang asyik.
Situ Peateng-atengan, tempat mengangan-angan sang pujaan hati, sebuah legenda yang membalut telaga dengan pulau cinta-nya.
Kembali ke arah Rancabali, Cottage Walini dan Resort Patuha penuh. Kami berkejaran dengan mentari sebelum makin tinggi menuju Kawah Putih. Danau kawahnya putih kehijauan tosca nan menawan, sebuah warna harapan di penghujung tahun.
Lewat tengah hari, hawa panas kian intens kami melepas lelah dan makan siang di saung Sindang Reret tak jauh dari sawah dengan padi yang berbulir menjelang menguning. Suasana pedesaan terasa lengkap dengan gaya baju petani pramusaji yang membawakan makanan dengan rantang jadul dan wadah keramik tanah liat beralaskan daun dan membawa kembali dengan pikulan khas petani. Di tengah lapangan rumput yang hijau asri, ada beberapa pasang enggrang dan peralatan lomba sandal teklek. Santai dan ceria dengan anak-anak bermain.
Sementara mendengar kata pantai, kuping Dedek sudah berdiri dan keukeh ke selatan. Tanpa ada pompa bensin dan uang tunai cukup, kami terpaksa turun lagi ke Soreang ke ATM BRI.
Isi bensis sudah azar, hari cerah untuk melewati tanjakan demi tanjakan selepas Situ Patengan dengan perkebunan teh menghijau sejauh mata memandang hingga selepas Cibuni. Menuruni lereng curam dari kejauhan cucuran air putih curug menghiasi gigir bukit hijau. Sesekali mendung menggantung dengan cahaya mentari bak stairway to heaven di kejauhan di balik bukit, seakan mengatakan selalu ada harapan di balik awan kelam.
Usai 'memberi minum' pada radiator yang mulai kepanasan, bak bekejaran dengan kelam malam, kami menyongsong gemilang senja keemasan di ufuk barat. Begitu rona magenta semburat menghias angkasa, kami 'dipatahkan' jalanan bak kubangan kerbau kilometer enam dari Kecamatan Cidaun. Turun dari ketinggian Cimeang, nyiur pantai masih terlihat melambai-lambai di tengah kegelapan senja. Sayang jubah malam segera mengambil alih petang dengan mendung kelam.
Melewati jembatan balley, jalan menuju pantai riuh reda. Melewati gapura pembayaran tiket dan parkir, bau amis dari perahu nelayan yang berjajar dan tempat pelelangan ikan meruap. Tidak ada pilihan, makan malam new year eve kami bakso kampung dengan mie instan. Penginapan pantai penuh dan pantai terlalu ramai dengan panggung dangdut, kami kembali ke Cidaun dan 'mendamparkan diri' di penginapan kampung Putra Abadi.
Alam berbelas kasihan, menyibakkan mendung dengan sejuta bintang yang gemerlap menghias malam tahun baru. Rasi Orion bermegah di puncak kepala dan si jewel box yang cemerlang dipandang dengan mata telanjang. Benar-benar malam nan indah.
Ciwidey-Pantai Jayanti, 31 Desember 2008
Saturday, March 29, 2008
Badui Local Wisdom
Ingat typhus, kususuri jalan mencari rumah makan yang representatif bagi perut manja-ku. Hanya ada warteg agak jauh dari terminal, meski tak luput dari debu jalanan juga. Ibu pemilik warung hanya punya beberapa bungkus mie instan goreng untuk mengganjal lambung yang cuma terisi sari kacang hijau dan air sedari pagi.
Usai makan, kembali ke terminal. Petugas DLLAJR yang kutanyai, main suruh makelar angkot membawaku naik angkot 01 lalu oper 07 ke Subterminal Aweh.
Setelah menunggu sejam lebih, lepas Azhar, Elf yang tak kalah sembrononya menerjang jalan kelas kabupaten hotmix bopeng dengan kecepatan rata-rata 50-60 kilometer per jam. Padahal jalanannya beralur pengungkit naik turun bukit, itu pun tak jarang musti mengerem menghindari lubang. Sementara di dalam Colt Diesel itu sesak dengan tak kurang 20 orang plus lewat dari sebelah jari orang yang duduk di atas kap. Mungkin mereka terbiasa atau memang punya jantung cadangan, sedang aku duduk depan berempat saja sibuk cari pegangan.
Ini belum apa-apa, belok ke arah Ciboleger jalanan kian curam, petani Badui yang lepas berladang menjadi tambahan penumpang. Sampai ngandol tengah dan di depan, dengan jalan meliuk dan menukik terjal. Pasalnya inilah Elf terakhir sebelum senja turun.
Di Ciboleger, kenek melarangku turun dan membawaku menjauh dari putaran kecil yang disebut terminal. Menurutnya, orang terminal bisa menyesatkan dan aku percaya saja.
Akhirnya Mang Kawi yang membawaku melewati jalan setapak berlumpur yang bertemu dengan pintu gerbang ke Masyarakat Adat Badui.
Lapor ke Jaro (kepala desa) di dusun pertama, Kadeuketug. Cuma mengisi buku tamu dan memberikan uang sukarela.
Lewat dusun kedua, Balimbing, jalan setapak kian berlumpur becek, kulepas sandal jepitku. Ndelamak (bertelanjang kaki) kurasakan lebih memijak bumi dan aku lebih punya kendali, bersatu dengan alam.
Usai Dusun Marenggo, kabut malam mulai menebarkan jubah kelamnya. Jalan berbatu licin berlumut pula, plus curam menyeberang kali kecil. Rasanya ini lebih parah dari naik Gunung Gede. Namun kuingat kembali prinsip naik tambang, fokus ke depan, lalui satu per satu dengan mantap. Maka kutapakkan kaki dengan yakin pada jalur yang benar, percaya pada intuisi batu yang kupilih tak berkhianat menggelincirkanku.
Setelah bertemu sungai yang lebar di sisi kanan, akhirnya inilah dusun keempat yang kami tuju, Gajebo.
Menanjak ke sisi kiri jalan masuk, Mang Kawi membawaku ke kediaman A yang ternyata ayahnya kerap menerima Aristides dan Mimis istrinya, Don Hasman, serta Rudy Badil.
Magrib tanpa suara azan, rasanya sudah larut malam betul. Penerangan hanya lampu teplok yang rasanya sudah lama benar tak pernah kulihat. Tak ada listrik, jelas tak ada bising televisi dan alat elektronik lain.
Mungkin ini kunci Suku Badui bertahan menolak modernisasi, mereka punya banyak waktu bersosialisasi dan guyub. Ketika berbincang dengan tuan rumah, sayup-sayup kudengar tetangga juga ngobrol, satu-satunya hiburan.
Yang sempat mengejutkan di ruang tamu itu tiba-tiba suara elektronik khas telepon genggam memecah keheningan. Ternyata pemilik rumah punya HP dengan operator Indosat, sementara Telkomsel di HP-ku tak ada sinyal.
"Sebenarnya HP juga dilarang, tapi asal tidak menyolok," aku A yang tampak kerap bersentuhan dengan dunia luar.
Yang lebih menakjubkan lagi A bisa membaca dan mengirim SMS serta relatif berbahasa Indonesia dengan baik, padahal suku Badui tidak mengeyam sekolah atau pendidikan formal lain.
Self Sufficient
Ketika hari masih gelap, kokok ayam yang bersahutan membangunkan masyarakat Badui. Kaum perempuan menghidupkan pendiangan untuk menanak nasi dan memasak lauk yang akan dibawa ke ladang. Lalu ke sungai untuk mandi dan buang hajat.
Menjelang matahari terbit, mereka telah menyusuri punggung bukit menuju sawah atau ladang mereka yang menjadi sumber pangan dan pengisi lumbung mereka.
Kalau usai panen, mereka menenun dan mengerjakan berbagai kerajinan berbahan alami.
Sementara sebelum upacara besar Kawalu yang berlangsung tiga bulan, mereka membenahi rumah, terutama bagian atap dari anyaman rumbia daun sagu (kirai, mereka menyebutnya) dan ijuk. Atau bagian dinding dari anyaman bambu dan lantai bilah kulit luar bambu yang mirip lampit. Untuk bagian kuda-kuda dan palang plafon, mereka harus dari jauh-jauh hari merendam balok kayu di rawa-rawa sebagai anti rayap.
Rumah-rumah panggung itu berjajar rapi mengikuti garis sejajar sungai dan berundak seturut kontur tanah perbukitan. Sepintas lalu rumah itu tampak serupa dengan teras, ruang tamu, dan ruang keluarga yang merangkap dapur dan pendiangannya.
Namun tak ada semenan yang bakal ditemui di kawasan Badui. Fondasi rumah mereka terbikin dari tatanan batu sungai. Demikian pula dengan jalan setapaknya.
Jembatan yang membentang di atas sungai mereka merupakan jembatan bambu tertambat pada dua pohon besar dengan lengkung arch bridge. Bambu-bambu besar dan tua itu diikat dengan sepenuhnya dengan ijuk. Jembatan bambu itu pun harus diganti setahun sekali.
Semua dikerjakan secara bergotong royong dan semua kebutuhan bersama dipenuhi secara swadaya. Tak heran kalau suku Badui sudah relatif sibuk dengan kehidupan self sufficient-nya.
Karena semua telah tercukupi secara swadaya, tak perlu listrik dan barang-barang mewah, hidup suku Badui relatif makmur. Lumbung padi tiap keluarga bahkan bisa diwariskan secara turun-temurun, tak bakal ada kelaparan di sana.
Apalagi kemana-mana harus berjalan kaki, naik-turun bukit tak jarang bertelanjang kaki, orang Badui tampak sehat-sehat.
Isu Lingkungan
A menceritakan kearifan suku Badui yang dipercaya sebagai penjaga hutan sampai ke Ujung Kulon. Tak ada penebangan pohon yang tidak seizin adat.
Hanya atas kesepakatan pembukaan lahan, tegakan pohon akan dirobohkan. Ini sudah menjadi rahasia umum, yang sangat kontras mengingat sepanjang jalan hingga Ciboleger bertebaran penggergajian kayu dan truk-truk bermuatan kayu gelondongan.
Kami bertukar pandangan mengenai sampah. Dengan arif, A mengakui tak ada larangan membuang sampah di Badui, karena dulu daun pisang dibuang sembarang dapat segera menjadi kompos. Sementara kini sampah plastik, baik warga maupun pendatang tak dilarang menggunakannya dan tak jarang membuang ke tepi Sungai Cisemeut seperti yang kusaksikan.
A mengakui sekarang terlihat bersih karena hujan menghanyutkan sampah itu, namun di musim kemarau sampah akan terlihat bertebaran. Kuceritakan pengalamanku bersama Save The Pangrango memunguti sampah, proyek kompos Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) di Surabaya dan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah di Denpasar. Rupanya A pernah juga ke Cibodas sampai Air Terjun Cibeureum. Terlihat ia antusias belajar atau paling tidak mengetahui dunia luar tentang masalah lingkungan. Tampaknya Tides dkk memberi
dampak kuat pada dirinya.
Ia mau menemaniku menemui Jaro untuk menanyakan isu lingkungan ini. Yang kemudian staf humasnya, Masardi yang menemuiku. Ia memulai penjelasannya dengan mengutip "Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang diruksak...."
Inilah amanat leluhur Badui yang dipegang teguh secara turun-temurun hingga kini. Yang artinya kira-kira, gunung harus ditanami, kalau dirusak akibatnya banjir dan longsor akan melanda di musim hujan serta sebaliknya kekeringan di musim kemarau.
Tak heran, kalau masyarakat Badui menjadi salah satu suku asli pelestari lingkungan hidup, khususnya dalam melindungi hutan.
Ini terlihat dari 5.100,8 hektar lahan masyarakat Badui, 3.000 hektar merupakan areal hutan lindung yang benar-benar dilindungi keberadaannya. Sementara sisanya digunakan untuk menghidupi 11.000 jiwa lebih masyarakat Badui yang menggantungkan hidup pada lahan pertanian dan ladang.
Kendati memiliki sistem pertanian berpindah, masyarakat Badui pantang merambah hutan. Masardi menegaskan ada hukuman sangat berat apabila hutan lindung dirambah.
"Hukumannya bisa hukuman batin seperti musibah atau merugi terus. Hukuman batin ini bisa sampai tujuh turunan dan hanya dihapuskan melalui upacara untuk berjanji tidak melanggar hutan lindung," jelas Masardi yang penulis temui di Dusun Kadeuketug, dusun terluar Badui di Desa Ciboleger, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak.
Lebih lanjut ia menerangkan, ada juga hukuman adat, dipanggil tokoh adat di Badui Dalam.
"Sejauh ini hanya diperingatkan, belum ada yang sampai dikenai sanksi desa. Itu pun sangat jarang yang berani melanggar, paling hanya 1-2 kejadian," tambah Masardi.
Ia juga meluruskan pengertian berpindah itu bukan ke lahan hutan, melainkan sistem rotasi di lahan yang sudah ditetapkan menjadi hak keluarga itu. Misalnya suatu keluarga mendapat dua hektar, satu hektar ditanami pohon akasia, sisa lahan ditanami padi. Setelah pohon akasia dipanen kayunya lima tahun lagi, lahan itu ganti ditanami padi, sebaliknya sawah ditanami pohon.
"Tanah akan kurus (lapisan humusnya berkurang) kalau ditanami satu jenis tanaman," kata Masardi mengungkapkan kearifan lokal yang telah dipunyai Badui secara turun-temurun.
Selain itu, menurutnya, masyarakat Badui juga banyak yang berladang di luar wilayahnya sampai ke lima kecamatan di Lebak. Dengan demikian ini bisa mengatasi pertambahan penduduk Badui tumbuh sekitar satu persen dengan sensus Mei 2007 tercatat 5.500 laki-laki dan 5.441 perempuan.
Belum lagi adat suku Badui pantang menggunakan semen. Maka jalan ke dusun-dusun masyarakat Badui yang berbukit-bukit hanyalah jalan setapak dengan batu sungai sebagai pijakan di tanah liat. Di samping alami, tingkat kesulitan akses jalan ini menjadi semacam pengaman dari perambah hutan dan pengaruh negatif lain seperti berkurangnya daerah resapan.
Ujung Kulon
Masyarakat Badui juga dikenal sebagai penjaga hutan lindung sampai ke Ujung Kulon. Secara rutin mereka memantau kondisi hutan lindung di wilayah paling barat Pulau Jawa ini ketika mereka menggelar upacara penatapan.
Sesuai kepercayaan Sunda Wiwitan, masyarakat Badui meyakini setiap gunung memiliki penghuni. Upacara tadi dilakukan agar 'isi' gunung itu tidak resah. Dari sekian banyak gunung di Unjung Kulon, di antaranya adalah Gunung Honjeu dan Gunung Madur, tempat upacara tadi.
"Sampai 2006 kondisi hutan lindung Ujung Kulon masih aman. Tapi tahun lalu, ada sebagian, terutama yang dekat jalan, pohonnya ditebang," jelas Masardi yang menjadi salah satu dari 12 perangkat desa Badui.
Menurutnya, Badui tidak memiliki perangkat desa yang menjaga hutan (Jagawana). Ia menggarisbawahi tugas menjaga hutan itu dilakukan secara gotong royong, secara bersama-sama. Dengan demikian sejatinya setiap orang Badui adalah jagawana. Andai ini bisa diterapkan pada semua masyarakat tepi hutan-hutan kita.
Lebak, 20-21 Maret 2008
(real World Silent Day in Badui)
Wednesday, January 30, 2008
Ziarah Sawer Rahmat
kejauhan sudah kuhentikan kendaraan bercat hijau pupus itu. Ternyata sebuah
bus boemel alias ekonomi, Lur Agung. Kepalang tanggung aku 'nyengklak' aja.
DVD player tengah memutar pop dangdut dengan nada monoton yang kubenci itu.
Tak ayal kupilih di tengah, toh berisiknya nyampai juga. Coba kutepis
dengan kekehan gara-gara kepala krupuk Akiong di Laskar Pelangi. Tidak
manjur. Suara ritmis yang monoton itu tetap masuk gendang telinga bak mata
bor. Ya inilah 'bis rakyat' lengkap dengan asap rokok yang juga kubenci dan
sulit kukompromi, sebuah 'paksaan' resolusi tahun baru.
Magrib bus masih 'ugal-ugalan' di jalan raya pos yang dibangun Tuan
Deandles. Gelap lewat Isya baru masuk Terminal Cirebon. Kurang dari sejam
kemudian, kondektur memberitahuku untuk turun, setelah Cirendang, Terminal
Kuningan.
Dengan minta ongkos 20 perak (tanpa kutawar), ojek membawaku ke jalanan
sepi nan menanjak di kanan (barat jalan) menembus gulita di bawah rinai
gerimis. Aih, aku lupa makan :(
Usai melewati jalanan dengan oncor bambu sekitar Cigugur, jalanan kian
terjal berbalut jubah kabut malam.
Ojek menurunkanku di mulut gang dengan papan petunjuk berbunyi "Gua Maria
Fatimah Sawer Rahmat, Cisantana". Demi membaca tulisan itu, dengan semangat
'45 langsung kutapaki gang sepi, lupa perut lapar.
Lewat lolongan anjing memecah malam, setelah rumah kurang dari jari satu
tangan, jalan setapak beraspal itu gulita. HP pun jadi senter darurat. Aih
di kiri-kanan kuburan. Tapi begitu melihat badan bernyala serangga yang
kucinta, kunang-kunang, ada perasaan tenang menyelimuti kalbu.
Hingga akhir kompleks pekuburan yang ditembok tak kutemukan lagi petunjuk
gua.Aih hilang arah, sementara kabut rinai gerimis kian tebal.
Masih kuikuti jalan setapak, eh malah berakhir di jalanan besar beraspal.
Beberapa remaja boncengan motor menawari tumpangan. Aku terlalu jaim untuk
'cenglu' sehingga kutampik halus dengan berjalan menyusuri gelap malam
berkabut.
Sebuah warung di pinggir jalan dengan mini dispenser melepas dahagaku dan
dingin embun malam dengan segelas teh tubruk. Sebagaimana orang kampung,
dengan hati terbuka, Teteh warung itu menawarkan keponakannya memboncengku
ke gereja tempat berlangsungnya misa.
Aih ternyata arah gereja berlawanan dengan gang menuju gua. Jalan menurun
di kanan itu pun nyaris di ujung aspal kanan lagi, menjorok terjal ke
bawah. Sempat terbaca rumah di kanan jalan masuk, "Susteran Ursulin".
Turun di halaman TK-SD Yos Sudarso, bocah SMP itu memandangi 10 perak
dariku dengan pandangan sungkan khas orang desa lama yang kukenal. Lalu
kutapaki jalanan semen menurun.
Di pintu gereja Stasi Maria Putri Murni, janur melengkung melambai-lambai
ramah seolah menyambutku. Demi memandang resiknya, kulepas sandal jepit
bututku bak masuk langgar.
Kuhampiri salib legam di sisi, sebuah peninggalan Gereja teraniaya yang tak
pernah mati.
Di muka altar dengan sesembahan hasil bumi lengkap dengan padi di dalam
antan kayu, kuberlutut dengan hati pedih. Betapa sebagian petani Jawa telah
kehilangan panen hasil buminya diterjang banjir akhir tahun ini. Lupa minta
'suami Dasa Dharma Pramuka' aku malah mendoakan korban banjir ini.
Penjaga gereja menawari masih ada kamar di bawah, di belakang gereja, di
samping Kompleks Asrama Putri Murni. Khas asrama, 4 tempat tidur susun
berjajar sepasang-sepasang.
Demi melihat kasur, dentang sisa nada monoton - yang memicu migrain-ku -
menuntut direbahkan. Usai seka badan, gerimis turun lagi. Kupilih
memejamkan mata barang sejam, alarm kupasang pk.23.30 Belum lagi alarm
bunyi, curahan air langit bak mau dihabiskan pada penutupan tahun 2007.
Jadilah aku tak beranjak, seperti orang-orang sederhana melewatkan malam
pergantian tahun layaknya malam biasa.
1 Januari 2008
Genta gereja sudah berdentang-dentang pk.5.30. Seingatku penjaga mengatakan
misa pukul 7.
Rinai gerimis turun lagi, meringkuklah aku menjadi musuh dalam selimut.
Sejam kemudian buru-buru keramas dan mengguyur air sedingin es tuk
membangunkanku.
Ternyata misa pukul 6, memang tak boleh terlalu khusuk aku. Usai memberikan
uang sumbangan kamar 50 perak - yang kata petugasnya berlebih - Mang Hamid
menawari ikut Keluarga Elis yang menyambut dengan terbuka di Ford
Everest-nya.
Kembali ke jalan aspal yang kususuri semalam, kali ini dengan arah
berlawanan. Ternyata jalan setapak menuju gua di belakang kuburan
bertembok, curam dan sempit, yang tak mungkin selamat kususuri dengan
senter HP.
Di tempat pertama yang disebut Taman Getsemani, gazebo tembok terbuka
beratap genteng tergeletak meja dengan buku cetakan jalan salib.
Bapak yang baru pasang 'ring' di jantungnya itu memintaku memimpin jalan
salib, sementara putranya Adi dan bungsu Amel serta ibunya mengikuti dalam
diam.
Dari sini takik tangga terjal mendaki, kerap licin berlumpur dan berlumut.
Ini macam trek pendakian untuk pemula, yang lumayan memompa darah ke
jantung dan mengembangkan paru-paru, melebihi jalan sehat maupun SKJ.
13 perhentian berpuncak di lahan relatif lapang pada ketinggian 900 meter
yang dinamakan Bukit Golgota, dengan Salib besar menyambut kita di mulut
tangga akhir. Perhentian ke-14 tersembunyi di atas mulut lorong air. Dari
sini jalan relatif datar, baru menanjak lagi dengan tangga menuju air
sumber di kiri gua. Desain gua mirip Sendangsono dengan batu sirap, versi
yang lebih mini.
Ketika aku berdoa di bawah kabut dan gerimis, Keluarga Elis yang baru
kukenal itu tengah menanak nasi dengan dual magic jar, menggoreng ikan asin
di atas kompor gas portable, lengkap dengan secobek sambal mentah segar
menggiurkan. Suasananya persis seperti naik gunung, penuh persaudaraan
kendati tak saling kenal. Mereka pun mengajak makan bersama. Turun bersama,
bahkan mengantarku sampai Terminal Cirendang meski mereka bertujuan
ke Ciamis di arah sebaliknya.
Benar-benar sawer rahmat: berkah persaudaraan, keterbukaan, kebaikan tulus
mengawali tahun baru. Semoga limpahan rahmat ini mampu kuteruskan ke lebih
banyak orang. Bukankah syukur terbaik adalah meneruskan kepada orang lain?
Semarang dari Peninggalan Kolinial ke Pecinan
kemewahan tersendiri. Apalagi tak banyak kaumku yang bisa melakukan sebebas
diriku, sebuah 'priviledge'. Terlebih ketika di tengah jalan kutemui
mbok-mbok dengan kain jarik dan kebaya terbungkuk-bungkuk memanggul bakul
dagangan di punggungnya yang kurus.
Sementara aku dengan ransel dari Hotel Candi Sari di Jalan Wahidin
(Sudirohusodo, untuk tidak mengurangi rasa hormat pada pahlawan pendiri
Boedi Oetomo ini :), kususuri jalan menuju kompleks tua sekolah Don Bosko.
Dari depannya, naik bis tiga perempat menyusuri Jalan S.Parman yang berliku
dan berkontur perbukitan dengan rumah mewah menjulang di kiri-kanan jalan.
Turun di Tugu Muda, gereja tua Stela Maris (?) dan gedung tua yang
mengitari tugu itu mengajak memasuki suasana peninggalan Kumpeni Walondo
(VOC maksudnya :).
Pohon-pohon asam rindang mengiringiku menapaki trotoar kanan jalan sejajar
Balaikota yang rapi dan lumayan lebar dengan paving-block merah tua yang
relatif teduh. Sekali lagi pohon asam peneduh peninggalan Walanda.
Kecuali DP Mall, bangunan di kiri-kanan Jalan Pemuda ini masih kuat
menggambarkan peninggalan kolonial Belanda, terutama kompleks TK
Kanak-Kanak Yesus, SD-SMP-SMA Marsudirini (?), Kompleks Kodam Diponegoro,
Balaikota dengan puluhan pilar kelabunya.
Sebuah Tourist Information Centre (TIC) di samping SMA 5 'menggodaku' untuk
menengok promosi Semarang Pesona Asia. Gedungnya gelap tanpa penyejuk udara
dengan dua mbak petugas biro perjalanan tengah kipas-Kipas. Petugas perlu
diteriaki dulu untuk muncul di balik booth-nya yang berisi brosur iklan
hotel swasta dan foto lugu anak Dieng. Peta Semarang yang kuhendaki muncul
setelah dicari-cari sekian lama. Itu pun selembar peta kecamatan dengan
nama jalan yang tak jelas plus 14 foto lokasi wisata yang ditawarkan. Peta
yang 'makro' dan tidak informatif. Tampaknya Dinas Pariwisata & Kebudayaan
Kota Semarang patut belajar dari Lonely Planet untuk menyajikan apa, dimana
dan bagaimana menuju obyek wisata.
Di persimpangan yang membelah Jalan Pemuda, ada bakal mal dengan Hypermart
yang bakal tidak 'matching' dengan peninggalan kolonial serta 'mengacaukan'
perekonomian tradisional Pasar Johar tak jauh darinya.
Terus ke utara tampak baliho "Gong Xi Fat Cai" di atas toko terkenal zaman
Orba Sri Ratu yang meredup tanpa reformasi. Toko Oen yang kutuju di
seberangnya tampak tutup rapat 'bedak' kayunya. Alamat perut keroconganku
(atau bahkan sudah ganti heavy-metal) bakal kian merongrong (atau mem-bona)
minta diisi. Beneran, Toko Oen tutup, menyiapkan pesta anaknya. Hiks :(
Tanpa bayang-bayang, mentari tegak lurus bak langsung membakar ubun-ubunku
lepas dari Jalan Pemuda. Sekitar Pasar Johar yang (masih tetap) ruwet dan
ramai seperti biasa tak ramah buat pejalan kaki. Dari Jalan Pedamaran, Gang
Warung menyajikan suasana Pecinan yang terasa akrab seperti Kawasan Kembang
Jepun di Surabaya dalam ingatan masa kecilku. Bau hio dengan pintu kayu
jati coklat tua kadang berjeruji besi khas zaman bahuela. Jalanan
paving-blocknya masih rapi.
Begitu berbelok melihat sungai dengan replika Kapal Cheng Ho mengapung
seperti terdampar di Gang Lombok, peluh dan letih serasa impas.
Es Campur Gang Lombok dengan ingridient cincau, degan (kelapa muda), kolang-kaling serta manisan mangga dan
manisan nenas yang asam-asam lezat luar biasa di tengah terik siang itu.
Naga perutku pun tenang dengan mie Siang Kie Gang Lombok 10. Minyak
nguik-nguik melapisi mie langsing ala spagheti dengan condiment cacahan
ayam (biasa), irisan telur dadar dan bakso goreng udang yang lumayan
generous. Sst ini tidak obyektif, lagi lapar dan belum sarapan karena
kesiangan.
Perut kenyang, hati senang, duduk manis aku mengetikkan ini di N9300 dengan
pemandangan kali berpagar gaya China lengkap keramik berukir pasangan
burung hong (Phoenix) dan naga.
Sekolah Gratis
Tujuanku selanjutnya adalah Taman Nak-Kanak (TN alias TK) Kuncup Melati dan
Sekolah Dasar (SD) Khong Kauw Hwee dengan status disamakan.
Gedung beton tiga lantai itu persis di samping Kelenteng Gang Lombok.
Dari balik pagar seperti pembatas jalan, wow tembok sekolahnya berwarna
merah dan kuning plus hiasan lampion kertas mungkin bikinan siswanya yang
membuat makin semarak. So Chinese! Warna kemuliaan dan kemakmuran, bagiku terlalu kontras. Mungkin tidak untuk mata bocah-bocah.
Ada dua kelas TK A dan TK B di lantai dasar plus mungkin ruang guru atau
kantor sekolah, lantai dua dan tiga masing-masing kelas SD.
Ada ring basket di halaman dengan beberapa bocah ceking berkulit sawo
matang bermain di sana. Sekolah sudah usai, aku tiba terlalu siang, lupa
kalau Sabtu.
Muhammad (tampaknya begitu kalau kupingku tidak sombong alias budek) salah
satu bocah yang kutanyai. Ia mengaku salah satu dari 28 murid kelas VI,
yang sekolah di sana sejak TK, gratis! Paling tidak 7-8 tahun ia menikmati
sekolah gratis.
Menurutnya, teman sekolahnya dominan Jawa dan beragama Islam, sementara
gurunya dominan Tionghoa beragama Kristen, Katolik atau Buddha. Sebuah
cross cutting system yang indah! Bhinneka Tunggal Ika yang sesungguhnya.
Lulus SD, Muhammad berencana meneruskan ke SMP Mataram (Kuomingtang) yang
bisa gratis untuk murid the big five-nya. Dengan demikian paling tidak ia
bisa merampungkan pendidikan dasarnya, untuk beranjak dari kemiskinan
orangtuanya yang kuli.
Semarang, 26 Januari 2008
Wednesday, November 7, 2007
Perjalanan Dua Ton Galian Untuk Satu Gram Emas
Setelah delayed 2 jam dari jadwal pk.8.25, Lion Air akhirnya terbang mulus
ke Surabaya. Semula transit 20 menit, menjadi 2 jam, telat makan pula. Baru
pk.15.30 WIB, JT640 take off dari Juanda.
Lepas dari wilayah udara Bali, bak kapas putih tebal melayang di udara,
angkasa Nusa Tenggara bagai negeri di awan.Mentari di ufuk barat tertutup
mega-mega.
Sementara itu jarak pandang di Selaparang Airport cuma 500 meter. Burung
besi ini mengitari Pulau Lombok sampai 'mati gaya'. Akhirnya JT640 mendarat
di bawah rinai gerimis.
Lalu bus membawa kami melintasi Lombok Barat ke Pelabuhan Kayangan di
Lombok Timur. Lengkaplah sudah, udara, darat, laut!
Ferry Persada menyeberangi Selat Lombok yang relatif tenang 1,5 jam ke
Pelabuhan Pototanu di Sumbawa Barat.
'Penderitaan' belum berakhir, masih perjalanan darat lagi. Kendati tidak
mulus2 amat, jalanan beraspal.
Sejam kemudian, dari balik gulita perbukitan terang lampu merkuri menyolok
dari kejauhan. Ini terasa kontras dengan kesahajaan cahaya putih neon dan
lampu pijar penduduk Desa Maluk yang kami tuju.
Ada gula ada semut, Tambang Newmont Nusa Tenggara (NNT) menarik investor
kost hingga hotel bergaya barat di desa pedalaman ini. Gaya sok modern yang
berbaur masyarakat lokal yang tertatih mengejar ketertinggalan.
Sumbawa Barat; Selasa, 13 Maret 2007
Usai sarapan di hotel, kami menuju Main Gate di Port Benette. ID
elektronik dengan pintu putar pengaman untuk memasuki Town Site.
Sampai makan siang, duduk manis mendengarkan presentasi.
All wheel drive bus made in USA membawa kami menuju mine site. Rompi & helm
wajib, meski cuma di Outlook View.
Dari ketinggian 350 meter di atas permukaan air laut, kami memandangi
'kerucut terbalik'
Ultimate Pit yang telah mencapai kedalaman minus 40 meter. Di tahun 2017
'cone' ini akan minus 450 meter! Belum apa-apa dibanding ultimate pit
Freeport, Grasberg di Timika yang bakal minus 1.000 meter!
Dengan prinsip pengungkit berulir turun, takik-takik khas open pit
mengerucut ke tangkapan air dengan warna indah hijau tourquise. Sebuah
keindahan dari cemaran
air Copper Dioxide.
Di sini mulai perjalanan panjang setiap gram tembaga dengan mineral ikutan
yang lebih berharga, emas dan perak. Untuk mendapatkan satu gram emas,
paling tidak dibutuhkan 2,5 ton bijih (rata-rata 0,4 gram per gram data
Newmont Nusa Tenggara, 2007).
Kerja dimulai dari alat berat penggaruk (shovel) dengan 'rajin menggaruk
punggung' bukit bebatuan, lantas mengisi haul truck dg batuan yang
mengandung bijih mineral (ore). Truk ini mampu membawa 240 ton bijih. Tak
heran kalau ban-nya setinggi tiga meter,yg senilai dengan harga satu mobil,
US$ 15.000.
Dari produksi 600-800 ribu ton galian, bijih cuma 1:3 batuan buang (waste).
Setelah analisa, batuan diberi bendera.
Batuan buang disingkirkan untuk kemudian ditimbun (reklamasi) dengan tanah
sub soil dan lapisan humus top soil. Bijih kualitas menegah dan rendah
ditimbun di stockpile.
Crushing & Grinding
Sedang bijih kualitas tinggi (high grade) langsung menuju gyratory crusher
untuk diremukkan.
Dari sini apron feeder mengumpan ke 5,6 kilometer ban berjalan yang
mengangkut bijih kualitas tinggi ke 'pabrik' (mill). Ini sebuah bangunan
semi terbuka yang singkat kata kerjanya menggerus bijih dari kerikil
(coarse)hingga pasir lembut menjadi partikel bijih.
Flotasi
Produk ini diolah dalam sirkuit flotasi rougher-scavenger, masuk polishing
mill lalu ke sirkuit flotasi cleaner dengan bahan kimia (reagent)yang
'memilah' dengan mengapungkan partikel mineral berharga menjadi konsentrat
emas, perak dan tembaga.
Proses ini berulang dalam 10 tangki besar sel flotasi hingga kandungan
mineral berharga yang sudah rendah sekali dinamakan tailing yang bakal
menjadi limbah.
Tailing
Dari saluran tailing, masuk tangki deaerasi, pemipaan tailing mendapat
tambahan air lalu masuk pipa bawah laut menuju palung laut dalam.
Sementara konsentrat masih menjalani proses filtrasi sebelum disalurkan
melalui pipa ke pelabuhan di pantai untuk dikapalkan, yang notabene
sebagian besar langsung diekspor.
Ini pun masih ada proses selanjutnya beruba peleburan (smelting).
Benar-benar sebuah perjalanan panjar yang menguras batuan, energi, dan air
yang semuanya mengobrak-abrik perut bumi pertiwi.
Friday, May 18, 2007
From Beijing With Excotic Foods
Ketika sengatan panasnya mentari mulai surut dan ufuk barat memerah, Dong'anmen Avenue makin menggeliat. Jalan Pintu Kedamaian Timur itu letaknya persis di sebelah timur komplek Kekaisaran Tiongkok yang dikenal sebagai Kota Terlarang (Forbidden City).
Dengan posisi strategis tak jauh dari jantung Central Beijing, jalan besar ini memang hidup nyaris 24 jam. Maklum di daerah kawasan elit para bangsawan (Wangfujing) ini berderet pertokoan, rumah makan, dan hotel-hotel yang menjadi sasaran para wisatawan, terutama turis asing.
Ketika senja turun, sisi utara trotoar jalan besar itu terlihat sibuk. Sederet rombong kosong yang berbaris rapat pararel mulai dijajar menghadap badan jalan. Peti-peti pendingin (cooler) dan pelbagai peralatan makan diturunkan dari mobil-mobil box.
Sebelum hari gelap, Dong'anmen Night Market telah bersiap menyambut wisatawan, baik dalam maupun dari luar negeri Tiongkok. Jajaran rombong di bawah lampu pijar yang terang telah memajang aneka panganan segar yang terlihat begitu menggiurkan.
Bermacam-macam mie yang menjadi makanan umum penduduk Beijing juga ada di sini. Tidak ketinggalan bangsa mie atau bihun ayam seperti di Jakarta, tapi dengan kuah ala Sichuan asam pedas yang menari di lidah. Tentu makannya dengan sumpit (chopstick) dan kuahnya langsung di-seruput dari mangkok styrofoam.
Ada pula makanan sejenis kebab dan lumpia lengkap dengan isi sayuran dan dagingnya. Tapi bisa juga pesan ala vegetarian, isi sayuran saja.
Tak ketinggalan berjenis-jenis minuman, baik botolan sampai model es campur yang kita kenal. Bahkan kelapa bulat pun ada di sini, cuma yang diminum airnya dengan sedotan.
Yang menarik ada tusukan dengan bermacam-macam 'isi'. Dari daging-dagingan dan organ dalamnya (jeroan) sampai makanan laut (seafood), yang siap digoreng atau dibakar seperti sate.
Hidangan laut seperti udang dan cumi-cumi yang memang kita kenal, meski cumi-cuminya lengkap dengan kaki-kaki mirip Octopusy di film. Tapi ada juga Bintang Laut yang sebesar jari-jari tangan orang dewasa dengan warna jingga yang menantang.
Itu belum apa-apa. Ada anak Kuda Laut kecil-kecil yang dibikin tusukan sate berbaris rapi dalam beberapa nampan. Bayangkan bekas lambang Pertamina itu ternyata bisa dijadikan sate. Masih ada lagi. Anak Penyu (tukek) atau sejenis anak kura-kura, juga dijadikan tusukan sate. Rasanya tidak tega untuk menyantap bintang kecil yang tak berdaya itu. Entah rasanya seperti apa?
Seperti di Bangkok dan beberapa daerah di Thailand, di sini pun ada sate berbagai jenis serangga. Sate kalajengking, ya lambang Scorpion itu di tusukan lengkap dengan ekor dan capit penyengatnya yang berbahaya. Juga kepompong ulat (sutra) dirangkai jadi sate. Malah ada sejenis serangga yang mirip dengan kecoak pun disate berjajar dalam nampan, siap digoreng. Tak ketinggalan belalang yang terkenal sebagai makanan di beberapa wilayah Afrika. Kata orang, rasanya renyah dan gurih.
Tentu ini bukan acara Fear Factor atau uji nyali. Ini betulan tempat panganan yang bertajuk Dong'anmen Night Market yang cukup eksotik untuk sajikan, tapi rasanya tak cukup eksotik untuk konservasi fauna.
Sebagai daerah yang beriklim gurun, Beijing terkenal juga dengan daging kambing (Yang'ruk). Daging merah yang 'panas' ini konon merupakan makanan aprodisiak. Tak heran salah seorang teman menyebutnya sebagai sate sekak (sate horny).
Seperti di Indonesia, di sini pun kambing dimanfaatkan maksimal sampai organ dalamnya (jeroan) juga dibikin sate. Bahkan sate terpedo (sate alat vital kambing) pun ada.
Tapi tidak seperti di Indonesia, di sini potongan dagingnya yang lumayan besar, bisa seibu jari orang dewasa. Bumbunya pun hot & spicy yang bakal bikin lidah 'kebakaran' buat yang tidak terbiasa. Dan jangan mengharap ada bumbu kacang lengkap dengan kecap manis yang legit seperti di Jawa.
Di Dong'anmen Night Market ini penjual sate dan makanan bernuansa daging kambing umumnya berasal dari Provinsi Xinjiang Uygur Autonomous Region. Provinsi di barat daya Tiongkok ini berbatasan dengan Kazakhstan, Kyrgystan dan Pakistan serta penduduknya sebagian besar beragama Islam. Tak heran kalau di tengah-tengah kota Beijing ini mereka mencantumkan huruf Arab dan tulisan halal di rombong makanan mereka.
Konon ada sekitar 10 persen etnis minoritas Uygur (Uyguren) yang menjadi penduduk Beijing. Jadi di luar Dong'anmen Night Market ini pun tak terlalu sulit mendapatkan makanan halal di Megapolitan Beijing.
Di sini pun orang tak perlu takut kelaparan, karena kemeriahan malam di Dong'anmen Night Market baru akan mereda menjelang tengah malam. Maklum toko-toko di Beijing (dan sebagian besar kota-kota di Tiongkok) tidak sedikit yang buka sampai pukul 24.00.
Namun sebagai daerah turis lengkap dengan nuansa pariwisatanya, sate-satean di sini tergolong mahal. Anda harus merogoh kocek rata-rata 5 RMB (Renminbi, mata uang Tiongkok, sekitar Rp 7.500) untuk satu tusuk sate.
Padahal kalau Anda mau jalan sedikit di sebelah barat Jalan Dong'anmen, seperti Donghuamen Avenue ada penjual beragam daging sate dengan harga cuma 1 RMB (sekitar seribu lima ratus perak)! Itupun rasanya tidak terlalu hot & spicy serta dagingnya lebih empuk.
Peking Roast Duck
Ke Beijing terasa belum lengkap kalau Anda belum mencoba Bebek Panggang Peking (Peking Roast Duck). Kendati nama resmi ibukota Tiongkok berubah menjadi Beijing, sebutan bebek panggang ini tetap menggunakan nama Peking. Nuansa old style layaknya rasa renyah kulit bebek yang terkenal sedari dulu.
Di seantero Beijing, hampir setiap restoran, rumah makan, bahkan warung pun ada yang menyediakan Bebek Panggang Peking ini. Tapi yang paling tersohor adalah Quanjude Roast Duck di Qianmen Avenue, di selatan Tiananmen. Konon bebek ini dipanggang dengan oven khusus lalu digantung semalaman untuk meniriskan lemaknya. Bebek itu kembali dipanggang, sehingga renyah sampai kriuk ketika disajikan.
Khas di Quanjude ini, bebek panggang itu dibawa dengan kereta dorong yang menebarkan bau harum panggangannya. Seorang pelayan akan mengiris bebek panggang itu tipis-tipis di hadapan Anda. Maka jadilah sepiring irisan tipis daging bebek dengan kulit panggangan kecoklatan berkilat sungguh aduhai dan menggugah selera.
Irisan Bebek Panggang Peking disajikan dengan sepiring kecil kulit seperti kulit lumpia, sepiring kecil irisan daun bawang dan sepiring kecil saus kecoklatan, untuk setiap orang. Dengan sebuah piring pipih persis di hadapan Anda, mulailah dengan mengambil selembar kulit yang berbentuk bundar kecil. Lalu ambil saos dan ratanya di permukaan kulit yang sudah di hadapan Anda. Sekarang ambil irisan daun bawang melintang pas di tengah sesuai dengan selera. Kini giliran beberapa irisan bebek panggang di atasnya. Kemudian lipat dan gulung seperti lumpia. Wow, bebek panggang ala Peking ini siap disantap dengan lahap.
Tapi bukan orang Indonesia kalau melupakan sambal. Jangan khawatir, Beijing terkenal dengan sambal kering kecoklatan yang telah digoreng dengan minyak ala Sichuan. Memang Provinsi Sichuan bersuhu rendah sangat cocok dengan masakan khas-nya yang hot & spicy.
Seimbang dengan kualitasnya, harga bebek panggang ini pun terbilang tidak murah. Dibanding bebek panggang gaya-gayaan Beijing, harga bebek di Quanjude bisa 2-3 kali lipatnya. Padahal di luaran saja harga satu paket Bebek Panggang Peking itu antara 50-100 RMB (Rp 75-150 ribu). Tapi mungkin juga tergantung tempat makannya, kalau di lorong atau gang (hutong) biasanya bisa lebih murah. Bahkan ada juga yang sudah dibungkus dengan kemasan plastik yang bisa Anda tenteng untuk dibawa pulang sebelum tanggal kadaluwarsa-nya.
Sayangnya, kayak di Indonesia juga, tempat makan di Tiongkok jarang yang mencantumkan harga di depan sehingga bisa diteliti dulu harganya. Harga biasanya tercantum di menu bisa kita ketahui setelah masuk.
Itupun kalau kita bisa baca! Maklum kendati kota internasional, tidak banyak tempat makan yang mencantumkan aksara latin pada menu makanannya, restoran di Beijing sekalipun.
Memang untuk amannya makan di restoran siap saji (fastfood restaurant) yang rata-rata menyediakan foto makanan dan kadang huruf latin yang bisa kita baca. Atau hotel internasional dengan pramusaji pintar berbahasa Inggris, tapi ya pasti mahal lah.
La Mian
Biasanya orang Indonesia dan kebanyakan orang Asia merasa kurang mantap kalau belum makan nasi. Kata orang Jakarta, tidak nendang!
Meskipun ada, tapi di Beijing, penduduknya jarang makan nasi. Kebiasaan etnis-etnis di bagian utara Tiongkok, seperti di Beijing ini adalah makan mie atau semacam bakpao. Bahkan ada suatu provinsi yang makanan pokoknya mantau (semacam bakpao yang bentuknya oval), bahkan ubi. Etnis-etnis di selatan Sungai Panjang (Yangtze) yang biasanya makan nasi, seperti etnis Fujian yang banyak merantau ke Asia Tenggara termasuk Indonesia.
Tak heran kalau hampir di setiap jalanan di Beijing selalu ada kedai mie. La mian (mie tarik yang dikerjakan secara tradisional dengan tangan) yang biasanya dimasak kuah, relatif murah dan bukan makanan fancy seperti di mal-mal Jakarta.
Restoran cepat saji Ma Lan juga tersebar di berbagai belahan Megapolitan Beijing. Seperti di restoran cepat saji biasa, Anda bisa langsung datang ke counter untuk memesan La mian sesuai selera Anda, membayar lalu menunggu sejenak.
Tapi jangan kaget kalau pesanan Anda keluar. Pasalnya mangkok yang buat menyajikan relatif besar, seperti mangkok sayur di meja makan rumah kita. Mangkok mie ayam di Indonesia jadi terasa mini dibanding mangkok jumbo La mian.
Membawanya di atas nampan musti hati-hati karena berat dan panas, walau kepulan asap kuahnya menggugah selera. Kalau baru pertama kali, kayaknya mending Anda memilih tempat duduk yang dekat-dekat counter saja.
Di masing-masing meja sudah tersedia botol kecap asin dan sambal Sichuan yang tersohor pedasnya. Kalau Anda suka legit, silakan bawa kecap manis dari Indonesia. Sejauh penglihatan saya benar, saya belum menemui kecap kental manis di Tiongkok! Sampai-sampai ada mahasiswa Beijing yang titip minta dibawakan kecap manis dari Indonesia.
Yang unik, dari counter Anda cuma mendapat sepasang sumpit bambu yang sekali pakai. Dengan mangkok nyaris separoh kuah, Anda tidak akan mendapat sendok kalau tidak meminta. Jikalau meminta pun, pandangan petugas counter akan terlihat aneh. Ternyata, orang setempat makan mie dengan lahap sambil menyeruput kuah langsung dari mangkok jumbo itu!
Tapi di tempat makan seperti ini, untuk mie kuah polos, Anda hanya merogoh recehan di bawah 5 RMB (kurang dari Rp 7.500). Tapi kalau Anda memilih La mian dengan toping daging, harganya pun masih kurang dari 10 RMB. Murah meriah!
Makanan siap saji yang lain? Apalagi kalau bukan produk-produk multinational corporation (MNC) yang sudah mengglobal seperti Mc.Donald, Kentucky Fried Chicken, Burger King, Pizza Hut dan lain-lain. Dengan era keterbukaan sejak dua dasawarsa lalu, Tiongkok, apalagi Beijing sudah layaknya kota modern yang lain lengkap dengan MNC dari berbagai negara. Tapi apa asyiknya jauh-jauh ke Beijing makan funkfood seperti itu?
Kerang Raksasa
Masih banyak makanan eksotik lain dari seantero daratan Tiongkok yang sedemikian luas. Seperti makanan dari Fujian. Provinsi di tenggara Tiongkok ini kaya dengan makanan laut yang menarik.
Ada sejenis kerang yang kulit cangkang-nya mirip sekali dengan bambu komplit dengan garis ruas-ruasnya. Bentuknya memanjang persis bambu hijau, tapi daging di dalamnya berwarna putih, menyerupai siput dengan dua antena di atas kepalanya.
Ada juga kerang raksasa dengan cangkang sebesar piring. Kerang mirip jenis kerang mutiara ini bisa dimasak dengan beragam rasa, salah satunya asam manis ditambah paprika, bawang dan sayuran. Setelah matang, masakan ini disajikan di atas cangkang kerang yang sudah terbuka. Cukup eksotik jadinya.
Selain itu ada siput raksasa yang jauh lebih besar dari escargot-nya Perancis. Dagingnya putih, dipotong-potong sebelum dimasak dengan bumbu khas oriental. Seperti cumi-cumi, daging siput ini cukup liat dan kenyal.
Masih dari pantai timur Tiongkok yang menyajikan eksotisme berlebih dengan menu sup kura-kura. Binatang malang itu dilepaskan dari cangkang-nya yang keras lalu dagingnya direbus dengan rempah-rempah. Semangkok sup yang disajikan panas-panas itu bisa menguras isi kantong Anda, karena harganya hampir 500 RMB (sekitar Rp 750 ribu).
Tampaknya setimpal dengan kelangkaan bintang yang dipercaya agar berumur panjang itu. Makanan-makanan dengan kepercayaan kuno yang membuat berdiri bulu roma masih banyak beredar di Tiongkok. Misalnya tangkur harimau untuk keperkasaan, otak kera, dan lain-lain.
Sebuah eksotisme berlebih yang justru mengabaikan kelestarian lingkungan dan keberlangsungan hidup bumi kita. Dengan dunia yang semakin mengglobal, sumber daya hayati Tiongkok jelas bukan lagi milik negara yang berpenduduk 1,3 miliar itu semata. Jelas kita menginginkan anak cucu kita masih sempat melihat panda, harimau, kura-kura, kerang bambu dan fauna yang lain hidup-hidup, bukan sekedar cerita. Semoga.
Published in B&B Magazine End of 2004
Thanks to Mc who accompanied in China
Sepenggal Hari di Vientiane
VIENTIANE – Lembayung merah jingga menyaput langit Vientiane bak lukisan agung sang pencipta. Sebuah pagi yang indah menyambut hari di ibu kota negara Laos yang berukuran 236.800 km2 ini, cukup mini untuk ukuran Indonesia yang luasnya 1.475.000 km2.
Bayangan akan makhluk-makhluk yang sibuk berhilir-mudik langsung sirna, begitu SH melihat jalan raya dari balik jendela kaca hotel. Jalanan nan lengang dan suasana tintrim (tenang menegangkan) masih meliputi ibu kota negara dengan total penduduk cuma empat juta jiwa itu.
Tak ada anak-anak berseragam yang berangkat sekolah, karena sekolah diliburkan. Tiada orang dewasa yang berangkat kerja, sebab kantor-kantor juga diliburkan.
Sedikit perempuan dengan phaa sin (sarung tradisional khas Laos) melintas di atas boncengan atau mengendarai motor. Mungkin ke pasar atau ke toko yang sebagian kecil buka.
Sebenarnya kelengangan sudah terasa sejak pesawat kepresidenan GA-1 yang membawa rombongan Delegasi Indonesia mendarat di Vientiane Wattay International Airport. Dari ketinggian hanya terlihat beberapa pesawat udara yang tengah parkir di apron bandar udara (bandara), kurang dari hitungan jari satu tangan.
Jalanan sepanjang tiga kilometer dari bandara menuju Vientiane nyaris melompong tanpa kendaraan. Kami masih menghibur diri mungkin karena Delegasi Indonesia mendarat di hari Minggu (28/11) dan di-escort sehingga jalanan ditutup untuk rombongan.
Nyatanya, Senin (29/11) pagi pun jalanan tetap lengang. Ternyata, Pemerintah Republik Rakyat Demokratik Lao (Lao PDR) melakukan pembatasan kegiatan masyarakat lokal. Pasalnya, tiga hari sebelum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-10 ASEAN itu, sebuah bom meledak di wilayah Perfektorat Vientiane.
Kehidupan Malam
Jadi jangankan malam, pagi hingga sore hari saja, Vientiane sudah sunyi sepi. Tapi tanpa jam malam pun, sebenarnya penduduk Vientiane memang terbiasa berkegiatan dari pukul delapan pagi ke pukul delapan malam. Tak heran kalau menurut Lonely Planet, pukul sembilan malam sebagian besar dari mereka telah berangkat tidur.
Kendati demikian, tidak berarti Vientiane tidak mengenal kehidupan malam. Meski ada pembatasan, sebetulnya nightclub berselubung bola gelinding (bowling) di kota (downtown) tetap buka.
Demikian pula restoran-restoran masakan mancanegara di Jalan Fa Ngoum seberang Sungai Mekong terlihat ramai. Restoran yang menyajikan masakan Prancis, India, dan Cina itu tampaknya menjadi sasaran peserta KTT yang masih memicingkan mata.
Itu belum terhitung karaoke dan pub di hotel-hotel berbintang. Namun malam di Vientiane di tengah berlangsungnya KTT nyaris tanpa ingar-bingar layaknya sebuah kota internasional.
Ketatnya Penjagaan
Maklum sejak hari Minggu itu, nyaris tiap 100 meter berdiri polisi di tepi jalan, termasuk di pinggir-pinggir Sungai Mekong. Postur polisi dengan seragam hijau muda terlihat kecil kalau tidak boleh dibilang kerempeng. Tapi jangan salah, di balik tubuh langsing itu tersandang senapan serbu jenis AK buatan Rusia.
Yang lebih antik lagi polisi voorijder yang mengawal rangkaian mobil pimpinan negara. Motor putih 200-an cc yang paling depan ditumpangi dua orang polisi, jadi berboncengan! Untungnya motor tepat di sisi kiri kanan mobil pimpinan negara cuma ditunggangi satu polisi.
Tidak seperti di Indonesia, rangkaian mobil pimpinan negara melesat cepat. Di Vientiane, walau jalan lengang dan semua kendaraan lain dihentikan, rangkaian mobil VVIP ini jalan nyantai paling 50-60 km/jam.
Jalan-jalan protokol dari bandara ke Istana Kepresidenen ke tengah kota dan ke lokasi KTT di Lao International Trade Exhibition and Convention Centre (Lao-ITECC) tertutup bagi kendaraan umum, selain mobil KTT. Taksi dari bandara pun diadang polisi hampir di sepanjang jalan dan harus menunjukkan kartu identitas peserta KTT.
Ternoda
Di atas segala ketatnya penjagaan dan suasana tintrim tadi, seperti halnya masyarakat Indochina, penduduk Lao terkenal santun dan bertutur kata halus. Dengan tangan terkatup di depan dada, mereka mengucapkan salam Sabbai Dee. Hal sama mereka lakukan ketika menerima tips.
Yang paling menarik ketika pagi merekah, kita bisa menyaksikan beberapa biksu berjalan beriringan dengan jubah jingga yang melambai-lambai tertiup angin sepoi-sepoi. Di beberapa bagian trotoar, ada ibu-ibu yang menanti mereka untuk memberikan bekal makanan. Dengan takzim satu telapak tangan memegang dada, ibu itu akan menunduk dalam-dalam ketika makanannya diterima para biksu.
”Walaupun rejim memiliki kedekatan politik dengan Vietnam, Laos mempertahankan identitasnya sendiri. Buddhisme mendarah daging dalam struktur sosial budaya masyarakat dan rejim menjelaskan bahwa Buddhisme dan Komunisme tidak bertentangan,” tulis Lonely Planet.
Tapi slogan itu langsung runtuh ketika kami menyaksikan sebuah motor nyelonong di suatu perempatan ketika kendaraan kami melintas. Sebenarnya lampu lalu lintas menunjukkan warna hijau dari arah datangnya motor tadi, tapi kendaraan KTT selalu mendapat prioritas untuk lewat.
Tak ayal pengendara itu langsung dipukul polisi hingga terjatuh dari motornya. Tertindih motor, badan lelaki muda itu diseret polisi, kendati ia telah meringkuk dengan tangan terkatup ke atas seakan meminta ampun.
Pemandangan seperti ini mengingatkan beberapa tahun silam ketika Indonesia masih di bawah rejim Orde Baru, ketika aparat bertindak otoriter dan memonopoli kebenaran. Ah, moga-moga kita mampu menjaga agar Indonesia tidak kembali kepada otoritarian seperti ini. Semoga!
Sinar Harapan edisi Selasa, 07 Desember 2004
Thursday, April 26, 2007
Roma, Kota Beribu Pilar Kebesaran
Delta yang kini menjadi hunian eksklusif tak terlalu banyak 'bercerita'. Namun bayangan 2.000 tahun lalu mengental pada situs Area Sacra, tak jauh dari Isola Tiberina itu. Dengan kedalaman sekitar 3-5 meter di bawah permukaan badan jalan daerah Largo Argentina, terbayang lebih dari dua milenium empat kuil marmer ini terpendam di perut kota.
Menyusuri Via d.Torre Argentina ke utara sebelum mentari tenggelam, kita akan bertemu Pantheon yang awalnya dibangun Agrippa. Bangunan silinder berdiameter 43,3 meter dengan kubah berlubang (oculus) ini merupakan salah satu gedung penting tanda kebesaran Roma di bawah Kaisar Adrian (118-125). Dari depan, kita akan disambut 16 pilar Corinthian menuju ruang utama yang dibangun kembali menjadi Gereja Madonna dan Para Martir sejak tahun 604 dan makam seniman besar Raphael.
Menyeberangi jalan protokol Via Del Corso, malam itu perburuan menapaki jalanan batu hitam berusia 2.000 tahun, berakhir di Fontana di Trevi. Ke Roma terasa belum lengkap, kalau belum melempar koin ke kolam ini seraya make a wish kembali ke Roma. Kolam dengan arsitektur gaya barok karya Nocola Salvi ini sangat menawan ditimpa sorot lampu di malam hari. Malam kian romantis menapaki jalan pulang menghampiri Piazza di Spagna yang terkenal dengan tangga Spanish Steps-nya.
Citta del Vaticano
Negara mungil Vatikan di barat Kota Roma menjadi pilihan melewatkan pagi dengan memandangi kemegahan Basilika Santo Petrus dari Piazza San Pietro. Kubah raksasa yang dibangun Michelangelo di tahun 1546 nampak harmonis, tegak lurus terhadap obelisk dengan colonade berbentuk elips ciptaan Bernini.
Basilika yang mampu menampung 50.000 orang ini memiliki tidak kurang 500 pilar, 50 altar dan tidak kurang dari 450 patung. Di sini pengunjung tidak akan melewatkan masterpiece Michelangelo, Pieta dan patung perunggu Santo Petrus karya Arnolfo da Cambio. Dan jangan lupa menengok keindahan lukisan serta mozaik di kubah-kubah balisika. Selain itu kita dapat mendaki kubah raksasanya dengan lift.
Tamasya menyegarkan mata belum berakhir dengan mengunjungi Kapel Sistina dan Museum Vatikan. Lukisan malaikat menyentuhkan jari-jarinya di langit-langit kapel baru merupakan salah satu keindahan karya Michelangelo tentang penciptaan dan pengadilan terakhir. Belum lagi lukisan-lukisan rennaissance yang memenuhi dinding bangunan.
Bagi peziarah, Roma memiliki ratusan kapel hingga gereja dengan arsitektur yang menawan dan nilai sejarah tinggi.
Foro Romano
Inilah bekas pusat Kekaisaran Romawi yang dahulu menguasai hampir seluruh Eropa hingga Asia kecil dan Afrika utara. Dari Via dei Fori Imperialli pilar-pilar dan bongkahan marmer tanda kebesarannya teronggok bisu. Di situ ada sebuah museum kecil yang memutar film rekonstruksi Forum Romanum itu, mulai dari Julius Ceasar, Forum Augustus, Forum Vespasianus, Forum Nerva dan Forum Traian yang sebagian tersembunyi di bawah jalan batu Via dei Fori Imperialli.
Dari jalan besar itu berdiri megah Colosseum yang dibangun Kaisar Vespasianus mulai tahun 72. Dengan tinggi 47 meter, panjang 186 meter dan lebar 153 meter, bangunan raksasa oval ini dulunya tempat para gladiator berlaga melawan singa maupun binatang buas lainnya. Dengan merogoh kocek 10 euro, sebelum matahari terbenam pengunjung harus antri memasuki salah satu landmark Kota Roma ini. Dari sana kita bisa menengok Circo Massimo gelanggang pacuan kereta kuda yang terkenal itu.
Fontana
Selain itu Roma modern diperindah dengan ratusan air mancur yang menyegarkan wajah kota, apalagi di tengah terik mentari. Piazza Barberini dengan Fontana Trotone merupakan salah satu masterpiece Bernini yang menggambarkan curahan air dari kerang besar yang disanggah empat lumba-lumba. Jangan lewatkan juga Piazza Navona dengan tiga air mancur indah dan arsitektur bangunan berbalkon tua dulunya pasar sentral abad XVI di sekelilingnya.
Roma juga memiliki ratusan obelisk yang tersebar di segala penjuru kota dengan tempat-tempat umum terbuka yang nyaman untuk bersantai dan berfoto. Seperti Piazza del Popolo dengan dua gereja kembar karya Carlo Rainaldi.
Di luar landmark tadi, terdapat tembok yang disebut Mura Aureliane dengan tinggi enam meter sepanjang 19 kilometer yang mengelilingi 1.400 hektar Kota Roma kuno. Tembok pertahanan kota itu dibangun Kaisar Marcus Aurelius (161-180) dengan sisa yang terlihat di utara Piazza del Popolo.
Jangan lupa menyantap home made ice cream (gelatto) yang bertebaran di seantero Roma. Es krim Italia mempunyai puluhan citarasa yang bakal memanjakan lidah Anda. Roma bakal memanjakan mata, lidah hingga turun ke hati. *