Tuesday, April 10, 2007

Necklace

Untaian kalung pada leher nan jenjang akan terlihat indah. Cantik, cuma itu fungsinya.
Perempuan kerap difungsikan sebagai kalung, look nice. Cuma itu, tidak diharapkan bersuara, apalagi mengeluarkan pendapatnya.
Aku paling membenci hal ini. Cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada. Aku sangat menghargai dan membela hak untuk menyuarakan pendapatku, baik secara lisan maupun tulisan seperti di blog ini.

Jakarta, 7 April 2007

Man for Others

Selalu ada hikmah di balik bencana, blessing in disguised, tak ada yang absolut hitam-putih. Ada penolong-penolong kehidupan di tiap bencana yang merenggut nyawa. Ada kekuatan dan energi solidaritas dahsyat dari bangsa yang dicap salah satu paling korup dan menuju individualsme yang egosentrik. Ada kohesivitas di tengah anakhisme sektarian yang memecah belah.
Memang jauh di lubuk hati tiap manusia tertanam gerakan untuk selalu 'keluar' dari dirinya, memberi arti bagi kehidupan, bermakna bagi sesama.

Pasca Gempa Yogya, 27 Mei 2006

Investment Habit

Aku ingat betul ketika Sekolah Dasar, angpao Imlek kami (aku bersaudara) Mama belikan emas. Ada kalanya angpao juga dijadikan modal untuk membeli segulung kain seragam oleh mama. Lantas Mama menjualnya di toko dan menyisihkan hasilnya. Ternyata per meter aku cuma mendapat Rp 25 (tahun 1980-an awal), selisih dari yard ke meter. Sebuah keuntungan yang sangat tipis, namun dari sini aku menghargai nilai uang. Marjin keuntungan yang begitu cekak, cuma pedagang yang ulet saja yang bertahan mengumpul sen demi sen! Maka Mama mengajarkan angpao sebagai uang bonus musti diperlakukan sebagai modal, uang yang bekerja, sebuah investasi.
Sementara hari pertama Idul Fitri selalu kulihat anak-anak dari keluarga sederhana memenuhi supermarket membeli makanan dan minuman ringan, junk food yang tidak bergizi. Anak-anak ini tidak diajari untuk menabung, apalagi memutar uang sebagai modal. Anak-anak ini justru dibuai konsumerisme yang nantinya akan menyengsarakan mereka. A demand create!

Jakarta, November 2005

Tuesday, April 3, 2007

Multidimenstional Man

Membaca kembali perjumpaan dengan Mc selama lima tahun, terasa sekali betapa seorang manusia sangat multidimensi. Ibarat mengupas bawang, mengenal manusia makin masuk ke dalam, kian tak terhingga. Bak faset berlian, dimensi manusia ada yang berkilau terang gerlap-gemerlap, namun ada juga sisi gelap yang tak tertimpa terang nan Ilahi.
Ini menjadi refleksi betapa manusia menjadi pantulan kedekatan dengan energi prima. Kendati mencapai kedalaman, tetap manusia adalah misteri tersendiri. Kendati ada yang mengatakan kromosom xx perempuan lebih kompleks, toh makhluk berkromosom xy bernama laki-laki pun tak 'bertepi'. Sebagian mengatakan pria lebih bisa diprediksi, tak jarang tidak juga. Manusia tetap
penuh misteri. Benarlah dalam air dapat diduga, dalam hati siapa yang tahu?

Jakarta, 6 Desember 2006

Keterpisahan

Aku memahami kematian sebagai keterpisahan secara fisik belaka. Wadag, badan kasat yang meninggalkan jiwa, melepas keterkungkungan dalam raga yang lemah. Sementara jiwa abadi, kendati aku tak paham dia di mana.
Ketidakhadiran fisik yang bisa disentuh, dicum, dibaui, dilihat, didengar apalagi dipeluk dan dibelai dengan panca indra, memang tak mudah diterima. Ada semacam 'keterlemparan' dari hiruk-pikuk dunia menghadapi keterpisahan fisik ini.
Namun keterpisahan menjadi pilihan yang jauh lebih baik daripada sebuah kebersamaan dalam penderitaan dan kesakitan salah satu di antara kita. Kematian melepas rasa sakit, menghentikan penderitaan menjadi pelepasan yang melegakan. Terkadang Thanatos menjadi demikian indah mempesona daripada hidup yang berlumpur penderitaan tak tertahankan. Namun inilah dharma, bertahan hidup dalam kebaikan.

Perpisahan dengan Mama Uwe
RIP 13 Februari 2007

Mechanic Way

Pembantuku mengaku membuang sewing kit yang dikembalikan oleh tetangga kamar di atas kotak sepatu depan kamarku. Biasanya aku meletakkan pakaian untuk dicuci atau barang untuk kuberikan padanya di situ.
Aku tidak habis pikir dia membuang sewing kit yang lengkap dan kukumpulkan dari berbagai hotel berbintang. Bukankah barang itu tidak rusak, malah masih berguna? Kalaupun barang itu dia ambil, tidak masalah. Setidaknya barang itu masih ada faedahnya.
Aku jadi ingat omongan Mamaku, "Kalau dia pandai, dia tidak mau menjadi pembantu". Bagiku ini tidak berlaku untuk pembantuku. Selama ini dia cukup trampil dan cerdas untuk ukuran rata-rata pembantu. Makanya aku tak habis pikir dia sembrono membuang barang yang berguna begitu saja.
Bagiku ini lebih pada cara mekanis, kayak mesin, kayak robot, yang tidak pikir panjang. Kemalasan untuk berpikir panjang, care & concern terhadap faedah barang.

Jakarta, 31 Maret 2007

Sunday, April 1, 2007

Sosialisme Never Die

Aku tak yakin diriku sosialis! Yang kutahu, yang kucita-citakan tersirat dalam ide-ide sosialisme, yakni sebuah masyarakat egaliter yang menjunjung kebersamaan, solidaritas dan keadilan sosial-ekonomi-politik dengan mempersempit disparitas hingga menghilangkan alienasi manusia. A never ending goal!
Karena itu aku tak percaya sosialisme akan mati. Mungkin partai-partai bertumbangan (fenomena di Eropa), tapi sebagai sebuah cita-cita, aku yakin sosialisme belum mati. Bagai kecambah, dia tumbuh dalam jiwa setiap aktivis, terutama di negara-negara miskin seperti 'remuk republik' Indonesia ini.
Mereka yang menyebut dirinya aktivis, setidaknya pernah 'melahap' buku-buku kiri macam Soe Hok Gie. Teori-teori Marxisme setidaknya menjadi pisau analisa membedah borok-borok kapitalisme/liberalisme. Teori ini akan terus dimodifikasi, disesuaikan dengan zaman dan bumi yang dipijak. Lebih dari itu, dalam jiwa setiap orang tersirat pasti senantiasa tersirat pembebasan.
Bukankah tak ada sebuah sistem yang absolut?

Jakarta, 7 November 1999