Sunday, October 5, 2008

Charity, Not Structural

Bulan puasa, bulan berkah, baik bagi yang memberi maupun yang menerima. Tak heran, banyak orang mendadak menjadi murah hati atau yang biasanya dermawan menjadi lebih ‘royal.’ Malangnya di tengah kesulitan hidup yang kian menghimpit, zakat Rp 20.000 pun diperebutkan yang berakibat 21 nyawa melayang di Pasuruan, Jawa Timur.
Terlepas dari pro-kontra prosedur, niat baik memang tidak lah cukup. Derma seberapa pun besarnya tidaklah mampu memanusiawikan manusia dan tidak berkesinambungan. Tiap hari mereka membutuhkan makan, tiap hari mereka memiliki berbagai kebutuhan. Tangan yang memberi tidak akan pernah mencukupi tangan yang ditadahkan. Lagi pula menjadi keniscayaan bagi manusia bekerja, ikut menjadi co-creator bagi dunia ini.
Lebih dari itu, derma tak mampu menyelesaikan masalah secara struktural. Tidak akan ada satu pun cara manusiawi yang berkesinambungan daripada sebuah sistem yang mampu menciptakan lapangan kerja berkeadilan bagi penghidupan yang layak. Sistem itu akan berbeda dari masa ke masa, efek berganda (multiplier effect) bisa menjadi salah satu penandanya: manakala semakin banyak diuntungkan oleh sebuah sistem, kian makmur rakyat dibuatnya. Struktural, ibarat sebuah lokomotif yang menyeret rangkaian besar gerbong yang menyertakan sebanyak mungkin rakyat di dalamnya, kembali secara manusiawi dan berkeadilan.
Tidak ada yang tertinggal, itu hanya utopia sebuah komunisme yang bisa semua sama rasa sama rata, menyalahi kodrat manusiawi. Pasti ada yang tidak mau ikut gerbong secara suka rela atau dipaksa keadaan untuk tidak ikut, atau sebuah sistem yang tidak memungkinkan dia ikut serta. Jelas ini jauh lebih tidak mudah daripada sekedar berderma, tapi akan berdampak jangka panjang dan terus-menerus.
Jakarta, awal September 2008

Tuesday, September 2, 2008

Hujan September

Mega mendung menebarkan jubah kelamnya
seantero langit sarat pekat
rintik yang dinanti jatuh
datang dari kekelaman
sebuah paradoks kehidupan
ada petang, ada terang


Lantai 25 ITB-SSBM – Jakarta, 28 Agustus 2008

Friday, August 22, 2008

Creative Thinking

Membaca The Power of Know, menyegarkanku kembali pada 'kata-kata ajaib' kini dan di sini. Dengan pemahaman yang mengambang, "kini dan di sini" menjadi sekedar sebuah petuah rapuh yang mudah luluh 'dimakan' waktu.
Namun Eckhart Tolle mencoba mengingatkan pemikiran kreatif yang lebih mudah 'dihadirkan' dalam kekinian. Ini mengembalikanku pada 3B: 'bed, bath, bus/traveling.' Inilah aat yang paling kucintai yang kerap memunculkan pemikiran dan ide-ide kreatif, kala pikiran terserap kekinian gemericik air, keindahan pemandangan atau kantuk yang tertahan pada satu fokus. Betapa ajaibnya kekinian membawa hal-hal yang selama ini tak terpikirkan secara konvensional. Ternyata rasio dan pemikiran analitis masih kalah dengan kesadaran "kini & di sini" meski butuh latihan gigih untuk terus menghadirkannya.

Jkt-Bdg, 16 Agustus 2008

Friday, August 8, 2008

Life Excellent

Kamis kemarin kebetulan aku mendengarkan program radio Life Excellent-nya Jamil Azaini.
Hidup mulia yang memiliki kesuksesan dalam mencapai tahta, cinta, harta, dan memberi manfaat bagi makhluk lain.
Untuk hidup excellent, orang perlu berubah dan terus mengembangkan diri, yang tentu saja tidak mudah.

Jamil menyarankan yang paling mudah dari memperhatikan fisik dulu dengan "tiga olah" : olah raga, olah makan dan olah napas. Ini terdengar sederhana, namun tidak segampang yang dikatakan.
Olah raga teratur dan konsisten bukan perkara mudah. Harus ada kegigihan niat untuk menerapkannya.
Dari tiga olah itu, dengan yoga kita setidaknya sudah mendapatkan dua di antaranya dengan relatif lebih ringkas.
Banyak gerakan yoga yang tampak sederhana berdampak luar biasa untuk peregangan dan olah napas.
Ini masalah pembiasaan nantinya.

Sembari konsisten dengan tiga olah tadi, pengembang kecerdasan kognitif patut diperhatikan. Food for tought, bahasaku. Bisa dari membaca, belajar dan olah otak lainnya, macam brain gym. Lagi-lagi masalah pembiasaan menjadi kebiasaan.

Yang lebih sulit, pengembang kecerdasan emosional. Buddha mengajarkan dengan cara sederhana, kalau tidak bisa berbuat baik, setidaknya jangan menyakiti. Padahal untuk tidak menyakiti dengan perkataan, niat dan perbuatan bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan mindfullness yang terus-menerus. Jadi ingat dengan pemeriksaan batin, memahami gerak-gerik hati dengan menyingkirkan yang batil.

Yang paling sulit mungkin kecerdasan spiritual. Menjaga keterhubungan energi dengan yang Maha Segalanya sembari tetap mempertahankan kebaikan buat sesama. Seimbang vertikal dan horisontal layak palang, hamblumin Allah hamblumin annas dalam Islam.

Jakarta, 9 Agustus 2008

Thursday, June 12, 2008

Mental Pengemis

Kantor berita Antara melaporkan Isdayati, yang mengenakan perhiasan kalung dan tiga cincin emas, kecewa tak bisa mencairkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) di Kantor Pos Batam Kota, Batam, Kamis (12/6). Perempuan warga , warga Kampung Belian, Batam Kota itu menangis usai ditolak petugas kantor pos....
Dengan seutas kalung dan tiga cincin, bisa dipastikan tidak kurang dari 10 gram emas yang dimiliki perempuan itu. Harganya pasti lebih dari Rp 1 juta. Andai pun ia tak memiliki uang, ia bisa menggadaikan sementara perhiasannya.
Terlepas dari kehidupan yang kian susah, semakin banyak orang yang menempuh jalan pintas dan tidak punya lagi rasa malu untuk mendapatkan uang dengan cara mudah, sekalipun mengorbankan harga diri.
BLT ini benar-benar kian mencetak masyarakat yang bermental pengemis, menomorsekiankan rasa malu, apalagi martabat. Punah sudah harapan menjadikan orang miskin bermartabat.

Jakarta, 12 Juni 2008

Friday, June 6, 2008

De-ideologi

Semalam dengan bergurau kami merasani gaya dosen. Seorang kolega jurnalis menyatakan dosen A tampaknya agak kiri.
Langsung aku menyambar, kuragukan orang kiri bekerja untuk sebuah perusahaan multinasional.
Kolega tadi lantas merujuk pada orang-orang PSI lama yang berjaya dengan bisnisnya.
Dengan guyonan gaya aktivis kubilang, dia pasti 'sos-ka' kalo gak sosialis salon.
Teman lain yang kebetulan Pegawai Negeri Sipil (PNS) tidak ikut tertawa. Malah dengan polos mengaku tidak mengerti arah kelakar kami.
Semasa mahasiswa, istilah-istilah 'kiri' dan 'kanan' itu begitu terbiasa terdengar dan kental mewarnai aktivis mahasiswa. Bahkan di kantor, kami kerap bergurau dengan Biro Chusus, Central Committee, Polit Biro, dan sebangsanya. Tapi 'mahasiswa baik-baik' jarang mendengar istilah itu dan tidak memahami.

Jakarta, 5 Juni 2008

Monday, June 2, 2008

My First Stargazing Party

Ini untuk pertama kalinya saya ikutan 'stargazing party' Indo Sky Gazer.
Saya jadi tahu sekarang, 'bintang pujaan' saya yang terbit di timur (kadang tenggara, mulai September kalau tidak salah) ternyata si megaplanet Yupiter. Si bongsor tatasurya kita ini ternyata 'membawa' 4 anaknya kalau dilihat dengan teleskop Pak Ris. Wow keren!
Saya juga baru tahu, kalau di sengat ekor Kalajengking, tersembunyi 'permata' M7 dan M6 (open cluster stars) yang luar biasa cerlang-cemerlang, indah mengalahkan berlian manapun, cuma ditatap dengan binokular Pak Ris. Dengan teleskop yang field of view (FOV) lebih lebar, malah M7 kehilangan daya pikatnya karena tersebar.
Tapi kamera Mas Adi bisa menangkap si Butterfly (star cluster) lengkap dengan warna biru yang mengitari warna kuning yang tidak tertangkap reseptor mata kita melalui eyepiece (lubang pengintip teleskop).
Lalu Mas Gabriel dengan senter nightmode membantu menunjukkan si Sagitarius yang ternyata di kalangan astronom digelari 'tea pot' karena bentuknya mirip ceret.
Lagi, ternyata di antara rasi Sagitarius dan Scopius 'tersembunyi' Lagoon Nebula, pusat galaksi kita Bimasakti (dari Mas Gabriel saya baru tahu, kalau emang bentuknya mirip tokoh wayah Werkudoro lagi petangtang-petenteng dengan kuku pancanaka-nya).
Seperti orang awam lainnya, saya merasa, oh ternyata Lagoon Nebula 'cuma' kayak gitu ya? Bercak hitam yang sedikit berpendar. Untung ada Galilie Galilio yang menyadarkan kita, kalo enggak kita masih ikutan Copernicus merasa kita di bumi yang gede dan pusat segalanya. Oalah, berjuta-juta tahun-cahaya, dikau memisahkan kami sehingga pusat galaksi 'cuma' bercak.
Di langit selatan, ada si Crux (gubuk penceng-nya gak kelihatan). Lalu di atasnya terlihat si bintang paling terang, Alpha Centauri (Rigil Kentaurus) dan runner-up Betha Centauri yang cemerlang dari rasi Centaurus.
Di langit utara, lewat tengah malam tampak 'summer triangle' Vega dan 'pasangannya' Altair tapi 'anaknya' si Deneb gak saya lihat. Menurut alkisah Mas Adi, Vega dan Altair terpisah Milky Way yang di Jepang dikenal sebagai 'sungai' Tanabata dan pada summer mereka 'bertemu' yang menjadi Valentine's Day di Jepang.
Sayang ya si 'jalur susu' (hihihi ini terjemahan Milky Way) gak terlihat semalam ya. Atau mata saya yang slering alias juling, tidak jeling. Hehehe...
Juara malam kemarin adalah permata M7 yang merebut hati saya sebagai 'bintang pujaan' berikutnya setelah si Yupe. Sayang M7 gak terlihat dengan mata telanjang.

Landhuis IPB Darmaga
Bogor, 1 Juni 2008