Bus tiga perempat dengan sopir gaya pembalap Formula 1 menerjang aspal jalanan seakan berkejaran dengan terik siang hari, tak peduli pada penumpangnya yang penuh berdiri kalang kabut menjejakkan kaki di bus yang oleng. Apalagi begitu keluar Tol Balaraja, jalanan dengan lubang mengangah bak kubangan kerbau menghadang di jalan. Sang sopir main hajar saja, sehingga lewat tengah hari bus telah tiba di Terminal Mandala Rangkas Bitung, yang jauh dari pusat kota.
Ingat typhus, kususuri jalan mencari rumah makan yang representatif bagi perut manja-ku. Hanya ada warteg agak jauh dari terminal, meski tak luput dari debu jalanan juga. Ibu pemilik warung hanya punya beberapa bungkus mie instan goreng untuk mengganjal lambung yang cuma terisi sari kacang hijau dan air sedari pagi.
Usai makan, kembali ke terminal. Petugas DLLAJR yang kutanyai, main suruh makelar angkot membawaku naik angkot 01 lalu oper 07 ke Subterminal Aweh.
Setelah menunggu sejam lebih, lepas Azhar, Elf yang tak kalah sembrononya menerjang jalan kelas kabupaten hotmix bopeng dengan kecepatan rata-rata 50-60 kilometer per jam. Padahal jalanannya beralur pengungkit naik turun bukit, itu pun tak jarang musti mengerem menghindari lubang. Sementara di dalam Colt Diesel itu sesak dengan tak kurang 20 orang plus lewat dari sebelah jari orang yang duduk di atas kap. Mungkin mereka terbiasa atau memang punya jantung cadangan, sedang aku duduk depan berempat saja sibuk cari pegangan.
Ini belum apa-apa, belok ke arah Ciboleger jalanan kian curam, petani Badui yang lepas berladang menjadi tambahan penumpang. Sampai ngandol tengah dan di depan, dengan jalan meliuk dan menukik terjal. Pasalnya inilah Elf terakhir sebelum senja turun.
Di Ciboleger, kenek melarangku turun dan membawaku menjauh dari putaran kecil yang disebut terminal. Menurutnya, orang terminal bisa menyesatkan dan aku percaya saja.
Akhirnya Mang Kawi yang membawaku melewati jalan setapak berlumpur yang bertemu dengan pintu gerbang ke Masyarakat Adat Badui.
Lapor ke Jaro (kepala desa) di dusun pertama, Kadeuketug. Cuma mengisi buku tamu dan memberikan uang sukarela.
Lewat dusun kedua, Balimbing, jalan setapak kian berlumpur becek, kulepas sandal jepitku. Ndelamak (bertelanjang kaki) kurasakan lebih memijak bumi dan aku lebih punya kendali, bersatu dengan alam.
Usai Dusun Marenggo, kabut malam mulai menebarkan jubah kelamnya. Jalan berbatu licin berlumut pula, plus curam menyeberang kali kecil. Rasanya ini lebih parah dari naik Gunung Gede. Namun kuingat kembali prinsip naik tambang, fokus ke depan, lalui satu per satu dengan mantap. Maka kutapakkan kaki dengan yakin pada jalur yang benar, percaya pada intuisi batu yang kupilih tak berkhianat menggelincirkanku.
Setelah bertemu sungai yang lebar di sisi kanan, akhirnya inilah dusun keempat yang kami tuju, Gajebo.
Menanjak ke sisi kiri jalan masuk, Mang Kawi membawaku ke kediaman A yang ternyata ayahnya kerap menerima Aristides dan Mimis istrinya, Don Hasman, serta Rudy Badil.
Magrib tanpa suara azan, rasanya sudah larut malam betul. Penerangan hanya lampu teplok yang rasanya sudah lama benar tak pernah kulihat. Tak ada listrik, jelas tak ada bising televisi dan alat elektronik lain.
Mungkin ini kunci Suku Badui bertahan menolak modernisasi, mereka punya banyak waktu bersosialisasi dan guyub. Ketika berbincang dengan tuan rumah, sayup-sayup kudengar tetangga juga ngobrol, satu-satunya hiburan.
Yang sempat mengejutkan di ruang tamu itu tiba-tiba suara elektronik khas telepon genggam memecah keheningan. Ternyata pemilik rumah punya HP dengan operator Indosat, sementara Telkomsel di HP-ku tak ada sinyal.
"Sebenarnya HP juga dilarang, tapi asal tidak menyolok," aku A yang tampak kerap bersentuhan dengan dunia luar.
Yang lebih menakjubkan lagi A bisa membaca dan mengirim SMS serta relatif berbahasa Indonesia dengan baik, padahal suku Badui tidak mengeyam sekolah atau pendidikan formal lain.
Self Sufficient
Ketika hari masih gelap, kokok ayam yang bersahutan membangunkan masyarakat Badui. Kaum perempuan menghidupkan pendiangan untuk menanak nasi dan memasak lauk yang akan dibawa ke ladang. Lalu ke sungai untuk mandi dan buang hajat.
Menjelang matahari terbit, mereka telah menyusuri punggung bukit menuju sawah atau ladang mereka yang menjadi sumber pangan dan pengisi lumbung mereka.
Kalau usai panen, mereka menenun dan mengerjakan berbagai kerajinan berbahan alami.
Sementara sebelum upacara besar Kawalu yang berlangsung tiga bulan, mereka membenahi rumah, terutama bagian atap dari anyaman rumbia daun sagu (kirai, mereka menyebutnya) dan ijuk. Atau bagian dinding dari anyaman bambu dan lantai bilah kulit luar bambu yang mirip lampit. Untuk bagian kuda-kuda dan palang plafon, mereka harus dari jauh-jauh hari merendam balok kayu di rawa-rawa sebagai anti rayap.
Rumah-rumah panggung itu berjajar rapi mengikuti garis sejajar sungai dan berundak seturut kontur tanah perbukitan. Sepintas lalu rumah itu tampak serupa dengan teras, ruang tamu, dan ruang keluarga yang merangkap dapur dan pendiangannya.
Namun tak ada semenan yang bakal ditemui di kawasan Badui. Fondasi rumah mereka terbikin dari tatanan batu sungai. Demikian pula dengan jalan setapaknya.
Jembatan yang membentang di atas sungai mereka merupakan jembatan bambu tertambat pada dua pohon besar dengan lengkung arch bridge. Bambu-bambu besar dan tua itu diikat dengan sepenuhnya dengan ijuk. Jembatan bambu itu pun harus diganti setahun sekali.
Semua dikerjakan secara bergotong royong dan semua kebutuhan bersama dipenuhi secara swadaya. Tak heran kalau suku Badui sudah relatif sibuk dengan kehidupan self sufficient-nya.
Karena semua telah tercukupi secara swadaya, tak perlu listrik dan barang-barang mewah, hidup suku Badui relatif makmur. Lumbung padi tiap keluarga bahkan bisa diwariskan secara turun-temurun, tak bakal ada kelaparan di sana.
Apalagi kemana-mana harus berjalan kaki, naik-turun bukit tak jarang bertelanjang kaki, orang Badui tampak sehat-sehat.
Isu Lingkungan
A menceritakan kearifan suku Badui yang dipercaya sebagai penjaga hutan sampai ke Ujung Kulon. Tak ada penebangan pohon yang tidak seizin adat.
Hanya atas kesepakatan pembukaan lahan, tegakan pohon akan dirobohkan. Ini sudah menjadi rahasia umum, yang sangat kontras mengingat sepanjang jalan hingga Ciboleger bertebaran penggergajian kayu dan truk-truk bermuatan kayu gelondongan.
Kami bertukar pandangan mengenai sampah. Dengan arif, A mengakui tak ada larangan membuang sampah di Badui, karena dulu daun pisang dibuang sembarang dapat segera menjadi kompos. Sementara kini sampah plastik, baik warga maupun pendatang tak dilarang menggunakannya dan tak jarang membuang ke tepi Sungai Cisemeut seperti yang kusaksikan.
A mengakui sekarang terlihat bersih karena hujan menghanyutkan sampah itu, namun di musim kemarau sampah akan terlihat bertebaran. Kuceritakan pengalamanku bersama Save The Pangrango memunguti sampah, proyek kompos Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) di Surabaya dan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah di Denpasar. Rupanya A pernah juga ke Cibodas sampai Air Terjun Cibeureum. Terlihat ia antusias belajar atau paling tidak mengetahui dunia luar tentang masalah lingkungan. Tampaknya Tides dkk memberi
dampak kuat pada dirinya.
Ia mau menemaniku menemui Jaro untuk menanyakan isu lingkungan ini. Yang kemudian staf humasnya, Masardi yang menemuiku. Ia memulai penjelasannya dengan mengutip "Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang diruksak...."
Inilah amanat leluhur Badui yang dipegang teguh secara turun-temurun hingga kini. Yang artinya kira-kira, gunung harus ditanami, kalau dirusak akibatnya banjir dan longsor akan melanda di musim hujan serta sebaliknya kekeringan di musim kemarau.
Tak heran, kalau masyarakat Badui menjadi salah satu suku asli pelestari lingkungan hidup, khususnya dalam melindungi hutan.
Ini terlihat dari 5.100,8 hektar lahan masyarakat Badui, 3.000 hektar merupakan areal hutan lindung yang benar-benar dilindungi keberadaannya. Sementara sisanya digunakan untuk menghidupi 11.000 jiwa lebih masyarakat Badui yang menggantungkan hidup pada lahan pertanian dan ladang.
Kendati memiliki sistem pertanian berpindah, masyarakat Badui pantang merambah hutan. Masardi menegaskan ada hukuman sangat berat apabila hutan lindung dirambah.
"Hukumannya bisa hukuman batin seperti musibah atau merugi terus. Hukuman batin ini bisa sampai tujuh turunan dan hanya dihapuskan melalui upacara untuk berjanji tidak melanggar hutan lindung," jelas Masardi yang penulis temui di Dusun Kadeuketug, dusun terluar Badui di Desa Ciboleger, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak.
Lebih lanjut ia menerangkan, ada juga hukuman adat, dipanggil tokoh adat di Badui Dalam.
"Sejauh ini hanya diperingatkan, belum ada yang sampai dikenai sanksi desa. Itu pun sangat jarang yang berani melanggar, paling hanya 1-2 kejadian," tambah Masardi.
Ia juga meluruskan pengertian berpindah itu bukan ke lahan hutan, melainkan sistem rotasi di lahan yang sudah ditetapkan menjadi hak keluarga itu. Misalnya suatu keluarga mendapat dua hektar, satu hektar ditanami pohon akasia, sisa lahan ditanami padi. Setelah pohon akasia dipanen kayunya lima tahun lagi, lahan itu ganti ditanami padi, sebaliknya sawah ditanami pohon.
"Tanah akan kurus (lapisan humusnya berkurang) kalau ditanami satu jenis tanaman," kata Masardi mengungkapkan kearifan lokal yang telah dipunyai Badui secara turun-temurun.
Selain itu, menurutnya, masyarakat Badui juga banyak yang berladang di luar wilayahnya sampai ke lima kecamatan di Lebak. Dengan demikian ini bisa mengatasi pertambahan penduduk Badui tumbuh sekitar satu persen dengan sensus Mei 2007 tercatat 5.500 laki-laki dan 5.441 perempuan.
Belum lagi adat suku Badui pantang menggunakan semen. Maka jalan ke dusun-dusun masyarakat Badui yang berbukit-bukit hanyalah jalan setapak dengan batu sungai sebagai pijakan di tanah liat. Di samping alami, tingkat kesulitan akses jalan ini menjadi semacam pengaman dari perambah hutan dan pengaruh negatif lain seperti berkurangnya daerah resapan.
Ujung Kulon
Masyarakat Badui juga dikenal sebagai penjaga hutan lindung sampai ke Ujung Kulon. Secara rutin mereka memantau kondisi hutan lindung di wilayah paling barat Pulau Jawa ini ketika mereka menggelar upacara penatapan.
Sesuai kepercayaan Sunda Wiwitan, masyarakat Badui meyakini setiap gunung memiliki penghuni. Upacara tadi dilakukan agar 'isi' gunung itu tidak resah. Dari sekian banyak gunung di Unjung Kulon, di antaranya adalah Gunung Honjeu dan Gunung Madur, tempat upacara tadi.
"Sampai 2006 kondisi hutan lindung Ujung Kulon masih aman. Tapi tahun lalu, ada sebagian, terutama yang dekat jalan, pohonnya ditebang," jelas Masardi yang menjadi salah satu dari 12 perangkat desa Badui.
Menurutnya, Badui tidak memiliki perangkat desa yang menjaga hutan (Jagawana). Ia menggarisbawahi tugas menjaga hutan itu dilakukan secara gotong royong, secara bersama-sama. Dengan demikian sejatinya setiap orang Badui adalah jagawana. Andai ini bisa diterapkan pada semua masyarakat tepi hutan-hutan kita.
Lebak, 20-21 Maret 2008
(real World Silent Day in Badui)
Saturday, March 29, 2008
Sunday, February 3, 2008
Anak (asuh) Baru
Bedil dengan sangkur Patung Pak Tani menuding langit jingga semburat merah
keunguan, pertanda senja tiba. Di bawah langit yang mulai temaram itu, Tugu
Pak Tani (dan perempuannya) seolah mengawasi kawanan bocah yang menjajakan
koran atau menghitung sisa di tumpukan.
Bocah di trotoar menunjuk pada satu-satunya bocah berseragam di taman di
tengah Jalan Prapatan, ketika kutanya Rizka.
Di sebelah tanaman perdu taman, bocah dengan rok putih dan seragam sekolah
itu - yang tersembunyi di balik rompi sponsor koran - tengah asyik
berjongkok. Tangan kirinya memegangi buku, tangan kanannya sibuk menulis.
Kubeli satu "Kompas" dari tumpukannya dan dengan cekatan ia mengambilkan
"Koran Tempo" dari temannya untukku.
"Nama kamu Rizka?"
Tanpa ekspresi wajah kecoklatannya mengangguk.
Dengan logat Betawi, ia mengaku sekolahnya tidak bayar, tapi musti beli
buku. Bulan ini Rp 85 ribu.
Ketika kutawarkan beasiswa dan akan ke sekolahnya, ia tampak ragu. Lalu
meluncur kisah yang sudah termuat di berbagai koran.
Guru dan pejabat SDN 05 Kenari tidak suka Rizka menjajakan koran dengan
berseragam. Pasalnya itu mengundang pertanyaan, meski sekolah gratis tapi
musti bayar buku. Mulai cara halus didudukkan di bangku belakang dan
dicuekin, sampai intimidasi dikata-katai dengan kasar.
Pernah anak yatim itu takut berangkat, tapi ibunya yang tukang sapu jalan
di Lapangan Banteng memaksanya tetap bersekolah.
Pernah juga ada ancaman mengeluarkannya dari SDN 05, tapi pupus karena
deraan berita di koran dan radio. Malangnya intimidasi terhadap Rizka stop
& go seiring dengan redanya pemberitaan.
Awal tahun klien-ku menitipkan sejumlah uang untuk anak asuh. Maka Rizka
menjadi pilihan utama, menjadi anak (asuh) baru kami.
Tugu Tani - Jakarta, 28 Januari 2008
keunguan, pertanda senja tiba. Di bawah langit yang mulai temaram itu, Tugu
Pak Tani (dan perempuannya) seolah mengawasi kawanan bocah yang menjajakan
koran atau menghitung sisa di tumpukan.
Bocah di trotoar menunjuk pada satu-satunya bocah berseragam di taman di
tengah Jalan Prapatan, ketika kutanya Rizka.
Di sebelah tanaman perdu taman, bocah dengan rok putih dan seragam sekolah
itu - yang tersembunyi di balik rompi sponsor koran - tengah asyik
berjongkok. Tangan kirinya memegangi buku, tangan kanannya sibuk menulis.
Kubeli satu "Kompas" dari tumpukannya dan dengan cekatan ia mengambilkan
"Koran Tempo" dari temannya untukku.
"Nama kamu Rizka?"
Tanpa ekspresi wajah kecoklatannya mengangguk.
Dengan logat Betawi, ia mengaku sekolahnya tidak bayar, tapi musti beli
buku. Bulan ini Rp 85 ribu.
Ketika kutawarkan beasiswa dan akan ke sekolahnya, ia tampak ragu. Lalu
meluncur kisah yang sudah termuat di berbagai koran.
Guru dan pejabat SDN 05 Kenari tidak suka Rizka menjajakan koran dengan
berseragam. Pasalnya itu mengundang pertanyaan, meski sekolah gratis tapi
musti bayar buku. Mulai cara halus didudukkan di bangku belakang dan
dicuekin, sampai intimidasi dikata-katai dengan kasar.
Pernah anak yatim itu takut berangkat, tapi ibunya yang tukang sapu jalan
di Lapangan Banteng memaksanya tetap bersekolah.
Pernah juga ada ancaman mengeluarkannya dari SDN 05, tapi pupus karena
deraan berita di koran dan radio. Malangnya intimidasi terhadap Rizka stop
& go seiring dengan redanya pemberitaan.
Awal tahun klien-ku menitipkan sejumlah uang untuk anak asuh. Maka Rizka
menjadi pilihan utama, menjadi anak (asuh) baru kami.
Tugu Tani - Jakarta, 28 Januari 2008
Ketika Air Tercurah
Awan gemawan tebal menghitam sesekali memercikkan kilat, tak lama kemudian
guruh memecah memekakkan telinga warga ibukota yang malam itu masih
terjaga. Segera air tercurah bak tumpah ruah dari langit yang merekah. Air
bagai tiada hentinya mengguyur Jakarta dan sekitarnya tengah malam itu
hingga berlanjut sesiangan dengan kian lebatnya.
Sebelum tengah hari sebagian besar jalanan metropolitan telah menjadi
anak-anak sungai dengan pencakar langit di sekitarnya. Bahkan jalan tol pun
tergenang mirip kali, termasuk bandar udara (bandara). Dengan jarak pandang
hanya 300 meter dan pandasan pacu terbenam air, bandara internasional
Soekarno-Hatta sempat buka-tutup 2-3 kali.
Jalan Raden Saleh depan kantor pun menjadi sungai, padahal biasanya Jalan
Raden Saleh I di belakang yang 'langganan' kebanjiran.
Usai deadline berkali-kali kulongok jendela dengan cemas, namun air
tercurah dari langit tiada hentinya. Kutahu anak asuh kami tak memiliki jas
hujan dan sepatu kanvasnya pasti basah kalau jalanan kebanjiran. Belum lagi
kalau ia seragamnya basah kuyub karena hujan lebat diiringi deru angin.
Baru anak asuh sudah kepikiran seperti ini, apalagi anak sendiri di musim
banjir begini. Tapi Rizka kerap cuek-bebek dan keluguannya seakan tidak
menganggap dirinya menderita dengan membiarkan seragamnya mengiring di
badan.
Polos, tidak ada kecemasan dan dramatisasi kemelaratan yang justru
menjadikannya dramatis. Rizka mengajarkan ketabahan dan hidup tanpa
kecemasan yang jauh lebih arif dari orang dewasa.
Tugu Tani - Jakarta, 1 Februari 2008
guruh memecah memekakkan telinga warga ibukota yang malam itu masih
terjaga. Segera air tercurah bak tumpah ruah dari langit yang merekah. Air
bagai tiada hentinya mengguyur Jakarta dan sekitarnya tengah malam itu
hingga berlanjut sesiangan dengan kian lebatnya.
Sebelum tengah hari sebagian besar jalanan metropolitan telah menjadi
anak-anak sungai dengan pencakar langit di sekitarnya. Bahkan jalan tol pun
tergenang mirip kali, termasuk bandar udara (bandara). Dengan jarak pandang
hanya 300 meter dan pandasan pacu terbenam air, bandara internasional
Soekarno-Hatta sempat buka-tutup 2-3 kali.
Jalan Raden Saleh depan kantor pun menjadi sungai, padahal biasanya Jalan
Raden Saleh I di belakang yang 'langganan' kebanjiran.
Usai deadline berkali-kali kulongok jendela dengan cemas, namun air
tercurah dari langit tiada hentinya. Kutahu anak asuh kami tak memiliki jas
hujan dan sepatu kanvasnya pasti basah kalau jalanan kebanjiran. Belum lagi
kalau ia seragamnya basah kuyub karena hujan lebat diiringi deru angin.
Baru anak asuh sudah kepikiran seperti ini, apalagi anak sendiri di musim
banjir begini. Tapi Rizka kerap cuek-bebek dan keluguannya seakan tidak
menganggap dirinya menderita dengan membiarkan seragamnya mengiring di
badan.
Polos, tidak ada kecemasan dan dramatisasi kemelaratan yang justru
menjadikannya dramatis. Rizka mengajarkan ketabahan dan hidup tanpa
kecemasan yang jauh lebih arif dari orang dewasa.
Tugu Tani - Jakarta, 1 Februari 2008
Anak Berkelahi dengan Waktu
Hujan lebat siang menjelang sore hari masih menyisakan rinai gerimis di
senja ketika aku turun bis dengan jaket bertudung kepala anti air.
Cuma mengenakan topi dan rompi sponsor koran di balik seragam merah-putih
SD-nya, anak-asuh kami giat mengacungkan Kompas update edisi siang yang
dibungkus plastik. Sebagian pakaiannya tampak basah atau mungkin sudah
mengering di badan.
Melihatku menyeberang ke arahnya, Rizka menepi ke taman. Tak jauh dari
abangnya, Rizki yang sudah drop-out sepeninggal ayahanda mereka.
Kutanya sikap guru kelas yang kemarin kutemui, ternyata beliau tidak masuk.
Ia bicara ceplas-ceplos antara malu dan cuek yang sulit kuterka.
Ketika kuulurkan sebungkus nasi dengan lauk dan Choco Cruch 'sisaku' dari
kantor. Ia menjawab, itu enaknya dengan susu.
Aih, mana ada anak jalanan mengerti Choco Cruch? Kian kuyakini, anak
terpelajar ini terdidik, mungkin juga oleh iklan televisi.
Lalu kuceritakan kalau tadi Bu Khotimah dulu juga guru Dodo, abang sulung
Rizka. Bu guru ini memuji, kalau Dodo paling pintar di antara tiga
bersaudara yang sekolah di SDN Kenari 05.
Tanpa pretensi apa-apa, kutanyakan Dodo di mana.
"Meninggal. Typhus," jawab Rizka polos dan lugas.
Tampaknya orang miskin tidak boleh sakit di remuk republik ini. Typhus yang
bisa diobati berujung kematian di jantung ibukota begini, apalagi di
pelosok negeri?
Kemiskinan dan keterpaksaan pula mendamparkan Rizka siang sampai petang
berbasah-kuyub atau bermandikan peluh terik mentari. Belum lagi ia musti
menghirup asap knalpot yang tak sepenuhnya bebas timbal.
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu....
Tugu Tani - Jakarta, 30 Januari 2008
senja ketika aku turun bis dengan jaket bertudung kepala anti air.
Cuma mengenakan topi dan rompi sponsor koran di balik seragam merah-putih
SD-nya, anak-asuh kami giat mengacungkan Kompas update edisi siang yang
dibungkus plastik. Sebagian pakaiannya tampak basah atau mungkin sudah
mengering di badan.
Melihatku menyeberang ke arahnya, Rizka menepi ke taman. Tak jauh dari
abangnya, Rizki yang sudah drop-out sepeninggal ayahanda mereka.
Kutanya sikap guru kelas yang kemarin kutemui, ternyata beliau tidak masuk.
Ia bicara ceplas-ceplos antara malu dan cuek yang sulit kuterka.
Ketika kuulurkan sebungkus nasi dengan lauk dan Choco Cruch 'sisaku' dari
kantor. Ia menjawab, itu enaknya dengan susu.
Aih, mana ada anak jalanan mengerti Choco Cruch? Kian kuyakini, anak
terpelajar ini terdidik, mungkin juga oleh iklan televisi.
Lalu kuceritakan kalau tadi Bu Khotimah dulu juga guru Dodo, abang sulung
Rizka. Bu guru ini memuji, kalau Dodo paling pintar di antara tiga
bersaudara yang sekolah di SDN Kenari 05.
Tanpa pretensi apa-apa, kutanyakan Dodo di mana.
"Meninggal. Typhus," jawab Rizka polos dan lugas.
Tampaknya orang miskin tidak boleh sakit di remuk republik ini. Typhus yang
bisa diobati berujung kematian di jantung ibukota begini, apalagi di
pelosok negeri?
Kemiskinan dan keterpaksaan pula mendamparkan Rizka siang sampai petang
berbasah-kuyub atau bermandikan peluh terik mentari. Belum lagi ia musti
menghirup asap knalpot yang tak sepenuhnya bebas timbal.
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu....
Tugu Tani - Jakarta, 30 Januari 2008
Thursday, January 31, 2008
Kangen Kuliah
Akhir pekan ini kuliah semester kedua akan dimulai. Hampir dua bulan libur, termasuk aku 'meliburkan diri' dua minggu liputan UNFCCC di Bali awal Desember lalu.
Baru kali ini aku rindu kembali ke kampus dan betul-betul menikmati suasana kuliah yang seperti baru kemarin.
Bukan sekedar belajar-mengajarnya, tapi suasana kelas serta keakraban dan pertemanan yang relatif egaliter di antara 37 siswa ENEMBA Sampoerna-ITB SBM.
Meski kami memiliki senior dan pakar di bidang energi 50-an tahun ke atas, kelas kami bisa geer, bahkan membuatku tertawa lepas terbahak-bahak membahagiakan. Namun juga perdebatan sengit kelas dan 'ruang sindikat' (kelompok maksudnya, bukan mafia) yang produktif dan dewasa. Bukan perkuliahan gaya kuno satu arah, kendati itu tetap ada.
Lebih dari itu kelas kami solider dan sangat cepat tanggap. Terlihat ketika ada usul memberi tambahan THR bagi dua office-boy (OB), tampaknya strata paling bawah yang 'bersentuhan' langsung dengan kelas kami. Tanpa banyak cingcong segera terkumpul Rp 2,4 juta. Sebuah jumlah yang signifikan yang menunjukkan 'ringan hati' kelas kami.
Meski sebagian besar siswa ENEMBA bermobil - sebagaimana kelas master eksekutif negeri ini - jarang yang menampakkan kesan wah. Malah kerap ada nada prihatin terhadap pengendara motor dengan kaki kecil (bocah) yang 'terselip' di tengan orangtuanya. Sebuah kematangan hasil jerih payah meniti karir, bukan gaya OKB (orang kaya baru).
Ini yang membedakan dengan ketika S1 dulu. Di Sosiologi UNAIR dulu egaliter, tapi 'lompat kelas' dan 'menyeberang kuliah' ke program studi Politik dan Psikologi seakan 'menjauhkan' aku dari angkatan-ku. Tak kurasakan 'kedalaman' suasana akrab yang membuat hati merasa nyaman di antara mereka.
Oh ada lagi 'rahasia' bikin kangen kuliah. Makan bersama. Memang benar 'cinta' dari mata turun ke 'perut' (salah ya? :) Walau kadang ngomel menu itu-itu, tapi mangan-ora-mangan sing penting kumpul :D Belum lagi kalo 'penggila kuliner' beraksi, berburu makanan sampai 'berani mati' nyebrang tidak di jembatan.
Ada romansa (kuliah) tersendiri. Ini seakan menebus S1 dulu yang kuliah sambil ugal-ugalan ikut aksi-aksi juga. Jadi tidak sekedar S-nya nambah, tapi ada berbaikan kualitas dan kuantitas. Yang pasti aku merasakan di ENEMBA, gak ada loe gak rame :p
Bravo pioneer ENEMBA !
Jakarta, 1 Februari 2008
Baru kali ini aku rindu kembali ke kampus dan betul-betul menikmati suasana kuliah yang seperti baru kemarin.
Bukan sekedar belajar-mengajarnya, tapi suasana kelas serta keakraban dan pertemanan yang relatif egaliter di antara 37 siswa ENEMBA Sampoerna-ITB SBM.
Meski kami memiliki senior dan pakar di bidang energi 50-an tahun ke atas, kelas kami bisa geer, bahkan membuatku tertawa lepas terbahak-bahak membahagiakan. Namun juga perdebatan sengit kelas dan 'ruang sindikat' (kelompok maksudnya, bukan mafia) yang produktif dan dewasa. Bukan perkuliahan gaya kuno satu arah, kendati itu tetap ada.
Lebih dari itu kelas kami solider dan sangat cepat tanggap. Terlihat ketika ada usul memberi tambahan THR bagi dua office-boy (OB), tampaknya strata paling bawah yang 'bersentuhan' langsung dengan kelas kami. Tanpa banyak cingcong segera terkumpul Rp 2,4 juta. Sebuah jumlah yang signifikan yang menunjukkan 'ringan hati' kelas kami.
Meski sebagian besar siswa ENEMBA bermobil - sebagaimana kelas master eksekutif negeri ini - jarang yang menampakkan kesan wah. Malah kerap ada nada prihatin terhadap pengendara motor dengan kaki kecil (bocah) yang 'terselip' di tengan orangtuanya. Sebuah kematangan hasil jerih payah meniti karir, bukan gaya OKB (orang kaya baru).
Ini yang membedakan dengan ketika S1 dulu. Di Sosiologi UNAIR dulu egaliter, tapi 'lompat kelas' dan 'menyeberang kuliah' ke program studi Politik dan Psikologi seakan 'menjauhkan' aku dari angkatan-ku. Tak kurasakan 'kedalaman' suasana akrab yang membuat hati merasa nyaman di antara mereka.
Oh ada lagi 'rahasia' bikin kangen kuliah. Makan bersama. Memang benar 'cinta' dari mata turun ke 'perut' (salah ya? :) Walau kadang ngomel menu itu-itu, tapi mangan-ora-mangan sing penting kumpul :D Belum lagi kalo 'penggila kuliner' beraksi, berburu makanan sampai 'berani mati' nyebrang tidak di jembatan.
Ada romansa (kuliah) tersendiri. Ini seakan menebus S1 dulu yang kuliah sambil ugal-ugalan ikut aksi-aksi juga. Jadi tidak sekedar S-nya nambah, tapi ada berbaikan kualitas dan kuantitas. Yang pasti aku merasakan di ENEMBA, gak ada loe gak rame :p
Bravo pioneer ENEMBA !
Jakarta, 1 Februari 2008
Wednesday, January 30, 2008
Ziarah Sawer Rahmat
Ketika tulisan Tangerang-Cirebon-Kuningan di kaca bus terbaca, dari
kejauhan sudah kuhentikan kendaraan bercat hijau pupus itu. Ternyata sebuah
bus boemel alias ekonomi, Lur Agung. Kepalang tanggung aku 'nyengklak' aja.
DVD player tengah memutar pop dangdut dengan nada monoton yang kubenci itu.
Tak ayal kupilih di tengah, toh berisiknya nyampai juga. Coba kutepis
dengan kekehan gara-gara kepala krupuk Akiong di Laskar Pelangi. Tidak
manjur. Suara ritmis yang monoton itu tetap masuk gendang telinga bak mata
bor. Ya inilah 'bis rakyat' lengkap dengan asap rokok yang juga kubenci dan
sulit kukompromi, sebuah 'paksaan' resolusi tahun baru.
Magrib bus masih 'ugal-ugalan' di jalan raya pos yang dibangun Tuan
Deandles. Gelap lewat Isya baru masuk Terminal Cirebon. Kurang dari sejam
kemudian, kondektur memberitahuku untuk turun, setelah Cirendang, Terminal
Kuningan.
Dengan minta ongkos 20 perak (tanpa kutawar), ojek membawaku ke jalanan
sepi nan menanjak di kanan (barat jalan) menembus gulita di bawah rinai
gerimis. Aih, aku lupa makan :(
Usai melewati jalanan dengan oncor bambu sekitar Cigugur, jalanan kian
terjal berbalut jubah kabut malam.
Ojek menurunkanku di mulut gang dengan papan petunjuk berbunyi "Gua Maria
Fatimah Sawer Rahmat, Cisantana". Demi membaca tulisan itu, dengan semangat
'45 langsung kutapaki gang sepi, lupa perut lapar.
Lewat lolongan anjing memecah malam, setelah rumah kurang dari jari satu
tangan, jalan setapak beraspal itu gulita. HP pun jadi senter darurat. Aih
di kiri-kanan kuburan. Tapi begitu melihat badan bernyala serangga yang
kucinta, kunang-kunang, ada perasaan tenang menyelimuti kalbu.
Hingga akhir kompleks pekuburan yang ditembok tak kutemukan lagi petunjuk
gua.Aih hilang arah, sementara kabut rinai gerimis kian tebal.
Masih kuikuti jalan setapak, eh malah berakhir di jalanan besar beraspal.
Beberapa remaja boncengan motor menawari tumpangan. Aku terlalu jaim untuk
'cenglu' sehingga kutampik halus dengan berjalan menyusuri gelap malam
berkabut.
Sebuah warung di pinggir jalan dengan mini dispenser melepas dahagaku dan
dingin embun malam dengan segelas teh tubruk. Sebagaimana orang kampung,
dengan hati terbuka, Teteh warung itu menawarkan keponakannya memboncengku
ke gereja tempat berlangsungnya misa.
Aih ternyata arah gereja berlawanan dengan gang menuju gua. Jalan menurun
di kanan itu pun nyaris di ujung aspal kanan lagi, menjorok terjal ke
bawah. Sempat terbaca rumah di kanan jalan masuk, "Susteran Ursulin".
Turun di halaman TK-SD Yos Sudarso, bocah SMP itu memandangi 10 perak
dariku dengan pandangan sungkan khas orang desa lama yang kukenal. Lalu
kutapaki jalanan semen menurun.
Di pintu gereja Stasi Maria Putri Murni, janur melengkung melambai-lambai
ramah seolah menyambutku. Demi memandang resiknya, kulepas sandal jepit
bututku bak masuk langgar.
Kuhampiri salib legam di sisi, sebuah peninggalan Gereja teraniaya yang tak
pernah mati.
Di muka altar dengan sesembahan hasil bumi lengkap dengan padi di dalam
antan kayu, kuberlutut dengan hati pedih. Betapa sebagian petani Jawa telah
kehilangan panen hasil buminya diterjang banjir akhir tahun ini. Lupa minta
'suami Dasa Dharma Pramuka' aku malah mendoakan korban banjir ini.
Penjaga gereja menawari masih ada kamar di bawah, di belakang gereja, di
samping Kompleks Asrama Putri Murni. Khas asrama, 4 tempat tidur susun
berjajar sepasang-sepasang.
Demi melihat kasur, dentang sisa nada monoton - yang memicu migrain-ku -
menuntut direbahkan. Usai seka badan, gerimis turun lagi. Kupilih
memejamkan mata barang sejam, alarm kupasang pk.23.30 Belum lagi alarm
bunyi, curahan air langit bak mau dihabiskan pada penutupan tahun 2007.
Jadilah aku tak beranjak, seperti orang-orang sederhana melewatkan malam
pergantian tahun layaknya malam biasa.
1 Januari 2008
Genta gereja sudah berdentang-dentang pk.5.30. Seingatku penjaga mengatakan
misa pukul 7.
Rinai gerimis turun lagi, meringkuklah aku menjadi musuh dalam selimut.
Sejam kemudian buru-buru keramas dan mengguyur air sedingin es tuk
membangunkanku.
Ternyata misa pukul 6, memang tak boleh terlalu khusuk aku. Usai memberikan
uang sumbangan kamar 50 perak - yang kata petugasnya berlebih - Mang Hamid
menawari ikut Keluarga Elis yang menyambut dengan terbuka di Ford
Everest-nya.
Kembali ke jalan aspal yang kususuri semalam, kali ini dengan arah
berlawanan. Ternyata jalan setapak menuju gua di belakang kuburan
bertembok, curam dan sempit, yang tak mungkin selamat kususuri dengan
senter HP.
Di tempat pertama yang disebut Taman Getsemani, gazebo tembok terbuka
beratap genteng tergeletak meja dengan buku cetakan jalan salib.
Bapak yang baru pasang 'ring' di jantungnya itu memintaku memimpin jalan
salib, sementara putranya Adi dan bungsu Amel serta ibunya mengikuti dalam
diam.
Dari sini takik tangga terjal mendaki, kerap licin berlumpur dan berlumut.
Ini macam trek pendakian untuk pemula, yang lumayan memompa darah ke
jantung dan mengembangkan paru-paru, melebihi jalan sehat maupun SKJ.
13 perhentian berpuncak di lahan relatif lapang pada ketinggian 900 meter
yang dinamakan Bukit Golgota, dengan Salib besar menyambut kita di mulut
tangga akhir. Perhentian ke-14 tersembunyi di atas mulut lorong air. Dari
sini jalan relatif datar, baru menanjak lagi dengan tangga menuju air
sumber di kiri gua. Desain gua mirip Sendangsono dengan batu sirap, versi
yang lebih mini.
Ketika aku berdoa di bawah kabut dan gerimis, Keluarga Elis yang baru
kukenal itu tengah menanak nasi dengan dual magic jar, menggoreng ikan asin
di atas kompor gas portable, lengkap dengan secobek sambal mentah segar
menggiurkan. Suasananya persis seperti naik gunung, penuh persaudaraan
kendati tak saling kenal. Mereka pun mengajak makan bersama. Turun bersama,
bahkan mengantarku sampai Terminal Cirendang meski mereka bertujuan
ke Ciamis di arah sebaliknya.
Benar-benar sawer rahmat: berkah persaudaraan, keterbukaan, kebaikan tulus
mengawali tahun baru. Semoga limpahan rahmat ini mampu kuteruskan ke lebih
banyak orang. Bukankah syukur terbaik adalah meneruskan kepada orang lain?
kejauhan sudah kuhentikan kendaraan bercat hijau pupus itu. Ternyata sebuah
bus boemel alias ekonomi, Lur Agung. Kepalang tanggung aku 'nyengklak' aja.
DVD player tengah memutar pop dangdut dengan nada monoton yang kubenci itu.
Tak ayal kupilih di tengah, toh berisiknya nyampai juga. Coba kutepis
dengan kekehan gara-gara kepala krupuk Akiong di Laskar Pelangi. Tidak
manjur. Suara ritmis yang monoton itu tetap masuk gendang telinga bak mata
bor. Ya inilah 'bis rakyat' lengkap dengan asap rokok yang juga kubenci dan
sulit kukompromi, sebuah 'paksaan' resolusi tahun baru.
Magrib bus masih 'ugal-ugalan' di jalan raya pos yang dibangun Tuan
Deandles. Gelap lewat Isya baru masuk Terminal Cirebon. Kurang dari sejam
kemudian, kondektur memberitahuku untuk turun, setelah Cirendang, Terminal
Kuningan.
Dengan minta ongkos 20 perak (tanpa kutawar), ojek membawaku ke jalanan
sepi nan menanjak di kanan (barat jalan) menembus gulita di bawah rinai
gerimis. Aih, aku lupa makan :(
Usai melewati jalanan dengan oncor bambu sekitar Cigugur, jalanan kian
terjal berbalut jubah kabut malam.
Ojek menurunkanku di mulut gang dengan papan petunjuk berbunyi "Gua Maria
Fatimah Sawer Rahmat, Cisantana". Demi membaca tulisan itu, dengan semangat
'45 langsung kutapaki gang sepi, lupa perut lapar.
Lewat lolongan anjing memecah malam, setelah rumah kurang dari jari satu
tangan, jalan setapak beraspal itu gulita. HP pun jadi senter darurat. Aih
di kiri-kanan kuburan. Tapi begitu melihat badan bernyala serangga yang
kucinta, kunang-kunang, ada perasaan tenang menyelimuti kalbu.
Hingga akhir kompleks pekuburan yang ditembok tak kutemukan lagi petunjuk
gua.Aih hilang arah, sementara kabut rinai gerimis kian tebal.
Masih kuikuti jalan setapak, eh malah berakhir di jalanan besar beraspal.
Beberapa remaja boncengan motor menawari tumpangan. Aku terlalu jaim untuk
'cenglu' sehingga kutampik halus dengan berjalan menyusuri gelap malam
berkabut.
Sebuah warung di pinggir jalan dengan mini dispenser melepas dahagaku dan
dingin embun malam dengan segelas teh tubruk. Sebagaimana orang kampung,
dengan hati terbuka, Teteh warung itu menawarkan keponakannya memboncengku
ke gereja tempat berlangsungnya misa.
Aih ternyata arah gereja berlawanan dengan gang menuju gua. Jalan menurun
di kanan itu pun nyaris di ujung aspal kanan lagi, menjorok terjal ke
bawah. Sempat terbaca rumah di kanan jalan masuk, "Susteran Ursulin".
Turun di halaman TK-SD Yos Sudarso, bocah SMP itu memandangi 10 perak
dariku dengan pandangan sungkan khas orang desa lama yang kukenal. Lalu
kutapaki jalanan semen menurun.
Di pintu gereja Stasi Maria Putri Murni, janur melengkung melambai-lambai
ramah seolah menyambutku. Demi memandang resiknya, kulepas sandal jepit
bututku bak masuk langgar.
Kuhampiri salib legam di sisi, sebuah peninggalan Gereja teraniaya yang tak
pernah mati.
Di muka altar dengan sesembahan hasil bumi lengkap dengan padi di dalam
antan kayu, kuberlutut dengan hati pedih. Betapa sebagian petani Jawa telah
kehilangan panen hasil buminya diterjang banjir akhir tahun ini. Lupa minta
'suami Dasa Dharma Pramuka' aku malah mendoakan korban banjir ini.
Penjaga gereja menawari masih ada kamar di bawah, di belakang gereja, di
samping Kompleks Asrama Putri Murni. Khas asrama, 4 tempat tidur susun
berjajar sepasang-sepasang.
Demi melihat kasur, dentang sisa nada monoton - yang memicu migrain-ku -
menuntut direbahkan. Usai seka badan, gerimis turun lagi. Kupilih
memejamkan mata barang sejam, alarm kupasang pk.23.30 Belum lagi alarm
bunyi, curahan air langit bak mau dihabiskan pada penutupan tahun 2007.
Jadilah aku tak beranjak, seperti orang-orang sederhana melewatkan malam
pergantian tahun layaknya malam biasa.
1 Januari 2008
Genta gereja sudah berdentang-dentang pk.5.30. Seingatku penjaga mengatakan
misa pukul 7.
Rinai gerimis turun lagi, meringkuklah aku menjadi musuh dalam selimut.
Sejam kemudian buru-buru keramas dan mengguyur air sedingin es tuk
membangunkanku.
Ternyata misa pukul 6, memang tak boleh terlalu khusuk aku. Usai memberikan
uang sumbangan kamar 50 perak - yang kata petugasnya berlebih - Mang Hamid
menawari ikut Keluarga Elis yang menyambut dengan terbuka di Ford
Everest-nya.
Kembali ke jalan aspal yang kususuri semalam, kali ini dengan arah
berlawanan. Ternyata jalan setapak menuju gua di belakang kuburan
bertembok, curam dan sempit, yang tak mungkin selamat kususuri dengan
senter HP.
Di tempat pertama yang disebut Taman Getsemani, gazebo tembok terbuka
beratap genteng tergeletak meja dengan buku cetakan jalan salib.
Bapak yang baru pasang 'ring' di jantungnya itu memintaku memimpin jalan
salib, sementara putranya Adi dan bungsu Amel serta ibunya mengikuti dalam
diam.
Dari sini takik tangga terjal mendaki, kerap licin berlumpur dan berlumut.
Ini macam trek pendakian untuk pemula, yang lumayan memompa darah ke
jantung dan mengembangkan paru-paru, melebihi jalan sehat maupun SKJ.
13 perhentian berpuncak di lahan relatif lapang pada ketinggian 900 meter
yang dinamakan Bukit Golgota, dengan Salib besar menyambut kita di mulut
tangga akhir. Perhentian ke-14 tersembunyi di atas mulut lorong air. Dari
sini jalan relatif datar, baru menanjak lagi dengan tangga menuju air
sumber di kiri gua. Desain gua mirip Sendangsono dengan batu sirap, versi
yang lebih mini.
Ketika aku berdoa di bawah kabut dan gerimis, Keluarga Elis yang baru
kukenal itu tengah menanak nasi dengan dual magic jar, menggoreng ikan asin
di atas kompor gas portable, lengkap dengan secobek sambal mentah segar
menggiurkan. Suasananya persis seperti naik gunung, penuh persaudaraan
kendati tak saling kenal. Mereka pun mengajak makan bersama. Turun bersama,
bahkan mengantarku sampai Terminal Cirendang meski mereka bertujuan
ke Ciamis di arah sebaliknya.
Benar-benar sawer rahmat: berkah persaudaraan, keterbukaan, kebaikan tulus
mengawali tahun baru. Semoga limpahan rahmat ini mampu kuteruskan ke lebih
banyak orang. Bukankah syukur terbaik adalah meneruskan kepada orang lain?
Good Food
Makanan tak sekedar soal selera yang tak bisa diperdebatkan, tapi juga
masalah nostalgia dan berbagai 'taste' biologis yang menyertainya.
Trixie yang baru 1 tahun sudah bisa memilih menyukai vanila ketimbang
coklat, bertentangan dengan kesukaan maminya. Terlepas dari maminya merasa
itu komplementer alias saling melengkapi, tapi ada selera yang 'build in'
dari sononya di lidahnya.
Pembelajaran dan memori tentang makanan juga acapkali menjadi aneh.
Ketidaksukaanku pada makanan bersantan, kadang terpatahkan ketika kangen
pada lontong sayur yang suka Papa belikan dari toko. Jelas ini bersantan.
Ya begitulah, selera makan kadang tak rasional dan lebih diperlukan
toleransi dari apapun. Masalahnya tak jarang melibatkan suatu 'fanatisme'
yang tak logis.
Jakarta, 13 Januari 2008
masalah nostalgia dan berbagai 'taste' biologis yang menyertainya.
Trixie yang baru 1 tahun sudah bisa memilih menyukai vanila ketimbang
coklat, bertentangan dengan kesukaan maminya. Terlepas dari maminya merasa
itu komplementer alias saling melengkapi, tapi ada selera yang 'build in'
dari sononya di lidahnya.
Pembelajaran dan memori tentang makanan juga acapkali menjadi aneh.
Ketidaksukaanku pada makanan bersantan, kadang terpatahkan ketika kangen
pada lontong sayur yang suka Papa belikan dari toko. Jelas ini bersantan.
Ya begitulah, selera makan kadang tak rasional dan lebih diperlukan
toleransi dari apapun. Masalahnya tak jarang melibatkan suatu 'fanatisme'
yang tak logis.
Jakarta, 13 Januari 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)