Friday, May 11, 2007

'Tilik-Pitik' Dengan Limousine

Pernahkah Anda melihat mobil limousine? Ini limousine betulan, bukan limo salah satu tipe sedan yang dipakai untuk taksi. Ini limousine mobil mewah yang panjang itu, seperti di televisi dan film-film orang kaya luar negeri. Putra sulung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Agus Harimurti, berkendara jenis limousine ini sebagai mobil pengantinnya.
Limousine Mercedes Benz dengan enam jendela pada lambung mobil yang memanjang itu biasa digunakan tamu negara tingkat Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan negara sahabat. Enam tempat duduk lapis kulit, dengan empat tempat duduk di belakang yang saling berhadapan.
Sebagai mobil pengantin, kap depan dan belakang berhiaskan rangkaian bunga potong segar lily dan mawar merah putih serta jenis bunga subtropis yang dominan dengan warna putih. Sementara di ke-empat handle pintunya berhiaskan pita putih lengkap dengan juntaian roncean (rangkaian) melati berujung kuncup bunga kenanga.
Limousine hitam itu menggunakan nomor polisi (Nopol) B 1904 BS. Sementara tepat di belakang limousine itu, masih ada satu mobil Mercedes Benz dengan nopol B 2073 BS.
Konon akhiran BS merupakan penanda kendaraan milik pemerintah. Juru bicara (jubir) Presiden, Andi A. Mallarangeng, membenarkan hal itu. ”Memang itu adalah satu dari mobil Rumah Tangga Kepresidenan. Dengan perhatian publik yang begitu besar, maka perlu juga ada pengamanan yang cukup. Itu juga dengan dasar hukum yang jelas juga, bahwa berdasarkan Keppres (Keputusan Presiden) Nomor 25 Tahun 1972. Dan yang menjadi tanggung jawab TNI, Paspampres (Pasukan Pengamanan Presiden) kan bagian dari TNI dengan Buku Petunjuk TNI Nomor 54/II/2001 tentang Operasi Pengamanan VVIP,” kata Andi menjawab pertanyaan SH di samping Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (8/7) siang.
Selanjutnya Andi menerangkan VVIP itu terdiri dari Presiden dan keluarga langsung, Wakil Presiden dan keluarga langsung serta tamu negara.
Andi juga menjelaskan, Presiden Yudhoyono dan istrinya, Kristiani Herawati tidak turut dalam upacara Akad Nikah. Bertindak sebagai wakil keluarga mempelai laki-laki adalah Letjen TNI Hadi Mulyo yang saat ini menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Pangkostrad).
”Orang tua mempelai laki-laki tidak ikut, karena kemarin pada waktu acara di Cikeas selain sungkeman kemudian ada acara suapan terakhir. Bahasa Jawa-nya saya lupa. Maksudnya, itulah suapan terakhir dari orang tua, setelah itu dia harus mandiri. Ketika pergi nikah, laki-laki tidak butuh wali, dia pergi sendiri. Nanti setelah (akad) nikah, Presiden akan datang dan itu istilah Jawanya tilik-pitik, melihat menantunya yang baru saja menikah,” jelasnya.
Maka Agus keluar dari pintu samping Istana Merdeka tanpa diiringi ayah ibunya. Agus keluar setelah para pengiring yang mengenakan seragam surjan dan kebaya merah maroon dengan kain panjang warna senada. Kalau acara Siraman, seragam keluarga mempelai berwarna lilac (ungu kebiruan), maka acara akad nikah ini, seragam keluarga mempelai bernuansa merah maroon.
Agus hanya didampingi adiknya, Edhie Baskoro, yang mengenakan seragam surjan merah maroon dan kain panjang lengkap dengan blangkon Jawa yang serasi. Sedang Agus memakai busana pengantin Jawa putih gading dengan payet dipadu kain panjang wiron (dilipat seperti kipas) dan blangkon warna coklat.
Meski tersenyum tipis, Agus tidak dapat menyembunyikan raut ketegangan di parasnya. Ia duduk di sisi kanan dan adiknya di sisi kiri bagian belakang limousine itu.
Usai membuka kaca dan melambaikan tangan kepada wartawan istana, limousine itu bergerak diikuti Range Rover, Jaguar, Toyota Alphard, VW Caravelle, Land Cruise dan sedan yang menjadi kendaraan pengiring pengantin. Tidak termasuk mobil pasukan pengawal (Patwal), rombongan itu berjumlah 22 kendaraan membelah jalan protokol yang bebas dari kendaraan lain. Nguing, nguing rombongan VVIP mau lewat!

Sinar Harapan edisi
Sabtu, 09 Juli 2005

Kisah Pesta dari Istana Negara

BOGOR – Karpet merah, jalur penghormatan itu terhampar mulai dari anak tangga ruang utama Istana Bogor. Melintasi Ruang Garuda tempat berlangsung prosesi Pedang Pora, hamparan karpet merah menyimpang kanan beranda belakang ke tangga turun setengah lingkaran.

Sebelum turun, mata para tamu disegarkan dengan taman buatan dengan hamparan ratusan bunga warna-warni yang asri di kaki tangga dan sisi luar tenda utama. Di sela-sela taman bahkan ada sebuah kolam buatan dengan air mancur pilar patung putri bergaya Eropa, lengkap dengan 10 angsa betulan.
Di koridor sebelum memasuki tenda utama, para tamu disambut prewedding photo sang mempelai bak lukisan di tengah taman. Juntaian rangkaian melati di rumpun bambu dan potongan ranting kayu di antara foto berbagai pose itu menambah romantis suasana. Selain itu, ada beberapa televisi datar (plasma TV) yang akan menampilkan prewedding photo secara elektronik.
Dalam tenda raksasa yang luasnya sekitar 3.000 meter persegi itu, sisi kiri koridor masuk adalah pelaminan bergaya
Yogyakarta dengan gebyok (rangka) kayu nan megah. Dengan taman bunga di depan panggung, pelaminan yang panjangnya sekitar 20 meter itu diterangi lampu.
Di panggung itu terdapat kursi pelaminan panjang berukir dengan dominasi warna merah maroon, tempat Lettu Inf. Agus Harimurti Yudhoyono dengan Annisa Larasati Pohan bersanding. Sofa tersebut diapit empat kursi untuk orangtua kedua mempelai berbahagia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono-Kristiani Herawati dan mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Aulia Tantowi Pohan-Yani Pohan.
Pengantin perempuan tampak anggun dengan kebaya panjang berwarna hijau apel karya Adjie Notonegoro, perancang langganan Keluarga Yudhoyono. Menurut Adjie kepada wartawan, ia memodifikasi kebaya bergaya Keraton Yogyakarta dengan taburan kristal Swarovski impor dengan warna senada.

VVIP dan VIP
Di sisi kiri pelaminan, agak menjorok ke dalam, ada tenda terusan dengan meja-meja bundar dikelilingi kursi berbalut kain putih dan pita merah maroon. Masing-masing meja berhiaskan tempat lilin tinggi dengan hiasan bunga dan
lima lilin merah maroon. Inilah tenda VVIP untuk para menteri, putra-putri proklamator, mantan presiden dan wakil presiden, dan tamu dari negara sahabat.
Di seberang panggung pelaminan yang dibatasi dengan taman buatan nan asri, ada meja panjang tempat hidangan dan ruang terbuka untuk ber-standing party. Atap tenda utama ini berhiaskan juntaian vitrage merah putih berselang dengan puncak tergantung lampu krital bundar kelap-kelip indah.
Menurut pihak catering, hidangan di antaranya soto
bogor, pempek, dan soto bangkong. Makanan itu disiapkan Catering Akasia dan Tiara dari Jakarta, Catering Rosika dari Bogor dan sebuah rumah makan padang Jakarta.
”Kami berpesan memang kepada panitia dan seluruh perangkat yang ikut menyukseskan acara resepsi ini agar dekorasi, makanan, buah-buahan, kemudian busana yang digunakan khas
Indonesia, produksi Indonesia. Kalau buah-buahan dan tanaman juga ditanam di Indonesia.
Ini sekaligus, karena tamu undangan datang dari banyak tempat, termasuk dari mancanegara, untuk mengenalkan nilai luhur budaya bangsa, dari adat dan tradisi kita yang mengesankan dan tentunya insyaallah bisa meningkatkan budaya dan pariwisata
Indonesia,” kata Susilo Bambang Yudhoyono dalam jumpa pers sebelum resepsi di Gedung Samping Istana Bogor, Sabtu (9/7), pukul 17.30 WIB.
Kendati demikian, ada juga meja hidangan menyajikan masakan Jepang, seperti sushi, sashimi, dan sukiyaki. Pasalnya, pengantin perempuan menjalani masa kanak-kanaknya di Negeri Matahari Terbit itu setelah dilahirkan di Boston, Amerika Serikat.
Di ujung belakang tenda, terdapat panggung band hiburan lengkap dengan gamelan Jawa yang terlihat kinclong. Sebelum tamu berdatangan, Ahmad Dani dari Grup Dewa tampak berlatih dengan iringan orkestra Purwacaraka.
Sembari menikmati hidangan dan lantunan lagu maupun gending Jawa, para tamu dapat berpesta kebun di halaman belakang Istana Bogor yang asri lengkap dengan kolam. Berpasang-pasang obor dengan tiang-tiang bambu anyaman makin menyemarakkan suasana resepsi malam itu.

Tenda Wartawan
Sementara itu, wartawan istana yang mengantongi ID khusus harus berpuas dengan menonton semua perhelatan itu dari layar CCTV di tenda khusus. Kamerawan dan fotografer hanya berkesempatan mengambil jumpa pers dan kedatangan pengantin sampai prosesi Pedang Pora dari halaman depan Istana Bogor.
Selebihnya, wartawan ”dikandangkan” di tenda khusus di sisi kiri Ruang Samping Istana Bogor. Tenda sederhana itu tertutup hanya berisi jajaran kursi-kursi dan sebuah meja kayu panjang melompong di lapangan rumput.
Tenda khusus wartawan lumayan jauh dari tenda utama raksasa itu. Wartawan cuma bisa melihat aktivitas di tenda sambungan tenda utama yang berfungsi sebagai dapur untuk menyiapkan hidangan. Malangnya lagi, tenda itu dekat toilet box.
Jangankan untaian bunga dan pernak-pernik indah seperti di tenda utama, untuk mendapatkan air minum kemasan saja, wartawan mesti minta pada Andi Mallarangeng, si Juru Bicara Presiden. Wartawan pun hengkang seusai pidato sambutan Yudhoyono karena makanan kotakan ada di bus.
Jadilah ke resepsi putra Presiden makan nasi kotakan!

Sinar Harapan Edisi Senin, 11 Juli 2005

Tak Semua Penderitaan Rakyat Masuk Hitungan Penguasa

Lalu kudengar episodemu adik kecil

Pada suatu hari yang terik
nadimu semakin lemah
tapi tak ada uang untuk ke dokter
atau membeli obat
sebab ayahmu hanya pemulung
kaupun tak tertolong

Ayah dan abangmu berjalan berkilo-kilo
tak makan, tak minum
sebab uang tinggal enam ribu saja
mereka tuju stasiun
sambil mendorong gerobak kumuh
kau tergolek di dalamnya
berselimut sarung rombengan
pias terpejam kaku

Airmata bercucuran
peluh terus bersimbahan
Ayah dan abangmu
akan mencari kuburan
tapi tak akan ada kafan untukmu
tak akan ada kendaraan pengangkut jenazah
hanya matahari mengikuti
memanggang luka yang semakin perih
tanpa seorang pun peduli

aku pun bertanya sambil berteriak pada diri
benarkah ini terjadi di negeri kami?

JAKARTA – Pengalan puisi di atas adalah puisi Abdurahman Faiz yang berjudul ”Kisah dari Negeri Yang Menggigil”. Siswa Sekolah Dasar (SD) itu menulis untuk Khaerunisa, seorang bocah tiga tahun yang meninggal karena muntaber dan sang ayah harus menggendong jenazah anaknya, karena tak mampu menyewa ambulans.
Goresan pena siswa pemenang pertama Lomba Menulis Surat untuk Presiden Tahun 2004 itu sudah seminggu beredar ke berbagai mailing list di dunia maya. Kendati demikian, mungkin puisi Faiz yang menyayat hati ini tidak sampai ke mata telinga sang penguasa. Memang kematian Khaerunisa tidak di depan mata penguasa. Namun tragedi kematian Khaerunisa adalah fakta yang demikian terang benderang menohok mata hati Bangsa
Indonesia.
Khaerunisa sudah terbujur kaku berkalang tanah, sudah kembali ke hadirat-Nya. Tapi ada kemalangan anak bangsa yang di depan mata, toh penguasa juga mengabaikannya. Adalah Victor Djami, mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Kristen Indonesia (UKI)
Jakarta. Dia salah satu korban bentrokan antara petugas Ketentraman dan Ketertiban (Tramtib) Jakarta Timur dengan pedagang kaki lima yang dibantu mahasiswa UKI di kawasan Cawang.
Akibat pukulan yang bertubu-tubi di kepalanya, Victor mengalami pendarahan otak, kepala bagian depan remuk, dan tulang tengkorak atas harus diangkat. Hingga kini, mahasiswa yatim itu masih koma di ruang Intensive Care Unit Rumah Sakit (ICU RS) UKI sejak 17 Mei lalu.
Jumat (10/6) siang kemarin, hiruk-pikuk kedatangan rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan istri ternyata tidak sampai ke ruang ICU RS UKI tempat Victor terbaring. Kendati sudah ada wartawan yang mengusulkan, Presiden Yudhoyono dan rombongan hanya menuju ruang perawatan enam korban bom Pasar Tentena, Poso, Sulawesi Tengah.
”Saya sudah melihat enam orang korban Tentena. Kita akan melakukan pengobatan yang terbaik. Saya sudah minta pada pimpinan rumah sakit dan saya juga akan berkontribusi dalam pengobatan dan penyembuhan itu,” ujar Presiden Yudhoyono kepada wartawan sebelum meninggalkan RS UKI siang itu.
Ternyata korban dan kemalangan di mata penguasa berarti berbeda-beda. Tidak semua kemalangan dan penderitaan rakyat masuk dalam perhitungan penguasa. Ah malangnya!

Sinar Harapan Edisi Sabtu, 11 Juni 2005

Dipasena 2

Pertarungan Kepentingan di Bumi Dipasena

TULANGBAWANG – Inilah proyek besar Sjamsul Nursalim. Menjadikan Lampung tanah kelahirannya, lokasi pertambakan udang terbesar di dunia. Luas lahan konsesi yang dikuasai dari Lampung Utara (PT Dipasena Citra Darmaja/ DCD) hingga bagian tenggara Sumatera Selatan (PT Wachyuni Mandira/WM) keseluruhan mencapai 186.250 hektare.

Pada masa jayanya di tahun 1996, DCD menyumbang devisa US$ 167 juta dari ekspor udang windu. Bahkan ketika mulai krisis tahun 1997, ekspornya masih menghasilkan US$ 131 juta.
Namun malang tak dapat ditolak, krisis moneter menerjang cita-citanya. Kurs rupiah terpuruk, utang yang dalam dolar pun menumpuk. Tapi apakah adil menyalahkan krisis semata? Mengapa WM yang dikelola manajemen dan dengan cara yang sama bisa tetap jalan, sementara DCD terus bergolak? Apa yang salah?

Lahan kedua perusahaan ini hanya dibelah oleh aliran Sungai Mesuji. Namun secara administratif keduanya terpisahkan oleh provinsi yang berbeda. WM berada di Provinsi Sumatera Selatan, sementara DCD di Provinsi Lampung.

Tahun 1998 WM pun sempat mengalami kerusuhan. Ini diawali sekitar 2.000 petambak plasma menuduh manajemen tidak terbuka dan menuntut berbagai hal. Maklum era reformasi, tuntutan keterbukaan dan transparansi pun sampai ke pertambakan.

Ujung-ujungnya, petambak di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) ini naik darah, mengepung kantor manajemen, menjarah sebelum membakar aset-aset perusahaan. Anehnya, di antara petambak sibuk mencari pimpinan yang acap berdialog dengan mereka di lapangan.
”Ini ada pengaruh orang luar, sebab mereka tidak kenal pimpinannya. Kalau petambak betulan, mereka kenal karena sebelum kejadian rutin ada pertemuan dengan Badan Musyawarah Plasma Sementara (BMPS),” tutur Senior Manager WM, Josef Francisico MB yang sebelumnya menangani DCD juga.

Namun reaksi aparat dan pemerintah daerah Sumatera Selatan cepat. Kurang dari tiga hari pasukan dari Marinir diterjunkan mendukung polisi dan aparat Kodim yang melokalisir lokasi. Hukum ditegakkan, para perusuh ditangkap dan diproses secara hukum sehingga masalahnya segera selesai.

Bahkan sekarang hidup DCD bertahan karena pengolahan udang yang dihasilkan WM yang rata-rata 20 ton per hari dari 7.451 tambak. Lahan yang dicadangkan untuk WM berkembang hingga 170.000 Ha, kini baru 42.000 lahan bersih tambak
”Awal tahun 2002 akan mulai pembangunan cold storage plan III kemudian dermaga ekspor. Sebab kalau dibawa ke DCD kendalanya pengangkutan yang tiga kali biayanya melalui air dan terlebih masalah kualitas,” terang General Manager WM, Anta Winarta ketika SH menemui di kantornya.

Masalah Perut
Di DCD, bara konflik mulai timbul tahun 1996-1997 yang dipicu oleh masalah perut. Meski nyaris semua kebutuhan sembilan kebutuhan bahan pokok (sembako) petambak plasma dipenuhi, tak ayal krisis dirasakan karena mahalnya barang-barang. Ini memicu petambak mempermasalahkan Biaya Hidup Bulanan Petambak (BHBP).

”Dapat BHBP dan sembako, kalau dilihat dari situ, kami cukup sejahtera dibanding orang luar waktu itu. Tapi kehidupan ke depan mau bagaimana? Karena kenyataan lebih dari 10 tahun kami tidak punya apa-apa. Tidak mungkin hanya Rp 150.000 per bulan, sementara biaya hidup terus bertambah. Ini pun tidak pernah berubah sejak tahun 1992,” keluh Sekretaris Perhimpunan Petambak Plasma Udang Windu (P3UW), Nafian Faiz.

Sementara manajemen merasa harusnya BHBP itu mencukupi mengingat sembako sudah diberikan, termasuk beras hingga susu. Ikan Nila dari kanal bisa sebagai lauk, lahan di pinggir tambak bisa untuk bercocok tanam.

Sehingga ketika itu konflik diredam dengan pemutusan hubungan kerja (PHK) pemimpin cikal bakal P3UW, meski BHPB berhasil naik dua kali lipat.
Bagai menyimpan bara dalam sekam, konflik kembali muncul tahun 1998. Kembali perut yang dijadikan alasan hingga disepakati naik dari Rp 300.000 menjadi Rp 500.000 per Kepala Keluarga (KK). Ditambah masalah harga udang yang semula ditetapkan sepihak, kini petambak ikut menetapkan diwakili P3UW yang berdiri resmi 30 September 1998.
Tahun 1999 konflik kian membara dipicu oleh PHK Ketua P3UW, Sari, bersama sekitar 300 pengurus lainnya. Rentetan masalah pun bermunculan, mulai dari masalah kemitraan yang dirasa tidak adil hingga utang petambak.

”Harusnya kemitraan tidak ada PHK. Kewajiban kami seperti buruh, tapi hak-hak seperti mitra. Tapi hak-hak ini pun tidak gratis,” ujar Nafian.
Padahal manajamen mengatakan telah menyediakan segala keperluan dan peralatan hidup petambak dari rumah hingga segala isinya. Ibaratnya cobek pun disediakan. Termasuk pelayanan kesehatan dan pendidikan, kendati itu nantinya diperhitungan ke dalam rekening petambak.
Masalah terus bergulir bagai bola salju yang terus membesarkan kecurigaan kedua belah pihak. Urusan kredit investasi dan kredit modal kerja yang sebagian dolar menggelembung ketika dirupiahkan sangat dipertanyakan.

Lantas pernah diupayakan membentuk Tim Independen yang terdiri dari beberapa akademisi dikoordinir Nanang Trenggono dari Universitas Lampung (Unila). Saat itu sudah berhasil mendudukkan manajemen dengan P3UW bersama penasihat hukum dari LBH Bandar Lampung.
”Ketika ketemu pemda jadi kacau. Sehingga tim menjadi vakum,” ungkap Penasihat Hukum P3UW dari LBH Bandar Lampung, Watoni Noerdin, ketika ditemui dikantornya.

Maka konflik pun memuncak menjadi kerusuhan pada tanggal 1 Maret 2000 ketika Sjamsul Nursalim hendak berdialog dengan para petambak. Kepanikan di tengah massa yang merangsek memicu anggota Brimob mengeluarkan tembakan mengenai seorang petambak. Segera menyulut kemarahan massa yang berakibat dua anggota Brimob tewas disertai kerusuhan mencekam.
”Pasca kejadian ini, LBH mendorong pemda untuk mengutamakan masalah Dipasena karena menyangkut hajat hidup orang banyak dan sangat berpengaruh terhadap eskalasi stabilitas di Lampung, tapi tidak ada tanggapan,” ujar Watoni Noerdin.

Efek Karambol
Seperti efek karambol, maka perselisihan yang bermula Inti-Plasma berrentet ke mana-mana. Dipicu pendekatan penyelesaian masalah yang berbeda hingga kecurigaan menjadi kolaborator Inti, P3UW berselisih dengan petambak plasma yang lain, seperti Tim Pelaksana Perjuangan Petani Tambak (TP3T), Plasma Peduli dan Serikat Petambak dan Nelayan (SPN).
Hingga puncaknya terjadi pengusiran dan pembakaran rumah sekitar 200 petambak yang bukan anggota P3UW di bulan November 2000. Namun P3UW mengaku bukan mereka yang melakukannya.

”Tidak ada kebijakan organisasi untuk melakukan pengusiran. Prinsip perjuangan kami berbeda dengan mereka, sehingga kami tidak mau melibatkan mereka. P3UW tahan susah dan dalam hal prinsip kami tidak mau kompromi,” jawab Nafian Faiz.

Bukan hanya sesama petambak plasma yang menerbitkan kecurigaan bagi P3UW. Karyawan pun khususnya yang tinggal di areal tambak seperti di Blok IV turut menjadi sasaran pengusiran.
Dengan jumlah massa ribuan, isu yang berbau manajemen dianggap tidak populer di mata anggota. Sehingga tak mudah menyamakan persepsi di antara sekian banyak massa. Hal itu diakui Watoni Noerdin. Katanya, ”Di sana banyak pihak, bisa bias. Di sana variasi manusianya beragam dan mungkin banyak kepentingan yang membuat bias.”

Bom Waktu
Sebagai ajang perebutan politik, DCD merupakan lahan empuk yang memenuhi dua persyaratan. Dari segi ekonomi maupun dari segi massa yang lebih dari 7.000 petambak plasma itu.
Apalagi udang windu jenis black tiger yang dibudidayakan termasuk komoditi ekspor unggulan. Lahan yang dikuasai dengan infrastruktur terpadu mulai dari power plan (sumber daya listrik) 160 Mega Watt, pabrik pakan 15.000 ton, lebih dari 25.600 tambak pembesaran udang, cold storage 2.340 ton sampai pengapalan (Enterpot Produksi untuk tujuan Ekspor). Kurang apalagi?
Tidak heran bila mulai dari Keluarga Cendana sampai kelompok konglomerat saingan Sjamsul Nursalim disebut-sebut berkepentingan merebut lahan itu. Itu pun masih ditambah pihak yang berkepentingan atas nama keamanan untuk melanggengkan ‘periuk nasinya’ di sana.
Sebab kalau masalah Dipasena selesai atau tenang dan damai, tentu keberadaan aparat keamanan tak dibutuhkan lagi. Maka ada yang berkepentingan agar Bumi Dipasena terus bergolak guna mempertahankan keberadaan mereka di sana.

Karenanya Watoni Noerdin mengatakan, ”Kami khawatir, P3UW menjadi komoditas politik. Sebab dari sektor ekonomi pendapatan dari udang, besar. Dari sektor massa pun, besar dengan lebih dari 7.000 anggota.”

Kepada SH, Sekretaris P3UW Nafian Faiz mengaku memang pernah ada ormas dan partai politik tertentu yang menawarkan bantuan. Namun janji bantuan tidak pernah ada yang beres, sehingga P3UW kecewa. ”Kami belum merasakan pihak-pihak itu membantu. Jadi kami tidak mengharapkan orang luar,” tegas Nafian.

Namun dari sini jelas terlihat, Dipasena sasaran empuk. Ini bagai bom waktu yang siap meledak, kalau tidak segera ditangani secara nasional. Waktunya tak lama lagi, sebab 2002 sudah diambang pintu. Lebih-lebih mendekati ajang politik Pemilihan Umum Tahun 2004. Sudah barang tentu, para kontestan bersiap-siap dari sekarang mengincar.

Terlepas dari perselisihan penyerahan aset dari Sjamsul Nursalim kepada Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), yang jelas ini adalah aset negara yang harus diselamatkan karena puluhan ribu orang bergantung kepadanya. Sebab masalah penyerahan aset, termasuk Grup Dipasena di dalamnya sudah mirip ayam dan telur. Tentu kita tidak bisa terus berputar-putar, bukan saatnya mencari-cari kesalahan lagi. Sebelum lebih hancur, pemerintah, silakan beradu cepat dengan para pembawa kepentingan ini! (bersambung)


Sinar Harapan edisi Selasa, 6 November 2001

Dipasena1

Bunyi Mesin Pengeruk Tak Terdengar

Laporannya sebanyak tiga tulisan diturunkan mulai Senin (5/11) ini. Red.

TULANGBAWANG – Kulkas, televisi, Video Compact Disc (VCD) Player nyaris menjadi pemandangan sehari-hari yang akan diangkut kapal cepat (speed boat) ke pemukiman para petambak Bumi Dipasena. Tentu ini membuat hati bertanya-tanya setelah sepanjang puluhan kilometer perjalanan tergoncang-goncang di jalan penuh lubang dan tak rata.

Tanggul Penangkis nama tempat itu. Di sini bersandar beberapa kapal cepat (speed boat) yang menjadi taksi air. Inilah satu-satunya alat angkut ke pemukiman petambak, karena rumah-rumah mereka berada di pinggir tambak dengan jalur-jalur kanal (semacam sungai) buatan.

Adalah Kanal Umum di mulut Tanggul Penangkis itu yang menghubungkan aliran Sungai Mesuji di perbatasan Sumatera Selatan dengan Sungai Tulangbawang. Dari Kanal Umum ini terbentang belasan ribu petak-petak tambak pada 16 blok.

Setidaknya ada 16 kanal yang memisahkan blok-blok areal tambak itu. Masing-masing blok terkecil (Blok Nol atau Blok Kosong) 194 lot, 400 lot, 500 lot, 600 lot, hingga terbesar 700 lot. Tiap blok masih ada kanal-kanal kecil yang dinamakan jalur yang memisahkan satu jalur tambak dengan jalur lain dalam satu blok.

Pada jalur inilah berjajar rumah para petambak. Di salah satu rumah panggung itu diperdengarkan VCD lagu-lagu rohani. ”Ini hasil tebar mandiri,” ujar Tri Winarno salah satu petambak plasma PT Dipasena Citra Darmaja (DCD) ketika SH memasuki rumah panggungnya.
Ia mengaku dari hasil tebar mandiri yang sekarang dilakukan olah para petambak plasma, ia dapat membeli VCD beserta televisi ukuran 24 inci. Belum lagi sepeda motor yang diojekkan, kulkas dan berbagai barang yang tergolong mewah itu.

Demikian pula, ketika SH mendatangi kediaman Ketua Perhimpunan Petambak Plasma Udang Windu (P3UW) yang baru, Abdul Syukur. Televisi berwarna dan VCD Player seakan menjadi perangkat standar pada rumah-rumah panggung itu.
Ini adalah potret sekian petambak yang berhasil membudidayakan udang secara mandiri sesuai dengan keputusan Gubernur Lampung per tanggal 8 November 2000. Di antara mereka ada sekitar 7.000 petambak plasma anggota P3UW, tentu tak semuanya berhasil. Namun paling tidak, ada gambaran umum peningkatan kesejahteraan yang mereka rasakan.
”Tentu mereka bisa membeli barang-barang itu karena mereka tidak lagi membayar cicilan utang dan bunganya,” lontar seorang petambak yang minta identitasnya tidak disebutkan.

Lembaga Ekonomi
”Kami merasakan nikmatinya tebar mandiri. Dengan tebar mandiri ini kami mengelola ekonomi kerakyatan. Sekarang bagaimana memanfaatkan suasana seperti ini sebesar-besarnya untuk kepentingan anggota. Maka sebelum ada keputusan, kami akan memanfaatkan tebar mandiri,” ujar Nafian Faiz, yang terpilih kembali menjadi Sekretaris Badan Pengurus Pusat (BPP) P3UW 10 Oktober lalu.

Ia menjelaskan, saat ini organisasi yang membawahi 8 infra (setiap dua blok memiliki satu infra yang sekaligus menjadi wilayah administratif desa) ini telah memiliki Lembaga Ekonomi (LE) P3UW.

Kantor LE-P3UW yang terletak di Tanggul Penangkis itu kini menjual benur, pakan dan obat-obatan untuk memasok tebar mandiri.
”Lembaga ekonomi ini nantinya merupakan koperasi plasma, sekarang dalam persiapan tahap akhir ke arah sana. Lembaga Ekonomi ini diharapkan menjadi tulang punggung perekonomian plasma,” tutur Nafian yang ditemui di Sekretariat P3UW di Blok VI Bumi Dipasena itu.

Padahal ide kemitraan inti-plasma pun semula diharapkan untuk menumbuhkan perekonomian rakyat ini. Sebab dengan kemitraan, plasma nantinya akan menjadi pemilik tambak yang dikelolanya setelah kredit investasi dan kredit modal kerjanya lunas, bukan orang upahan yang bergantung pada alat produksi sang majikan. Sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Pertanian Nomor 334 tahun 1986 dan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 509 tahun 1995.
”Tapi riil di lapangan, yang namanya kemitraan tidak pernah membuat kami sejahtera. Itu yang membuat kawan-kawan berpikir bagaimana caranya untuk meningkatkan derajat hidup. Tapi tidak tertutup kemungkinan kemitraan itu ditata ulang,” tukas Nafian.

Terlepas dari niat baik kemitraan itu, yang terang saat ini di lapangan sudah terjadi proses pendidikan kemandirian ekonomi rakyat. Nafian sepakat menjalankan perekonomian inilah yang diutamakan.
”Bisa kita bicarakan. Asal perusahaan jangan bicara soal birokrasi dulu. Tapi apa yang ke depan bisa kita harapkan. Karena ada trauma masa lalu, kami pernah disakiti, di-PHK (pemutusan hubungan kerja) dan sebagainya,” tandas petambak plasma yang terkenal vokal ini.
Pihak manajemen pun sepakat dengan menjalankan perekonomian dulu dan menyingkarkan masalah pokoknya dulu. Mereka mengaku tidak hanya setuju dengan tebar mandiri, tapi juga bersedia menyediakan pakan dan benurnya.

”Pakan dan benur kami sediakan secara cash atau kredit lewat koperasi, asal udangnya dijual ke perusahaan. Perusahaan akan membelinya dengan harga pasar. Tapi ini tidak jalan,” jelas Pimpinan Kantor Lokasi CDC, Ferry L. Hollen yang menerima SH di kantor pusat DCD di Jakarta.
Menurut penelusuran Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandar Lampung, ternyata memang ada pembatasan mutu yang dipersyaratkan manajemen. Ini bisa dimaklumi karena udang black tiger itu merupakan komoditi ekspor yang perlu memenuhi persyaratan ukuran (size) tertentu.
”Pembatasan-pembatasan ini bisa memecah belah P3UW, sehingga tidak diterima. Sehingga penjualan kepada Inti hanya berlangsung sebentar. (Petambak) Plasma langsung menjualnya ke pasar bebas karena dianggap menguntungkan, semua ukuran diterima,” terang Kepala Operasional LBH Bandar Lampung, Watoni Noerdin yang juga menjadi Tim Penasihat Hukum P3UW.

Pendangkalan
Kalau mau jujur sebenarnya tebar mandiri baru menyelamatkan ‘masalah perut’ sebagian dari petambak plasma, namun tak sepenuhnya menyelesaikan masalah DCD. Tebar mandiri bisa dibilang sekedar menunda masalah.
Tebar mandiri baru sekedar memanfaatkan petak-petak tambak, namun tidak menggerakkan roda perusahaan. Sebab dalam struktur DCD ada enam anak perusahaan, yaitu dua pembibitan benur yang dilakukan PT Biru Laut Khatulistiwa dan PT Triwindu Grahamanunggal, dua tambak pembesaran oleh DCD dan PT Wachyuni Mandira, pabrik pakan PT Bestari Indoprima dan pengapalan PT Mesuji Pratama Lines. Kesemuanya menurut Perjanjian Pengembalian dana BLBI dengan jaminan aset (Master of Settlement and Acquisition Agreement/MSAA)
”Biaya operasinya sangat besar. Untuk listrik di jalur (tambak) saja 76 persen. Maka secara cashflow (arus kas) terlalu berat,” kata Ferry lagi.

Masalahnya bukan sekedar itu saja, tapi lebih pada efek bergandanya. Setiap satu komponen perusahaan macet, berarti ada sekian ratus bahkan ribu tenaga kerja yang menganggur, tidak ada pendapatan dari perusahaan, tidak ada pajak untuk pemerintah, tidak ada pembelanjaan untuk pasar sekitarnya, dan seterusnya. Ujung-ujungnya merugikan perekonomian secara keseluruhan.
Lebih dari itu, macetnya perusahaan ini juga mengakibatkan tidak terawatnya kanal-kanal. Ilalang setinggi manusia, limpahan lumpur muara Sungai Mesuji maupun Sungai Tulang Bawang dan sebagainya.

”Dengan tidak terawatnya saluran pemasukan dan pengeluaran akan sangat mempengaruhi terjadinya pendangkalan dan kami khawatir air yang masuk tidak layak untuk sebuah tambak. Posisinya sekarang, areal tambak ini lebih tinggi dari air laut, sehingga sirkulasi air tidak memadai. Ini akan sangat mempengaruhi kualitas udang yang dihasilkan,” papar Watoni, yang sebagai penasihat hukum turut mengikuti perkembangan kliennya di lapangan.
Hal yang senada diutarakan P. Hutagalung, Koordinator Plasma Peduli yang terusir dari Blok VIII karena tidak sealur perjuangan dengan P3UW. Ia berpendapat, pemeliharaan kanal merupakan hal yang tidak bisa ditawar, karena budidaya udang membutuhkan tingkat keasaman (ph balance) tertentu.

Ia mengaku tidak lagi melihat mesin pengeruk yang biasa digunakan untuk mengatasi pendangkalan kanal. Ia juga tidak melihat pemeliharaan pemasukan air tawar dari Sungai Mesuji dan keluar-masuk air laut yang dikontrol secara otomatis.
Artinya, dengan tebar mandiri baru sebagian petambak plasma yang terselamatkan untuk sementara ini. Masih jauh panggang dari api untuk menyelesaikan masalah Dipasena yang sudah bertumpuk-tumpuk dari tahun 1998 itu. Tebar mandiri belum memberi solusi bagi sekitar 11.000 karyawan, petambak lain yang tidak sealur dengan P3UW, dan bergeraknya roda perusahaan.
Terlepas dari perselisihan masalah penyelesaian kewajiban bos kelompok Gajah Tunggal, Syamsul Nursalim, Dipasena secara hukum berada dalam kekuasaan pemerintah melalui Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BBPN). Diharapkan BPPN-lah yang kembali mengurai benang kusut persoalan Dipasena ini.

Kepada SH, Ketua BPPN I Putu Gede Ary Suta mengatakan, ”Pemerintah juga tidak ingin proses produksi terhenti. Buat apa kita melihat pabrik gagal produksi semua? Kita harus menghidupkan pabrik-pabrik, karena penggangguran sudah semakin meningkat, recovery rate juga rendah. Apa mau jadi besi tua? Kan tidak.”

Maka Putu mengajukan konsep langkah-langkah yang mempercepat restrukturisasi. Karena banyak proyek-proyek di BPPN yang banyak menyerap tenaga kerja, yang investasinya sudah dilakukan, dan hanya tinggal di-restructure sudah bisa berjalan lagi.
”Nah sekarang ini kita harus mengambil langkah-langkah dengan dukungan dari pemerintah dan pimpinan kita untuk kurang lebih memberikan payung dalam pelaksanaannya. Kita membutuhkan suatu payung yang bisa memayungi, melindungi langkah-langkah yang akan diambil. Sehingga hambatan-hambatan atau hal-hal yang memperlambat restrukturisasi bisa diatasi,” tutur Putu.
Mudah-mudahan upaya ini bukan sekedar menegakkan benang basah. Semoga! (bersambung)


Senin, 5 November 2001 Copyright © Sinar Harapan 2001

Wednesday, May 9, 2007

“Herzliche Gruesse”

Pameran Unik Mengalami Bahasa dan Budaya Jerman

JAKARTA – Pameran bahasa. Dapatkah Anda bayangkan bagaimana menyajikan bahasa sebagai bahan pameran?
Bahasa biasanya dipahami secara struktur kalimat dan bunyi, kini harus tampil dalam bentuk visual. Memvisualisasikan bahasa adalah jawaban dalam pameran yang bertajuk Herzliche Gruesse (Salam dari Jerman) ini.
Pameran ini mengajak pengunjung mengalami berbahasa Jerman secara unik. Pengunjung diajak melihat, mendengar, membaca dan merasakan bahasa yang konon terkenal sulit ini dalam bilik-bilik yang dipamerkan.
Bilik pertama berwarna biru (Blau) yang mengajak mengerti bahasa Jerman dengan rasio. Anda akan disambut dengan permainan silinder paduan kata yang dapat diputar secara horisontal. Apabila warna di tengah menghasilkan warna yang serupa dan segaris mendatar, Anda mendapatkan jawaban yang benar. Dari silinder permainan kata ini pengunjung berkenalan dengan artikel khas bahasa Jerman, Die, Der, Das untuk kata benda feminin, maskulin dan netral.
Di sini pula Anda akan menemui huruf vokal khas Jerman, a, u, o dengan titik dua di atas, yang dikenal dengan umlaut. Sayangnya, keyboard Melayu tak mengenal abjad macam ini, juga ss (dobel s) yang ditulis seperti huruf B dengan ekor ke bawah.
Dalam sambutan pembukaan pameran, Wakil Duta Besar Republik Federal Jerman, Hermann Sausen sempat bercanda mengenai analisis psikolog Amerika. Psikolog itu menilai suasana gundah pada orang-orang Jerman karena banyaknya umlaut yang diucapkan.
Di dalam bilik biru ini pula terdapat gambar yang menunjukkan kata kerja-nya. Seperti melihat (sehen) yang dilanjutkkan dengan grammar struktur kalimatnya.
Lalu ada lempeng-lempeng kotak bergambar yang dihubungkan dengan pipa sehingga bisa diputar vertikal. Lempeng ini menggambarkan kehidupan dan budaya Jerman.

Merah dan Kuning
Berikutnya adalah bilik berwarna merah (Rot) yang melambangkan emosi. Di sini kita diajak mengenal bahasa Jerman lewat perasaan.
Maka yang ditemui pertama adalah bait sajak pujangga Jerman, seperti Johann Wolfgang von Goethe. Tidak ketinggalan lirik lagu dan musik di samping sebuah layar yang menyajikan film bisu masih hitam putih.
Yang menarik di dalam bilik ada sederet gambar mulut dengan senyuman-senyuman yang khas. Tentu saja pemiliknya adalah tokoh-tokoh asal Jerman yang terkenal, misalnya pembalap Formula 1 Michael Schummacher.
Dari perasaan, kita menuju bilik kuning (Gelb) yang menitikberatkan pada masalah komunikasi. Maka kita bertemu dengan sapaan-sapaan yang khas Jerman. Kemudian kartun dan media massa Jerman mewakili gambaran penggunaan bahasa Jerman di sini.
Seperti di bilik yang lain, film selalu menyertai. Di bagian belakang bilik kuning ini menampilkan film 50 tahun periklanan di Jerman (50 Jahre Werbung in Deutschland) dengan durasi 9:45 menit.

Rumah Keong
Selanjutnya kita menuju Suara Keong (Klang Schnecke) yang berbentuk labirin mirip rumah siput. Ketika tanda hijau seperti di lampu penyeberangan menyala, silakan berjalan perlahan dan mengikuti suara yang datang dari speaker di lantai rumah keong itu.
Anda akan merasakan suasana seperti di pedesaan Jerman dengan kukuruyuk ayam yang terdengar. Ada pula situasi yang serasa kita di tengah hiruk-pikuk stasiun kereta bawah tanah (U Bahn).
Keluar dari sana, kita bertemu dengan bilik yang berbentuk segi enam bertajuk Figur Jerman (Deutschland Bilder). Selain foto-foto kehidupan di Jerman, bilik ini menyajikan angka-angka statistik sekaligus peta 16 negara bagian Jerman yang berwarna-warni membentuk semacam puzzle.
Terakhir adalah semacam dinding dengan kontur bergelombang yang dinamai Uebrigens Welle. Dinding berupa lempeng-lempeng kotak dengan gambar yang mewakili dunia luar yang berhubungan dengan Jerman.
Pada salah satu dindingnya ada konfigurasi huruf yang mengisahkan gambar yang dimaksud. Misalnya huruf-huruf Die Zeit Verrint (Waktu berjalan) yang membentuk jam pasir atau huruf Apfel yang berbentuk buah apel.
Tak lupa ada papan teka-teki silang pada sisi luar bilik. Tentu saja teka-teki itu berbahasa Jerman pula.
Ide kreatif memvisualisasikan Bahasa Jerman ini telah dipamerkan di berbagai negara. Sebelum di Jakarta, pameran serupa digelar di Singapura dan Malaysia. Pameran ini digelar di Galeri cipta II Taman Ismail Marzuki, Cikini Raya Jakarta. Pameran akan berlangsung setiap hari pada pukul 9-21 tanggal 7-16 April 2004.
Panitia menjanjikan berbagai hadiah menarik bagi yang berhasil menjawab permainan-permainan unik dalam bahasa Jerman itu. Jadi, Berbahasa Jerman, kenapa tidak? Deutsch warum nicht? Sembari dalam hati bertanya kapan ya, bahasa Indonesia bisa divisualisasikan begitu rupa sehingga menarik dan unik? (SH/mega christina)

10 April 2004

Puisi Bergambar dalam Film-film Joris Ivens

JAKARTA – Hujan. Sebuah fenomena alam biasa ini menjadi tidak biasa di tangan Joris Ivens. Melalui kameranya, Ivens merekam peristiwa keseharian itu bak puisi bergambar. Dalam kebisuan warna hitam putih, dia bercerita begitu puitik.
Regen
(Hujan) adalah film pendek 12 menit yang dibuat Ivens tahun 1929. Untuk film yang ”hanya” sependek itu, ia menghabiskan waktu nyaris dua tahun guna mengambil gambar hingga mengeditnya. Ivens mendaulat dirinya menjadi ”pengamat hujan”. Selama waktu itu ia pergi ke mana-mana dengan dua kamera siap rekam dan jas hujan di tangan.
Ia membuka Regen dengan awan putih berarak yang terefleksi dari ketenangan air kanal-kanal Amsterdam. Gambar berpindah ke pepohonan yang terterpa angin, tenda kanopi yang berkibar-kibar, kawanan burung terbang hingga awan bergumpal-gumpal mengirim pertanda akan hujan.
Kini titik-titik air jatuh menimpa air kanal dan jalanan. Titik-titik air yang membentuk gelombang-gelombang longitudinal kecil beraturan. Langkah-langkah orang tergesa, berlarian kecil, menaikkan krah mantel dan merapatkannya, menghindari rintik hujan. Gumpalan awan menghitam.
Jendela-jendela ditutup. Aspal basah merefkleksikan roda-roda kendaraan di atasnya.
Air yang menggenangi jalan perlahan mengalir ke lubang selokan bawah tanah. Talang memuntahkan air menjadi pancuran.
Titik-titik air memburamkan kaca. Titik-titik air jatuh dari ujung-ujung payung yang mengembang. Puluhan payung terkembang. Dari atas payung hitam ini tampak seperti jamur yang bergerak di tengah kerumunan orang.
Titik air membentuk gelembung-gelembung dengan gelombang longitudinal yang kian membesar. Air bak meleleh di permukaan kaca.

Bagai jari-jari, air menuruni tembok-tembok gedung. Titik air merayap membentuk garis diagonal seperti anak kecebong melata di atas permukaan kaca trem yang bergerak.

Permukaan kanal perlahan tenang merefleksikan suasana yang kembali terang. Pelan-pelan awan berarak-arak menyibakkan sang mentari bersinar.

Sebuah pergantian suasana yang terekam indah. Tak heran Ivens menghadapi masa yang sulit untuk memilih gambar, karena dia begitu mencintai semua footage yang direkamnya.

Regen
hanya satu di antara sekian film-film pendek buah karya Ivens yang begitu jeli, detail dan cermat. Bersama De Brug (Jembatan) dan Indonesia Calling, ia diputar di Erasmus Huis dalam rangkaian Jakarta International Film Festival (JIFFEST) ke-5 di Jakarta minggu lalu.

Solidaritas pada Indonesia
Nama Ivens patut mendapat tempat tersendiri dalam sejarah perjuangan pasca kemerdekaan Indonesia. Dengan mengangkat kamera membuat Indonesia Calling, ia menyatakan solidaritasnya pada Indonesia dan mengundurkan diri sebagai Komisioner Film pada Pemerintahan Belanda tahun 1946.
Berbeda dari gaya puitik yang bercerita dalam kebisuan gambar, dalam Indonesia Calling Ivens tampak lugas dan tegas. Dalam film pendek 22 menit itu juga dilengkapi dengan narasi yang menunjang pesan tandas, kemerdekaan bagi Indonesia.
Ivens menggambarkan pemuda Indonesia di Australia yang mendapat dukungan perjuangan Serikat Pekerja Pelabuhan dan Pelaut setempat. Bahkan di akhir film, mereka berhasil menghentikan kapal berbendera Belanda yang membawa amunisi menuju Indonesia. Ini terjadi berkat solidaritas pelaut India yang hengkang meninggalkan kapal besar itu.
Film ini demikian terkenal, lantaran telah menyebabkan Ivens menjadi persona non grata bagi Pemerintah Belanda. Gara-gara paspor Belandanya disita, ia lantas tinggal di Eropa Timur dan membentuk beberapa serikat pekerja film di sana sejak tahun 1947.
Tahun 1955 Ivens menerima World Peace Prize. Dua tahun kemudian ia tinggal di Paris serta memenangkan Golden Palm di Cannes dan Gate Award di San Fransisco.
Baru tahun 1964 untuk pertama kalinya terselenggarakan resepsi festival di Amsterdam secara hati-hati bagi pemulihan dengan negeri kelahiran Ivens. Setelah memenangkan berbagai penghargaan di berbagai belahan dunia, tepat di usianya ke-90, Ivens menjadi warga kehormatan kota kelahirannya, Nijmegen.
Sebelum meninggal, Ivens sempat menerima anugerah Knighthood in the Order of the Dutch Lion. Pembuat film yang luar biasa ini menutup mata di Paris, 28 Juni 1989 dalam usia 91 tahun.
Kejelian dan kecermatannya dalam membuat gambar, patut menjadi contoh bagi sutradara film pendek Indonesia. Dedikasi dan kerja kerasnya pantas diteladani. (SH/mega christina)

Sinar Harapan Jum'at, 24 Oktober 2003