Monday, December 13, 2010

Need For Achievement

Ketika artikel dipublikasikan media, sebagai penulis lepas, ini merupakan sebuah capaian (achievement). Terlebih ketika belum ada prestasi atau capaian lain dalam artian signifikan.

Ini mengingatkan pada Need for Achievement (N-Ach), pelajaran di bangku kuliah. N-Ach mengacu pada keinginan seseorang akan suatu capaian signifikan yang menyangkut ketrampilan atau suatu standard kompetensi tertentu.

N-Ach mengarah pada sesuatu yang sulit untuk diraih. Individu dengan N-Ach rendah memilih suatu capaian yang relatif mudah untuk mengurangi risiko gagal. Sedang individu dengan N-Ach tinggi bakal tertantang untuk meraih capaian dengan standard tinggi yang terukur. Karenanya individu tersebut menyukai tantangan dan memiliki kemandirian yang tinggi pula.

Dengan N-Ach, ada suatu standard tertentu yang kita anggap sebagai capaian. Suatu pujian atas ketrampilan tertentu bisa merupakan suatu capaian bagi suatu individu, namun tidak demikian halnya bagi individu yang lain.

Bagiku, pujian atas ketrampilan domestik (tanpa merendahkan keuletan rumah tangga) belumlah merupakan suatu capaian signifikan. Ini menjadi bagian kegelisahan domestifikasi.

Ini karena tidak ada standard signifikan dalam capaian domestik. Pahadal kalau kita melakukan penghitungan moneter atas ketrampilan rumah tangga, nilai per jam-nya bisa melebihi pekerjaan purna waktu di arena publik yang mendapat penghargaan nyata.

Mengingat N-Ach berkorelasi dengan perasaan positif, ada baiknya orangtua mendorong kemandirian anaknya dengan rajin-rajin memberi pujian dan penghargaan atas capaian si bocah.

Negara maju relatif lebih sadar akan N-Ach ini, sehingga sedemikian banyak penghargaan akan kepahlawanan sederhana di tengah masyarakat. Maka negara ini 'rajin melahirkan' pahlawan-pahlawan cilik di berbagai bidang guna memupuk capaian besar di masa mendatang.


Canberra, 10 December 2010 (menyambut Dedek Mika)

Friday, November 12, 2010

Menulis Ulang Guru-guru yang Memberi Inspirasi Hidupku

Surya bersinar

Udara segar

Terima kasih ...


Bu Maria

Sepotong lagu Taman Kanak-kanak (TK) ini mengingatkanku pada sosok perempuan ramping, tinggi semampai dengan kacamata menghiasi wajah cantik yang murah senyum. Suaranya dan nada bicaranya lembut, memberi kesan sabar. Dialah guru pertama dalam hidupku, guru dalam arti sebenarnya di sebuah sekolah formal.

Hanya sepotong nama Bu Maria yang kuingat dengan baik. Namun jauh sebelum hari pertama sekolah dalam sejarah hidupku, nama itu sudah kudengar dari para orangtua murid, paman bibi serta kakakku yang pernah menjadi muridnya. Karenanya, dia menjadi semacam garansi rasa aman pada hari pertamaku sekolah. Ketika hampir seisi kelas anak sebayaku mulai menangis saat pintu kelas dengan tegas ditutup oleh Bu Maria, aku merasa baik-baik saja.

Sejak saat itu hingga 20 tahun sejarah diriku mengenyam pendidikan formal, sekolah menjadi sesuatu yang menyenangkan. Meski terkenal sulit bangun pagi sejak kecil, namun sekolah tetap bukan sebuah keterpaksaan.

Sekolah merupakan suatu 'dunia' yang menarik bagiku sejak TK, salah satunya karena memiliki guru yang penyabar seperti Bu Maria. Yang masih teringat adalah guru TK saat itu masih harus melakukan potty training (mengajari bocah buang air ke toilet), sikat gigi dengan benar, membagikan ransum kacang hijau dan lain-lain.

Andai semua guru seperti Bu Maria, sekolah akan menjadi tempat yang nyaman.


Bu Budi

Dia adalah guru pertamaku di Sekolah Dasar Katolik (SDK) Santo Joseph Lumajang, yang memperkenalkan padaku 'keindahan' dunia tulisan dengan mengajari membaca dan menulis. Saat itu ia memulai dengan mengeja “Iin Aan”, memenggal suku kata. Juga “ini Budi, ini ibu Budi” yang menjadi pelajaran membaca pertama saat itu.

Sosok kecil mungil dengan kulit sawo matang ini juga kulupa nama lengkapnya. Namun tak mungkin kulupakan jasanya yang membawaku pada dunia tulis-menulis saat ini.


Pak Saelan

Dia adalah guru dan wali kelasku di kelas V SDK Santo Joseph Lumajang. Ada satu pepatah Jawa darinya yang sampai saat ini melekat dalam benakku: ajur ajer (melebur dan menyatu, terjemahan bebas).

Bapak tiga anak yang mengayuh sepeda ke sekolah ini tidak menyembunyikan kesederhanaan hidup keluarganya dan pemahaman hidup gaya Jawa yang ia lakoni. Ia memperkenalkanku pada dunia filosofi Jawa melalui cerita pewayangan: Ramayana dan Mahabarata yang nantinya membawaku secara dini menyukai filsafat.


Guru Sastra SMA

Satu lagi guru yang memberi inspirasi dalam hidupku, sayang tak kuingat betul namanya. Ia merupakan guru muda yang rasanya hanya beberapa bulan sempat mengajar Sastra Indonesia di SMA Negeri 2 Lumajang. Konon ia merupakan adik penyair dan sastrawan terkenal.

Ia memperkenalkan dunia teater pada kami 'anak kampung' yang saat itu belum pernah menonton teater secara live. Di kelas ia mengajari mengapresiasi Teater Gandrik – yang tampaknya ia pernah bergabung.

Tidak sebagaimana guru yang sekedar mencurahkan ilmu dari buku teks, ia membawa dunia sastra dan teater dengan emosi dan kecintaannya yang membuat kami terpesona pada dunia peran.

Pada intinya guru-guru ini tidak sekedar mengajar dan menularkan ilmu pada anak didiknya. Lebih dari itu guru-guru ini membagikan seni menghadapi 'sekolah kehidupan' yang lebih luas.

Sayang sampai saat ini aku tidak mengetahui nama lengkap dan kabar berita mereka. Semoga dengan tulisan ini, setidaknya aku mengapresiasi yang sudah mereka 'wariskan' (legacy). Besar harapanku, mereka dalam keadaan sehat walafiat dan sejahtera.


Terima kasih seribu

Oh terima kasih seribu

Pada Tuhan Allahku

Oh pada Tuhan Allahku

Aku bahagia karena dicinta

Terima kasih


* Tulisan asli awalnya dimaksudkan untuk diterbitkan menjadi buku oleh sebuah LSM Pendidikan
.

Mobil Elektrik Mulai Ambil Posisi

Dari segi penampilannya, kendaraan ini tidak ada bedanya dengan mobil-mobil lainnya. Jenis sedan ini memiliki kapasitas empat bangku dengan empat pintu samping plus pintu hatchback di bagian belakang.

Sebagaimana layaknya sedan, mobil ini dilengkapi kendali digital, pengatur suhu (air conditioner), kunci terpusat (central lock), jendela otomat (power windows), radio AM/FM dengan MP3 dan CD serta Bluetooth.

Bahkan mobil ini juga mempunyai standar keselamatan khas negara maju berupa airbags ganda di bagian depan, head restraints di bangku depan, sabuk keselamatan (seatbelt pretensioners), empat rem cakram serta sistem rem anti-terkunci dan distribusi kekuatan pengereman secara elektronik(Anti-lock Braking System/ABS & Electronic Brakeforce Distribution/EBD).

Yang membedakan adalah bahan bakarnya. Sedan Electron Mark V ini sepenuhnya (100%) menggunakan listrik, bukan mobil hybrid masih bisa fleksibel dengan bahan bakar minyak (BBM). Jadi bahan bakarnya cukup dicolok ke listrik dengan standar colokan Australia berkaki tiga.

Mobil keluaran Blade Electric Vehicle (BEH) Australia ini memakai baterai non‐combustible Lithium Iron Phosphate (LiFePo4) yang bisa digunakan 8-10 tahun. Waktu pengisian baterai (charge) tergantung pada ampere-nya, pada 10 ampere (standar colokan rumah tangga) bisa sampai 7-8 jam untuk terisi penuh.

“Dengan pengisian baterai cepat (rapid charging) hingga 60% hanya sekitar 20 menit,” kata Doug Falconer dari BEH.

Karenanya ia mengklaim produksinya sebagai kendaraan bebas emisi: zero carbon dioxide, zero carbon monoxide, zero nitrogen oxides, zero hydrogen sulphide, zero hydrocarbons. Pasalnya di Wilayah Ibukota Australia (ACT) listriknya 100% bersumber dari energi terbarukan seperti Pembangkit Listrik Tenaga Bayu maupun Pembangkit Listrik Tenaga Surya.

EV Festival
Pekan ini, 2-8 Oktober Blade Electron Mark V unjuk gigi dalam acara Green Zone Drive di Melbourne. Bulan lalu, Blade Electron Mark V menjadi salah satu mobil yang ditawarkan dalam Canberra Electric Vehicle Festival yang disponsori Australian Electric Vehicle Association and ACT Electric Vehicle Council.

Dalam ajang itu, BEH bahkan menawarkan 50 pembeli pertama Blade Electron Mark V dengan diskon AU$ 1,500 sehingga harganya AU$ 48.000 (sekitar Rp 400 juta) dengan garansi lima tahun dan jaminan pembelian kembali yang lebih tinggi dalam tiga tahun. BEH juga menawarkan dengan sistem sewa (leasing).

Ajang tadi dilengkapi pula dengan test drive. Dalam test drive yang dilakukan organisasi Clean Driving di Canberra bulan lalu, menempuh jarak 86 kilometer sedan ini melaju dengan kecepatan rata-rata 65,2 kilometer per jam. Kalau mau dimaksimalkan, kecepatan puncaknya dapat mencapai 120 kilometer per jam.

Clean Driving mengklaim Blade Electron Mark V cuma membutuhkan lima sen (dengan standar listrik pembangkit energi terbarukan Australia) per kilometernya.

Kini Blade Electron yang dirintis tahun 2006 di negara bagian Victoria sudah berproduksi sejak 2008 dengan 55 persen kandungan lokal Australia. Blade Electron mulai terlihat di jalanan di berbagai negara bagian Australia, bahkan sudah diekspor ke Selandia Baru.
Pengembangan EV
ACT sudah melakukan pendaftaran pertama mobil elektrik (EV), yakni Blade Electron dan menerima empat iMiEV keluaran Mitsubishi, sebagaimana diberitakan Mingguan CityNews pekan ini. Empat dari 20 iMiEV itu dimaksudkan untuk menguji kesiapan infrastruktur mobil elektrik di Canberra. Tahun 2010 ini, Australia akan menerima 110 iMiEV

Sebelumnya, ACT telah menandatangani nota kesepahaman dengan Produsen mobil Nissan-Renault guna mengembangkan kebijakan untuk memperkenalkan mobil elektrik di ACT.

Canberra bertelad menjadi ibukota EV yang ditandai adanya kontrak ACT dengan Better Place selaku perusahaan penyedia infrastruktur EV dan ActewAGL yang mengoperasikan jaringan listrik. Dengan kontrak itu, Better Place akan menyediakan tempat pengisian baterai cepat dan tempat penukaran baterai (battery-swapping) di Canberra mulai semester kedua tahun 2011.

Dengan demikian, mobil elektrik makin kuat. Tidak saja tersedia secara komersial, tapi juga mendapat dukungan politik untuk menjawab tantangan perubahan iklim dan pemanasan global.


BOX: Spesifikasi Blade Electron Mark V

Jenis: empat tempat duduk, empat pintu samping dan pintu belakang hatchback
Jenis penggunaan: seputar kota dengan jangkauan 100 kilometer (bervariasi tergantung muatan, gaya menyetir, penggunaan asesoris, dll)
Power maksimum :35 kW @ 3000‐5000 rpm
Torsi maksimum : 90 Nm @ 0‐4000 rpm
Kinerja: 0-60 kilometer per jam dalam tujuh detik.
Kecepatan maksimal : 120 kilometer per jam
Baterai : Non‐combustible Lithium Iron Phosphate (LiFePo4)
Driven Wheels: 2WD
Panjang 3835 mm Wheelbase: 2455 mm
Lebar: 1665 mm
Tinggi: 1500 mm
Berat: 1185kg


* Tulisan ini dimuat di Harian Ekonomi "Bisnis Indonesia" Edisi Minggu, 30 Oktober 2010.

Canberra Bersiap Jadi Ibukota Mobil Elektrik

Canberra bersiap menjadi ibukota mobil elektrik (EV) yang ditandai dengan pendaftaran pertama sebuah EV, yakni Blade Electron buatan Australia dan tibanya iMiEV keluaran Mitsubishi, sebagaimana diberitakan Mingguan CityNews pekan ini.

Empat dari 20 iMiEV itu dimaksudkan untuk menguji kesiapan infrastruktur mobil elektrik di Canberra. Tahun 2010 ini, Australia akan menerima 110 iMiEV yang memakan waktu sekitar tujuh jam untuk terisi penuh baterainya dan dapat menempuh 140-160 kilometer tiap kali pengisian baterai (charge).

Dengan waktu pengisian baterai yang sama, Blade Electron mengklaim hanya membutuhkan AU$ 2 per 100 kilometer. Namun Blade Electron baru akan berproduksi penuh tahun depan, dengan kapasistas sebuah EV per hari yang 75 persennya buatan Australia.

Sebelumnya, Pemerintah Wilayah Ibukota Australia (Australian Capital Territory/ACT) telah menandatangani nota kesepahaman dengan Nissan-Renault guna mengembangkan kebijakan untuk memperkenalkan EV di ACT.

Infrastruktur
Kesiapan Canberra sebagai ibukota EV juga ditandai adanya kontrak ACT dengan Better Place selaku perusahaan penyedia infrastruktur EV dan ActewAGL yang mengoperasikan jaringan listrik. Dengan kontrak itu, Better Place akan menyediakan tempat pengisian baterai cepat dan tempat penukaran baterai (battery-swapping) di Canberra mulai semester kedua tahun 2011.

Jaringan penuh dan ketersediaan kendaraan diharapkan pada 2012 yang menjadikan Canberra, kota pertama di Australia yang memiliki infrastruktur EV.

Dari website resminya, Better Place bakal menyediakan pengisian baterai pribadi di rumah, akses ke jaringan pengisian baterai di tempat kerja dan tempat publik, akses ke pengisian ulang instan berupa stasiun penukaran baterai serta layanan untuk membantu pengendara mengetahui kapan dan dimana untuk melakukan pengisian baterai.

Better Place juga menjanjikan 100 persen penggunaan listrik yang ramah lingkungan (green electricity) di Australia. Dengan demikian EV akan menjadi kendaraan yang bebas polusi, mendukung energi terbarukan dan sekaligus menjadi solusi terintegrasi yang peduli keberlanjutan lingkungan sekitarnya.

* Tulisan ini disumbangkan ke www.energiterbarukan.net dan buletin Energi Hij@au

“Menyelamatkan” Tiap Potong Roti Bagi Yang Membutuhkan

Badan Pangan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan lebih dari satu miliar orang di dunia mengalami kelaparan. Berarti tiap 1 dari 6 orang di bumi tidak cukup mendapatkan pangan. Benarkah dunia mengalami kekurangan pangan?

Sebetulnya yang terjadi adalah ketidakmerataan dan ketidakadilan yang dilanggengkan oleh sistem dan struktur. Pasalnya penulis kerap menyaksikan dengan hati pedih, roti segar (dalam jumlah banyak) yang dibuang begitu saja ke tempat sampah.

Ini karena sistem ekonomi di negara-negara maju menempatkan roti segar sebagai produk unggul. Untuk menjaga 'kesegaran' itu, roti harus keluar dari pemanggang di hari yang sama. Dengan demikian, produk yang tidak habis terjual hari itu akan terdampar di tempat sampah atas nama 'kesegaran'.

Cara-cara untuk 'menyelamatkan' roti dengan diskon di penghujung hari, itu bertentangan dengan sistem ekonomi yang menempatkan 'kesegaran' sebagai produk unggul.

Mendermakan roti segar begitu saja, ternyata 'dibayangi' tuntutan apabila yang memakannya mengalami gangguan kesehatan. Maka orang-orang macam Stanislawa Dabrowski adalah 'pahlawan penyelamat' setiap potong roti segar bagi yang membutuhkan.

Nenek 84 tahun yang akrab disapa Stasia ini berkeliling suburb Canberra untuk mengumpulkan roti segar yang disumbangkan pemilik gerai. Ia mengolahnya untuk disajikan dengan sup yang ia masak bagi para tuna wisma dan orang-orang yang membutuhkan.

Tentang Stasia bisa Anda baca di halaman Profil Harian Umum Sinar Harapan edisi Rabu, 13 Oktober 2010.

Abundant Versus Scarcity

Di antara kaum tuna wisma, tak jarang terlihat eksekutif berdasi ikut antri sup dan roti gratis yang Stanislawa Dabrowski bagikan di pusat ibukota Canberra tiap Jumat petang. Bagi nenek 84 tahun yang dikenal sebagai “The Soup Lady” ini, hal itu tidak masalah dan tidak ada yang perlu dibeda-bedakan.

“Saya mendapatkannya dengan cuma-cuma, maka saya memberikannya juga dengan cuma-cuma,” jawab Stanislawa yang akrab disapa Stasia.

Di mataku hal itu semacam moral hazard. Tak sepantasnya orang berdasi mendapatkan roti dan sup gratis yang sedianya ditujukan bagi kaum papa dan tuna wisma. Menjadi alumni sekolah bisnis dan manajemen, aku memandang sumber daya sebagai produk langka, bukan sesuatu yang patut 'salah peruntukkan' bagi orang yang tidak layak menerimanya.

Namun bagi Stasia, sumber daya itu akan datang dengan sendirinya. Di matanya, seolah sumber daya itu merupakan kasih dan kemurahan yang melimpah-limpah, yang tiada habisnya.

Dan memang ia tidak salah. Sepanjang menjadi relawan the Soup Kitchen, hampir setiap kali ada yang memberikan sesuatu bagi karya amal Stasia itu, mulai dari uang recehan sampai mobil van dari Pemerintah Wilayah Ibukota Australia (ACT).

Ini mengingatkan pada pola pikir dan law of attraction. Bila kita memandang sumber daya itu melimpah (abundant), pola pikir itu akan 'menarik' sumber daya yang melimpah tadi kepada kita.

Meski tidak sesederhana itu, namun cara pandang dan energi positif ini membuatku merindukan Stasia.

PROFIL: Stanislawa Dabrowski

“Soup Lady” Yang Tidak Memikirkan Diri Sendiri

Tidak biasanya perempuan lanjut usia ini memperlihatkan raut muka bermuram durja. Kali ini wajahnya yang diwarnai keriput kehilangan keceriaan, bola matanya tak lagi berbinar. Meski ia tetap menyambut penulis dengan pelukan hangat, kali ini ia tidak dapat menyembunyikan kesedihannya.

“Dokter memvonis tulang kaki saya telah mati, jadi harus diamputasi. Saya tidak bisa datang lagi menjemput roti. Lalu bagaimana nanti the Soup Kitchen? Tidak ada lagi yang menyediakan roti dan sup,” kata Stanislawa Dabrowski kepada penulis ketika menjemput roti di sebuah pusat perbelajaan di selatan Canberra, awal September lalu.

Pernyataan yang mengejutkan tadi segera membuat paham relawan yang membantunya mengemas roti hari itu. Namun yang lebih mengejutkan lagi, Stasia mengulangi berkali-kali kekuatirannya tidak ada yang menyediakan roti dan sup bagi kaum tuna wisma dan mereka yang membutuhkan di pusat kota Canberra.

Sampai-sampai ia bercucuran air mata. Bukannya menangisi vonis dokter dan kondisi kaki yang jalannya sudah pincang, tapi justru ia mengkuatirkan kaum tuna wisma yang selama 30 tahun terakhir ia layani secara sukarela.

Sebenarnya penurunan kondisi kesehatan Stasia – panggilan akrab Stanislawa Dabrowski – sudah berlangsung berbulan-bulan. Ia mengaku mengalami sakit seluruh badan sejak ditabrak orang ketika menjemput roti di pusat perbelanjaan yang lain.

“Ketika orang sudah menua, sel-sel tubuh tidak lagi mengalami regenerasi dengan cepat sehingga tak mudah pulih. Jadi saya berdamai dengan rasa sakit,” komentar Stasia tentang sakitnya.

Itu pun ia masih bersyukur karena pada usianya yang sudah 84 tahun, ia tidak mengalami patah tulang meski terpelanting karena mobil yang menabraknya melaju dengan kencang. Sebagai mantan perawat, Stasia paham ada organ tubuhnya yang mengalami kerusakan setelah ia jatuh terpelanting.

Namun setelah menjalani perawatan dan dinyatakan sehat, nenek mungil itu kembali menyetir sendiri mobil van untuk mengangkut roti dan sup. Tubuhnya yang tidak lebih tinggi dari 1,5 meter seakan tenggelam di balik kemudi kendaraan besar bertuliskan dengan bangga didukung oleh pemerintah Wilayah Ibukota Australia (Australia Capital Territory/ACT).


Memikirkan Sesama
Inilah perempuan berhati malaikat yang oleh warga Canberra dikenal sebagai the Soup Lady. Pada tahun-tahun awal, dengan kocek pribadi, ia memulai menyediakan roti dan sup hangat bagi kaum tuna wisma di ujung tahun 1979. Kegiatannya tiap Jumat petang itu kemudian dikenal sebagai the Soup Kitchen.

Itu terjadi justru setelah putranya mengalami ketergantung narkotika. Stasia memilih tidak sekedar memikirkan diri sendiri, namun sebaliknya berbuat sesuatu untuk kepentingan orang lain.

Itu pun bukan untuk pertama kalinya. Perempuan kelahiran Polandia itu mengalami kekejaman Perang Dunia pertama dan kedua yang menghancurkan keluarganya sampai menyeretnya ke kamp kerja paksa. Karenanya pascaperang, ia memilih menjadi perawat.

Setelah menikah dan memiliki seorang putra, Stasia bersama suaminya bermigrasi ke Australia. Kembali Stasia mengikuti panggilan hatinya mengabdi untuk orang lain, bergabung dengan layanan darurat Palang Merah Australia.

Tidak putusnya ia membaktikan diri bagi yang orang lain, meski kini usianya sudah senja dan didera rasa sakit. Tak heran ia menjadi kebanggaan dan inspirasi bagi warga Canberra, bahkan warga Australia pada umumnya.




BOX: Berbagai Penghargaan

Calon Warga ACT Abad Ini

Dimulai tahun 1996, Stasia meraih penghargaan Warga Canberra (Canberra Citizen of the Year). Menyusul tiga tahun kemudian, ia terpilih sebagai Lansia Asutralia (Senior Australian of the Year) dari negara bagian Wilayah Ibukota Australia (ACT).

Lalu di tahun 2005, negara bagian ACT memberi penghormatan ACT Honour Walk. ACT juga menyumbangkan sebuah mobil van putih yang kedua pintu depannya bertuliskan “The Kitchen Soup dengan bangga didukung ACT.” Hingga saat ini nenek mungil itu masih menyetir sendiri mobil van besar tadi untuk menjemput dan mengantar roti, sup dan lain-lain,

Australian Broadcasting Corporation (ABC) menobatkannya sebagai salah satu Pahlawan Tanpa Nyanyian (Unsung Heroes)/ Pasalnya ia dianggap menjadi inspirasi bagi warga Australia.

Menjelang Olimpiade Beijng 2008, Stasia mendapat kehormatan sebagai salah satu pembawa obor olimpiade ketika tiba di Canberra.

“ Usia saya sudah 82 tahun, tapi saya merasa semuda 28 tahun,” kata Stasia dikutip kantor berita Xinhua saat itu,

Kini ACT kembali mencalonkan Stasia untuk mendapat penghargaan sebagai Warga
ACT Abad Ini (ACT Citizen of the Century). Tak heran warga Canberra yang menyebut diri Canberrans begitu bangga pada nenek yang dijuluki the Soup Lady.

Seluruh penghargaan dan penghormatan tersebut tidak membuat Stasia berhenti atau berpuas diri. Ia menandaskan dirinya akan pensiun kalau sudah berada berkalang tanah.


* Penulis adalah mantan jurnalis Sinar Harapan yang kini menetap di selatan Canberra

Kedekatan itu Bukan Sekedar Jarak

Dalam jurnalistik ada kriteria kedekatan untuk memilih dan memilah berita. Saat ini berasa sekali kedekatan ini bukan semata urusan ruang dengan jarak tempuh tertentu.

Mungkin tidak banyak orang Indonesia yang tahu persis letak Pulau Pagai (Pagai Utara dan Pagai Selatan). Namun bagi para peselancar, gelombang di bagian selatan Kepulauan Mentawai ini masuk kategori kelas dunia (world class wave). Tak heran peselancar Australia lebih mengenalnya daripada penulis yang notabene warga Indonesia.

Terkenal di kalangan peselancar mancanegara, Pulau Pagai ternyata memiliki resor cantik dengan cottages nuansa etnik berpadu dengan keindahan pantainya. Ini justru penulis saksikan di siaran berita televisi Australia.

Pasalnya 10 warga Australia termasuk di antara sekitar 190 korban yang hilang, ketika gelombang tsunami menyapu bagian selatan Kepulauan Mentawai tersebut. Tsunami - yang diyakin mencapai setinggi 3 meter - dipicu gempa tektonik yang menurut United State Geological Survey (USGS) berkekuatan 7,7 dengan kedalaman episentrum 20,6 kilometer terjadi pada Senin, 25 Oktober 2010 pukul 21.42 waktu setempat.

Di antara 10 warga Australia itu, terdapat nama Alex McTaggart yang merupakan Walikota Pittwater sekaligus anggota parlemen (MP) dari negara bagian New South Wales. Tak pelak televisi Australia menayangkan sebagai breaking news di berita pagi, ketika di Indonesia bagian barat masih terlelap pada dini hari.

Gempa bumi diiringi tsunami ini mengingatkan pada bencana nasional tsunami Aceh dan Nias di tahun 2004 dan 2005. Karenanya kedekatan saat ini kurasakan lebih emosional. Ada duka dan prihatin, namun juga pertanyaan besar kemana Sistem Peringatan Dini Tsunami yang pernah digembar-gemborkan?

Memang gempa tektonik sulit dipastikan kapan terjadinya. Namun para ahli geologi dan berbagai pakar telah memperingatkan sejak tahun 2004, bahwa setelah Aceh dan Nias, Patahan Siberut bakal di urutan berikutnya.

Ada yang dikenal sebagai Sunda Megathrust mulai dari Laut Andaman di selatan Burma melengkung sepanjang pantai barat Pulau Sumatera dan pantai selatan Pulau Jawa hingga Sumbawa. Ini merupakan pertemuan lempeng Eurasia dengan Indo-Australia yang aktif kembali melepaskan 'energi bumi' sejak gempa dan tsunami 2004.

Kenapa kita tidak belajar dari masa lalu? Mengapa suara para pakar itu dianggap angin lalu? Tanya? Kenapa?

Keseharian Yang Tak Lagi Remeh

Musim Dingin Di Australia Dalam Kenangan

Sinar mentari menyengat terasa menjadi keseharian sambil lalu di Indonesia. Nyaris tanpa arti, karena telah menjadi kehidupan sehari-hari kecuali hari mendung dan hujan. Namun begitu hawa dingin Canberra menyergap diiringi rinai hujan dengan langit kelabu, mentari yang menjadi keseharian negara tropis tak lagi keseharian sambil lalu.
Pertengahan tahun di bumi belahan selatan suasana baru bagi penulis untuk menetap. Sang surya kini terasa menjadi sesuatu yang sangat berarti. Sinar surya baru muncul sekitar pukul tujuh pagi. Sekalipun terik tengah hari, udara dingin belasan derajat Celsius rasanya tak mampu menghangatkan badan kelahiran negara tropis. Apalagi kalau sang surya berangkat ke peraduan sekitar pukul lima sore, serasa terlalu singkat kehadirannya di musim dingin ini.
Matahari yang menjadi keseharian kita di Indonesia, tidaklah terlalu berasa kalaupun sekali-kali mendung atau hujan. Namun bagi badan kelahiran negara tropis ini, matahari jadi sangat berarti di musim dingin. Mentari tidak saja menghangatkan, tapi juga memberi dampak psikologis dan klinis yang baru berasa nyata saat ini. Sinar surya menjadi pula sumber pemicu kestabilan hormon melatonin yang memberi efek psikologis kita menjadi lebih ceria. Begitu matahari jarang muncul diiringi kabut muram dan hawa dingin, hormon melatonin jadi ngambek yang menyebabkan kita cenderung murung sampai efek depresi yang lebih parah.

Pemanas Ruangan
Meski musim dingin bukan pengalaman baru, namun menetap di negara empat musim menjadi lain cerita. Apalagi Australia terkenal sebagai salah satu negara paling kering dan relatif panas dalam hitungan bulan lebih panjang daripada musim dinginnya. Karenanya penghangat ruangan terpusat (sentral) bukanlah sesuatu keharusan sebagaimana di Eropa atau Amerika Utara, misalnya. Tubuh yang terbiasa dengan hangat atau panasnya Jakarta, kontan membutuhkan penghangat ruangan, terutama di malam hari. Bayangkan saja, minyak goreng membeku di dapur tanpa perlu masuk lemari es (kulkas).
Masalahnya, pemanas ruangan memicu udara dalam ruangan menjadi kering. Dampaknya kulit - yang terbiasa kelembapan dengan iklim tropis – mengerut, alhasil jadi terasa gatal. Bahkan udara kering kombinasi dengan hawa dingin bagi beberapa pendatang sampai menyebabkan hidung berdarah (mimisan). Karenanya cairan pelembab kulit dan pelembab ruangan (humidifier) menjadi kebutuhan lain di musim dingin.
Masalah lain, penghangat ruangan yang tidak sentral membuat kegiatan buang hajat menjadikan panggilan alam itu terasa sesuatu yang menyiksa. Hawa dingin toilet terasa ekstrem dibanding udara kamar tidur yang hangat, karena suhu ruangan relatif bertahan dalam kondisi kamar tertutup meski pemanas ruangan cenderung dimatikan sewaktu tidur. Jadi bisa dibayangkan kalau tengah malam atau dini hari tiba-tiba desakan buang air seni itu menghampiri. Keluar dari doona (selimut tebal musim dingin) saja sudah tantangan, apalagi keluar dari kamar tidur. Betapa nyamannya negara tropis, kapanpun mau ke kamar kecil, tidak pernah masalah, selagi badan kita sehat.

Termometer
Satu lagi, di Indonesia jarang-jarang kita perlu mengetahui suhu udara atau ramalan cuaca sebelum keluar rumah, paling-paling kehujanan atau kepanasan yang tak terlalu parah. Namun perjalanan 'imajiner' matahari ke belahan bumi utara, meninggalkan belahan selatannya bermusim dingin menjadikan badan tropis penulis musti memperhatikan suhu udara di tempat yang baru ini. Kalau tidak, salah-salah bisa 'salah kostum'.
Termometer menjadi salah satu kebutuhan baru yang sebelumnya menjadi barang sambil lalu, kalau tidak terlalu bermakna di negara tropis. Penunjuk suhu ruangan itu juga membantu menguji kebugaran dan ketahanan badan kita untuk mempertahankan suhu tubuh. Kalau pendingin udara (AC/air conditioner) di Indonesia biasanya paling dingin 16 derajat, itu penulis jadikan semacam ambang atas untuk bertahan tanpa pemanas ruangan. Kalau termometer sudah mendekati single digit, pemanas ruangan menjadi kebutuhan meski masih siang.

Air
Selain sinar surya, keseharian lain yang terasa sambil lalu ketika di Indonesia adalah air. Zat cair yang memancar dari keran jarang kita syukuri kehadirannya. Apalagi air yang mengalir di negara tropis relatif sama dengan suhu ruangan, bahkan di beberapa tempat mendapat anugerah mata air sejuk dan segar.
Di musim dingin, air yang mengalir dari pipa kami terasa bagaikan air es. Lazimnya ada dua tombol keran atau satu kepala keran dengan penunjuk panas dingin.
Malangnya, setelah lama tidak dipakai, pemanas air tidak langsung bekerja memancarkan air hangat begitu keran dibuka. Untuk beberapa saat, air sedingin es yang mengalir. Kalau sedang buru-buru misalnya di malam hari, ya terpaksa cuci tangan dengan air dingin tadi sehingga tangan terasa beku.

Suara Adzan
Terbitnya matahari yang terasa kesiangan di musim dingin ini, menjadikan penulis merasa kehilangan satu hal lain yang selama ini menjadi keseharian sambil lalu. Suara adzan subuh penanda terbitnya mentari di Indonesia. Selama ini panggilan itu seakan menjadi 'alarm alami' tubuh untuk bersiap bangun di pagi hari di Indonesia. Kalaupun di Eropa, masih ada gereja-gereja tua yang mendetangkan loncengnya pukul enam pagi.
Di sini deru mobil di jalan raya – yang kebetulan tak jauh dari rumah kami - menjadi salah satu penanda hari telah beranjak siang. Namun itu bukan waktu yang spesifik sebagaimana suara adzan atau dentang lonceng gereja. Unsur ritual religius yang selama ini terabaikan begitu saja, baru terasa ketika tidak ada kehadirannya.

Pedagang Keliling
Satu lagi rasa kehilangan dari nikmatnya tinggal di negara berkembang adalah kehadiran pedagang keliling. Kalau malam tiba dan pesanan dengan telpon lama, pedagang keliling adalah alternatif terbaik yang menghampiri setiap lorong Jakarta dan kota-kota besar lainnya.
Beragam pedagang keliling menghampiri dan tak perlu keluar rumah merupakan kenikmatan tersendiri, yang kini tak lagi penulis temui di negara maju ini. Apalagi musim dingin begini, rasanya telinga merindukan denting sendok beradu dengan mangkok pedagang sekoteng berkeliling kampung.
Mengapa kita baru merasa kehilangan ketika kehadirannya tak lagi menjadi bagian dari keseharian kita? Haruskan kita baru mensyukuri setelah anugerah itu tak lagi hadir bagi kita? Semoga kita lebih bersyukur menikmati rona kehidupan negara tropis dan negara berkembang kita.

Wednesday, October 13, 2010

Ketika Keluarga Mendapat Posisi Sentral di Publik

Di Australia, keluarga mendapat posisi sentral. Salah satunya dengan menjadikan Hari Keluarga sebagai hari libur publik seperti di Wilayah Ibukota Australia (ACT).

Di ruang publik, keluarga selalu mendapat tempat tersendiri. Hampir semua taman dilengkapi dengan sarana bermain anak. Berbagai pusat perbelanjaan menyediakan Ruang Orangtua (Parents Room). Dengan demikian, tidak saja ibu melainkan juga ayah dapat menjalankan perannya di ruang publik.

Merayakan Peran Keayahan
Dalam sebuah film haru-biru seorang ayah yang sekarat dan menjelang ajal, putrinya yang telah menjadi pelayar nun jauh di seberang lautan menghubungi melalui telepon satelit. Ia mengakui ayahnya merupakan laki-laki pertama dalam hidupnya dan yang memperkenalkannya pada dunia maskulinitas. Sebuah peran keayahan yang jarang mendapat tempat dalam keseharian kita.

Tidak demikian halnya di negara-negara maju, peran ayah mendapat berbagai pengakuan. Salah satunya adalah Hari Ayah (Father's Day). Di Australia dan sekitarnya (Fiji, Papua Nugini dan Selandia Baru), tahun ini Hari Ayah jatuh pada tanggal 5 September (Minggu pertama September). Sedang di Amerika Serikat, tempat Hari Ayah diawali, jatuh pada Minggu ketiga bulan Juni.

Pada hari yang membahagiakan itu, sang ayah akan mendapat berbagai hadiah dari putra-putri, istri dan kerabatnya. Di Australia, barang elektronika dan perangkat keras (hardware) tampaknya masih menjadi favorit hadiah untuk sang ayah. The Epoch Times yang mengutip analisa informasi bisnis IBISWorld memperkirakan belanja perangkat keras dan barang elektronika pada Hari Ayah 2010 kembali melonjak, bakal naik 13 persen menjadi AU$ 236 juta. Selain itu minuman keras, buku dan compact disc (CD) menjadi pilihan lain hadiah.

Banyak keluarga merayakan dengan makan siang bersama karena Hari Ayah jatuh pada hari Minggu. Tak jarang mereka berkumpul di kediaman sang kakek atau bahkan kakek buyut, sehingga empat generasi melakukan reuni keluarga. Masakan favorit sang ayah tentu mendapat prioritas, namun kerap pula masakan ayah yang dirindukan anak-cucunya. Seperti tetangga sebelah rumah kami, cucunya justru merindukan masakan buatan sang kakek, karena ketika balita ia kerap dititipkan di sana.

Tidak sedikit keluarga yang merayakan dengan menraktir sang ayah makan di rumah makan kesukaannya. Atau merayakan di tempat terbuka taman-taman kota. Seperti di Canberra, pemerintah negara bagian Wilayah Ibukota Australia (Australian Capital Territory/ACT) mendukung Hari Ayah yang dipusatkan di Weston Park dengan berbagai kegiatan yang melibatkan keluarga, mulai dari permainan, musik dan sebagainya.

Indonesia secara resmi memang tidak memiliki Hari Ayah, namun tidak berarti kita tidak bisa merayakan peran keayahan. Apalagi dengan makin banyaknya keluarga inti/batih (nuclear family) mandiri dan jauh dari orangtua, yang berarti tak lagi bisa mengandalkan kakek-nenek untuk membantu menjaga cucu. Kian lazim pula istri memasuki dunia publik, sehingga peran ayah kini mitra sejajar untuk berbagi beban. Dengan demikian beban rumah tangga tidak semata-mata bertumpu pada sang ibu yang harus berperan ganda.

Apalagi banyak keluarga muda yang kian menghargai status ayah. Makin banyak lelaki matang yang menikmati predikat sebagai ayah dan berhasrat memiliki lebih banyak waktu bagi keluarga dan anak-anaknya.


Cuti Sebagai Ayah
Bentuk lain dari peran keayahan yang mendapat pengakuan di banyak negara Barat dan negara maju adalah cuti sebagai ayah (paternity leave). Ini merupakan bentuk cuti sebagai orangtua, di samping cuti melahirkan (maternity leave) yang sudah lazim bagi perempuan yang bekerja secara publik.

Bahkan Perdana Menteri (PM) Inggris, David Cameron pun baru-baru ini mengambil cuti tersebut. Itu setelah istrinya, Samantha melahirkan anak keempat mereka melalui operasi caesar. Menurut undang-undang Inggris, ayah baru dapat mengambil cuti yang tetap digaji hingga dua pekan.

Di Australia, mulai 1 Januari 2011, ayah baru akan berhak cuti hingga 18 pekan dengan digaji berdasarkan upah minimum. Bahkan di Bulgaria, seorang ayah atau kakek berhak mengambil cuti kelahiran (maternity leave) hingga 1 tahun dibayar 100 persen oleh negara.
Sedang di Indonesia, cuti bagi ayah baru masih tergantung kebijakan kantor masing-masing. Meski wajarnya diberikan dalam 1-2 hari ketika sang istri melahirkan. Sebenarnya, Indonesia bisa mencontoh Kanada yang membayar cuti kelahiran melalui sistem asuransi pekerja. Sebab, peran ayah tidak kalah dengan peran ibu dalam pengasuhan anak-anak. Semoga peran keayahan kian mendapat tempat di Indonesia.

* Penulis adalah mantan jurnalis harian di Jakarta yang kini menetap di selatan Canberra

Monday, October 11, 2010

Mencermati Rumah Aman Gempa Nan Modern*

Oleh: Mega Christina**


Di luar negeri banyak konsep rumah aman gempa, mulai dari yang unik berbentuk trapesium hingga rumah kubah yang lucu seperti di tayangan anak-anak Teletubies. Namun sebenarnya banyak rumah tradisional Indonesia yang terbukti aman dari gempa, seperti rumah Gadang di Sumatera Barat, omo sebua di Pulau Nias serta banyak lainnya.

Masalahnya rumah-rumah tradisional itu sebagian besar terdiri dari balok tua dan kayu-kayu pilihan yang kini kian sulit didapat. Kalaupun kita bisa mendapatkannya, harganya bakal mahal dan sulit terjangkau masyarakat kebanyakan.

Memanfaatkan material modern yang relatif mudah didapat dengan rancangan cerdas sebetulnya telah dilakukan putra Indonesia, contohnya dari Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Surakarta. Sejak tahun 2004 ATMI membuahkan rancangan struktur logam yang dinamakan Smart Modula. Disebut cerdas, karena bangunannya bersifat rancang lepas knock-down terdiri dari modul-modul yang bisa ditambahkan. Lebih dari itu, bangunan ini aman terhadap gempa.


Pilihan Material
Sebagaimana ada petuah bijak mengatakan dirikan rumahmu di atas landasan yang kokoh, rumah aman gempa dimulai dari fondasi. Untuk menghindari kerusakan karena gerakan tanah yang disebabkan gempa, fondasi Smart Modula berupa beton umpak lubang berbentuk trapesium dan tidak terikat dengan fondasi umpak yang lain.

Bila terjadi gempa, gerakan tanah yang terjadi disalurkan lewat fondasi umpak tadi, yang kemudian diteruskan ke kolom (tiang) dan sloof/beam (balok). Fleksibilitas baru akan terjadi pada titik ini.

Untuk itu, kolom harus lebih kuat dari beam agar tidak roboh. Saat terjadi gempa, energinya diserap beam sehingga kolom tetap utuh. Maka rangka balok Smart Modula dipilih dari baja light lips. Sedang kolom berupa baja hollow square.

Di bagian rangka, sambungan antar bagian dibuat se-fleksibel mungkin. Tujuannya, supaya gerakan yang diterima oleh satu bagian tidak secara penuh diteruskan ke bagian lain. Smart Modula menggunakan sambungan mur-baut antara kolom dan beam. Jika ada gempa, gaya yang diterima kolom tidak secara penuh ditransfer ke beam. Begitu sebaliknya. Hal berbeda terjadi jika menggunakan sambungan model las atau beton, akan ada kemungkinan patahan di antara sambungan.

Itupun di bagian atas rangka bangunan masih perlu dipasang penguat di tiap sudutnya. Sambungan antar komponen bangunan yang tidak mudah lepas itu diperlukan pula untuk penyaluran beban energi gempa.

Untuk mencegah terjadinya keruntuhan saat terjadi gempa, dinding seharusnya tidak berfungsi sebagai struktur dan tidak bersifat kaku (rigid). Dinding yang digunakan pada konstruksi Smart Modula sama sekali tidak berfungsi sebagai struktur, semata-mata partisi. Panel dinding Smart Modula tidak menempel 'mati' pada struktur, melainkan ada semacam celah (gap) yang memungkinkan adanya pergerakan. Ketika gempa terjadi, gerakan yang diterima kolom dan beam tidak terlalu memengaruhi panel dinding. Dengan demikian kemungkinan dinding roboh - seperti yang terjadi pada konstruksi konvensional - bisa diminimalisir.

Terjadinya korban gempa acapali akibat runtuhnya atap rumah, karena atap tidak kuat menahan goncangan yang diterima struktur di bawahnya. Salah satu faktor penyebabnya adalah terlalu beratnya atap dan rangka atapnya. Maka Smart Modula menggunakan material seringan mungkin. Dengan rangka baja ringan (zincalume), beban yang diterima struktur bangunan jauh berkurang dibanding rangka kayu. Atap jenis ringan bisa dengan galvalum atau metal roof. Selain ringan, pemasangan atap tersebut diikat dengan baut ke rangka atapnya sehingga atap tidak mungkin jatuh.
Jatuhnya genteng (mlorot) banyak terjadi ketika gempa di Yogyakarta tahun 2006 lalu.


Presisi
Lebih dari semua itu, material rumah modern, sekalipun bermutu tinggi, membutuhkan proses pembangunan yang cermat dan teliti. Misalnya untuk baja beam, ketebalan proses galvanasi disyaratkan 120 mikron, baru kemudian dilapis dengan cat. Sedang untuk baja kolom butuh ketebalan proses galvanasi 90 mikron lalu finishing dengan cat. Pasalnya 'musuh' besi baja adalah karat.

Begitu juga dengan campuran untuk beton fondasi, perlu kecermatan dan ketepatan. Komposisi semen, pasir dan kerikil menggunakan perbandingan 1:3:5.

Ukuran material juga membutuhkan ketepatan (presisi). Misalnya baja kolom berukuran ukuran 75x75x3 yang memiliki kekuatan tarik 300 N per milimeter persegi.

Penghargaan terhadap proses mulai dari pemilihan material hingga pembangunannya menjadi kata kunci untuk sebuah rumah yang aman gempa. Alhasil menurut uji coba di Laboratorium Fakultas Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), Smart Modula bisa menahan goncangan gempa hingga 8 Skala Richter (SR). Fakta di lapangan, waktu terjadi gempa di Nias dengan kekuatan 8.5 SR dan mencapai Aceh sekitar 8.3 SR, Smart Modula tidak mengalami kerusakan struktur.

Kini Indonesia punya pilihan rumah aman gempa yang tidak hanya tradisional atau rumah konvensional, tapi juga rumah dengan bangunan modern hasil rancangan putra bangsa sendiri serta material yang relatif bisa diperoleh di dalam negeri.


* Tulisan ini merupakan bagian upaya Memasyarakatkan Rumah Aman Gempa di Indonesia
** Penulis adalah mantan jurnalis harian di Jakarta yang kini menetap di selatan Canberra

Thursday, September 9, 2010

Menengok Miniatur Candi Borobudur di Tengah Landmark Dunia

Dengan skala 1:100, struktur abu-abu kehitaman itu terasa jauh dari megah dibanding aslinya. Namun mendapati replika Candi Borobudur di tengah 29 miniatur landmark terkenal dan bersejarah di dunia, terasa sangatlah membanggakan.

Apalagi struktur mini ini tepat berada di lokasi strategis, langsung di sebelah kiri lorong masuk bagian internasional Cockington Green Gardens. Taman mini ala Australia ini berlokasi di sub urban Nichols, negara bagian Australian Capital Territory (ACT), barat laut pusat kota Canberra.

Dengan tiga bagian berpuncak pada Arupadatu yang menyerupai aslinya, replika Candi Borobudur ini menjulang di atas sebuah gundukan tanah yang dikitari taman. Dalam bentuk mini, struktur bunga teratai candi Buddhis ini terlihat jelas dari atas.

Menurut informasi dari website resminya, sebagian besar materi replika miniatur adalah serat kaca dan aluminium, sehingga bisa tahan lama. Karya Wahyu Indrasan dan Lukito ini menjadi salah satu miniatur landmark dunia yang menjadi kebanggaan berbagai negara, lengkap dengan papan petunjuk lokasi asli dan informasi singkat tentang negara yang bersangkutan. Di situ juga disebutkan sponsor replika. Untuk miniatur Candi Borobudur, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Canberra bekerja sama dengan Garuda Indonesia.

Di antara negara ASEAN, terlihat hanya Indonesia bersama Filipina yang mempersembahkan replika bangunan kebanggaan negara masing-masing. Peru diwakili dengan landmark terkenalnya, Manchu Picu.

India menonjolkan miniatur Benteng Merah (Red Fort) dibanding Taj Mahal yang sudah terkenal. Tak jauh dari situ berdiri miniatur Pagoda Dapotap dan Seokgatap dari Korea. Sedang Kedutaan Besar Iran dengan bantuan dana dari Program Pembangunan Pariwisata Australia mensponsori miniatur reruntuhan Istana Darius yang terkenal dengan sebutan Persepolis. Sebuah keluarga dan komunitas Yordania di Sydney mensponsori miniatur El Khazneh Petra.

Bagian Asli
Lebih dari 30 tahun lalu, Dough dan anggota keluarganya mulai membangun replika mini bagian asli Cockington Green Gardens. Ia membangun struktur mini itu sepenuhnya dengan tangan, hingga menghasilkan 33 model bagian asli.

Miniatur pertama di bagian asli, adalah bentuk mini bangunan utama yang menjadi pintu masuk sekaligus toko souvenir di lantai dasar dan kantor di lantai atasnya. Bangunan kayu dnegan ornamen khas Eropa itu mengawali koridor jalan menuju Fairy Garden.

Miniatur Desa Cockington menyusul di seberangnya. Berlokasi aslinya di Torquay – Devon, Inggris Raya, bagian ini menggambarkan rumah dan suasana pedesaan lengkap dengan miniatur sumur batu tua yang masih menggunakan timba kayu. Layaknya di negara persemakmuran, lapangan kriket dilengkapi miniatur pemain dan penontonnya ada di sana.

Suasana kian hidup dengan suara rekaman di dalam miniatur. Seperti gereja, dilengkapi dengan lonceng gereja yang berdentang-dentang. Demikian pula dengan suasana stadion sepak bola yang riuh reda dengan suara para pendukung kesebelasan. Lalu ada suara gemericik air dari miniatur sungai kecil lengkap dengan jembatannya. Begitu juga suasana pelabuhan, dengan miniatur kapal-kapal yang bersandar sampai yang rusak.

Bahkan ada miniatur kereta api (KA) berkecepatan tinggi Intercity 125 yang rel-nya mengitari sebuah kolam. Replika ini bisa beroperasi layaknya KA aslinya dengan memencet sebuah tombol dekat miniatur stasiun.

Di ujung koridor jalan menikung, berdiri sebuah miniatur puri megah. Kastil Braemer yang aslinya didirikan Earl of Mar di Skotlandia, pada tahun 1628. Benar-benar melengkapi suasana seperti di negeri dongeng.

Ada juga KA uap betulan yang bisa dinaiki, tentu dengan membayar tiket tambahan. Layaknya sarana rekreasi keluarga, taman mini ini juga memiliki area piknik, cafe dan rumah makan serta toko tanaman.

Cockington Green Gardens merupakan salah satu dari sekian banyak sarana hiburan di Gold Creek Village yang memiliki berbagai bangunan bersejarah, galeri, toko berbagai cindera mata dan barang kerajinan, cafe dan pelbagai tempat makan. Ada Walk-in Aviary yang menjadi tempat anak-anak bisa memberi makan burung-burung, ada pula Pusat Reptil Australia dan Museum Dinosaurus Nasional.

Selain fasilitas piknik, kawasan Federation Square ini juga dilengkapi dengan sebuah resor untuk menginap. Benar-benar lengkap untuk wisata bersama keluarga di satu sub urban. Semua hal tersebut juga mendapat tempat di dalam brosur Canberra Today yang bisa didapatkan gratis di berbagai tempat pariwisata Canberra. (Mega Christina di Canberra)

Diterbitkan di Halaman Wisata Sinar Harapan (SH), Senin, 9 Agustus 2010

Demam Pemilu di Australia Terasa Tanpa Hiruk Pikuk

Pemilihan Umum (Pemilu) Federal Australia kurang dari sepekan lagi. Sabtu, 21 Agustus nanti warga negara Australia akan mendatangi tempat-tempat pemungutan suara (TPS) yang diumumkan seminggu sebelumnya.

Meski Canberra merupakan ibukota nasional serta jantung pergerakan politik dan pemerintahan federal, di seputaran negara bagian wilayah Ibukota Australia (Australian Capital Territory/A.C.T.) sepintas tidak tampak kehebohan Pemilu. Tidak ada baliho-baliho raksasa apalagi spanduk malang-melintang layaknya suasana Pemilu di Indonesia dan berbagai negara lainnya.

Dengan spasial seluas sebuah benua dan penduduk yang hanya sekitar 20 juta, media luar ruang tampaknya memang bukan menjadi pilihan komunikasi politik dalam Pemilu di negeri Kanguru ini. Apalagi tempat tinggal penduduk relatif tersebar di berbagai sub urban (semacam distrik) yang terpencar-pencar.

Demam Pemilu baru terasa ketika memperhatikan berbagai media cetak maupun elektronik. Berbagai radio dan televisi secara periodik menyiarkan kunjungan kampanye tokoh kunci dari dua partai politik (parpol) utama, yakni Perdana Menteri Julia Gillard yang tengah menjabat (incumbent) dari Partai Buruh Australia dan pemimpin partai oposisi Tony Abbott dari Partai Liberal.

Saling serang program tampak sengit di iklan-iklan televisi. Misalnya Partai Buruh dibombardir dengan iklan kian banyak utang dan pajak. Partai Liberal diserang dengan iklan bakal menurunkan layanan-layanan publik yang saat ini diperjuangkan Partai Buruh yang berkuasa. Bahkan Partai Hijau pun tidak luput dari serangan di iklan televisi.

Selain memberitakan berbagai kunjungan para wakil rakyat, media cetak memiliki kekuatan analisa dan berbagai kolom yang diasuh para ilmuan. Seperti di Mingguan CityNews edisi 5-11 Agustus, Pakar politik dan sejarah Don Aitkin menulis betapa membosankannya Pemilu 2010 ini. Salah satu alasannya adalah tidak adanya keterhubungan dengan 'gambaran besar' masalah yang dihadapi. Aitkin mencontohkan kalau Australia memutuskan pembatasan imigrasi secara serius, dampaknya akan mengalami kekurangan tenaga trampil di berbagai bidang. Sementara tidak ada calon yang bicara soal investasi besar-besaran di bidang pendidikan untuk menghasilkan tenaga trampil tersebut.

Komunikasi Dua Arah
Koran lokal juga kebagian iklan para calon wakil rakyat yang memaparkan program dan mengundang konstituennya untuk mendatangi stand komunitas. Dengan demikian komunikasi para calon wakil rakyat tidak sekedar satu arah melalui media massa, melainkan interaktif langsung dengan calon pemilihnya.

Stand komunitas itu berlangsung pada pekan ini hingga pekan depan di berbagai pusat perbelanjaan di beberapa sub urban. Di sana para calon berupaya berinteraksi dengan konstituen dan calon pemilih atau setidaknya mereka membagikan pamflet berisi program mereka.

Di samping itu, para wakil rakyat juga mengiklankan kotak pos, alamat email dan website mereka. Dengan begitu, calon pemilih bisa mengangkat berbagai isu penting.

Tidak ketinggalan berbagai kelompok penekan (pressure group). Seperti Love 40 Percent yang mengangkat isu perubahan iklim dengan sasaran A.C.T. Berkomitmen mengurangi 40 persen tingkat karbon di tahun 2020. Kelompok-kelompok penekan ini lebih intens berkomunikasi langsung dengan wakil rakyat maupun calonnya, ketimbang turun ke jalan dengan unjuk rasa.

Sebuah Kewajiban
Mungkin salah satu alasan kurangnya hiruk pikuk Pemilu di Australia adalah karena memilih adalah sebuah kewajiban. Menjadi sebuah keharusan bagi warga negara Australia yang berusia dewasa (18 tahun ke atas) dan yang berhak memilih untuk mendatangi TPS pada Pemilu Federal. Mengingat Pemilu negara bagian biasanya digabung dengan Pemilu Federal, maka calon pemilih tidak bisa mengelak untuk tidak memberikan suaranya. Namun dengan Pemilu yang bersifat rahasia, calon pemilih bisa saja merusak surat suara.

Ketidakhadiran di TPS bisa berbuah hukuman, mulai dari sekedar denda, melakukan pelayanan pada masyarakat sampai hukuman kurungan kalau tidak mampu membayar denda yang besarnya mencapai 100 dolar Australia. Karenanya, Pemilu di Australia biasanya diadakan di hari Sabtu atau Minggu, sehingga tak ada alasan bagi warga yang bekerja untuk menunaikan kewajiban memberikan suara mereka.

Karena memilih menjadi sebuah keharusan, tak perlu perlu lagi dana kampanye untuk mengerahkan pemilih mendatangi TPS. Tampaknya keharusan ini juga dipandang positif untuk mengurangi politik uang dalam Pemilu.

Lebih dari itu, bagi pendukung Pemilu sebagai sebuah kewajiban, ini kesempatan untuk melakukan pendidikan politik serta merangsang warga untuk lebih mendapat informasi. Yang pasti, tingkat partisipasi politik bakal tinggi sehingga menjamin pemerintah yang terpilih mewakili mayoritas penduduk, bukan individu-individu yang memilihnya. Dengan demikian pemenang Pemilu diharapkan akan mendapat legitimasi politik yang lebih besar. Tetap sebuah pesta demokrasi, meski tanpa hingar-bingar yang riuh reda.


* Penulis merupakan mantan wartawan yang kini menetap di A.C.T.
Canberra, 14 Agustus 2010

Friday, May 7, 2010

Kawasan Dilarang Merokok Saja Tidak Cukup

Temaram senja perlahan turun. Merah jingga keemasan menghiasi kanvas langit dengan segala keelokannya, menyusul biru keunguan lembayung senja yang membuat syahdu suasana. Tak berapa lama kelam malam menebarkan jubah gelapnya mengatasi langit.

Saat itu lampu-lampu mulai dinyalakan, sebagian pekerja telah beranjak dari kantornya. Kala sang pimpinan sudah tak di tempat dan jam kantor usai, jari-jemari dengan pemantik dan sebatang putih yang terselip telah siap untuk menebarkan asapnya.

Asap putih itu membumbung, sekilas dan segera terhapus dari pandangan mata. Namun selain asap, ada partikel-partikel halus yang tidak kasat mata. Partikel itu pembakaran tidak sempurna arang, minyak, kayu atau bahan bakar lainnya.

Ketika esok mentari kembali terbit, partikel-partikel tak kasat mata itu pun tetap di sana, dalam ruang kedap berpenyejuk udara. Menarilah partikel-partikel itu mengitari ruangan dan ikut terhirup ke dalam paru-paru siapa pun, kendati bukan si pemilik batang putih tadi.

Sejenak kita beranjak dari partikel halus tadi. Saat itu menjelang Natal, sebuah pengujung tahun yang menjadi liburan besar bagi banyak orang. Tak terkecuali keluarga kami. Tapi tahun itu hari besar itu terlewatkan begitu saja.

Motor keluarga kami tengah tergolek di rumah sakit. Badannya yang tetap dan senantiasa bugar, telah melemah. Sel-sel ganas bahkan nyaris melumpuhkan sebelah tangan dan kaki, pertanda telah menyebar.

Sejak saat itu tarikan napasnya satu-satu, kadang tersengal begitu susahnya. Nyata sekarang, kemurahan Ilahi berupa oksigen gratis seolah tak mencukupi untuk sebuah rongga paru-paru yang telah terkoyak sel-sel ganas tadi.

Bantuan inhaler, hirupan uap yang dihubungkan dengan oksigen murni, awal-awal cukup menolong. Namun manusia bernapas 24 jam tanpa henti, Efek inhaler itu hanya sepersekian dari 24 jam.

Setiap tarikan napas yang begitu berat terasa ikut menyesakkan dada kami yang melihatnya. Tarikan napas satu-satu itu begitu menyiksa batin kami.

Akhirnya pilihan pahit pun diambil. Dengan jarum yang entah seberapa besarnya, seutas selang dimasukkan ke organ pernapasan yang telah melemah itu. Perlahan tapi pasti, cairan hitam kecoklatan pekat keluar. Cairan itu menyerupai warna air ketika batang putih dimatikan dengan dicelupkan ke dalamnya.

Ternyata lebih dari satu liter cairan berwarna pekat itu bercokol di paru-parunya. Sejenak keputusan pahit itu berbuah, tarikan napasnya tak lagi tersengal. Namun itu pun tak lama. Setelah selang penyedot dilepas, justru kesehatannya merosot drastis. Hanya sinar matanya yang masih mempertahankan kilatan perlawanan.

Lima bulan setelah berjibaku dengan sel-sel ganas, berjuang menarik napas satu satu bak menghitung detik, ia pun menghembuskan napasnya terakhir. Ia terkalahkan partikel-partikel batang putih yang mengendap dalam paru-parunya sepanjang lebih dari 20 tahun hidup perkawinannya dengan seorang perokok berat.

Apakah ada di antara kita yang tega menatap mata bening orang yang kita cintai menghirup napas tersengal pilu? Apakah ada yang tega melihat selang menembus tubuh orang yang kita kasihi untuk mengeluarkan endapan partikel-partikel tadi?

Tidak Cukup
Karenannya Kawasan Dilarang Merokok (KDM) saja tidak cukup. Partikel-partikel batang putih itu di antaranya adalah benzopyrene yaitu partikel-partikel karbon yang halus yang merupakan penyebab langsung mutasi gen.

Berbagai artikel menyebutkan ribuan jenis bahan kimia dalam rokok dan 40 jenis di antaranya bersifat karsinogenik (penyebab kanker). Sebut saja mulai dari nikotin, arsenik yang beracun, cadmium yang terdapat dalam baterai, dan masih banyak lagi.

Belum pula gas seperti karbon monoksida (CO) seperti gas buang kendaraan bermotor, karbondioksida (CO2), hidrogen sianida, amonia, hidro karbon, metana, butana, dan sebagainya.

Semua partikel tidak kasat mata itu tertinggal dan terpapar ke ruang lain, apalagi di ruang pengap berpenyejuk udara. Idealnya semua gedung dan segala ruang tertutup harus bebas dari asap rokok.

Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah DKI Jakarta perlu segera mengganti Peraturan Gubernur Nomor 75 Tahun 2005 tentang KDM tadi. KDM tidak efektif pelaksanaannya, kurang pengawasan serta sanksi yang jelas. Semoga DKI Jakarta dan daerah lain dapat segera menjadi pelopor perlindungan warga untuk tidak merokok di dalam gedung atau bangunan. Merokok di dalam gedung harus dilarang dengan sanksi yang tegas.

Sunday, November 29, 2009

Perempuan Pakistan

Rabu, 25 November 2009 14:32

Angka Partisipasi di Parlemen Tertinggi di Asia Selatan

Islamabad - Mengenakan celana panjang tradisional yang agak baggy, sepadan dengan kain semacam baju kurung dipadu dengan selendang yang disampirkan di pundak atau terkadang dikalungkan ke belakang.

Berkacamata hitam penangkis sinar matahari yang bersinar terik, Shaheen Akhtar siap di belakang kemudi mobil sedannya.
Perempuan Pakistan yang mengemudi sendiri tidaklah sedikit, nyaris seperti di Jakarta. Ini menjadi pemandangan umum perempuan modern Pakistan di Islamabad.
Beberapa di antaranya mengenakan pakaian yang lebih rapat dengan selendang menjadi kerudung atau jilbab dan cadar, terutama di universitas yang menyandang label Islam.
Shaheen merupakan salah satu dari enam peneliti perempuan di Institute of Regional Studies (IRS) Islamabad. Perempuan peneliti menjadi dominan di lembaga ini yang keseluruhan memiliki 10 peneliti.
Shaheen mengakui komposisi di IRS bukan cerminan umum, namun ia menggarisbawahi keterlibatan perempuan Pakistan dalam berbagai bidang, terutama pendidikan dan perekonomian yang demikian besar. Menurutnya, dalam arus utama nasional, perempuan memegang peran penting dalam kegiatan perekonomian keseharian.
“Anggota parlemen perempuan Pakistan mencapai 33 persen. Ini angka aksi afirmatif yang paling tinggi di Asia Selatan,” kata Shaheen ketika menerima SH dan delegasi media dari Indonesia menemui di kantornya di Islamabad, pekan lalu.
Demikian pula di bidang media, menurut Fariha Razak Haroon, Direktur Grup Geo TV Network & Jang Group of Companies. Ia memperlihatkan bagaimana dirinya menjadi direktur kelompok surat kabar berbahas Urdu tertua dan saluran televisi swasta terbesar di Pakistan.
“Kami mendorong kaum perempuan untuk mendapatkan lingkungan kerja yang bagus dan aman. Di sini kami memiliki perempuan dalam jumlah yang substansial,” kata Fariha ketika menemui SH dan delegasi media dari Indonesia di Jang Building, Karachi, Senin (23/11).
Kendati demikian ketika rombongan menengok ruang redaksi, tampak mayoritas laki-laki yang berada di dalam ruangan itu. Namun, di satu ruang redaksi Daily Jang yang berbahasa Urdu, ada 5-6 perempuan di antara belasan kaum adam.

Sistem Feodal
Shaheen Akhtar mengakui di daerah suku seperti di Provinsi Balochistan ada sistem feudal yang tidak memungkinkan perempuan untuk mengedepan. Demikian pula di Provinsi Punjab bagian selatan yang masih menganut sistem feudal.
“Perempuan di sana lebih terbelakang, terutama dari segi pendidikan,” ujar Akhtar. Ia juga mengakui keterbelakangan perempuan akibat penguasaan Taliban di Provinsi Perbatasan Barat Daya (NWFP). Sekolah khusus perempuan yang buka mendapat ancaman dan Taliban tidak menghendaki perempuan berada di tempat-tempat publik.
“Masyarakat menjadi sande­ra Taliban. Tapi sebenarnya Taliban sendiri menjadi sandera Al-Qaeda,” tegas Akhtar.
Hal itu pula yang tampaknya berdampak secara nasional angka melek huruf (orang di atas umur 15 tahun yang dapat membaca dan menulis) untuk perempuan hanya 36 persen, dibanding laki-laki yang mencapai 63 persen di 2005, menurut CIA Factbook.
Betapa pun, memajukan perempuan di sebuah negara yang berpenduduk 176 juta (menurut perkiraan CIA Factbook di Juli 2009) bukanlah perkara mudah.

Di Islamabad, Sekolah Murah Bukan Sekadar Jargon

Selasa, 24 November 2009 13:03

Islamabad - Apakah Anda membayangkan studi lanjut di luar negeri dengan biaya sendiri yang lebih terjangkau ketimbang di dalam negeri? Itu bukanlah tidak mungkin.
Contohnya Adam Bakhtiar yang saat ini menempuh Studi Islam tingkat magister (S2) di International Islamic University Islamabad (IIUI) dengan biaya sendiri. Pemuda kelahiran Malang, Jawa Timur ini mengaku biaya studinya hanya US$ 100 per semester ditambah biaya hidup di asrama US$ 100. Dengan demikian, hanya dengan US$ 200 per semester, Ketua Ikatan Mahasiswa Indonesia (IIUI) itu sudah bisa kuliah S2 di sebuah perguruan tinggi terkemuka.
Pengakuan itu dibenarkan Muladi yang tengah menyelesaikan tesis Magister Syariah di universitas yang sama. Sarjana alumni Kairo ini bahkan memperoleh beasiswa karena indeks prestasi kumulatifnya (IPK) di atas tiga.
Adam Bakhtiar dan Muladi merupakan bagian dari sekitar 70 mahasiswa Indonesia yang tengah belajar di universitas yang didirikan atas rekomendasi Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Islam di Lahore di tahun 1974 itu.
Di antara ribuan mahasiswa, warga China merupakan mahasiswa terbanyak di IIUI yang mencapai lebih dari 600 orang. Mereka datang tidak hanya dari provinsi China yang mayoritas menganut agama Islam, tapi juga mereka dari kalangan yang nonmuslim.
“Kami miliki hubungan yang sangat baik dengan China. Kami juga memiliki beberapa perjanjian kerja sama dengan beberapa pihak, seperti dengan Provinsi Ningxia dan Asosiasi Ilmu Sosial Ningxia yang setiap tahunnya mengirimkan lebih dari 100 mahasiswa,” kata Fateh Muhammad Malik, Rektor dan guru besar IIUI ketika menerima SH dan delegasi media dari Indonesia di kampus baru IIUI di Sektor H Islamabad, pekan lalu.
Menurutnya, IIUI juga memiliki kerja sama berupa pertukaran mahasiswa, pertukaran sarjana, tenaga pengajar, serta pertukaran publikasi dengan universitas Islam di Indonesia.
“Umumnya kami memiliki kerja sama dengan universitas di negara-negara muslim yang menjadi anggota Konferensi Negara-negara Islam (OKI),” tambah Malik yang juga salah satu tokoh sastra Pakistan.

Fakultas Nonagama
Meski menyandang nama universitas Islam, IIUI telah berkembang menjadi sebuah perguruan tinggi negeri yang mencakup berbagai fakultas nonagama, seperti teknik, sosial, ekonomi dan manajamen, seni dan bahasa, serta teknologi informasi (TI). Sementara dari awal didirikan di era 1980an, IIUI memiliki tiga fakultas agama, yakni Syariah, Studi Islam (Usuluddin), dan Bahasa Arab.
Kendati demikian, sebagai universitas Islam, IIUI konsiten memisahkan mahasiswa dengan mahasiswi. Kampus mahasiswi dipimpin seorang direktur perempuan dengan seluruh tenaga pengajar perempuan pula.
Baik kampus mahasiswa maupun mahasiswi memiliki beberapa blok dengan gedung perkuliahan tiga lantai bergaya Timur Tengah dengan batu bata merah yang masing-masing di tengahnya memiliki taman rindang untuk belajar bersama. Masing-masing kampus itu memiliki perpustakaan dan auditorium terpisah pula.
Kampus baru seluas lebih dari empat hektare di Sektor H—sektor yang ditujukan untuk pendidikan di pinggiran Islamabad itu—tampak masih akan terus berkembang, sebagaimana Kampus Universitas Indonesia di Depok. Tempat ini merupakan sebuah lingkungan pendidikan yang mengundang sekaligus menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa asing.

Islamabad, Kota Benteng yang Selalu Siaga

Senin, 23 November 2009 12:55

Pengantar: Tiga jurnalis Indonesia, termasuk Mega Christina dari Sinar Harapan, mendapat kesempatan untuk mengunjungi Pakistan selama sepekan, dimulai 18 November hingga 26 November 2009. Dalam kunjungan ini, delegasi media dari Indonesia bertemu beberapa tokoh penting Pakistan dan menyaksikan kondisi terkini di Islamabad, Karachi, dan Lahore.

Islamabad – Pagi merekah bersama mentari yang muncul dari balik perbukitan Margalla yang mengitari kota ini, yang menjadi latar belakang penginapan kami di kawasan Kohsar.
Ini adalah sebuah daerah perumahan yang me­nye­rupai kawasan Menteng, yang masing-masing memiliki taman tertata apik dengan pepohonan rindang.
Tak terhitung banyaknya kowa (burung sejenis elang kecil) yang terbang rendah hingga menggaris cakrawala di kaki Bukit Margalla. Koak-koaknya seakan hendak membangunkan seisi ibu kota.
Inilah ibu kota Pakistan yang berkedudukan di punggung Dataran Tinggi (Plateau) Pothohar, bagian utara negeri ini. Kota metropolitan ini baru dibangun di era 1960-an menggantikan Karachi di ba­gian selatan sebagai ibu kota Pakistan, dengan visi jauh ke depan mantan Presiden Ayub Khan yang mengingingkan kesimbangan distribusi utara selatan. Selain itu, Islamabad lebih dekat dengan markas besar tentara di Rawalpindi dan daerah pertikaian Kashmir di bagian utara.
Sebagai sebuah ibu kota modern, Islamabad merupakan salah satu kota yang paling terencana dengan baik di Asia Selatan dan paling hijau de­ngan Hutan Loi Bher serta taman-taman kota. Menurut survei, Islamabad dianggap sebagai kota paling bersih di Pakistan.
Kota ini juga terorganisasi dengan sangat baik, terbagi dalam delapan sektor, A hingga H, dengan delapan zona yang membagi kawasan perdagangan, kawasan pusat peme­rintahan, kawasan diplomatik, distrik perdagangan, sektor pendidikan, sektor industri, daerah perumahan, daerah pedesaan, dan daerah hijau.

Barikade Jalanan
Pagi di Islamabad sama se­ka­li tidak menunjukkan tan­da-tanda kehebohan bom bu­nuh di­ri yang meledak di depan Ge­dung Pengadilan Peshawar, se­kitar dua jam dari ibu kota ini.
Suasana keamanan seperti malam ketika kami tiba.
Begitu keluar, pagar tinggi dijaga beberapa satuan pengamanan (satpam). Di penghujung Jalan 26 menjelang jalan besar, melintang beton bari­kade di jalanan yang mengharuskan mobil berjalan pelan dengan cara zig-zag.
Di 7th Avenue, beberapa rumah tampak ditambah bari­kade seperti di beberapa de­pan kedutaan besar di Jakarta, bahkan beton barikade ada yang nyaris setinggi dua meter.
Kian mendekati kawasan pusat pemerintahan, makin kerap titik pemeriksaan keamanan yang mengharuskan pengemudi membuka kaca dan menunjukkan identitas.
Tidak itu saja, beton bari­kade ditambah penghalang besi beroda yang menutup jalanan sepenuhnya, sebelum kendaraan diizinkan melintas zig-zag melewati beberapa lapis beton barikade. Di penghujung barikade terakhir, biasanya ada seorang petugas keamanan di balik tumpukan karung barikade siap dengan senjata laras panjangnya.
Bahkan, di beberapa tempat ada seorang petugas keamanan di balik tumpukan ka­rung barikade lengkap dengan senjata laras panjang itu juga. Seperti menjelang memasuki jalan depan Hotel Mar­riott. Bagian depan hotel yang dikenal dengan layanan kera­mah­an itu lebih layak menye­rupai benteng penjara, dengan beton barikade di atas dua me­ter dan kawat durinya, leng­kap dengan penjagaan superketat.
“Bom bisa terjadi di mana saja. Kehidupan normal harus tetap berjalan. Semua ini kami butuhkan untuk mencegah dan memberikan rasa aman bagi kita semua,” kata Man­sood Khalid, Sekretaris Men­teri Luar Negeri Urusan Pa­kis­tan ketika menerima SH dan delegasi Media dari In­do­nesia di kantornya di Isla­ma­bad, Kamis (19/11).
Kendati demikian seorang warga Islamabad yang tidak mau disebutkan namanya meng­aku pemeriksaan kea­man­an itu terkadang menjengkelkan. Namun, ia tidak berdaya mengingat pengebom bunuh diri bisa menyerang ka­pan saja dan memang me­nya­sar tidak saja kalangan peme­rintah, tapi juga rakyat sipil.
Seperti Mansood Khalid, ia pun memilih kehidupan terus berjalan sebagaimana biasa­nya, karena rasa takut itu yang diinginkan teroris, katanya.

Wednesday, September 23, 2009

Resume awal "Seat of the Soul"

EVOLUTION
Apakah proses evousi telah selesai?
Menginga, evolusi adalah perkembangan progresif kompleksitas organisasional, manusia merupakan bentuk kehidupan paling kompleks dan karenanya menjadi bentuk kehidupan yang paling berevolusi di planet ini.
Ternyata sebagai sebuah perkembangan evolusi ini tiada henti.
Gary Zukav menyebut orang yang murah hati dan altruis sebagai makhluk yang paling berevolusi. Selain jauh melebihi makhluk hidup lain, akal budi dan moralitas menjadikan perkembangan lebih komplkes ketimbang pada orang yang kikir dan egois.
Zukav menyebut makhluk yang benar-benar berevolusi adalah makhluk yang lebih menghargai makhluk lain daripada dirinya sendiri dan yang lebih menghargai cinta kasih daripada dunia fisik beserta seluruh isinya (P.5)
Manusia juga berevolusi secara panca indera (five sensory) menjadi manusia yang multi-sensory yang melampaui realitas fisik hingga ke sistem dinamika yang lebih besar. Wilayah ini tak terlihat oleh panca indera.
Zukav mengatakan, wilayah inilah asal-muasal ditemukan nilai terdalam kita. Inilah kekuatan otentif yang berakar pada sumber terdalam dari keberadaan kita. Kekuatan ini mencintai kehidupan dalam segala bentuknya serta kekuatan yang menghayati kebermaknaan dan tujuan dari segala rincian terkecil yang ada di bumi (P.11-13).
Bagi manusia multi-sensory, kita tak pernah sendirian, karena alam raya ini hidup, sadar dan penuh belas-kasih. Untuk manusia multi-sensory, dunia fisik merupakan lingkungan pembelajaran yang diciptakan bersama roh-roh yang mendiaminya, dan segala sesuatu yang terjadi di dalamnya berfungsi sebagai pembelajaran.
Roh adalah bagian dari diri Anda yang bersifat kekal. Roh, sebagaimana tubuh, merupakan kendaraan evolusi Anda.
Keputusan yang Anda ambil dan tindakan yang Anda butat adalah alat Anda berevolusi.
Zukav menilai roh adalah kekuatan positif, memiliki tujuan dan menjadi inti keberadaan kita.
Setiap pengalaman yang dan akan kita miliki mendorong penyelarasan jiwa dengan roh.

KARMA
Hidup kita merupakan salah satu dari sekian banyak pengalaman roh yang berada di luar sudut waktu. Roh tak terbatasi jiwa.
Untuk setiap inkarnasi, roh menciptakan jiwa dan tubuh berbeda.
Setiap jiwa memberi kontribusi evolusi rohnya, dengan caranya sendiri, dengan masing-masing tingkat kecerdasan dan jenis pelajaran yang harus dipelajari, baik secara sadar maupun tak sadar. Setiap ciri fisik, emosional dan psikologis yang membentuk jiwa dan tubuh, semuanya sesuai dengan tujuan roh (P.19).
Karma bukan semata baik-buruk, melainkan sebuah spektrum. Karma lebih banyak berkaitan dengan hal internal. Eksternal merupaka vibrasi dari internal.


Work With Passion

Henry Amiez mengatakan "Work while you have the light, you are responsible for the talent that has been entrusted to you..."
Secara vertikal, bagiku kerja merupakan proses ambil bagian sebagai 'co-creator', ikut menciptakan dunia yang lebih baik.
Secara horizontal, kerja merupakan sesuatu untuk menempatkan kita di tegah 'lingkar kehidupan' yang memberi makna pada keberadaan kita secara sosial da emosional.
Karenanya, untuku kerja menjadi isu yang cukup sentral bagi kemanusiaan, untuk tidak tergantung dan bergantung, menjadi subyek dan bukannya obyek di mata dunia.
Maka resesi dunia yang mengancam pengurangan lapangan kerja menjadi keprihatinan tersendiri dan menjadi ancaman keberadaan sebagian harkat untuk menjadi manusia yang independen dan bermartabat.
Namun kita dibekali dengan SHAPE:
Spiritual gift
Heart-motivation, passion
Ability
Personality
Experience.

Oktober 2008 (memasuki krisis keuangan global)

Tuesday, August 25, 2009

To be Happy

The key of happiness is on our mind!
Be rejoice if someone happy
Contentment,
Do not harm ourselves, do not harm the others
Patience (Shanti)
Forgiveness, when someone harm us, to bring peace of mind for ourselves and the world
Courage to think the benefit of the others
If we think something is good (positive) – even on difficult condition we could be happy. To be happy we should think the benefit in our mind, so we could transform that problem into happiness. If we give positive labeling, then we could be grateful.
Complete happiness come from a
good heart
peace of mind
contenment
self improvement
liberation of samsara.

Resumed from the dharma teaching of Lama Zopa Rinpoche in Jakarta, February 24, 2009