Tuesday, September 2, 2008

Hujan September

Mega mendung menebarkan jubah kelamnya
seantero langit sarat pekat
rintik yang dinanti jatuh
datang dari kekelaman
sebuah paradoks kehidupan
ada petang, ada terang


Lantai 25 ITB-SSBM – Jakarta, 28 Agustus 2008

Friday, August 22, 2008

Creative Thinking

Membaca The Power of Know, menyegarkanku kembali pada 'kata-kata ajaib' kini dan di sini. Dengan pemahaman yang mengambang, "kini dan di sini" menjadi sekedar sebuah petuah rapuh yang mudah luluh 'dimakan' waktu.
Namun Eckhart Tolle mencoba mengingatkan pemikiran kreatif yang lebih mudah 'dihadirkan' dalam kekinian. Ini mengembalikanku pada 3B: 'bed, bath, bus/traveling.' Inilah aat yang paling kucintai yang kerap memunculkan pemikiran dan ide-ide kreatif, kala pikiran terserap kekinian gemericik air, keindahan pemandangan atau kantuk yang tertahan pada satu fokus. Betapa ajaibnya kekinian membawa hal-hal yang selama ini tak terpikirkan secara konvensional. Ternyata rasio dan pemikiran analitis masih kalah dengan kesadaran "kini & di sini" meski butuh latihan gigih untuk terus menghadirkannya.

Jkt-Bdg, 16 Agustus 2008

Friday, August 8, 2008

Life Excellent

Kamis kemarin kebetulan aku mendengarkan program radio Life Excellent-nya Jamil Azaini.
Hidup mulia yang memiliki kesuksesan dalam mencapai tahta, cinta, harta, dan memberi manfaat bagi makhluk lain.
Untuk hidup excellent, orang perlu berubah dan terus mengembangkan diri, yang tentu saja tidak mudah.

Jamil menyarankan yang paling mudah dari memperhatikan fisik dulu dengan "tiga olah" : olah raga, olah makan dan olah napas. Ini terdengar sederhana, namun tidak segampang yang dikatakan.
Olah raga teratur dan konsisten bukan perkara mudah. Harus ada kegigihan niat untuk menerapkannya.
Dari tiga olah itu, dengan yoga kita setidaknya sudah mendapatkan dua di antaranya dengan relatif lebih ringkas.
Banyak gerakan yoga yang tampak sederhana berdampak luar biasa untuk peregangan dan olah napas.
Ini masalah pembiasaan nantinya.

Sembari konsisten dengan tiga olah tadi, pengembang kecerdasan kognitif patut diperhatikan. Food for tought, bahasaku. Bisa dari membaca, belajar dan olah otak lainnya, macam brain gym. Lagi-lagi masalah pembiasaan menjadi kebiasaan.

Yang lebih sulit, pengembang kecerdasan emosional. Buddha mengajarkan dengan cara sederhana, kalau tidak bisa berbuat baik, setidaknya jangan menyakiti. Padahal untuk tidak menyakiti dengan perkataan, niat dan perbuatan bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan mindfullness yang terus-menerus. Jadi ingat dengan pemeriksaan batin, memahami gerak-gerik hati dengan menyingkirkan yang batil.

Yang paling sulit mungkin kecerdasan spiritual. Menjaga keterhubungan energi dengan yang Maha Segalanya sembari tetap mempertahankan kebaikan buat sesama. Seimbang vertikal dan horisontal layak palang, hamblumin Allah hamblumin annas dalam Islam.

Jakarta, 9 Agustus 2008

Thursday, June 12, 2008

Mental Pengemis

Kantor berita Antara melaporkan Isdayati, yang mengenakan perhiasan kalung dan tiga cincin emas, kecewa tak bisa mencairkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) di Kantor Pos Batam Kota, Batam, Kamis (12/6). Perempuan warga , warga Kampung Belian, Batam Kota itu menangis usai ditolak petugas kantor pos....
Dengan seutas kalung dan tiga cincin, bisa dipastikan tidak kurang dari 10 gram emas yang dimiliki perempuan itu. Harganya pasti lebih dari Rp 1 juta. Andai pun ia tak memiliki uang, ia bisa menggadaikan sementara perhiasannya.
Terlepas dari kehidupan yang kian susah, semakin banyak orang yang menempuh jalan pintas dan tidak punya lagi rasa malu untuk mendapatkan uang dengan cara mudah, sekalipun mengorbankan harga diri.
BLT ini benar-benar kian mencetak masyarakat yang bermental pengemis, menomorsekiankan rasa malu, apalagi martabat. Punah sudah harapan menjadikan orang miskin bermartabat.

Jakarta, 12 Juni 2008

Friday, June 6, 2008

De-ideologi

Semalam dengan bergurau kami merasani gaya dosen. Seorang kolega jurnalis menyatakan dosen A tampaknya agak kiri.
Langsung aku menyambar, kuragukan orang kiri bekerja untuk sebuah perusahaan multinasional.
Kolega tadi lantas merujuk pada orang-orang PSI lama yang berjaya dengan bisnisnya.
Dengan guyonan gaya aktivis kubilang, dia pasti 'sos-ka' kalo gak sosialis salon.
Teman lain yang kebetulan Pegawai Negeri Sipil (PNS) tidak ikut tertawa. Malah dengan polos mengaku tidak mengerti arah kelakar kami.
Semasa mahasiswa, istilah-istilah 'kiri' dan 'kanan' itu begitu terbiasa terdengar dan kental mewarnai aktivis mahasiswa. Bahkan di kantor, kami kerap bergurau dengan Biro Chusus, Central Committee, Polit Biro, dan sebangsanya. Tapi 'mahasiswa baik-baik' jarang mendengar istilah itu dan tidak memahami.

Jakarta, 5 Juni 2008

Monday, June 2, 2008

My First Stargazing Party

Ini untuk pertama kalinya saya ikutan 'stargazing party' Indo Sky Gazer.
Saya jadi tahu sekarang, 'bintang pujaan' saya yang terbit di timur (kadang tenggara, mulai September kalau tidak salah) ternyata si megaplanet Yupiter. Si bongsor tatasurya kita ini ternyata 'membawa' 4 anaknya kalau dilihat dengan teleskop Pak Ris. Wow keren!
Saya juga baru tahu, kalau di sengat ekor Kalajengking, tersembunyi 'permata' M7 dan M6 (open cluster stars) yang luar biasa cerlang-cemerlang, indah mengalahkan berlian manapun, cuma ditatap dengan binokular Pak Ris. Dengan teleskop yang field of view (FOV) lebih lebar, malah M7 kehilangan daya pikatnya karena tersebar.
Tapi kamera Mas Adi bisa menangkap si Butterfly (star cluster) lengkap dengan warna biru yang mengitari warna kuning yang tidak tertangkap reseptor mata kita melalui eyepiece (lubang pengintip teleskop).
Lalu Mas Gabriel dengan senter nightmode membantu menunjukkan si Sagitarius yang ternyata di kalangan astronom digelari 'tea pot' karena bentuknya mirip ceret.
Lagi, ternyata di antara rasi Sagitarius dan Scopius 'tersembunyi' Lagoon Nebula, pusat galaksi kita Bimasakti (dari Mas Gabriel saya baru tahu, kalau emang bentuknya mirip tokoh wayah Werkudoro lagi petangtang-petenteng dengan kuku pancanaka-nya).
Seperti orang awam lainnya, saya merasa, oh ternyata Lagoon Nebula 'cuma' kayak gitu ya? Bercak hitam yang sedikit berpendar. Untung ada Galilie Galilio yang menyadarkan kita, kalo enggak kita masih ikutan Copernicus merasa kita di bumi yang gede dan pusat segalanya. Oalah, berjuta-juta tahun-cahaya, dikau memisahkan kami sehingga pusat galaksi 'cuma' bercak.
Di langit selatan, ada si Crux (gubuk penceng-nya gak kelihatan). Lalu di atasnya terlihat si bintang paling terang, Alpha Centauri (Rigil Kentaurus) dan runner-up Betha Centauri yang cemerlang dari rasi Centaurus.
Di langit utara, lewat tengah malam tampak 'summer triangle' Vega dan 'pasangannya' Altair tapi 'anaknya' si Deneb gak saya lihat. Menurut alkisah Mas Adi, Vega dan Altair terpisah Milky Way yang di Jepang dikenal sebagai 'sungai' Tanabata dan pada summer mereka 'bertemu' yang menjadi Valentine's Day di Jepang.
Sayang ya si 'jalur susu' (hihihi ini terjemahan Milky Way) gak terlihat semalam ya. Atau mata saya yang slering alias juling, tidak jeling. Hehehe...
Juara malam kemarin adalah permata M7 yang merebut hati saya sebagai 'bintang pujaan' berikutnya setelah si Yupe. Sayang M7 gak terlihat dengan mata telanjang.

Landhuis IPB Darmaga
Bogor, 1 Juni 2008

Friday, May 30, 2008

Mengkritisi Kebijakan Transportasi Gubernur DKI Jaya

Belum lama ini Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya (DKI Jaya)
terpilih, Fauzi Bowo mengungkapkan janjinya membangun tol dalam kota
sebagai terobosan mengatasi kemacetan Jakarta.
Sekilas ungkapan ini tampaknya menjanjikan untuk jalan keluar dari
kemacetan yang makin menggila. Namun memahami pertumbuhan kendaraan yang
mengikuti deret ukur (?) sementara pertumbuhan jalan cuma mengikuti deret
hitung (?), jelas bakal tidak imbang. Seberapa pun banyak jalan dibangun,
ujungnya kemacetan akan kembali muncul dalam beberapa waktu kemudian.

Krisis Minyak
Belum lagi kalau memperhatikan harga minyak mentah yang awal November sudah
tembus US$ 95 per barel. Meski harga bahan bakar minyak (BBM) untuk
transportasi masih disubsidi dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN), sepatutnya pemimpin pemerintahan memiliki visi penghematan bahan
bakar fosil yang makin langka ini.
Kebijakan menambah ruas jalan secara tidak langsung mendorong pertumbuhan
mobil yang notabene membutuhkan BBM. Bukan berarti pemerintah tidak
bertanggung jawab meningkatkan infrastruktur, namun ada banyak pilihan
cerdas bisa menjadi terobosan selain menambah ruas jalan tol dalam kota.

Transportasi Massal
Negara-negara yang peka akan krisis energi dan perubahan iklim yang
diakibatkannya,berupaya keras mengalihkan pengguna kendaraan pribadi ke
kendaraan umum. Tak ayal transportasi publik yang aman dan nyaman menjadi
keharusan.
Kenapa pengguna mobil pribadi tak gampang beralih ke Trans Jakarta
misalnya? Masalahnya mereka tak sekedar butuh bergerak dari satu tempat ke
tempat lain dengan cepat, tapi juga dengan mudah, aman dan nyaman tanpa
tergenjet-genjet. Apalagi tidak adanya car port dan feeder yang memadai.
Untuk kota metropolitan, jelas tak bisa lagi mengandalkan bus kota dan
sejenisnya. Bagi kota sebesar Jakarta, jelas harus ada transportasi cepat
yang massal (mass rapid transportation/MRT).

KRL Terintegrasi
Sementara monorail baru muncul tiang-tiangnya di ibukota tercinta, pilihan
MRT bisa jatuh pada kereta api listrik (KRL).
Pihak DKI Jaya bisa melobi PT KA (Persero) untuk membuat tiket terusan
macam Trans Jakarta, misalnya dari Bogor ke Sudirman, turun di Stasiun
Manggarai langsung pindah jalur ke arah Sudirman. Jadi tidak perlu keluar
untuk beli tiket di stasiun junction.
Intinya pemerintah bisa mendorong lebih banyak pengguna KRL sebagai
alternatif MRT.
Lebih jauh pihak DKI bisa mendorong PT KA untuk menindaklanjuti pemisahan
(spin off) Daerah Operasi Jakarta menjadi anak perusahaan tersendiri.
Dengan demikian Pihak DKI dapat ikut andil mempercepat pembangunan rel
ganda dan jalur layang KA yang lebih menyeluruh di Jakarta, sembari menanti
monorail.
Termasuk segera mewujudkan KA Bandara, mengingat kemacetan Tol Dr.Wiyoto
yang makin parah. Sebagai bandara internasional, Bandara Soekarno-Hatta
sepatutnya terhubung dengan MRT.
Pendek kata Pemda DKI harus mendorong pengurangan pemakaian BBM secara
lebih efektif, dengan MRT. Isu energi dan lingkungan sepatutnya mengedepan
dalam setiap penerapan kebijakan transportasi kota.

Jakarta, 2 November 2007