Tuesday, April 10, 2007

Makna Kehilangan

Kehilangan bisa menjadi relatif, manakala berhadapan dengan 'total lost'.
Ini terjadi usai keliling dari daerah banjir siang hingga malam, kurang konsentrasi, lelah dan lapar, telpon genggam lepas dari genggamanku. Tapi kehilangan Nokia 7610 yang kubeli Oktober 2005 menjadi seperti 'tidak ada arti' dibanding kehilangan yang menimpa korban-korban banjir, yang tak sempat menyelamatkan harta-bendanya.
Kehilangan juga menjadi relatif, karena toh 'cuma' benda yang bisa dibeli lagi. Meski ada foto di Berlin dan foto anak angkat serta beberapa data yang belum kupindah, itu tetap sebuah benda tak bernyawa.
Kehilangan menjadi kian relatif manakala menjadi semacam tanda untuk melepas masa lalu. HP itu kubeli karena ada call manager yang bisa reject nomor-nomor tertentu.

Jakarta; Sabtu, 10 Februari 2007

Language Without Words

It seems impossible. But it did!
Aku percaya orang bisa berkomunikasi tanpa perlu berkata-kata, meski ini 'bertentangan' dengan pekerjaanku yang berurusan dengan bahasa dan aksara. Sehari-hari kerjaku menguntai kata menjadi tulisan.
Namun dalam relasi keseharian, dengan anak-anak kerapnya, mimik dan bahasa tubuh (gesture) jauh lebih mudah ditangkap. Pada orang-orang dengan 'frekuensi' yang sama dan perasaan aman, bahasa tanpa kata bukan mustahil.
Di balik kata-kata, sesuatu yang latent dari yang manifest ini juga memainkan intuisi, bukan pembaca pikiran (mind reader). Apalagi bila ini berurusan dengan hal-hal yang ingin disembunyikan, seperti ketidakjujuran, kesedihan dan berbagai perasaan negatif lain.
In silentio veritas revalat, dalam diam kebenaran menemukan benderang jalannya sendiri!

Jakarta, 12 Desember 2007

Intimidasi Sosial

"Kapan undangannya? Sudah berkeluarga?" pertanyaan-pertanyaan halus sampai terang-terangan seputar status perkawinan menjadi semacam intimidasi sosial bagi perempuan lajang. Anehnya laki-laki lajang jarang mendapat intimidasi semacam ini. Seakan mereka memiliki priviledge lebih untuk melajang.
Tampaknya ada tabu sosial untuk menjadi perempuan lajang. Ini tampak dari julukan perawan tua, dll. Sementara bujang lapuk jarang dipermasalahkan. Sebuah bias gender! Lebih dari itu, ini sebuah pelanggaran privacy yang sepertinya biasa di adat timur.

Jakarta, Desember 2006

Out of the Box

Setelah beberapa tahun 'absen' dengan kegiatan AJI (Aliansi Jurnalis Independen), mengikuti Training Investigasi Skandal Keuangan Daerah menjadi semacam out of the box, keluar dari rutinitas keseharianku.
Secara teori dan pengalaman Desk Khusus, aku banyak belajar investigasi. Namun refreshing dan menambah ilmu adalah kenicayaan. Selain itu aku butuh keluar dari suasana kantor sejenak. Sejak masuk 'Tim Kecil' bikin business plan, hidupku nyaris rutin antara kost dan kantor. Cuma dua arah dalam seminggu pertanda buruknya kualitas kehidupan sosial. Meski kadang jalan-jalan dengan Ida, ke Keluarga OY di Tibet maupun Gajah di Cikokol.
Ini menjadi semacam 'menentang' rasa imun harian yang bikin tumpul pikiran. Refreshing ilmu macam begini perlu untuk 'mengolah' rasa sensitif terhadap masalah yang semula terlihat biasa-biasa.

Jakarta, 1-3 Desember 2007

Hectic

Kembali ke Jakarta, begitu membuka mata terasa berbeda. Bangun, isi kepala langsung 'berputar' pada pekerjaan, aktivitas-aktivitas impersonal yang rigid dan rasional. Apalagi keluar rumah, busway berpacu dengan kendaraan-kendaraan lain.
Semua bergerak serba cepat, saling serobot, tak ada yang mau menunggu barang sedetik pun. Apalagi bicara kompetisi, seolah semua takut tak kebagian di setiap sudut kehidupan metropolitan ini.
Jakarta mengkondisikan penghuninya tak bisa diam, karena takut dilibas. Hectic, selalu sibuk.
Gelap malam juga terasa meluncur dengan lebih cepat di Jakarta. Tak ada temaram senja di ufuk langit seperti di Pantai Kuta kemarin. Tak ada 'perhentian' jeda-jeda romantis alam. Jakarta seakan 'memaksa' senantiasa bergerak.
Hingga akan memejamkan mata lagi, orang terlalu sibuk bergerak, sehingga tak sempat berpikir untuk apa semua ini? Apa arti hidup ini? Sebuah aktivisme?

Jakarta, 28 November 2006

Welcome to My Paradise

Mendarat di Bali untuk benar-benar liburan, baru kali ini kulakukan. Denyut Sanur tanpa kemacetan, tanpa hentakan gas kendaraan yang terburu-buru, tanpa lengkingan klakson, tanpa motor yang berkejaran di garis stop traffict light. Dari cara berlalu-lintas saja, terasa detak jantung Bali berdetak
tenang, tanpa ketergesaan Jakarta, tanpa serobot-serobot ketidakpastian. Ada kesantunan, tapi juga detak yang melambat merambati waktu low season pasca Bom Bali II.
Langgam orang Bali yang mengedepankan adat dan ritus
menjadi bagian ketenangan, bergerak santai mengikuti alam. Apalagi hidup agraris, nelayan dan seniman yang bergantung pada kemurahan alam dan seni.

Bali, 24-27 November 2006 bersama Mc

Black Ice

Inilah salju pertama, riil di depan, aku menyentuh, tersentuh dan menginjaknya. Salju putih lebat mengambang di udara mendung, melayang-layang bak kapas menari di tengah suhu dingin dan kelabu lantas mendarat, menumpuk putih bersih bak hakikat alam ini.
Namun pada bagian jalanan yang terinjak-injak atau tergilas roda-roda, salju putih mencair dan kadang membeku menjadi lapisan es yang menyatu dengan legam aspal atau beton trotoar, tak nampak. Tapak-tapak 'intervensi' manusia merusak putih bersih salju menjadi seperti kehitaman. Inilah black ice yang baru pertama jali kukenal di musim dingin negara subtropik.

Berlin, akhir November 2005