Sunday, April 1, 2007

Umur Sosiologis & Kawin

Umur sosiologis kepala tiga bisa dibilang masih muda, mengingat ini baru setengah usia rata-rata harapan hidup di Indonesia. Namun secara biologis, kepala tiga usia yang telah matang bagi perempuan untuk mengakhiri masa lajang. Bahkan secara biologis pada usia belasan, perempuan telah siap untuk kawin.
Masalahnya kawin tak hanya menuntut kesiapan biologis semata! Dalam masyarakat modern-kosmopolitan, perempuan sebagaimana laki-laki perlu memiliki akses penguasaan sumber daya sosial, ekonomi, bahkan politik berupa ilmu, skill maupun profesi dan kedudukan tertentu. Tanpa itu semua, perlu akan cenderung kembali 'terlempar' ke sektor domestik.
Sementara itu dalam norma konvensional dan secara tradisional, orang 'dipaksa' untuk menerima lembaga perkawinan/keluarga. Hidup lajang secara sosiologis seakan berada di luar tatanan keluarga tradisional.

Jakarta, 2000-an awal

EMOSI NEGATIF

Benarlah adanya, pertempuran yang paling dahsyat adalah perang melawan diri sendiri, melawan perasaan negatif. Melelahkan dan harus dihadapi sendiri. Tak ada seorang paling baik pun yang dapat 'menolong'. Tak heran, di antara elan perjuangan hidup, selalu terselip 'bahaya laten' thanatos keinginan mati untuk mengakhiri peperangan.

Perasaan-perasaan manusiawi seperti keresahan, kesepian, sedih, gundah, marah akan nasib dan ketidakberdayaan menjadi 'kendaraan' emosi-emosi negatif yg menghanyutkan. Perang melawan emosi negatif ini jadi kian melelahkan, manakala 'mild autism' melanda, menolak interaksi dari luar.

Dalam 'Ancient Wisdom, Modern World' Dalai Lama mengatakan, "Kita merasa emosi yg menyiksa ini sedemikian kuat, maka walaupun tidak ada orang yang tidak menghargai hidupnya, mereka mampu membawa diri kita hingga ke titik kegilaan dan bahkan upaya membunuh diri sendiri. Namun karena ekstremitas seperti itu tidak lazim, maka kita cenderung untuk melihat emosi negatif sebagai bagian integral dari pikiran kita, yang terhadapnya kita merasa
tidak berdaya".

Dalai Lama menyarankan:

1. Proses melawan pikiran dan emosi kita dengan menghindarkan situasi dan aktivitas yang biasanya akan membangkitkannya.
2. Menghindari kondisi sesungguhnya yang dapat mengarah pada pikiran & emosi yang negatif.

Mawas diri adalah tugas seumur hidup, yang sanggup memiliki pengekangan diri yang tidak terbatas.

Jakarta, 27 Maret 2007

Be Thankful

Setiap akan berangkat tidur, tanpa doa yang khusuk, tak putus aku bersyukur atas seluruh anugrah hidup. Andaikata anugrah itu berupa barang, pasti bobotnya tak terhingga. Sayangnya anugrah kerap tak berasa dan kita tidak mawas untuk merasakannya.
Padahal oksigen gratis yang kita hidup, metabolisme ajaib triliunan sel tubuh, jutaan giga memori otak dan berbagai kerja tangan-tangan tak terlihat itu anugrah yang acapkali terlewat.
Belum lagi menjadi sedikit orang di antara 6 miliar warga dunia yang menikmati air bersih, listrik, melek huruf bahkan melek internet. Bukankah ini berkah luar biasa?
Apalagi lingkungan yang baik untuk tumbuh dan berkembang tetap kritis, bertemu banyak orang dari berbagai latar belakang dan ragam bangsa, bahkan berdiri tak jauh dari orang-orang nomor satu di beragam instansi nyaris setiap hari. Betapa karunia tak ternilainya.
Be thankful, Mega, be grateful!

Jakarta 31 Maret 2007

Structural

Dalam Asian Laity Meering (ALM) III di Sampran, Thailand, aku merasakan betapa pengalaman bersentuhan dengan grassroot yang miskin dan tertindas memang 'menggoda' untuk segera ditolong. Tak jarang secara eksistensial 'memaksa diri' untuk solider menjadi miskin.
Namun bagiku memperjuangkan orang miskin tak berarti harus miskin, kendati tak betul juga kalau bermewah-mewah. Pasalnya tanpa kemandirian finansial dan kerja profesional, perjuangan mudah 'dilacurkan'. Dengan kesadaran talenta analisa sosialku, aku lebih suka memperjuangkan secara struktural-sistemik yang holistik.
Aku ingin, meski tidak seperti kata Cacak bagai menarik seutas tali, tapi cara struktural dengan kebijakan menyeluruh dan perundangan lebih bersifat massif dan mengena banyak orang. Meski kadang birokratis, cara struktural efektif dan efisien.

Nakhom Pathom, 21 Maret 2001

Why journalist?

Sebagai freelancer, aku mendapatkan honor US$ setara dengan runner-up Miss Universe. Rasanya seperti mendapat gaji pertama dulu. Tapi toh, uang bukan segalanya. Pekerjaan ini tak memuaskanku.
Aku melakukan investigasi, wawancara dan menulis untuk klien tertentu, tidak untuk publik. Sebagai jurnalis, aku sadar akan hak publik untuk tahu (article 19 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia). Ini yang mendorongku kembali menjadi jurnalis fulltime, kendati ada tawaran lain dengan gaji yang jauh lebih tinggi.
Menjadi jurnalis bagiku 'mengabdi publik'. Dengan demikian aku loyal pada profesionalisme, bukan pada perusahaan. Jurnalis harus independen dalam bersikap maupun bekerja.

Jakarta, 11 Mei 2001

Adversity

Kendati bukan yang pertama, setiap pendakian gunung merupakan pengalaman tersendiri dan sangat berarti bagiku. Pendakian selalu kurasakan sebagai menakhlukkan diri sendiri daripada menakhlukkan alam yang dahsyat, terjal berliku, licin dan keras.
Bagiku penakhlukan ini merupakan tindakan aktif ketimbang reaktif, bahkan pasif menikmati alam.
Pencapaian puncak menjadi realisasi upaya gigih, bahkan bersakit-sakit meraih sesuatu.
Jer basuki mawa bea, Di Gunung Gede ini 'upahnya' riil, pemandangan yang maha dahsyat dengan tebing kawah bergurat, lembah hijau dan langit yang terasa dekat dengan awan-gemawan.
Pencapaian ini selalu memberi energi baru, seperti recharge untuk kembali menghadapi ruwetnya kehidupan ini.

Gunung Gede, 4-5 Juni 2007

Oasis

Ini sangat pribadi, aku merasa sangat beruntung dan bersyukur mendapat beberapa oasis dalam fase-fase hidupku. Ketika memilih menjadi Katolik dan bertemu pastor serta komunitas yang
mendukung kepedulian sosial serta kebiasaan membaca dari awal. Pengaruh
positif dan oasis masa remajaku.
Berikutnya pergumulan dengan gerakan mahasiswa dan aspek politik dari Cacak sejak SMP, sehingga aku langsung 'tune in' ketika kuliah. Juga ketika bergabung dengan GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) yang inklusif dan gerakan kiri yang melakukan pengorganisasian dan advokasi.
Saat menjadi jurnalis, AJI (Aliansi Jurnalis Independen) menjadi oasis yang tidak sekedar profesional, tapi juga organisasi perlawanan dan perjuangan melalui serikat buruh.
Lalu Madha (Mawas Diri Hanya Aksi) yang menjadi oasis mereguk energi baru di tengah rutinitas kerja.
Belum lagi berbagai institusi dan perkumpulan yang ikut aku bidani. Semua ini nyaris menjadi bagian telat kawin, saking keasyikan. Namun ini kusyukuri, karena setidaknya aku pernah demikian mencintai dan menjalani kepenuhan hidup.
Dari kengerian represi era Soeharto ke pergumulan radikal bawah tanah. Dari kekerasan pergerakan yang dingin rasional berikut kelembutan solidaritas dan percumbuan romantis. Aku betul-betul menjalani kepenuhan romantisme penindasan yang patut dikenang sepanjang hayat.

Jakarta, 18 April 2001