Thursday, September 9, 2010

Demam Pemilu di Australia Terasa Tanpa Hiruk Pikuk

Pemilihan Umum (Pemilu) Federal Australia kurang dari sepekan lagi. Sabtu, 21 Agustus nanti warga negara Australia akan mendatangi tempat-tempat pemungutan suara (TPS) yang diumumkan seminggu sebelumnya.

Meski Canberra merupakan ibukota nasional serta jantung pergerakan politik dan pemerintahan federal, di seputaran negara bagian wilayah Ibukota Australia (Australian Capital Territory/A.C.T.) sepintas tidak tampak kehebohan Pemilu. Tidak ada baliho-baliho raksasa apalagi spanduk malang-melintang layaknya suasana Pemilu di Indonesia dan berbagai negara lainnya.

Dengan spasial seluas sebuah benua dan penduduk yang hanya sekitar 20 juta, media luar ruang tampaknya memang bukan menjadi pilihan komunikasi politik dalam Pemilu di negeri Kanguru ini. Apalagi tempat tinggal penduduk relatif tersebar di berbagai sub urban (semacam distrik) yang terpencar-pencar.

Demam Pemilu baru terasa ketika memperhatikan berbagai media cetak maupun elektronik. Berbagai radio dan televisi secara periodik menyiarkan kunjungan kampanye tokoh kunci dari dua partai politik (parpol) utama, yakni Perdana Menteri Julia Gillard yang tengah menjabat (incumbent) dari Partai Buruh Australia dan pemimpin partai oposisi Tony Abbott dari Partai Liberal.

Saling serang program tampak sengit di iklan-iklan televisi. Misalnya Partai Buruh dibombardir dengan iklan kian banyak utang dan pajak. Partai Liberal diserang dengan iklan bakal menurunkan layanan-layanan publik yang saat ini diperjuangkan Partai Buruh yang berkuasa. Bahkan Partai Hijau pun tidak luput dari serangan di iklan televisi.

Selain memberitakan berbagai kunjungan para wakil rakyat, media cetak memiliki kekuatan analisa dan berbagai kolom yang diasuh para ilmuan. Seperti di Mingguan CityNews edisi 5-11 Agustus, Pakar politik dan sejarah Don Aitkin menulis betapa membosankannya Pemilu 2010 ini. Salah satu alasannya adalah tidak adanya keterhubungan dengan 'gambaran besar' masalah yang dihadapi. Aitkin mencontohkan kalau Australia memutuskan pembatasan imigrasi secara serius, dampaknya akan mengalami kekurangan tenaga trampil di berbagai bidang. Sementara tidak ada calon yang bicara soal investasi besar-besaran di bidang pendidikan untuk menghasilkan tenaga trampil tersebut.

Komunikasi Dua Arah
Koran lokal juga kebagian iklan para calon wakil rakyat yang memaparkan program dan mengundang konstituennya untuk mendatangi stand komunitas. Dengan demikian komunikasi para calon wakil rakyat tidak sekedar satu arah melalui media massa, melainkan interaktif langsung dengan calon pemilihnya.

Stand komunitas itu berlangsung pada pekan ini hingga pekan depan di berbagai pusat perbelanjaan di beberapa sub urban. Di sana para calon berupaya berinteraksi dengan konstituen dan calon pemilih atau setidaknya mereka membagikan pamflet berisi program mereka.

Di samping itu, para wakil rakyat juga mengiklankan kotak pos, alamat email dan website mereka. Dengan begitu, calon pemilih bisa mengangkat berbagai isu penting.

Tidak ketinggalan berbagai kelompok penekan (pressure group). Seperti Love 40 Percent yang mengangkat isu perubahan iklim dengan sasaran A.C.T. Berkomitmen mengurangi 40 persen tingkat karbon di tahun 2020. Kelompok-kelompok penekan ini lebih intens berkomunikasi langsung dengan wakil rakyat maupun calonnya, ketimbang turun ke jalan dengan unjuk rasa.

Sebuah Kewajiban
Mungkin salah satu alasan kurangnya hiruk pikuk Pemilu di Australia adalah karena memilih adalah sebuah kewajiban. Menjadi sebuah keharusan bagi warga negara Australia yang berusia dewasa (18 tahun ke atas) dan yang berhak memilih untuk mendatangi TPS pada Pemilu Federal. Mengingat Pemilu negara bagian biasanya digabung dengan Pemilu Federal, maka calon pemilih tidak bisa mengelak untuk tidak memberikan suaranya. Namun dengan Pemilu yang bersifat rahasia, calon pemilih bisa saja merusak surat suara.

Ketidakhadiran di TPS bisa berbuah hukuman, mulai dari sekedar denda, melakukan pelayanan pada masyarakat sampai hukuman kurungan kalau tidak mampu membayar denda yang besarnya mencapai 100 dolar Australia. Karenanya, Pemilu di Australia biasanya diadakan di hari Sabtu atau Minggu, sehingga tak ada alasan bagi warga yang bekerja untuk menunaikan kewajiban memberikan suara mereka.

Karena memilih menjadi sebuah keharusan, tak perlu perlu lagi dana kampanye untuk mengerahkan pemilih mendatangi TPS. Tampaknya keharusan ini juga dipandang positif untuk mengurangi politik uang dalam Pemilu.

Lebih dari itu, bagi pendukung Pemilu sebagai sebuah kewajiban, ini kesempatan untuk melakukan pendidikan politik serta merangsang warga untuk lebih mendapat informasi. Yang pasti, tingkat partisipasi politik bakal tinggi sehingga menjamin pemerintah yang terpilih mewakili mayoritas penduduk, bukan individu-individu yang memilihnya. Dengan demikian pemenang Pemilu diharapkan akan mendapat legitimasi politik yang lebih besar. Tetap sebuah pesta demokrasi, meski tanpa hingar-bingar yang riuh reda.


* Penulis merupakan mantan wartawan yang kini menetap di A.C.T.
Canberra, 14 Agustus 2010

Friday, May 7, 2010

Kawasan Dilarang Merokok Saja Tidak Cukup

Temaram senja perlahan turun. Merah jingga keemasan menghiasi kanvas langit dengan segala keelokannya, menyusul biru keunguan lembayung senja yang membuat syahdu suasana. Tak berapa lama kelam malam menebarkan jubah gelapnya mengatasi langit.

Saat itu lampu-lampu mulai dinyalakan, sebagian pekerja telah beranjak dari kantornya. Kala sang pimpinan sudah tak di tempat dan jam kantor usai, jari-jemari dengan pemantik dan sebatang putih yang terselip telah siap untuk menebarkan asapnya.

Asap putih itu membumbung, sekilas dan segera terhapus dari pandangan mata. Namun selain asap, ada partikel-partikel halus yang tidak kasat mata. Partikel itu pembakaran tidak sempurna arang, minyak, kayu atau bahan bakar lainnya.

Ketika esok mentari kembali terbit, partikel-partikel tak kasat mata itu pun tetap di sana, dalam ruang kedap berpenyejuk udara. Menarilah partikel-partikel itu mengitari ruangan dan ikut terhirup ke dalam paru-paru siapa pun, kendati bukan si pemilik batang putih tadi.

Sejenak kita beranjak dari partikel halus tadi. Saat itu menjelang Natal, sebuah pengujung tahun yang menjadi liburan besar bagi banyak orang. Tak terkecuali keluarga kami. Tapi tahun itu hari besar itu terlewatkan begitu saja.

Motor keluarga kami tengah tergolek di rumah sakit. Badannya yang tetap dan senantiasa bugar, telah melemah. Sel-sel ganas bahkan nyaris melumpuhkan sebelah tangan dan kaki, pertanda telah menyebar.

Sejak saat itu tarikan napasnya satu-satu, kadang tersengal begitu susahnya. Nyata sekarang, kemurahan Ilahi berupa oksigen gratis seolah tak mencukupi untuk sebuah rongga paru-paru yang telah terkoyak sel-sel ganas tadi.

Bantuan inhaler, hirupan uap yang dihubungkan dengan oksigen murni, awal-awal cukup menolong. Namun manusia bernapas 24 jam tanpa henti, Efek inhaler itu hanya sepersekian dari 24 jam.

Setiap tarikan napas yang begitu berat terasa ikut menyesakkan dada kami yang melihatnya. Tarikan napas satu-satu itu begitu menyiksa batin kami.

Akhirnya pilihan pahit pun diambil. Dengan jarum yang entah seberapa besarnya, seutas selang dimasukkan ke organ pernapasan yang telah melemah itu. Perlahan tapi pasti, cairan hitam kecoklatan pekat keluar. Cairan itu menyerupai warna air ketika batang putih dimatikan dengan dicelupkan ke dalamnya.

Ternyata lebih dari satu liter cairan berwarna pekat itu bercokol di paru-parunya. Sejenak keputusan pahit itu berbuah, tarikan napasnya tak lagi tersengal. Namun itu pun tak lama. Setelah selang penyedot dilepas, justru kesehatannya merosot drastis. Hanya sinar matanya yang masih mempertahankan kilatan perlawanan.

Lima bulan setelah berjibaku dengan sel-sel ganas, berjuang menarik napas satu satu bak menghitung detik, ia pun menghembuskan napasnya terakhir. Ia terkalahkan partikel-partikel batang putih yang mengendap dalam paru-parunya sepanjang lebih dari 20 tahun hidup perkawinannya dengan seorang perokok berat.

Apakah ada di antara kita yang tega menatap mata bening orang yang kita cintai menghirup napas tersengal pilu? Apakah ada yang tega melihat selang menembus tubuh orang yang kita kasihi untuk mengeluarkan endapan partikel-partikel tadi?

Tidak Cukup
Karenannya Kawasan Dilarang Merokok (KDM) saja tidak cukup. Partikel-partikel batang putih itu di antaranya adalah benzopyrene yaitu partikel-partikel karbon yang halus yang merupakan penyebab langsung mutasi gen.

Berbagai artikel menyebutkan ribuan jenis bahan kimia dalam rokok dan 40 jenis di antaranya bersifat karsinogenik (penyebab kanker). Sebut saja mulai dari nikotin, arsenik yang beracun, cadmium yang terdapat dalam baterai, dan masih banyak lagi.

Belum pula gas seperti karbon monoksida (CO) seperti gas buang kendaraan bermotor, karbondioksida (CO2), hidrogen sianida, amonia, hidro karbon, metana, butana, dan sebagainya.

Semua partikel tidak kasat mata itu tertinggal dan terpapar ke ruang lain, apalagi di ruang pengap berpenyejuk udara. Idealnya semua gedung dan segala ruang tertutup harus bebas dari asap rokok.

Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah DKI Jakarta perlu segera mengganti Peraturan Gubernur Nomor 75 Tahun 2005 tentang KDM tadi. KDM tidak efektif pelaksanaannya, kurang pengawasan serta sanksi yang jelas. Semoga DKI Jakarta dan daerah lain dapat segera menjadi pelopor perlindungan warga untuk tidak merokok di dalam gedung atau bangunan. Merokok di dalam gedung harus dilarang dengan sanksi yang tegas.

Sunday, November 29, 2009

Perempuan Pakistan

Rabu, 25 November 2009 14:32

Angka Partisipasi di Parlemen Tertinggi di Asia Selatan

Islamabad - Mengenakan celana panjang tradisional yang agak baggy, sepadan dengan kain semacam baju kurung dipadu dengan selendang yang disampirkan di pundak atau terkadang dikalungkan ke belakang.

Berkacamata hitam penangkis sinar matahari yang bersinar terik, Shaheen Akhtar siap di belakang kemudi mobil sedannya.
Perempuan Pakistan yang mengemudi sendiri tidaklah sedikit, nyaris seperti di Jakarta. Ini menjadi pemandangan umum perempuan modern Pakistan di Islamabad.
Beberapa di antaranya mengenakan pakaian yang lebih rapat dengan selendang menjadi kerudung atau jilbab dan cadar, terutama di universitas yang menyandang label Islam.
Shaheen merupakan salah satu dari enam peneliti perempuan di Institute of Regional Studies (IRS) Islamabad. Perempuan peneliti menjadi dominan di lembaga ini yang keseluruhan memiliki 10 peneliti.
Shaheen mengakui komposisi di IRS bukan cerminan umum, namun ia menggarisbawahi keterlibatan perempuan Pakistan dalam berbagai bidang, terutama pendidikan dan perekonomian yang demikian besar. Menurutnya, dalam arus utama nasional, perempuan memegang peran penting dalam kegiatan perekonomian keseharian.
“Anggota parlemen perempuan Pakistan mencapai 33 persen. Ini angka aksi afirmatif yang paling tinggi di Asia Selatan,” kata Shaheen ketika menerima SH dan delegasi media dari Indonesia menemui di kantornya di Islamabad, pekan lalu.
Demikian pula di bidang media, menurut Fariha Razak Haroon, Direktur Grup Geo TV Network & Jang Group of Companies. Ia memperlihatkan bagaimana dirinya menjadi direktur kelompok surat kabar berbahas Urdu tertua dan saluran televisi swasta terbesar di Pakistan.
“Kami mendorong kaum perempuan untuk mendapatkan lingkungan kerja yang bagus dan aman. Di sini kami memiliki perempuan dalam jumlah yang substansial,” kata Fariha ketika menemui SH dan delegasi media dari Indonesia di Jang Building, Karachi, Senin (23/11).
Kendati demikian ketika rombongan menengok ruang redaksi, tampak mayoritas laki-laki yang berada di dalam ruangan itu. Namun, di satu ruang redaksi Daily Jang yang berbahasa Urdu, ada 5-6 perempuan di antara belasan kaum adam.

Sistem Feodal
Shaheen Akhtar mengakui di daerah suku seperti di Provinsi Balochistan ada sistem feudal yang tidak memungkinkan perempuan untuk mengedepan. Demikian pula di Provinsi Punjab bagian selatan yang masih menganut sistem feudal.
“Perempuan di sana lebih terbelakang, terutama dari segi pendidikan,” ujar Akhtar. Ia juga mengakui keterbelakangan perempuan akibat penguasaan Taliban di Provinsi Perbatasan Barat Daya (NWFP). Sekolah khusus perempuan yang buka mendapat ancaman dan Taliban tidak menghendaki perempuan berada di tempat-tempat publik.
“Masyarakat menjadi sande­ra Taliban. Tapi sebenarnya Taliban sendiri menjadi sandera Al-Qaeda,” tegas Akhtar.
Hal itu pula yang tampaknya berdampak secara nasional angka melek huruf (orang di atas umur 15 tahun yang dapat membaca dan menulis) untuk perempuan hanya 36 persen, dibanding laki-laki yang mencapai 63 persen di 2005, menurut CIA Factbook.
Betapa pun, memajukan perempuan di sebuah negara yang berpenduduk 176 juta (menurut perkiraan CIA Factbook di Juli 2009) bukanlah perkara mudah.

Di Islamabad, Sekolah Murah Bukan Sekadar Jargon

Selasa, 24 November 2009 13:03

Islamabad - Apakah Anda membayangkan studi lanjut di luar negeri dengan biaya sendiri yang lebih terjangkau ketimbang di dalam negeri? Itu bukanlah tidak mungkin.
Contohnya Adam Bakhtiar yang saat ini menempuh Studi Islam tingkat magister (S2) di International Islamic University Islamabad (IIUI) dengan biaya sendiri. Pemuda kelahiran Malang, Jawa Timur ini mengaku biaya studinya hanya US$ 100 per semester ditambah biaya hidup di asrama US$ 100. Dengan demikian, hanya dengan US$ 200 per semester, Ketua Ikatan Mahasiswa Indonesia (IIUI) itu sudah bisa kuliah S2 di sebuah perguruan tinggi terkemuka.
Pengakuan itu dibenarkan Muladi yang tengah menyelesaikan tesis Magister Syariah di universitas yang sama. Sarjana alumni Kairo ini bahkan memperoleh beasiswa karena indeks prestasi kumulatifnya (IPK) di atas tiga.
Adam Bakhtiar dan Muladi merupakan bagian dari sekitar 70 mahasiswa Indonesia yang tengah belajar di universitas yang didirikan atas rekomendasi Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Islam di Lahore di tahun 1974 itu.
Di antara ribuan mahasiswa, warga China merupakan mahasiswa terbanyak di IIUI yang mencapai lebih dari 600 orang. Mereka datang tidak hanya dari provinsi China yang mayoritas menganut agama Islam, tapi juga mereka dari kalangan yang nonmuslim.
“Kami miliki hubungan yang sangat baik dengan China. Kami juga memiliki beberapa perjanjian kerja sama dengan beberapa pihak, seperti dengan Provinsi Ningxia dan Asosiasi Ilmu Sosial Ningxia yang setiap tahunnya mengirimkan lebih dari 100 mahasiswa,” kata Fateh Muhammad Malik, Rektor dan guru besar IIUI ketika menerima SH dan delegasi media dari Indonesia di kampus baru IIUI di Sektor H Islamabad, pekan lalu.
Menurutnya, IIUI juga memiliki kerja sama berupa pertukaran mahasiswa, pertukaran sarjana, tenaga pengajar, serta pertukaran publikasi dengan universitas Islam di Indonesia.
“Umumnya kami memiliki kerja sama dengan universitas di negara-negara muslim yang menjadi anggota Konferensi Negara-negara Islam (OKI),” tambah Malik yang juga salah satu tokoh sastra Pakistan.

Fakultas Nonagama
Meski menyandang nama universitas Islam, IIUI telah berkembang menjadi sebuah perguruan tinggi negeri yang mencakup berbagai fakultas nonagama, seperti teknik, sosial, ekonomi dan manajamen, seni dan bahasa, serta teknologi informasi (TI). Sementara dari awal didirikan di era 1980an, IIUI memiliki tiga fakultas agama, yakni Syariah, Studi Islam (Usuluddin), dan Bahasa Arab.
Kendati demikian, sebagai universitas Islam, IIUI konsiten memisahkan mahasiswa dengan mahasiswi. Kampus mahasiswi dipimpin seorang direktur perempuan dengan seluruh tenaga pengajar perempuan pula.
Baik kampus mahasiswa maupun mahasiswi memiliki beberapa blok dengan gedung perkuliahan tiga lantai bergaya Timur Tengah dengan batu bata merah yang masing-masing di tengahnya memiliki taman rindang untuk belajar bersama. Masing-masing kampus itu memiliki perpustakaan dan auditorium terpisah pula.
Kampus baru seluas lebih dari empat hektare di Sektor H—sektor yang ditujukan untuk pendidikan di pinggiran Islamabad itu—tampak masih akan terus berkembang, sebagaimana Kampus Universitas Indonesia di Depok. Tempat ini merupakan sebuah lingkungan pendidikan yang mengundang sekaligus menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa asing.

Islamabad, Kota Benteng yang Selalu Siaga

Senin, 23 November 2009 12:55

Pengantar: Tiga jurnalis Indonesia, termasuk Mega Christina dari Sinar Harapan, mendapat kesempatan untuk mengunjungi Pakistan selama sepekan, dimulai 18 November hingga 26 November 2009. Dalam kunjungan ini, delegasi media dari Indonesia bertemu beberapa tokoh penting Pakistan dan menyaksikan kondisi terkini di Islamabad, Karachi, dan Lahore.

Islamabad – Pagi merekah bersama mentari yang muncul dari balik perbukitan Margalla yang mengitari kota ini, yang menjadi latar belakang penginapan kami di kawasan Kohsar.
Ini adalah sebuah daerah perumahan yang me­nye­rupai kawasan Menteng, yang masing-masing memiliki taman tertata apik dengan pepohonan rindang.
Tak terhitung banyaknya kowa (burung sejenis elang kecil) yang terbang rendah hingga menggaris cakrawala di kaki Bukit Margalla. Koak-koaknya seakan hendak membangunkan seisi ibu kota.
Inilah ibu kota Pakistan yang berkedudukan di punggung Dataran Tinggi (Plateau) Pothohar, bagian utara negeri ini. Kota metropolitan ini baru dibangun di era 1960-an menggantikan Karachi di ba­gian selatan sebagai ibu kota Pakistan, dengan visi jauh ke depan mantan Presiden Ayub Khan yang mengingingkan kesimbangan distribusi utara selatan. Selain itu, Islamabad lebih dekat dengan markas besar tentara di Rawalpindi dan daerah pertikaian Kashmir di bagian utara.
Sebagai sebuah ibu kota modern, Islamabad merupakan salah satu kota yang paling terencana dengan baik di Asia Selatan dan paling hijau de­ngan Hutan Loi Bher serta taman-taman kota. Menurut survei, Islamabad dianggap sebagai kota paling bersih di Pakistan.
Kota ini juga terorganisasi dengan sangat baik, terbagi dalam delapan sektor, A hingga H, dengan delapan zona yang membagi kawasan perdagangan, kawasan pusat peme­rintahan, kawasan diplomatik, distrik perdagangan, sektor pendidikan, sektor industri, daerah perumahan, daerah pedesaan, dan daerah hijau.

Barikade Jalanan
Pagi di Islamabad sama se­ka­li tidak menunjukkan tan­da-tanda kehebohan bom bu­nuh di­ri yang meledak di depan Ge­dung Pengadilan Peshawar, se­kitar dua jam dari ibu kota ini.
Suasana keamanan seperti malam ketika kami tiba.
Begitu keluar, pagar tinggi dijaga beberapa satuan pengamanan (satpam). Di penghujung Jalan 26 menjelang jalan besar, melintang beton bari­kade di jalanan yang mengharuskan mobil berjalan pelan dengan cara zig-zag.
Di 7th Avenue, beberapa rumah tampak ditambah bari­kade seperti di beberapa de­pan kedutaan besar di Jakarta, bahkan beton barikade ada yang nyaris setinggi dua meter.
Kian mendekati kawasan pusat pemerintahan, makin kerap titik pemeriksaan keamanan yang mengharuskan pengemudi membuka kaca dan menunjukkan identitas.
Tidak itu saja, beton bari­kade ditambah penghalang besi beroda yang menutup jalanan sepenuhnya, sebelum kendaraan diizinkan melintas zig-zag melewati beberapa lapis beton barikade. Di penghujung barikade terakhir, biasanya ada seorang petugas keamanan di balik tumpukan karung barikade siap dengan senjata laras panjangnya.
Bahkan, di beberapa tempat ada seorang petugas keamanan di balik tumpukan ka­rung barikade lengkap dengan senjata laras panjang itu juga. Seperti menjelang memasuki jalan depan Hotel Mar­riott. Bagian depan hotel yang dikenal dengan layanan kera­mah­an itu lebih layak menye­rupai benteng penjara, dengan beton barikade di atas dua me­ter dan kawat durinya, leng­kap dengan penjagaan superketat.
“Bom bisa terjadi di mana saja. Kehidupan normal harus tetap berjalan. Semua ini kami butuhkan untuk mencegah dan memberikan rasa aman bagi kita semua,” kata Man­sood Khalid, Sekretaris Men­teri Luar Negeri Urusan Pa­kis­tan ketika menerima SH dan delegasi Media dari In­do­nesia di kantornya di Isla­ma­bad, Kamis (19/11).
Kendati demikian seorang warga Islamabad yang tidak mau disebutkan namanya meng­aku pemeriksaan kea­man­an itu terkadang menjengkelkan. Namun, ia tidak berdaya mengingat pengebom bunuh diri bisa menyerang ka­pan saja dan memang me­nya­sar tidak saja kalangan peme­rintah, tapi juga rakyat sipil.
Seperti Mansood Khalid, ia pun memilih kehidupan terus berjalan sebagaimana biasa­nya, karena rasa takut itu yang diinginkan teroris, katanya.

Wednesday, September 23, 2009

Resume awal "Seat of the Soul"

EVOLUTION
Apakah proses evousi telah selesai?
Menginga, evolusi adalah perkembangan progresif kompleksitas organisasional, manusia merupakan bentuk kehidupan paling kompleks dan karenanya menjadi bentuk kehidupan yang paling berevolusi di planet ini.
Ternyata sebagai sebuah perkembangan evolusi ini tiada henti.
Gary Zukav menyebut orang yang murah hati dan altruis sebagai makhluk yang paling berevolusi. Selain jauh melebihi makhluk hidup lain, akal budi dan moralitas menjadikan perkembangan lebih komplkes ketimbang pada orang yang kikir dan egois.
Zukav menyebut makhluk yang benar-benar berevolusi adalah makhluk yang lebih menghargai makhluk lain daripada dirinya sendiri dan yang lebih menghargai cinta kasih daripada dunia fisik beserta seluruh isinya (P.5)
Manusia juga berevolusi secara panca indera (five sensory) menjadi manusia yang multi-sensory yang melampaui realitas fisik hingga ke sistem dinamika yang lebih besar. Wilayah ini tak terlihat oleh panca indera.
Zukav mengatakan, wilayah inilah asal-muasal ditemukan nilai terdalam kita. Inilah kekuatan otentif yang berakar pada sumber terdalam dari keberadaan kita. Kekuatan ini mencintai kehidupan dalam segala bentuknya serta kekuatan yang menghayati kebermaknaan dan tujuan dari segala rincian terkecil yang ada di bumi (P.11-13).
Bagi manusia multi-sensory, kita tak pernah sendirian, karena alam raya ini hidup, sadar dan penuh belas-kasih. Untuk manusia multi-sensory, dunia fisik merupakan lingkungan pembelajaran yang diciptakan bersama roh-roh yang mendiaminya, dan segala sesuatu yang terjadi di dalamnya berfungsi sebagai pembelajaran.
Roh adalah bagian dari diri Anda yang bersifat kekal. Roh, sebagaimana tubuh, merupakan kendaraan evolusi Anda.
Keputusan yang Anda ambil dan tindakan yang Anda butat adalah alat Anda berevolusi.
Zukav menilai roh adalah kekuatan positif, memiliki tujuan dan menjadi inti keberadaan kita.
Setiap pengalaman yang dan akan kita miliki mendorong penyelarasan jiwa dengan roh.

KARMA
Hidup kita merupakan salah satu dari sekian banyak pengalaman roh yang berada di luar sudut waktu. Roh tak terbatasi jiwa.
Untuk setiap inkarnasi, roh menciptakan jiwa dan tubuh berbeda.
Setiap jiwa memberi kontribusi evolusi rohnya, dengan caranya sendiri, dengan masing-masing tingkat kecerdasan dan jenis pelajaran yang harus dipelajari, baik secara sadar maupun tak sadar. Setiap ciri fisik, emosional dan psikologis yang membentuk jiwa dan tubuh, semuanya sesuai dengan tujuan roh (P.19).
Karma bukan semata baik-buruk, melainkan sebuah spektrum. Karma lebih banyak berkaitan dengan hal internal. Eksternal merupaka vibrasi dari internal.


Work With Passion

Henry Amiez mengatakan "Work while you have the light, you are responsible for the talent that has been entrusted to you..."
Secara vertikal, bagiku kerja merupakan proses ambil bagian sebagai 'co-creator', ikut menciptakan dunia yang lebih baik.
Secara horizontal, kerja merupakan sesuatu untuk menempatkan kita di tegah 'lingkar kehidupan' yang memberi makna pada keberadaan kita secara sosial da emosional.
Karenanya, untuku kerja menjadi isu yang cukup sentral bagi kemanusiaan, untuk tidak tergantung dan bergantung, menjadi subyek dan bukannya obyek di mata dunia.
Maka resesi dunia yang mengancam pengurangan lapangan kerja menjadi keprihatinan tersendiri dan menjadi ancaman keberadaan sebagian harkat untuk menjadi manusia yang independen dan bermartabat.
Namun kita dibekali dengan SHAPE:
Spiritual gift
Heart-motivation, passion
Ability
Personality
Experience.

Oktober 2008 (memasuki krisis keuangan global)