Friday, November 12, 2010

Abundant Versus Scarcity

Di antara kaum tuna wisma, tak jarang terlihat eksekutif berdasi ikut antri sup dan roti gratis yang Stanislawa Dabrowski bagikan di pusat ibukota Canberra tiap Jumat petang. Bagi nenek 84 tahun yang dikenal sebagai “The Soup Lady” ini, hal itu tidak masalah dan tidak ada yang perlu dibeda-bedakan.

“Saya mendapatkannya dengan cuma-cuma, maka saya memberikannya juga dengan cuma-cuma,” jawab Stanislawa yang akrab disapa Stasia.

Di mataku hal itu semacam moral hazard. Tak sepantasnya orang berdasi mendapatkan roti dan sup gratis yang sedianya ditujukan bagi kaum papa dan tuna wisma. Menjadi alumni sekolah bisnis dan manajemen, aku memandang sumber daya sebagai produk langka, bukan sesuatu yang patut 'salah peruntukkan' bagi orang yang tidak layak menerimanya.

Namun bagi Stasia, sumber daya itu akan datang dengan sendirinya. Di matanya, seolah sumber daya itu merupakan kasih dan kemurahan yang melimpah-limpah, yang tiada habisnya.

Dan memang ia tidak salah. Sepanjang menjadi relawan the Soup Kitchen, hampir setiap kali ada yang memberikan sesuatu bagi karya amal Stasia itu, mulai dari uang recehan sampai mobil van dari Pemerintah Wilayah Ibukota Australia (ACT).

Ini mengingatkan pada pola pikir dan law of attraction. Bila kita memandang sumber daya itu melimpah (abundant), pola pikir itu akan 'menarik' sumber daya yang melimpah tadi kepada kita.

Meski tidak sesederhana itu, namun cara pandang dan energi positif ini membuatku merindukan Stasia.

PROFIL: Stanislawa Dabrowski

“Soup Lady” Yang Tidak Memikirkan Diri Sendiri

Tidak biasanya perempuan lanjut usia ini memperlihatkan raut muka bermuram durja. Kali ini wajahnya yang diwarnai keriput kehilangan keceriaan, bola matanya tak lagi berbinar. Meski ia tetap menyambut penulis dengan pelukan hangat, kali ini ia tidak dapat menyembunyikan kesedihannya.

“Dokter memvonis tulang kaki saya telah mati, jadi harus diamputasi. Saya tidak bisa datang lagi menjemput roti. Lalu bagaimana nanti the Soup Kitchen? Tidak ada lagi yang menyediakan roti dan sup,” kata Stanislawa Dabrowski kepada penulis ketika menjemput roti di sebuah pusat perbelajaan di selatan Canberra, awal September lalu.

Pernyataan yang mengejutkan tadi segera membuat paham relawan yang membantunya mengemas roti hari itu. Namun yang lebih mengejutkan lagi, Stasia mengulangi berkali-kali kekuatirannya tidak ada yang menyediakan roti dan sup bagi kaum tuna wisma dan mereka yang membutuhkan di pusat kota Canberra.

Sampai-sampai ia bercucuran air mata. Bukannya menangisi vonis dokter dan kondisi kaki yang jalannya sudah pincang, tapi justru ia mengkuatirkan kaum tuna wisma yang selama 30 tahun terakhir ia layani secara sukarela.

Sebenarnya penurunan kondisi kesehatan Stasia – panggilan akrab Stanislawa Dabrowski – sudah berlangsung berbulan-bulan. Ia mengaku mengalami sakit seluruh badan sejak ditabrak orang ketika menjemput roti di pusat perbelanjaan yang lain.

“Ketika orang sudah menua, sel-sel tubuh tidak lagi mengalami regenerasi dengan cepat sehingga tak mudah pulih. Jadi saya berdamai dengan rasa sakit,” komentar Stasia tentang sakitnya.

Itu pun ia masih bersyukur karena pada usianya yang sudah 84 tahun, ia tidak mengalami patah tulang meski terpelanting karena mobil yang menabraknya melaju dengan kencang. Sebagai mantan perawat, Stasia paham ada organ tubuhnya yang mengalami kerusakan setelah ia jatuh terpelanting.

Namun setelah menjalani perawatan dan dinyatakan sehat, nenek mungil itu kembali menyetir sendiri mobil van untuk mengangkut roti dan sup. Tubuhnya yang tidak lebih tinggi dari 1,5 meter seakan tenggelam di balik kemudi kendaraan besar bertuliskan dengan bangga didukung oleh pemerintah Wilayah Ibukota Australia (Australia Capital Territory/ACT).


Memikirkan Sesama
Inilah perempuan berhati malaikat yang oleh warga Canberra dikenal sebagai the Soup Lady. Pada tahun-tahun awal, dengan kocek pribadi, ia memulai menyediakan roti dan sup hangat bagi kaum tuna wisma di ujung tahun 1979. Kegiatannya tiap Jumat petang itu kemudian dikenal sebagai the Soup Kitchen.

Itu terjadi justru setelah putranya mengalami ketergantung narkotika. Stasia memilih tidak sekedar memikirkan diri sendiri, namun sebaliknya berbuat sesuatu untuk kepentingan orang lain.

Itu pun bukan untuk pertama kalinya. Perempuan kelahiran Polandia itu mengalami kekejaman Perang Dunia pertama dan kedua yang menghancurkan keluarganya sampai menyeretnya ke kamp kerja paksa. Karenanya pascaperang, ia memilih menjadi perawat.

Setelah menikah dan memiliki seorang putra, Stasia bersama suaminya bermigrasi ke Australia. Kembali Stasia mengikuti panggilan hatinya mengabdi untuk orang lain, bergabung dengan layanan darurat Palang Merah Australia.

Tidak putusnya ia membaktikan diri bagi yang orang lain, meski kini usianya sudah senja dan didera rasa sakit. Tak heran ia menjadi kebanggaan dan inspirasi bagi warga Canberra, bahkan warga Australia pada umumnya.




BOX: Berbagai Penghargaan

Calon Warga ACT Abad Ini

Dimulai tahun 1996, Stasia meraih penghargaan Warga Canberra (Canberra Citizen of the Year). Menyusul tiga tahun kemudian, ia terpilih sebagai Lansia Asutralia (Senior Australian of the Year) dari negara bagian Wilayah Ibukota Australia (ACT).

Lalu di tahun 2005, negara bagian ACT memberi penghormatan ACT Honour Walk. ACT juga menyumbangkan sebuah mobil van putih yang kedua pintu depannya bertuliskan “The Kitchen Soup dengan bangga didukung ACT.” Hingga saat ini nenek mungil itu masih menyetir sendiri mobil van besar tadi untuk menjemput dan mengantar roti, sup dan lain-lain,

Australian Broadcasting Corporation (ABC) menobatkannya sebagai salah satu Pahlawan Tanpa Nyanyian (Unsung Heroes)/ Pasalnya ia dianggap menjadi inspirasi bagi warga Australia.

Menjelang Olimpiade Beijng 2008, Stasia mendapat kehormatan sebagai salah satu pembawa obor olimpiade ketika tiba di Canberra.

“ Usia saya sudah 82 tahun, tapi saya merasa semuda 28 tahun,” kata Stasia dikutip kantor berita Xinhua saat itu,

Kini ACT kembali mencalonkan Stasia untuk mendapat penghargaan sebagai Warga
ACT Abad Ini (ACT Citizen of the Century). Tak heran warga Canberra yang menyebut diri Canberrans begitu bangga pada nenek yang dijuluki the Soup Lady.

Seluruh penghargaan dan penghormatan tersebut tidak membuat Stasia berhenti atau berpuas diri. Ia menandaskan dirinya akan pensiun kalau sudah berada berkalang tanah.


* Penulis adalah mantan jurnalis Sinar Harapan yang kini menetap di selatan Canberra

Kedekatan itu Bukan Sekedar Jarak

Dalam jurnalistik ada kriteria kedekatan untuk memilih dan memilah berita. Saat ini berasa sekali kedekatan ini bukan semata urusan ruang dengan jarak tempuh tertentu.

Mungkin tidak banyak orang Indonesia yang tahu persis letak Pulau Pagai (Pagai Utara dan Pagai Selatan). Namun bagi para peselancar, gelombang di bagian selatan Kepulauan Mentawai ini masuk kategori kelas dunia (world class wave). Tak heran peselancar Australia lebih mengenalnya daripada penulis yang notabene warga Indonesia.

Terkenal di kalangan peselancar mancanegara, Pulau Pagai ternyata memiliki resor cantik dengan cottages nuansa etnik berpadu dengan keindahan pantainya. Ini justru penulis saksikan di siaran berita televisi Australia.

Pasalnya 10 warga Australia termasuk di antara sekitar 190 korban yang hilang, ketika gelombang tsunami menyapu bagian selatan Kepulauan Mentawai tersebut. Tsunami - yang diyakin mencapai setinggi 3 meter - dipicu gempa tektonik yang menurut United State Geological Survey (USGS) berkekuatan 7,7 dengan kedalaman episentrum 20,6 kilometer terjadi pada Senin, 25 Oktober 2010 pukul 21.42 waktu setempat.

Di antara 10 warga Australia itu, terdapat nama Alex McTaggart yang merupakan Walikota Pittwater sekaligus anggota parlemen (MP) dari negara bagian New South Wales. Tak pelak televisi Australia menayangkan sebagai breaking news di berita pagi, ketika di Indonesia bagian barat masih terlelap pada dini hari.

Gempa bumi diiringi tsunami ini mengingatkan pada bencana nasional tsunami Aceh dan Nias di tahun 2004 dan 2005. Karenanya kedekatan saat ini kurasakan lebih emosional. Ada duka dan prihatin, namun juga pertanyaan besar kemana Sistem Peringatan Dini Tsunami yang pernah digembar-gemborkan?

Memang gempa tektonik sulit dipastikan kapan terjadinya. Namun para ahli geologi dan berbagai pakar telah memperingatkan sejak tahun 2004, bahwa setelah Aceh dan Nias, Patahan Siberut bakal di urutan berikutnya.

Ada yang dikenal sebagai Sunda Megathrust mulai dari Laut Andaman di selatan Burma melengkung sepanjang pantai barat Pulau Sumatera dan pantai selatan Pulau Jawa hingga Sumbawa. Ini merupakan pertemuan lempeng Eurasia dengan Indo-Australia yang aktif kembali melepaskan 'energi bumi' sejak gempa dan tsunami 2004.

Kenapa kita tidak belajar dari masa lalu? Mengapa suara para pakar itu dianggap angin lalu? Tanya? Kenapa?

Keseharian Yang Tak Lagi Remeh

Musim Dingin Di Australia Dalam Kenangan

Sinar mentari menyengat terasa menjadi keseharian sambil lalu di Indonesia. Nyaris tanpa arti, karena telah menjadi kehidupan sehari-hari kecuali hari mendung dan hujan. Namun begitu hawa dingin Canberra menyergap diiringi rinai hujan dengan langit kelabu, mentari yang menjadi keseharian negara tropis tak lagi keseharian sambil lalu.
Pertengahan tahun di bumi belahan selatan suasana baru bagi penulis untuk menetap. Sang surya kini terasa menjadi sesuatu yang sangat berarti. Sinar surya baru muncul sekitar pukul tujuh pagi. Sekalipun terik tengah hari, udara dingin belasan derajat Celsius rasanya tak mampu menghangatkan badan kelahiran negara tropis. Apalagi kalau sang surya berangkat ke peraduan sekitar pukul lima sore, serasa terlalu singkat kehadirannya di musim dingin ini.
Matahari yang menjadi keseharian kita di Indonesia, tidaklah terlalu berasa kalaupun sekali-kali mendung atau hujan. Namun bagi badan kelahiran negara tropis ini, matahari jadi sangat berarti di musim dingin. Mentari tidak saja menghangatkan, tapi juga memberi dampak psikologis dan klinis yang baru berasa nyata saat ini. Sinar surya menjadi pula sumber pemicu kestabilan hormon melatonin yang memberi efek psikologis kita menjadi lebih ceria. Begitu matahari jarang muncul diiringi kabut muram dan hawa dingin, hormon melatonin jadi ngambek yang menyebabkan kita cenderung murung sampai efek depresi yang lebih parah.

Pemanas Ruangan
Meski musim dingin bukan pengalaman baru, namun menetap di negara empat musim menjadi lain cerita. Apalagi Australia terkenal sebagai salah satu negara paling kering dan relatif panas dalam hitungan bulan lebih panjang daripada musim dinginnya. Karenanya penghangat ruangan terpusat (sentral) bukanlah sesuatu keharusan sebagaimana di Eropa atau Amerika Utara, misalnya. Tubuh yang terbiasa dengan hangat atau panasnya Jakarta, kontan membutuhkan penghangat ruangan, terutama di malam hari. Bayangkan saja, minyak goreng membeku di dapur tanpa perlu masuk lemari es (kulkas).
Masalahnya, pemanas ruangan memicu udara dalam ruangan menjadi kering. Dampaknya kulit - yang terbiasa kelembapan dengan iklim tropis – mengerut, alhasil jadi terasa gatal. Bahkan udara kering kombinasi dengan hawa dingin bagi beberapa pendatang sampai menyebabkan hidung berdarah (mimisan). Karenanya cairan pelembab kulit dan pelembab ruangan (humidifier) menjadi kebutuhan lain di musim dingin.
Masalah lain, penghangat ruangan yang tidak sentral membuat kegiatan buang hajat menjadikan panggilan alam itu terasa sesuatu yang menyiksa. Hawa dingin toilet terasa ekstrem dibanding udara kamar tidur yang hangat, karena suhu ruangan relatif bertahan dalam kondisi kamar tertutup meski pemanas ruangan cenderung dimatikan sewaktu tidur. Jadi bisa dibayangkan kalau tengah malam atau dini hari tiba-tiba desakan buang air seni itu menghampiri. Keluar dari doona (selimut tebal musim dingin) saja sudah tantangan, apalagi keluar dari kamar tidur. Betapa nyamannya negara tropis, kapanpun mau ke kamar kecil, tidak pernah masalah, selagi badan kita sehat.

Termometer
Satu lagi, di Indonesia jarang-jarang kita perlu mengetahui suhu udara atau ramalan cuaca sebelum keluar rumah, paling-paling kehujanan atau kepanasan yang tak terlalu parah. Namun perjalanan 'imajiner' matahari ke belahan bumi utara, meninggalkan belahan selatannya bermusim dingin menjadikan badan tropis penulis musti memperhatikan suhu udara di tempat yang baru ini. Kalau tidak, salah-salah bisa 'salah kostum'.
Termometer menjadi salah satu kebutuhan baru yang sebelumnya menjadi barang sambil lalu, kalau tidak terlalu bermakna di negara tropis. Penunjuk suhu ruangan itu juga membantu menguji kebugaran dan ketahanan badan kita untuk mempertahankan suhu tubuh. Kalau pendingin udara (AC/air conditioner) di Indonesia biasanya paling dingin 16 derajat, itu penulis jadikan semacam ambang atas untuk bertahan tanpa pemanas ruangan. Kalau termometer sudah mendekati single digit, pemanas ruangan menjadi kebutuhan meski masih siang.

Air
Selain sinar surya, keseharian lain yang terasa sambil lalu ketika di Indonesia adalah air. Zat cair yang memancar dari keran jarang kita syukuri kehadirannya. Apalagi air yang mengalir di negara tropis relatif sama dengan suhu ruangan, bahkan di beberapa tempat mendapat anugerah mata air sejuk dan segar.
Di musim dingin, air yang mengalir dari pipa kami terasa bagaikan air es. Lazimnya ada dua tombol keran atau satu kepala keran dengan penunjuk panas dingin.
Malangnya, setelah lama tidak dipakai, pemanas air tidak langsung bekerja memancarkan air hangat begitu keran dibuka. Untuk beberapa saat, air sedingin es yang mengalir. Kalau sedang buru-buru misalnya di malam hari, ya terpaksa cuci tangan dengan air dingin tadi sehingga tangan terasa beku.

Suara Adzan
Terbitnya matahari yang terasa kesiangan di musim dingin ini, menjadikan penulis merasa kehilangan satu hal lain yang selama ini menjadi keseharian sambil lalu. Suara adzan subuh penanda terbitnya mentari di Indonesia. Selama ini panggilan itu seakan menjadi 'alarm alami' tubuh untuk bersiap bangun di pagi hari di Indonesia. Kalaupun di Eropa, masih ada gereja-gereja tua yang mendetangkan loncengnya pukul enam pagi.
Di sini deru mobil di jalan raya – yang kebetulan tak jauh dari rumah kami - menjadi salah satu penanda hari telah beranjak siang. Namun itu bukan waktu yang spesifik sebagaimana suara adzan atau dentang lonceng gereja. Unsur ritual religius yang selama ini terabaikan begitu saja, baru terasa ketika tidak ada kehadirannya.

Pedagang Keliling
Satu lagi rasa kehilangan dari nikmatnya tinggal di negara berkembang adalah kehadiran pedagang keliling. Kalau malam tiba dan pesanan dengan telpon lama, pedagang keliling adalah alternatif terbaik yang menghampiri setiap lorong Jakarta dan kota-kota besar lainnya.
Beragam pedagang keliling menghampiri dan tak perlu keluar rumah merupakan kenikmatan tersendiri, yang kini tak lagi penulis temui di negara maju ini. Apalagi musim dingin begini, rasanya telinga merindukan denting sendok beradu dengan mangkok pedagang sekoteng berkeliling kampung.
Mengapa kita baru merasa kehilangan ketika kehadirannya tak lagi menjadi bagian dari keseharian kita? Haruskan kita baru mensyukuri setelah anugerah itu tak lagi hadir bagi kita? Semoga kita lebih bersyukur menikmati rona kehidupan negara tropis dan negara berkembang kita.

Wednesday, October 13, 2010

Ketika Keluarga Mendapat Posisi Sentral di Publik

Di Australia, keluarga mendapat posisi sentral. Salah satunya dengan menjadikan Hari Keluarga sebagai hari libur publik seperti di Wilayah Ibukota Australia (ACT).

Di ruang publik, keluarga selalu mendapat tempat tersendiri. Hampir semua taman dilengkapi dengan sarana bermain anak. Berbagai pusat perbelanjaan menyediakan Ruang Orangtua (Parents Room). Dengan demikian, tidak saja ibu melainkan juga ayah dapat menjalankan perannya di ruang publik.

Merayakan Peran Keayahan
Dalam sebuah film haru-biru seorang ayah yang sekarat dan menjelang ajal, putrinya yang telah menjadi pelayar nun jauh di seberang lautan menghubungi melalui telepon satelit. Ia mengakui ayahnya merupakan laki-laki pertama dalam hidupnya dan yang memperkenalkannya pada dunia maskulinitas. Sebuah peran keayahan yang jarang mendapat tempat dalam keseharian kita.

Tidak demikian halnya di negara-negara maju, peran ayah mendapat berbagai pengakuan. Salah satunya adalah Hari Ayah (Father's Day). Di Australia dan sekitarnya (Fiji, Papua Nugini dan Selandia Baru), tahun ini Hari Ayah jatuh pada tanggal 5 September (Minggu pertama September). Sedang di Amerika Serikat, tempat Hari Ayah diawali, jatuh pada Minggu ketiga bulan Juni.

Pada hari yang membahagiakan itu, sang ayah akan mendapat berbagai hadiah dari putra-putri, istri dan kerabatnya. Di Australia, barang elektronika dan perangkat keras (hardware) tampaknya masih menjadi favorit hadiah untuk sang ayah. The Epoch Times yang mengutip analisa informasi bisnis IBISWorld memperkirakan belanja perangkat keras dan barang elektronika pada Hari Ayah 2010 kembali melonjak, bakal naik 13 persen menjadi AU$ 236 juta. Selain itu minuman keras, buku dan compact disc (CD) menjadi pilihan lain hadiah.

Banyak keluarga merayakan dengan makan siang bersama karena Hari Ayah jatuh pada hari Minggu. Tak jarang mereka berkumpul di kediaman sang kakek atau bahkan kakek buyut, sehingga empat generasi melakukan reuni keluarga. Masakan favorit sang ayah tentu mendapat prioritas, namun kerap pula masakan ayah yang dirindukan anak-cucunya. Seperti tetangga sebelah rumah kami, cucunya justru merindukan masakan buatan sang kakek, karena ketika balita ia kerap dititipkan di sana.

Tidak sedikit keluarga yang merayakan dengan menraktir sang ayah makan di rumah makan kesukaannya. Atau merayakan di tempat terbuka taman-taman kota. Seperti di Canberra, pemerintah negara bagian Wilayah Ibukota Australia (Australian Capital Territory/ACT) mendukung Hari Ayah yang dipusatkan di Weston Park dengan berbagai kegiatan yang melibatkan keluarga, mulai dari permainan, musik dan sebagainya.

Indonesia secara resmi memang tidak memiliki Hari Ayah, namun tidak berarti kita tidak bisa merayakan peran keayahan. Apalagi dengan makin banyaknya keluarga inti/batih (nuclear family) mandiri dan jauh dari orangtua, yang berarti tak lagi bisa mengandalkan kakek-nenek untuk membantu menjaga cucu. Kian lazim pula istri memasuki dunia publik, sehingga peran ayah kini mitra sejajar untuk berbagi beban. Dengan demikian beban rumah tangga tidak semata-mata bertumpu pada sang ibu yang harus berperan ganda.

Apalagi banyak keluarga muda yang kian menghargai status ayah. Makin banyak lelaki matang yang menikmati predikat sebagai ayah dan berhasrat memiliki lebih banyak waktu bagi keluarga dan anak-anaknya.


Cuti Sebagai Ayah
Bentuk lain dari peran keayahan yang mendapat pengakuan di banyak negara Barat dan negara maju adalah cuti sebagai ayah (paternity leave). Ini merupakan bentuk cuti sebagai orangtua, di samping cuti melahirkan (maternity leave) yang sudah lazim bagi perempuan yang bekerja secara publik.

Bahkan Perdana Menteri (PM) Inggris, David Cameron pun baru-baru ini mengambil cuti tersebut. Itu setelah istrinya, Samantha melahirkan anak keempat mereka melalui operasi caesar. Menurut undang-undang Inggris, ayah baru dapat mengambil cuti yang tetap digaji hingga dua pekan.

Di Australia, mulai 1 Januari 2011, ayah baru akan berhak cuti hingga 18 pekan dengan digaji berdasarkan upah minimum. Bahkan di Bulgaria, seorang ayah atau kakek berhak mengambil cuti kelahiran (maternity leave) hingga 1 tahun dibayar 100 persen oleh negara.
Sedang di Indonesia, cuti bagi ayah baru masih tergantung kebijakan kantor masing-masing. Meski wajarnya diberikan dalam 1-2 hari ketika sang istri melahirkan. Sebenarnya, Indonesia bisa mencontoh Kanada yang membayar cuti kelahiran melalui sistem asuransi pekerja. Sebab, peran ayah tidak kalah dengan peran ibu dalam pengasuhan anak-anak. Semoga peran keayahan kian mendapat tempat di Indonesia.

* Penulis adalah mantan jurnalis harian di Jakarta yang kini menetap di selatan Canberra

Monday, October 11, 2010

Mencermati Rumah Aman Gempa Nan Modern*

Oleh: Mega Christina**


Di luar negeri banyak konsep rumah aman gempa, mulai dari yang unik berbentuk trapesium hingga rumah kubah yang lucu seperti di tayangan anak-anak Teletubies. Namun sebenarnya banyak rumah tradisional Indonesia yang terbukti aman dari gempa, seperti rumah Gadang di Sumatera Barat, omo sebua di Pulau Nias serta banyak lainnya.

Masalahnya rumah-rumah tradisional itu sebagian besar terdiri dari balok tua dan kayu-kayu pilihan yang kini kian sulit didapat. Kalaupun kita bisa mendapatkannya, harganya bakal mahal dan sulit terjangkau masyarakat kebanyakan.

Memanfaatkan material modern yang relatif mudah didapat dengan rancangan cerdas sebetulnya telah dilakukan putra Indonesia, contohnya dari Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Surakarta. Sejak tahun 2004 ATMI membuahkan rancangan struktur logam yang dinamakan Smart Modula. Disebut cerdas, karena bangunannya bersifat rancang lepas knock-down terdiri dari modul-modul yang bisa ditambahkan. Lebih dari itu, bangunan ini aman terhadap gempa.


Pilihan Material
Sebagaimana ada petuah bijak mengatakan dirikan rumahmu di atas landasan yang kokoh, rumah aman gempa dimulai dari fondasi. Untuk menghindari kerusakan karena gerakan tanah yang disebabkan gempa, fondasi Smart Modula berupa beton umpak lubang berbentuk trapesium dan tidak terikat dengan fondasi umpak yang lain.

Bila terjadi gempa, gerakan tanah yang terjadi disalurkan lewat fondasi umpak tadi, yang kemudian diteruskan ke kolom (tiang) dan sloof/beam (balok). Fleksibilitas baru akan terjadi pada titik ini.

Untuk itu, kolom harus lebih kuat dari beam agar tidak roboh. Saat terjadi gempa, energinya diserap beam sehingga kolom tetap utuh. Maka rangka balok Smart Modula dipilih dari baja light lips. Sedang kolom berupa baja hollow square.

Di bagian rangka, sambungan antar bagian dibuat se-fleksibel mungkin. Tujuannya, supaya gerakan yang diterima oleh satu bagian tidak secara penuh diteruskan ke bagian lain. Smart Modula menggunakan sambungan mur-baut antara kolom dan beam. Jika ada gempa, gaya yang diterima kolom tidak secara penuh ditransfer ke beam. Begitu sebaliknya. Hal berbeda terjadi jika menggunakan sambungan model las atau beton, akan ada kemungkinan patahan di antara sambungan.

Itupun di bagian atas rangka bangunan masih perlu dipasang penguat di tiap sudutnya. Sambungan antar komponen bangunan yang tidak mudah lepas itu diperlukan pula untuk penyaluran beban energi gempa.

Untuk mencegah terjadinya keruntuhan saat terjadi gempa, dinding seharusnya tidak berfungsi sebagai struktur dan tidak bersifat kaku (rigid). Dinding yang digunakan pada konstruksi Smart Modula sama sekali tidak berfungsi sebagai struktur, semata-mata partisi. Panel dinding Smart Modula tidak menempel 'mati' pada struktur, melainkan ada semacam celah (gap) yang memungkinkan adanya pergerakan. Ketika gempa terjadi, gerakan yang diterima kolom dan beam tidak terlalu memengaruhi panel dinding. Dengan demikian kemungkinan dinding roboh - seperti yang terjadi pada konstruksi konvensional - bisa diminimalisir.

Terjadinya korban gempa acapali akibat runtuhnya atap rumah, karena atap tidak kuat menahan goncangan yang diterima struktur di bawahnya. Salah satu faktor penyebabnya adalah terlalu beratnya atap dan rangka atapnya. Maka Smart Modula menggunakan material seringan mungkin. Dengan rangka baja ringan (zincalume), beban yang diterima struktur bangunan jauh berkurang dibanding rangka kayu. Atap jenis ringan bisa dengan galvalum atau metal roof. Selain ringan, pemasangan atap tersebut diikat dengan baut ke rangka atapnya sehingga atap tidak mungkin jatuh.
Jatuhnya genteng (mlorot) banyak terjadi ketika gempa di Yogyakarta tahun 2006 lalu.


Presisi
Lebih dari semua itu, material rumah modern, sekalipun bermutu tinggi, membutuhkan proses pembangunan yang cermat dan teliti. Misalnya untuk baja beam, ketebalan proses galvanasi disyaratkan 120 mikron, baru kemudian dilapis dengan cat. Sedang untuk baja kolom butuh ketebalan proses galvanasi 90 mikron lalu finishing dengan cat. Pasalnya 'musuh' besi baja adalah karat.

Begitu juga dengan campuran untuk beton fondasi, perlu kecermatan dan ketepatan. Komposisi semen, pasir dan kerikil menggunakan perbandingan 1:3:5.

Ukuran material juga membutuhkan ketepatan (presisi). Misalnya baja kolom berukuran ukuran 75x75x3 yang memiliki kekuatan tarik 300 N per milimeter persegi.

Penghargaan terhadap proses mulai dari pemilihan material hingga pembangunannya menjadi kata kunci untuk sebuah rumah yang aman gempa. Alhasil menurut uji coba di Laboratorium Fakultas Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), Smart Modula bisa menahan goncangan gempa hingga 8 Skala Richter (SR). Fakta di lapangan, waktu terjadi gempa di Nias dengan kekuatan 8.5 SR dan mencapai Aceh sekitar 8.3 SR, Smart Modula tidak mengalami kerusakan struktur.

Kini Indonesia punya pilihan rumah aman gempa yang tidak hanya tradisional atau rumah konvensional, tapi juga rumah dengan bangunan modern hasil rancangan putra bangsa sendiri serta material yang relatif bisa diperoleh di dalam negeri.


* Tulisan ini merupakan bagian upaya Memasyarakatkan Rumah Aman Gempa di Indonesia
** Penulis adalah mantan jurnalis harian di Jakarta yang kini menetap di selatan Canberra

Thursday, September 9, 2010

Menengok Miniatur Candi Borobudur di Tengah Landmark Dunia

Dengan skala 1:100, struktur abu-abu kehitaman itu terasa jauh dari megah dibanding aslinya. Namun mendapati replika Candi Borobudur di tengah 29 miniatur landmark terkenal dan bersejarah di dunia, terasa sangatlah membanggakan.

Apalagi struktur mini ini tepat berada di lokasi strategis, langsung di sebelah kiri lorong masuk bagian internasional Cockington Green Gardens. Taman mini ala Australia ini berlokasi di sub urban Nichols, negara bagian Australian Capital Territory (ACT), barat laut pusat kota Canberra.

Dengan tiga bagian berpuncak pada Arupadatu yang menyerupai aslinya, replika Candi Borobudur ini menjulang di atas sebuah gundukan tanah yang dikitari taman. Dalam bentuk mini, struktur bunga teratai candi Buddhis ini terlihat jelas dari atas.

Menurut informasi dari website resminya, sebagian besar materi replika miniatur adalah serat kaca dan aluminium, sehingga bisa tahan lama. Karya Wahyu Indrasan dan Lukito ini menjadi salah satu miniatur landmark dunia yang menjadi kebanggaan berbagai negara, lengkap dengan papan petunjuk lokasi asli dan informasi singkat tentang negara yang bersangkutan. Di situ juga disebutkan sponsor replika. Untuk miniatur Candi Borobudur, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Canberra bekerja sama dengan Garuda Indonesia.

Di antara negara ASEAN, terlihat hanya Indonesia bersama Filipina yang mempersembahkan replika bangunan kebanggaan negara masing-masing. Peru diwakili dengan landmark terkenalnya, Manchu Picu.

India menonjolkan miniatur Benteng Merah (Red Fort) dibanding Taj Mahal yang sudah terkenal. Tak jauh dari situ berdiri miniatur Pagoda Dapotap dan Seokgatap dari Korea. Sedang Kedutaan Besar Iran dengan bantuan dana dari Program Pembangunan Pariwisata Australia mensponsori miniatur reruntuhan Istana Darius yang terkenal dengan sebutan Persepolis. Sebuah keluarga dan komunitas Yordania di Sydney mensponsori miniatur El Khazneh Petra.

Bagian Asli
Lebih dari 30 tahun lalu, Dough dan anggota keluarganya mulai membangun replika mini bagian asli Cockington Green Gardens. Ia membangun struktur mini itu sepenuhnya dengan tangan, hingga menghasilkan 33 model bagian asli.

Miniatur pertama di bagian asli, adalah bentuk mini bangunan utama yang menjadi pintu masuk sekaligus toko souvenir di lantai dasar dan kantor di lantai atasnya. Bangunan kayu dnegan ornamen khas Eropa itu mengawali koridor jalan menuju Fairy Garden.

Miniatur Desa Cockington menyusul di seberangnya. Berlokasi aslinya di Torquay – Devon, Inggris Raya, bagian ini menggambarkan rumah dan suasana pedesaan lengkap dengan miniatur sumur batu tua yang masih menggunakan timba kayu. Layaknya di negara persemakmuran, lapangan kriket dilengkapi miniatur pemain dan penontonnya ada di sana.

Suasana kian hidup dengan suara rekaman di dalam miniatur. Seperti gereja, dilengkapi dengan lonceng gereja yang berdentang-dentang. Demikian pula dengan suasana stadion sepak bola yang riuh reda dengan suara para pendukung kesebelasan. Lalu ada suara gemericik air dari miniatur sungai kecil lengkap dengan jembatannya. Begitu juga suasana pelabuhan, dengan miniatur kapal-kapal yang bersandar sampai yang rusak.

Bahkan ada miniatur kereta api (KA) berkecepatan tinggi Intercity 125 yang rel-nya mengitari sebuah kolam. Replika ini bisa beroperasi layaknya KA aslinya dengan memencet sebuah tombol dekat miniatur stasiun.

Di ujung koridor jalan menikung, berdiri sebuah miniatur puri megah. Kastil Braemer yang aslinya didirikan Earl of Mar di Skotlandia, pada tahun 1628. Benar-benar melengkapi suasana seperti di negeri dongeng.

Ada juga KA uap betulan yang bisa dinaiki, tentu dengan membayar tiket tambahan. Layaknya sarana rekreasi keluarga, taman mini ini juga memiliki area piknik, cafe dan rumah makan serta toko tanaman.

Cockington Green Gardens merupakan salah satu dari sekian banyak sarana hiburan di Gold Creek Village yang memiliki berbagai bangunan bersejarah, galeri, toko berbagai cindera mata dan barang kerajinan, cafe dan pelbagai tempat makan. Ada Walk-in Aviary yang menjadi tempat anak-anak bisa memberi makan burung-burung, ada pula Pusat Reptil Australia dan Museum Dinosaurus Nasional.

Selain fasilitas piknik, kawasan Federation Square ini juga dilengkapi dengan sebuah resor untuk menginap. Benar-benar lengkap untuk wisata bersama keluarga di satu sub urban. Semua hal tersebut juga mendapat tempat di dalam brosur Canberra Today yang bisa didapatkan gratis di berbagai tempat pariwisata Canberra. (Mega Christina di Canberra)

Diterbitkan di Halaman Wisata Sinar Harapan (SH), Senin, 9 Agustus 2010